Rabu, 10 Januari 2018

Explore Pulau 1000 Lontar, Sabu, 2017



Tidak ada planning kemana dan berapa lama hanya ingin pergi saja menggendong keril lagi. Sudah terlalu lama bersantai di pantai dan hampir menjadi zona nyaman. Sudah waktunya berkelana lagi menjelajahi sebagian kecil Indonesia yang cantik.

Dengan Eastrip aku memilih Pulau Sabu. Salah satu pulau di Nusa Tenggara Timur yang belum banyak dikunjungi turis untuk berpelisir. Informasi tentang pulau ini tidak sebanyak pulau Komodo. Nekat ajalah pergi dengan ngantongin info yang tidak banyak bareng Eastrip.

Tidak sabar untuk tiba di Sabu
Benar-benar nekat. Sepulang dari pulau Semau, tiba di rumah langsung mandi dan berangkat ke pelabuhan Tenau lagi. Ada 3 cara menuju pulau Sabu, naik kapal Fery dari pelabuhan Bolok, naik kapal cepat dari pelabuhan Tenau atau naik pesawat Susy air dari bandara ya hehehe. 


Tempat tidur di dalam kapal Fungka
Aku memilih dengan kapal cepat Fungka. 9 jam perjalanan malam dengan fasilitas matras dan ruang AC. Naik kapal langsung tidur dengan nyenyak karena ada AC. Untungnya bawa sleeping bag karena ruangan barak ini dingin sekali.

Bangun pagi, aku keluar untuk berjumpa dengan matahari terbit ternyata kapal sudah hampir bersandar. Rasa was-was dan semangat akibat senang bercampur. Di Sabu aku tinggal dengan teman dari untuk beberapa hari. 

Tidak ada angkot, taxi, ojek apalagi taxi online. Jadi untuk transportasi disini lumayan bikin deg-degan. Penyewaan motor juga tidak ada. Beruntung teman ku mau menjemputku di pelabuhan Seba. Kota Seba, ibu kota dari pulau Sabu, masih sepi dan jalan raya yang tidak terlalu luas. Tidak ada gedung-gedung bertingkat seperti di Jakarta. Ini yang aku cari, back to the nature. Diatas motor aku sudah merasakan petualangan ini akan seru dan meninggalkan rasa yang tersendiri.

Kenapa memilih pulau Sabu untuk aku explore? Karena kamu akan menemukan jawabannya saat baca tulisan ini hingga akhir. Bahkan akan lebih merasakan keseruannya bila traveling bareng aku ke sini :D

19 September 2017, Petualangan dimulai.

Pulau Sabu ini adalah pulau kabupaten terkecil di Nusa Tenggara Timur. Berada di Baratdaya dari selatan Indonesia yang terkenal dengan “Pulau 1000 lontar” dari awal tiba di pulau ini pohon lontar yang melambai menyapa bukan pohon kelapa ya. Bukan berarti di pulau Sabu ini ada 1000 pohon lontar, tapi lebih bisa dibilang hampir daratan pulau yang luasnya 379,9 km2 ini dihuni pohon lontar. 




NO TOURIST. Tidak ada turis berseliwiran disini seperti di Labuan Bajo atau Rote. Bahkan tidak ada hotel, rumah makan, turis informasi, bar, macet, polusi, mall. Bahkan di beberapa daerah tidak ada singnal telepon, listrik, dan air tawar.

Dalam perjalanan menuju ke destinasi pertama, aku melihat rumah pohon yang ternyata itu adalah kamar kecil yang bisa muat 1 orang untuk tidur, bisa sih 2 orang kalau badannya kecil. Kamu akan merasakan terisolasi disini bila kamu tipe orang yang harus hidup dengan signal, listrik, AC, mall. Karena di tempat ini tidak ada itu semua. Untuk dapetin air tawar saja disini sangat susah, karena musim panas di propinsi Timur Indonesia ini lebih panjang ketimbang di pulau lainnya di NTT. Panasnya saja 33 0C tanpa polusi, maka sinar matahari langsung menyentuh kulit kamu. Siap-siap ikutan kulit coklat kayak aku hehehe :)


1.    Kelaba Maja.
Kelabamaja Di pulau Sabu, aku melihat landscape yang tercantik selama aku mengexplore NTT (untuk saat ini). Sekilas hampir mirip dengan Kings canyon yang ada di Australia. Di Kelaba Maja memiliki arti “Dewa Tanah” untuk masyarakat Sabu, Hawu, mereka percaya tempat ini dulu tempat ini dipakai untuk persembahan kepada dewa Maja dan tempat ini adalah tempat tinggal dewa Maja.



Pilar-pilar batu yang terukir alam ini berwarna merah, abu-abu, coklat. Lapisan berwarna merah bata ini yang membuat semakin cantik Kelaba Maja. Kalau dari ilmu geologi sih ini terbentuk karena proses eksogen, pelapukan dan erosional. Tapi kebenaran dan tidaknya mari kita tanya geologist :)


 
2.    Tambak Garam Laut
Tidak jauh dari Kelaba Maja, berjumpa dengan Ina (panggilan untuk perempuan Sabu) yang sedang mengambil air laut dan ditumhakan di daun lontar dan plastik botol. 



Mereka dengan membuat garam. Kalau di Maumere, aku pernah lihat proses pembuatan garam rumah tangga dengan cara dimasak, kalau disini Air laut yang ditampung di wadah dibiarkan 1-2 minggu dibawah matahari dan menjadi garam laut secara sendiri.



Ini adalah pembuatan garam laut secara traditional. Garam laut yang berwarna merah itu karena wadahnya dari daun lontar sedangkan yang warna putih dari wadah plastik botol. Garam laut ini lebih sehat ketimbang garam meja. Hawu memanfaatkan botol plastic untuk sebagai tempat menjemur air laut, tapi disisi lain masih ada kandungan kimia dari plastik yang pasti masuk ke garam laut. 

Sea salt
1 keranjang garam laut seperti di foto mereka tukar dengan 1 kantong kecil jagung untuk makanan ayam. Bahkan 1 plastik garam laut ukuran 1kg dijual hanya Rp 2.000,- butuh waktu lama dengan tenaga yang memikul air laut setiap hari hanya dihargai seperti bayar parkir motor di Bali. 

Mari berandai kalau pemerintah Indonesia memanfaatkan garam masyarakat Sabu untuk kebutuhan Negara ini dan tidak perlu mengimport dari luar lagi, jadi uang untuk keluar negri itu dialihkan ke petani garam maka pertumbuhan ekonomi akan serentak. Eh apa yang aku bahas ini hahaha. Sudahlah mari lanjut berjalan dan menikmati yang didepan mata. :D

3.    Wadumea
Wadumea yang artinya adalah batu merah, disaat surut kamu bisa menyebrang dan berdiri di batu besar berwarna merah yang menjadi pembatas dengan laut lepas. Namun di saat air pasang jangan coba-coba yak arena itu bisa membahayakan kamu. 







Aku melihat ada beberapa air yang terjebak seperti kolam kecil dan kamu bisa berendam cantik di dalamnya. Tapi hati-hati ya karena ada terumbu karangnya dan itu bisa merusak, jadi urungkan lah niat untuk berendam cantik di tempat yang ada terumbu karangnya. Pilih yang disebelahnya saja ya yang tidak ada terumbu karang.

Disini pantainya berombak, tapi aku tidak tahu bisa tidak untuk surfing. Kalau dilihat dengan mata awam seperti aku ini gak bisa lah untuk surfing, karena disaat ombak habis itu langsung batu.
Kalau kamu suka dengan foto ombak yang low speed di tempat ini cocok sambil menunggu matahari terbenam. Karena masih ada waktu sebelum matahari terbenam maka, aku memutuskan untuk kembali ke Seba untuk menikmati sunset di pantai 




4. View point benteng Ege
Karena niat langsung ke panta Napae, Seba entah kita mengambil jalur yang lumayan aneh dan berhentilah di Liae. Disini aku sebut view point untuk melihat pantai Liae dan benteng Ege. 



Duduk sesaat menikmati view dan merasakan angina mengelus kulit sambil bersyukur terimasih bisa menikmati semua ini disaat semua ini akan terkenal suatu hari nanti.

5. Pantai Napae
Disini ada penginapan yang berbentuk bungalow, namun untuk toiletnya ada di luar. Lokasinya sih oke karena tepat di depan pantai dan view sunsetnya luar biasa. Hanya kondisinya yang ada beberapa lubang di temboknya. Temboknya dari daun lontar dan bambu. Kita skip penginapannya mari ke Pantai.


Air laut yang seadng surut membuat pantai ini terlihat semakin luas. Sambil menunggu matahari terbenam, mulai mengamati orang-orang disekitar hehe. Beberapa Ina sedang berdiri di pantai menunggu nelayan pulang untuk membeli ikat hasil pancingan. Beberapa nelayan pulang dengan mendayung perahunya dan dengan sejekap dikerumuni namun tidak ada ikan yang dapat dibawa pulang. Anak-anak kecil berlarian dipantai dan menggampar di pasir pantai.
Sedangkan aku tetap dengan kebiasaan foto-foto haha.



Matahari perlahan turun dan hilang di balik lautan. Lingkaran sempurna menutup pejalanan hari pertamaku di Sabu dengan cantik. Berharap besok tetap cantik seperti hari ini dengan kejutan-kejutan yang luar biasa.

6. Desa Namata
Hari kedua di pulau Sabu tidak banyak yang ingin aku lakukan selain explore dan explore, eh ini banyak ya maunya hahaha. Kedesa adat, itu sudah pasti setiap aku pergi ke daerah di NTT. Karena adat di NTT masih kental dan setiap daerah berbeda. 


Kali ini aku berkesempatan ke desa Namata yang berjarak 5km dari kota Seba. Tidak jauh kan? Tapi desa ini masih termasuk desa adat yang sacral loh ya. Desa yang terkenal dengan batu bulat yang menyerupai meja ini boleh kamu ambil fotonya dan bersandar bahkan berdiri di atasnya. Tetapi, ada beberapa batu yang memang tidak boleh.


Kali ini, aku ditawarin untuk memakai pakaian sarung kain tenun motif Sabu, identik dengan bunga. Mulailah ambil posisi untuk foto.

7. Pantai Liae
Waktunya bermain air, snorkeling di pantai Liae kalau kalian tidak punya alat snorkeling bisa menghubungi bapak ketua kelompok peduli laut yang tinggal di pantai Liae ini. Bisa sewa alat dimereka bahkan ditemani snorkeling bareng. Sayangnya datang di saat surut maka lumayan berjalan jauh ketengah hingga berpapasan dengan ombak yang pecah di karang. Melintasi ombak dan berenang ke tengah. Akibat air laut surut dan pecahan ombak air laut pun tidak sejernih disaat pasang. Ada beberapa terumbu karangnya yang ditutupi lumut dan kurang memuaskanku. Untuk ikan-ikan disini lumayan. Memang menurut warga setempat dulu tempat ini sering di bom ikan. Maka terumbu karang sekarang mulai tumbuh perlahan.


Serunya berpetualangan sendiri itu seperti ini, dapat teman baru dan keluarga baru dalam perjalanan. Setelah snorkeling mungking 10 menit langsung disuguhi kelapa muda dan air lontar. Kebayangkan manisnya air kelapa muda yang baru dipetik menutup hari yang manis.

8. Bukit Salju
Hawu menyebut bukit kapur ini bukit salju, karena warnya yang putih hampir sama dengan warna salju. Bukitnya tidak terlalu besar dan luas, hanya sebagian saja memperlihatkan batu kapurnya. 



Meninggalkan gunung Salju, melihat budidaya garam yang lebih besar. Ya masih manual proses pengeringannya tetapi ini lebih luas dan bukan pakai cangkang kerang atau daun lontar. 




9. Pintu Laut
Ini favorite ku di Sabu selain tempat-tempat yang sudah aku kunjungi ya. Karena aku dan kak Jnr yang mendapatkan spot cantik ini untuk beremdam cantik. Karena tempat ini seperti pintu menuju ke Laut makanya kuberi nama “Pintu Laut”



Berendam di air laut dengan mendengar suara hempasan ombak, pemandangan sejauh mata memandang yaitu biru. Hidup begitu menyenangkan sekali. 




10. Pelabuan Seba
Karena ini hari terakhir di pulau Sabu, maka waktunya mencari posisi cantik untuk menikmati sunset sebelum besok pindah posisi untuk lokasi sunsetnya. Normalnya orang pergi ke dermaga untuk melihat matahari terbit dan foto-foto. Kali ini untuk pertama kak Jnr ke bangkai kapal untuk berburu foto sunset.
Berjumpa dengan balita yang memang disengaja setengah badannya dikubur di pasir seperti menikmati sunset. 



Jadi sudah tahu kan jawaban kenapa aku memilih pulau sabu? Karena ini pulau terakhir atau kabupaten terakhir di Nusa Tenggara Timur yang aku kunjungi. Maka sudah 100% kabupaten di NTT yang sudah aku explore. Alam dan budaya yang memang masih sangat terawat dan cantik seperti orang-orangnya. Untuk di NTT nona Sabu terkenal manis seperti gula Sabu. 

Nah pulau 1000 lontar ini melambangkan dari pekerjaan masyarakat setempatnya memproduksi arak lokal seperti, niru, sopi, moke dan gula air yang kental. Banyak yang bilang keaku hati-hati di Sabu nanti kena gula Sabu, lengket haha gak bisa balik lagi ke Jakarta he he he.


Gelang Kea, cincin kea, sisir kea terkenal dari pulau Sabu (kea = penyu) Sudah menjadi budaya mereka perhiasaan untuk perempuan dari cangkang penyu sisik, bahkan itu menjadi mahar kalau meminang nona Sabu.

Dalam perjalanan dari rumah ke pelabuhan Seba untuk naik kapal Fungka kembali ke Kupang, terlintas pikiran untuk kembali lagi kepulau ini untuk mengexplore sisi lain pulau Sabu, karena aku setengahnya ku explore. Pulau Raijua dan pulau perbatasan Dana belum juga kau explore. Belum juga meninggalkan pulau ini sudah berpikir kembali ha ha ha. Makasih Eastrip, kak Jnr dan teman-teman lain sudah menjadi teman perjalan di Sabu dan keluarga baru :)

***

Reuni dengan pantai terbaik di pulau Semau, Pantai Liman 2017


Pantai tercantik, pantai Liman

Entah sudah jadi kebiasaan atau memang aku menyukai pulau kecil di depan kota Kupang ini, pulau Semau. Lagi-lagi setiap aku ke Kupang merasa wajib untuk berkunjung ke pulau ini entah hanya untuk bersantai di pantai ataupun menikmatinya cantiknya landscape langsung dengan kedua mataku. 

Berangkat pagi dari rumah menuju ke pelabuan Tenau. Bisa sih naik kapal fery tapi ingin lebih cepat saja tiba di pulau Semau. Langsung naik kapal ojek dan membawa ku ke Semau. Seperti biasa sewa motor dan langsung cuss menikmati jalan yang lumayan membuat badan sakit he he he

Tidak ada yang berubah dari 2012 lalu
Tujuan utama ke pulau ini adalah reuni, reuni dengan pantainya, alamnya, birunya langit, birunya laut, dan keheningannya. Pantai Liman, berada di selatan pulau Semau. Pantai ini masih menjuarai hati ku untuk kategori pantai yang tercantik yang pernah aku kunjungi. Berharap suatu hari nanti bila disekitar pantai ini sudah menjadi tempat wisata semoga tetap cantik.


Nah kalau kalian ingin ke pulau Semau ini ada beberapa tulisan sebelumnya tentang Semau yang bisa membuat kalian berimajinasi cantiknya dan langsung kabur ke pulau ini untuk merasakan exotic nya Semau. Nih disini -> 1, 2, 3, 4, 5,dan 6,  banyak juga rupanya tentang Semau yang aku bahas. Hehe

Teman yang naik ke bukit Liman

Ini kali pertama aku bawa motor ke sisi sebelah kiri bukit liman. Keujung pantai ini dan melihat sisi lain dari bukit Liman. Karena dari sebelah kanan bukit Liman, sudah mulai berdatangan orang untuk berwisata hingga sudah ada yang jual kelapa muda. Mulai ada perbedaan dari pertama kali kesini. Masih sepi, hampir takut-takut untuk berjalan jauh dari teman karena takut nyasar. Tapi kali ini tidak. Sudah banyak orang. 

Dengan sepeda motor aku naiki bukit Liman dan ke sisi kiri pantai. Tempatnya cocok nih untuk camping, ada yang mau camping lagi di Semau bareng aku?

Pantai Liman disisi kiri bukit

Jalur motor dari bawah ke bukit
Bawa motor ke atas :)
Pantai Liman disebelah kanan
  

Tidak lama aku tersenyum sendiri mengingat cerita pertama kali kesini. Mesti segera pulang agar bisa ambil tas di rumah untuk melanjutkan jalan ke pulau yang belum pernah kau datangi. Selalu gagal untuk ke pulau itu dan berharap kali ini tidak gagal lagi :D

Pulang ke Kupang
Beautiful sunset
Yuk yang belum ke pulau Semau, mari bareng aku kita ke pulau Semau dan explore pulau exotic ini. Mari pulang.



***

Senin, 18 Desember 2017

Explore Riung 17 Island, 2016

Rutong Island
Ende - Riung. Cek google maps dan wow lumayan juga jalanya masih ada yang berbelok. Hanya ada 2 belokan, kiri dan kanan, tapi berkali-kali. 
Bis ke Riung dari Ende hanya ada di pagi hari dan waktu pagi itu adalah waktu yang masih berharga untuk bermimpi. Tapi aku harus bangun dan tetap telat dapat bisa pagi. Jadi ambil bis siang ke Mbay. Si bapak kernek sih bilangnya dekat saja kok tapi kenyataannya lama dan jauh. Turun di Mbay sudah mulai sore dan perut sudah lapar.

Galau nih lanjut ke Riung atau stay di Mbay. Tidak ada bis atau transport lagi ke Riung. Memutar otak juga tidak terputar karena ada di dalam kepala. Seperti sebelumnya mencoba keberuntungan untuk mencari tumpangan. Mobil yang satu lewat, motor yang satu lewat dan berkali-kali hingga akhirnya mobil PLN berhenti dan memberikan tumpangan. Tapi tidak sampai Riung. Hanya dapat 5km. Sudah oke itu ketimbang tidak ada yang berhenti menampung. Eh salah satu pegawai yang di dalam mobil menawarkan diri untuk mengantarkan. Serius? ahai langsung aja bilang iya. Masalah takut kenapa-napa atau gimana-gimana nantinya itu ya nanti. Positive thinking aja sih ya haha

Ternyata si abang Boris yang baik ini adalah temannya Ditho (teman yang di Riung) jadi lebih nyaman lagi cerita-cerita. Melewati sabana yang luas berwarna kecoklatan hingga tiba di Riung sudah gelap. Kurang lebih 1 jam perjalanan dari Mbay ke Riung, aku berjumpa juga dengan Ditho dan teman-temannya yang menjadi teman-teman ku sekarang. 


1 minggu di Riung, aku tinggal di Nirvana Bungalow, Riung. Menikmati banget berjalan sendiri dan berjumpa teman-teman baru dan menjadi keluarga baru dalam perjalanan. Ini kali kedua aku ke Riung 17 pulau yang terakhir tahun 2013 lalu. 

Karena sudah pernah kesini sebelumya, jadi kali ini aku seperti reuni dan mencoba ke tempat baru yang belum aku kunjungi. Ini aktivitasku yang tidak dikejar-kejar waktu. Siang hari, aku pergi ke pelabuhan dan menggantung hammock ku dipohon bakau. Bersantai sambil tidur siang. Bermalas-malasan di hammock. Disaat malam aku pergi salah satu cafe dengan live music. Eh ternyata yang nyanyi salah satu teman waktu di Kupang. Tuh kan jadi keinget masa-masa kuliah di Kupang lagi hahaha.


Hopping island di Riung, 17 pulau. Oke sebenarnya lebih dari 17 pulau disini dan hanya beberapa pulau saja yang didatangi. Rutong. Pulau kecil berpasir putih dengan laut biru kontras menjadi tujuan utama untuk setiap orang yang datang ke Riung. Tidak lama untuk naik ke puncak pulau ini, dan disanalah kamu bisa melihat pemandangan yang cantik.



Pulau Tiga
Pulau Tiga
Bukan hanya pulau Rutong yang dikunjungi ada beberapa pulau lain. Snorkeling, sunbathing. Yang manjadi ciri khas dari wisata Riung 17 pulau ini adalah BBQ untuk lunch. Yang seperti ini nih yang bikin ingin kembali lagi dan lagi ke Riung.





Bersama teman-teman di Riung, kami menuju Mbay dengan jarah kurang lebih 1 jam dengan motor. Kita ke mangrove yang ada di Mbay. Ke mata air panas.


Normalnya air panas alam itu ada di kaki gunung berapi atau di atas gunung. Tapi itu tidak berlaku di sini, air panasnya berada di hutang mangrove dan itu di pinggir pantai. Airnya ada yang masih mendidih seperti dari kompor loh. 



Saat air laut sedang surut, banyak warga yang berdatangan kesini untuk berendam bersama keluarga atau teman-teman mereka. Lokasinya tidak jauh dari jalan raya, malah tepat di pinggir jalan raya ini airnya panas. Rasa airnya payau. Karena pertemuan air tawar dan air laut.




Hari terakhir di Riung, Ditho ajak aku ke pantai dengan rencana awal untuk gantung hammock sambil nunggu mata hari terbenam, tapi itu hanya planning dan ya kita pergi ke bukit yang aku lupa namanya. Ditho pun belum pernah ke bukit ini, dan viewnya Flores banget. Padang sabana, bukit-bukit, langit biru dan laut biru. Bikin betah untuk berlama-lama di Flores. 


Waktunya menunggu sunset, kami pindah ke bukit yang lain dan dari ini bisa lihat kalong yang berterbangan di saat sunset. 



Langit orange dan kalong mulai bangun menandakan sudah waktunya balik ke rumah. Tidak terasa sudah 1 minggu aku di Riung dan tidak banyak mengexplore tempat baru lebih memilih untuk santai di Nirvana dan bersantai di hammock. Banyak cerita yang pengalaman yang terjadi selama 1 minggu itu. Waktunya lanjut berjalan menuju kota lain dan itu berarti akan kembali lagi ke Riung suatu hari nanti.



***