Kamis, 30 November 2017

Sunrise di Danau 3 Warna Kelimutu, 2016

Danau Kelimutu
Danau vulkano yang bisa berubah warna. Bisa dibilang ini bukan danau tapi ini kawah, karena kita tidak bisa lompat ke danau seperti danau vulkano yang ada di Sumatra Utara. Tiga kawah dengan warna yang berbeda dan diwaktu yang tidak bisa diprediksi warna kawah berubah. Tempat ini adalah salah satu taman nasional yang ada di Flores, Nusa Tenggara Timur. Menikmati matahari terbit dari puncak gunung Kelimutu menjadi tujuan utama turis lokal ataupun mancanegara. Tunggu, aku bukan turis ya, aku petualang hahaha. Kali ini aku kembali lagi ke danau untuk melihat sunrise. Tidak akan pernah bosan untuk datang kesini karena akan selalu punya cerita yang berbeda.

Alaram belum berbunyi namun mata sudah terbangun dari tidur dan waktunya bersiap untuk ke danau Kelimutu. Ini masih pagi sekali, pukul 4.00 pagi. Jam-jam nya untuk tidur nyenyak. Udara dingin membuat ku ingin tetap sembunyi di balik selimut. 

Wida pun masih diantara sadar tidak sadar karena harus bangun. Ini kali pertama dia datang ke danau Kelimutu dan semoga menjadi pengalaman yang luar  biasa untuk dia. Kalau tamu-tamu hotel yang lain pergi ke danau dengan mobil, aku dan Wida memilih dengan sepeda motor karena lebih murah biayanya untuk kami.

Udara ini memang benar-benar dingin dan masuk ke sum-sum tulang. Untung aku sebagai penumpang dan pakai jas hujan agar tetap hangat. 30 menit membelah jalanan yang sempit dan berbelok di tengah hutan akhirnya tiba di parkiran motor kelimutu dan langit masih gelap.

Menaiki anak tangga satu-persatu hingga habis membawa kaki ini tiba di puncak dan sudah banyak turis asing disana menanti matahari terbit sambil menikmati hangatnya teh ataupun kopi.

Hanya aku dan Wida pengunjung Indonesia di hari itu. Jadi merasa bukan berada di Indonesia hahaha. Ini kali pertama untuk ku di tahun 2016 ke danau Kelimutu.


Sang mentari perlahan muncul dari balik danau. Warna keemasan memenuhi sekitar dan berganti menjadi terang. Langit yang gelap dalam sekejap menjadi terang dan warna danau Kelimutu mulai terlihat. 


Terakhir aku datang di bulan Desember 2015, danaunya berwarna hijau susu, hijau lumut. Sekarang hijau muda dan coklat tua (coke). Kali ini warnanya sama seperti pertama kali aku datang tahun 2012.
 


Memanfaatkan momen ini untuk menikmati ciptaan-Nya yang luar biasa cantik dan beryukur masih bisa kesini lagi. Berharap nanti akan kesini lagi (segera) hahaha.

Aku dan Wida :)

Waktunya kembali ke penginapan dan melanjutkan perjalanan ke Ende dengan bis. Sebelum aku melanjutkan melangkah ke utara Flores, Riung dan Wida kembali lagi ke Larantuka melanjutkan tugas di pulau Solor. 

Perjalanan ku dengan Wida ini tidak pernah kami rencanakan, semua spontanitas karena dia sedang off dan aku membawa dia menikmati ini semua dengan hitchhiking dari Maumere ke Moni. Semoga berjumpa lagi dan kita explore tempat baru :)

***

Minggu, 19 November 2017

Pantai Tercantik di Rote, Pantai Laviti, 2012


Pantai Laviti

Ini lanjutan cerita perjalanan ku di Rote, 2012. Sama seperti cerita tentang Mulut Seribu, Rote. Ini postingan yang pernah aku posting. Mari kembali ke tahun 2012, diawal aku belajar traveling lebih dari 2 hari bersama teman-teman. 


Rasa panas di kulit mulai mengalihkan perhatian kami dari cantiknya mulut seribu dan saatnya keluar dari laut lepas menuju ke pantai Laviti yang menjanjikan keindahan untuk kami penikmat pantai. Awesome… hanya itu yang bisa kami katakan. Pantai Laviti berada di antara dua ujung pulau yang seperti melindungi pantai ini dari laut lepas.

Sinar berlian air laut saat mendapatkan pantulan sinar matahari semakin mengangkat cantiknya pasir putih di pantai ini. Private beach, pantai yang benar-benar jauh dari jangkauan manusia dan hewan. Benar-benar masih alami keindahkan yang disuguhkan oleh pantai ini. Tebing-tebing karang yang runcing dan tajam seakan menjadi benteng untuk melindungi pantai Laviti ini.

View pantai Laviti dari atas karang

Tidak ada jejak kaki di atas pasir ini, kecuali jejak kaki kami. Tidak ada satu pun orang yang ketempat ini, selain kami di hari itu. Rasa panas pun seperti hilang saat melihat kecantikan yang diberikan pantai Laviti di Rote Timur ini.

Tidak mau berlama-lama lagi, saya memanjat tebing karang yang tajam itu untuk dapat menikmati semua dari atas. Rakus, mungkin kalimat yang bisa digambarkan. Sedikit pun aku didak mau melewati indahnya tempat ini. Semua ingin ku nikmati dengan cara ku sendiri dan ditemani kamera yang setia untuk mengabadikan apa yang aku nikmati dalam sebuah gambar-gambar cantik.



Dan bukan hanya aku yang memanjat tebing itu, tapi Kak Yohanes dan disusul kak Donal untuk menikmati pantai Laviti ini dari atas. Aku melihat dari sini, teman-teman ku yang lain sudah sibuk dengan cara mereka sendiri untuk memuaskan diri menikmati ciptaan Tuhan yang satu ini.



Dan tinggal saya sendirian di atas tebing ini, ingin rasanya mengabadikan diriku di tempat ini. Tapi, kak Yohanes dan kak Donal sudah turun duluan, cara terakhir dan yang selalu menjadi andalan saya adalah timer. Walau tanpa tripod, karang yang tajam ini pun menjadi sandaran tuk kamera kesanganan ku (tetap pakai alas kain biar tidak lecet). 


Sudah cukup rasanya kaki saya merasa sakit karena menginjak batu karang yang tajam ini, dan saya pun sudah tidak sabar untuk merasakan hangatnya air laut di depan saya.

Saya melihat kebawah dan tidak mendapatkan mereka di dalam air.  Kemana mereka? Dan ternyata mereka bersembunyi di balik tebing karang untuk menyantap makan siang yang kami bawa dari Ba’a, kota Rote.


Saatnya kami bermain air dan merasakan halusnya pasir putih pantai Laviti. Air lautnya asin sekali, tidak seperti air laut yang ada di pantai kota kupang.





Langit sudah mulai menunjukan hampir gelap dan matahari dari sisi lain sudah memberikan tanda-tanda akan terbenam dan memang sudah saatnya kami pulang dan meninggalkan pantai Laviti yang begitu cantik ini. 

Perjalanan pulang kami lebih ekstrim dari pada saat kami datang, laut sudah mulai menunjukan kekuasaannya dengan ombak yang tidak henti-hentinya menabrak perahu body yang membawa kami. Percikan air laut yang terhempas sudah seperti air hujan yang berasa asin.  :D

Walau pun seperti itu, detik-detik sunset di tengah laut tetap menjadi hal yang romantis untuk kami.        


*** 

Jumat, 17 November 2017

Mulut Seribu Rote miniatur Raja Ampat, 2012

Tulisan ini sebelumnya sudah pernah aku posting di www.kompasiana.com/tinae dan ingin aku repost dan edit sedikit di sini. Mungkin karena aku sudah terlalu sering di blog ini. Sudahlah, tidak perlu panjang-panjang kata pengantarnya, yang ada pada kabur sebelum baca sampai habis. Ha ha ha. 

18 Oktober 2012, mobil yang membawa aku dan teman-temanku menuju ke Rote timur. Dari sana kami memulai explore cantiknya pulau-pulau kars yang berbentuk aneh-aneh dan seperti Labirin. Yup, Mulut Seribu. Sempat terbayang pertama kali mendengar mulut seribu berarti ada lubang yang lebih dari 1 alias banyak. Ternyata bukan lubang yang dimaksud tapi celah-celah antara pulau karang yang satu ke pulau yang karang yang lain membutuk seperti labirin laut.

Tepat pukul 12.00 wita, satu persatu dari kami menaiki body kayu atau kapal nelayan tanpa atap. Kebayanglah panasnya matahari menyentuh kulit kami dan rambut. Bukan hanya itu tidak ada pelampung, toilet dan yah ini perahu nelayan. Sempat deg deg ser ini membayangkan apa yang akan terjadi di depan nanti, mana aku gak bisa berenang. Berdoa ajalah berharap tidak terjadi apa-apa selama perjalanan.
1355390713190745345
Pelabuhan Papela


1355390785915661237
Perahu body motor
1355390996551803863
Satu persatu kami turun
Masing-masing mengambil posisi duduk senyaman mungkin, karena kata si bapak yang punya kapal mungkin sekitar 1 jam kita di atas laut dan melewati laut lepas. Oh man! Serius itu? Gak becandakan? Ah, benar-benar pengaman pertama naik body motor dan melewati laut lepas yang aku tidak pernah bayangkan.
Konon menurut cerita warga setempat, bila ada yang pergi ke Mulut Seribu dengan hati yang tidak baik, itu akan susah untuk keluar dari Mulut Seribu. Bahkan, warga setempat sendiri kadang suka kesasar dan sulit kembali. Gimana aku gak parno coba? Sudahlah, dari pada pusing mikir yang aku sendiri tidak rasakan, lebih baik menikmati perjalanan dan berpikit positif ajalah. Toh niat kami datang kesini baik kok.
Di atas body rasa panas itu semakin menggila. Prosesi melumuri kulit dengan  suncream pun dimulai. Walau aku yakin akan tetap terbakar gosong pulang nanti. Walau cuaca sungguh panas dan mulai gerah, kami tidak mau melepas kain, jaket, dan topi yang dipakai.
13553912001842674587
Luar biasa, benar-benar seperti bermain labirin, masuk ke teluk satu dan keluar di teluk yang lain. Suguhan pulau2 karang yang cantik dan air yang tenang membawa kami menikmati indahnya Mulut Seribu ini.
 13553912611396357415 

Kalau melihat pulau-pulau karang ini mengingatkan aku dengan beberapa foto di kalender bahkan di internet tentang Raja Ampat, Papua. Sekilas tempat ini jadi miniatur Raja Ampat. Kalau sekarang, 2017, Raja Ampat sudah sangat ternenal sekali dengan pulau-pulau katang lancip yang menjulang tinggi. Sedangkan Mulut Seribu, Rote belum seterkenal itu. Beruntunglah belum terlalu terkenal biar gak bantak yang #KidJamanNow kena virus #kekinian meramaikan tempat yang sepi ini :D

 13553913611009331195
 1355391408944118102
1355391460774390106
13553915421635053071
Bernarsis ria di atas perahu body itu wajib hukumnya. Sungguh pengalaman pertama untuk saya  naik perahu body dan membiarkan kamera saya mengabadikan yang diingini. Masyarakat disini menjadikan rumput laut sebagai mata pencaharian mereka sehari-hari, selain memangkap ikan.
13553916452037121901
1355391704297191799
1355391754287160177
13553918022134757702
13553918511661764777
Sempet-sempetnya kami melihat lokasi dimana kami berada dari atas perahu body ini. Karena saya benar-benar tidak tahu lokasi Mulut Seribu itu dibagian mananya pulau Rote. Berkat peta dari handphone, saya dan teman-teman akhirnya tahu. :D
1355391938643917635
1355392016586920673
13553920991919639651355392128170680732 

 Benar-benar indah sekali, dan sudah waktunya saya dan teman-teman menyimpan kamera kami masing-masing, karena sedikit lagi kami akan memasuki area laut lepas. Kapal pulau mengikuti goyangan ombak naik turun dan mulai mendekap tas masing-masing. Tidak lama setelah melewati lautan biru dan berombak, dari kejauhan terlihat air laut berwarna biru muda dan tenang. Kami sudah mulai senyam-senyum sendiri senang saat kapten kapal bilang " Ya itu sudah dia pu pantai. Kita su sampe"

1355392200498027425 
 
Selama kami menyusuri Mulut Seribu, pantai Laviti menjadi tujuan kami untuk berenang. Dari atas perahu, kami melihat betapa indah dan menggiurkan sekali pantai Laviti ini, dengan air yang begitu jernih dan pasir yang begitu putih menimbulkan gejolak ingin segera mendarat dan masuk menikmati hangatnya air laut di pulau Rote Timur ini.


13553924791310528795

***

Rabu, 26 Juli 2017

Hitchhiking Maumere - Moni, 2016

Kalau dari beberapa bulan lalu aku hitchhiking sendiri, berjalan sendiri, dan kali ini aku mengajak Dr Wida hitchhiking untuk pertama kali dari Maumere ke Moni.
Walau masih sedikit puyeng tapi sudah lebih baik dari yang sebelumnya di Maumere, tepar.

Sebenarnya bisa sih naik bis atau travel dari Maumere dan ongkosnya tidak terlalu mahal. Namun perjalanan ini masih #kelilingIndonesialowbudget dan jadiin pengalaman pertama untuk Wida.

Dari Maumere ke Nita, kami berdua diantar naik motor oleh bang Chen dan Dewi. Nunggu beberapa menit dan mobil bak terbuka berhenti memberi tumpangan hingga Tilang. Masih jauh dari Moni, tapi tidak apa-apa yang penting berhasil meninggalkan Nita menuju kearah Moni.

Berhenti di Tilang, orang-orang pada lihatin dan sambil berbisik-bisik ke arah kami. Ada juga yang bertanya mau kemana? Cari apa? Bis? Travel? Dan saat aku bilang cari tumpangan gratis mereka langsung diam dan nunjukin muka tidak percaya, ada 2 anak muda ini yang nekat sekali.

Kami mendapatkan tumpangan yang kedua dengan mobil pribadi. Ternyara mereka mau ke air terjun. Pingin sih ikut ke air terjun tapi tujuan kami berbeda dan memburu waktu untuk bisa bermalam di Moni.  Turun di jempatan sebelelum Paga (aku lupa namanya) disini lumayan lama menunggu sampai ada yang menampung kami lagi. Hampir 30 menit menanti mobil pickup berhenti dan memberikan tumpangan. Kali ini kita bayar 5.000/orang sampai ke pantai Paga dan lanjut ke Koka.

Kalau dengan mobil pribadi dan tidak berhenti-berhenti  Maumere – Koka hanya 1,5 jam. Nah karena dana tercekik dan memilih untuk hitchhiking jadinya 2,5 jam perjalanan.

Dari jalan raya ke pantai Koka lumayan juga kalau berjalan kaki, tapi kami kembali beruntung dipinjamin motor untuk ke pantai Koka.

Pantai ini masih cantik dan bersih seperti pertama kali aku datang kesini. Bukit dengan view 2 teluk pasir putihnya jadi ciri khas dari pantai ini.

Ingin berlama-lama di pantai namun masih harus melanjutkan perjalanan dan ya kembali naik mobil bak terbuka gabung bersama ibu-ibu dan bapak-bapak juga. Duduknya menghadap ke belakang, berlawanan dengan jalan dan sudah punya feeling nih nanti akan mabuk. Tapi berusaha mikir positif ajalah. Tapi susah, karena di bak mobil ini juga gabung dengan seekor babi yang besar dan aromanya wuuuussss bau banget.


Aku sudah tidak kuat dan hanya menutup mata di jalanan yang berbelok nanjak dan turun, sesekali menahan nafas biar jangan kena serangan muntah.

Sudah tidak kuat lagi, kami berdua minta turun di Wolowaru, sudah dekat dengan Moni tapi badan sudah memberontak untuk berhenti. Tutun dari mobil rupanya salah satu diantara kita ada yang muntah dan ya kita duduk di depan samping pak supir agar tidak muntah lagi.


Turun di Moni, kita langsung mencari tempat beristirahat yang nyaman dan mulai mengatur rencana besok ke danau Kelimutu.

Selama berbulan-bulan berjalan, aku tidak pernah kesusahan untuk hitchhiking sendiri dan malah dikasih bonus untuk tinggal free bahkan makan juga oleh mereka yang memberi tumpangan. Takut? Ya kadang takut juga berjalan sendiri seperti ini namun ambil positifnya saja. Niat baik akan dibalas dengan Baik.

#LiburDariLiburan 

***

11 Destinasi Wajib Dikunjungi di Maumere, 2016

Maumere. Hampir disetiap pesta di Indonesia akan memainkan lagu Maumere yang berasal dari Nusa Tenggara Timur. Namun tau gak ya Maumere itu dimana? Seperti apa? Wisata apa saja yang bagus disana? Yang paling aku inget tentang Maumere adalah Tsunami tahun 1992, karena dibahas saat masa kuliah dulu. Intinya Maumere masih di NTT dan cerita perjalananku kali ini masih berhubungan dengan cerita pengalamanku di postingan sebelumnya. 

Selesa camping dan tiba di Laratuka, aku langsung packing semua barang dan melanjutkan perjalanan ke barat Pulau Flores. Sekitar 4 jam dari Larantuka ke Maumere dengan mobil. Tidak banyak yang aku lihat dalam perjalanan karena terlalu lelah dan badan masih memberontak karena sakit. 

Selama 9 hari di Maumere aku benar-benar istirahat memulihkan kembali tenaga. Tapi tetap exploring. Selama di Maumere, Dewi, menjadi pahlawanku dalam perjalanan di Maumere karena mau menampungku yang nomaden ini. 

Ini ada beberapa contekan untuk kalian bisa kalian datangi saat di Maumere:

1. Hutan Mangrove
Tidak jauh dari kota Maumere ke arah barat ada hutan mangrove alami yang sekarang dijadikan tempat wisata. Selama perjalanan mata akan dimanjakan dengan bukit sabana nya, menginegatkan pulau Sumba. 










Jembatan dan menara yang terbuat dari bambu bikin suasana bagus untuk foto-foto keceh juga instagramable banget lah.

2. Tanjung Kajuwulu
Di tanjung ini ada 1 salib Tuhan Yesus yang berdiri kokoh. Untuk sampai di salib itu mesti jalan kaki menaiki anak tangga yang aku gak hitung berapa banyak jumlahnya. 



Disini juga pas banget untuk menikmati sunset. Dengan view after sunsetnya serta siluet bukit-bukitnya.


3. Lopu Lorung
Sudah seharian berdiam di rumah, walau belum fit benar kaki tetap tidak bisa diam dan mata juga ingin dimanja dengan hal-hal baru.

Bareng bang Chen, naik motor nyentriknya aku dibawa ke rumah produksi kain tenun ikat. Nah untuk motor yang nyentrik ini karena ada tengkorak, tulang-tulang, gigi raham, sampai tanduk rusa nempel dimotor. Kalau lihat motor ini berarti kalian berjumpa dengan penyiar radio ini.


Lepo Lorun. Artinya adalah rumah tenun. Rumah tenun ini cukup terkenal loh, bahkan yang punya tempat ini sudah berkali-kali mengadakan pameran di dalam maupun luar negri. 


Disini, Ina ( panggilan untuk wanita yang sudah berkeluarga atau ibu) akan mengajak pengunjung untuk menikmati proses pembuatan kain tenun ikat dari awal hingga selesai. 



Ini kali pertama aku melihat bahan-bahan pewarna alami yang dipakai untuk pembuatan kain tenun ikat. 

Pewarna merah
Pewarna Kuning

Kapas benang
Benang-benang yang dipintal sendiri dari kapas yang sudah  diberi pewarna alami. Tali-tali yang mengikat benang untuk menjadikan motif belum dilepas. 



Benang yang sudah diberi warna biru
Daun nila untuk membuat warna biru
Pakaian dan kain tenun ikat yang aku pakai ini adalah sarung motif asli Maumere. 

4. Coconut Garden Beach Resort
Walau tidak punya uang nginap di resort yang bagus juga mahal ini setidaknya bisa menikmati suasana resort dan pantainya. 





Pengaruh obat yang aku konsumsi, seharian itu hanya tidur saja hingga Dewi pulang dari kerja dan berhasil membawakku keluar rumah untuk menikmati sunset di Coconun Garden Beach. 





Pantai dengan pasir hitam ini cocoklah untuk santai bareng temanmu.

5. Kojadoi
Weekend pun tiba saatnya liburan, untuk yang punya pekerjaan tetap di hari kerja. Nah tujuan utamanya sih sebenarnya pulau Pangabatan. Jadi berhenti dibeberapa tempat sebelum ke pulau pasir itu.



Teman-teman explore hari ini
Kajodoi di belakang
Ada jembatan batu yang sengaja dibangun untuk menghubungkan 2 pulau yang berdekatan. Pulau Kojadoi (pulau kecil) dan pulau Kojagede (pulau besar) dengan view gunung Egon. 

6. Kojagede
Dari kota Maumere ke pelabuhan Nangahale dengan jarak kurang lebih 33km ke arah Larantuka . Itu baru jalan daratnya, belum lagi dengan jarak laut menuju ke Kojagede. 
Kojaede
Di pelabuhan Nangahale kamu akan melihat proses pembuatan garam.




7. Pulau Pangabatan
Tiba juga di tujuan utama. Pulau dengan pasir putihnya, pasir timbul disaat surut. Airnya jernih dan untuk kehidupan bawah lautnya tidak sebagus yang pernah aku datangi karena banyak yang hancur dan ada beberapa terumbu karang yang sedang bertumbuh. Pengaruh Tsunami underwater Maumere hancur. Tapi bawah laut ini cukup mengobati rinduku bermain di bawah laut.







Ciri khas dari pulau Pangabatan ini adalah pasir timbul dengan pohon mangrove yang tumbuh sendirian di tengahnya. 

8. Desa Watublapi
Ada salah satu desa yang terkenal dengan kain tenun ikat "indigo" berwarna biru. Yaitu desa Watublapi. Karena warna biru ini aku minta tolong ke bang Chen untuk antar aku melihat langsung. 




 Berjumpa dengan mama-mama yang pernah ke luar negri untuk memperkenalkan kain tenun ikat Maumere. Lupa namanya. Telapak tangan mama ini sudah penuh dengan warna, sulit untuk menghilangkannya. Hampir tiap hari menenun kain dan mewarnainya.



Untuk membuat 1 kain tenun ikat dengan ukuran sarung itu bisa memakan waktu kurang lebih selama 6 bulan. Lama banget ya. Wajar sih lama, karena buatnya tidak 24 jam dalam sehari. Mama-mama ini juga punyak kewajiban sendiri sebakai istri dan ibu rumah tangga. Kalau pekerjaan di rumah sudah selesai maka selanjutnya menenun. 

Belajar menenun

Di desa Watublapi ini semua kain tenun ikat yang dibuat untuk pribadi ataupun dijual pewarnanya menggunakan bahan-bahan alami. Anak gadis mereka diwajibkan untuk bisa menenun kain ikat. 

Benang yang sudah diwarnai


Proses pembuatannya juga bertahap dari memintal kapas, mewarnai benang hingga jadi kain tenun ikat. Di postingan selanjutnya aku akan bahas proses pembuatan kain tenun ikat di desa Watublapi.

Proses membuat benang

Nah untuk harganya ini cukup mahal dibandingkan kain tenun yang lain di Maumere. Seperti kain tenun ikat yang dijadikan sarung dan dipakai oleh mama ini harganya bisa jutaan loh. Motif dari sarung itu pun khusus untuk wanita yang telah memiliki cucu. Jadi aku belum bisa pakai itu, karena belum punya cucu. Pacar aja gak punya :( eh malah curhat hehehe.




9. Bukit Bintang
Bareng Dr. Wida kita hunting tempat baru untuk sunsetan. Sempat singgah di tengah sawah dan ambil beberapa foto. hehehe


Aku dan Dr. Wida

Nah lokasi sunset kali ini adalah "bukit bintang" entah karena apa bukit ini disebut bukit bintang. Tapi posisi dan lokasinya memang cocok sih untuk menikmati bintang di langit Maumere. Semoga next trip bisa camiping disini.




Sebelum camping, nikmatiin view dulu aja disaat sunset. Tidak kalah cantik dari bukit Kajuwulu. Dan ternyata kami orang pertama yang nikmatin sunset di bukit Bintang bareng bang Bintang, yang nunjukin tempat ini.


10. Pantai Paga
Saat menuju ke Ende atau Moni akan melawati pantai yang bersih dipingir jalan dan untungnya ada tempat untuk istirahat dan makan siang. Jadi pas banget untuk menikmati pantai yang sepi.

11. Pantai Koka
Tidak jauh dari pantai Paga ada pantai yang sungguh cantik di Maumere, yaitu pantai Koka. Di pantai ini ada dua teluk pantai berasir putih dengan airnya yang jernih. 





Naik  ke atas bukit ditengah-tengah pantai Koka akan melihat pasir yang luas melengkung mengikuti bibir pantai. Satu sisi pantainya berbatu karang dan berombak tidak cocok untuk berenang, di sisi lain cocok untuk untuk berenang karena ombaknya yang tidak begitu besar juga pasir putih yang halus dibawah. Kemungkinan untuk terluka kena batu karang tidak terjadi.




Nah dari beberapa pilihan destinasi yang bisa kamu pilih saat traveling ke Maumere. Sesuaikan saja dengan waktunya. 10 Hari itu sudah cukup untuk mengexplore. Tapi tetap belum semua aku explore, biar ada alasan untuk kembali ke tempat ini.

#LiburDariLiburan
***