Sabtu, 28 Desember 2013

Perjalanan ke Pulau Alor, Bag 2

    Akhirnya warna langit berubah warna perlahan-lahan dari gelap ke terang. Dan ini adalah tanda-tanda bahwa pagi sudah datang dan sesaat lagi akan tiba di kota Kenari.

     Walau masih pukul 05.00 wita, sudah terlihat siluet pulau-pulau dari kejauhan, dari sebelah kiri kapal terlihat siluet pulau Pantar dan di dari depan terlihat siluet pulau pura dari kejauhan. 

Siluet pulau Pura

   Kapal ferry kali ini bisa dibilang lambat, yah mungkin karena penumpang yang sangat banyak jadi beban yang dibawa juga bertambah maka harus pelan-pelan. Saat seperti ini adalah suatu yang jarang juga ku dapati yaitu menikmati sunrise dari atas kapal ditambah lagi posisinya di anjungan kapal bagian kanan :D.

    Saat cahaya yang cukup ini, sangat terlihat jelas padatnya penumpang sampai di anjungan juga.


Penumpang lain yang berbagi ruang untuk tidur di anjungan


    Dan detik-detik sang mentari terbit memancing penumpang lain untuk melihat yah mungkin untuk menikmati atau hanya sekedar melihat bahkan ada juga yang seperti aku mengabadikannya dalam video dan foto-foto :D


Sunrise 20 Okt 2013, Alor
Menikmati sunrise bersama tenangnya lautan

    Aku menunggu lompatan sang lumba-lumba, karena menurut teman-teman ku orang Alor, saat pagi datang ikan lumba-lumba akan banyak berlompatan disamping kapal maupun perahu yang lewat. Tapi tidak ada yang lewat, dan saat ku sudah tidak mengharapkan dapat melihat lumba-lumba di pagi itu, dari kejauhan terlihat lompatan-lompatan ikan lumba-lumba yang memancing semua penumpang yang melihatnya bersemangat tidak ketinggalan pula aku dengan antusias. Walau hanya sesaat, tapi sudah membuat ku merasa puas.

    Sambil merapikan barang-barang dan memasukaannya kedalam tas, kusempatkan untuk mengabadikan penumpang yang berada di bawah.



    Akhirnya ku tiba juga di Alor, suatu pulau yang ku yakini akan memberikan ku kejutan-kejutan baik itu pantainya, bawah lautnya bahlan sampai budayanya sekalipun. :D Kapal baru bersandar tapi semua penumpang sudah berdesakan untuk keluar. Yah, sekarang aku sudah bersama teman-temanku yang lain.

Penumpang yang berdesakan hendak keluar

Suasana kampung nelayan di pelabuhan

Tiba juga di pelabuhan Kalabahi - Alor
    Wah.... panas. Yah, alor termasuk kota yang panas, bukan hanya Alor, NTT terkenal dengan panasnya. 


Yeeiii sampe Alor juga akhirnya :D


     Karena ini hari pertama di pulau Alor, mungkin mengumpulkan tenaga adalah hal yang tepat dan yang paling sempurna untuk ku maupun yang lain sebelum memulai perjalan darat esok harinya :).


***

Bersambung...

Perjalanan ke Pulau Alor , Bag 1

   Sudah berapa kali aku batal pergi ketempat yang menjadi salah satu yang ingin sekali kudatangi. Hah (tarik nafas) sepertinya semua tempat di Nusa Tenggara Timur ini menjadi tempat yang ingin sekali kudatangi. Pulau yang berada di bagian timur dari NTT yang sangat terkenal di manca Negara dan yah di Indonesia pulau ini juga cukup terkenal *untuk kalangan pejalan yah. :) diluar pejalan aku kurang tahu.

   Dari begitu banyak pulau di NTT dan banyak budaya dan bahasa yang berbeda-beda ditiap pulau, tapi di pulau yang satu ini lebih banyak lagi bahasa dan budaya yang tersimpan. Bagaimana tidak, setiap daerah di pulau ini memiliki bahasa dan kain adat yang berbeda, walau mereka berasal dari kabupaten yang sama.
Yup benar sekali, pulau yang ku maksud adalah pulau Alor. Akan banyak cerita dan pengalaman yang akan ku dapatkan bila ku menginjakan kaki di Alor. Itu pikir ku dari pertama kali aku tiba di NTT tahun 2008 yang lalu.

   Tapi sayang keinginan ku itu selalu terhambat. Dari aku punya waktu tapi aku tidak punya dana, dan dari aku punya dana dan tidak ada waktu, bahkan yang paling tragis adalah tidak punya waktu dan tidak punya dana. Semua keadaan membuat ku batal berulang-ulang ke pulau yang terkanal dengan kacang kenari.

    Akhirnya di tanggal 19 Oktober 2013 ku ikut bersama keluarga teman dekat ku ke Alor, oke tepatnya teman dekat pria ku :D. Sepertinya muka ku sudah seperti kepiting rebus. Hahaha. Pelabuhan Bolok disiang itu sungguh-sungguh padat dan sangat panas. Ditambah kami harus ikut barisan paling belakang untuk mengantri membeli tiket ferry Kupang – Kalabahi. Dengan harga Rp 80.000,- pemumpang sudah bisa pergi ke pulau Alor. Harga yang sangat cocok untuk teman-teman pejalan yang lain bila ingin ke Alor. :)

   Padat, penuh, panas, dan panas lagi, itu yang kurasakan saat berdesak-desakan masuk ke dalam kapal. Apakah aku akan pingsan di sini? Pikir ku dalam batin. Dengan jarak hanya 10 meter untuk pertama kalinya ku tembuh dengan waktu hampir 30 menit. Sudah bisa masuk rekor muri belum yah? Hahaha. Aku dan yang lain menerobos padatnya orang dan berusaha tenang, walau kami semua sedang berebutan oksigen.  Sangat-sangat penuh. Ini baru dibagian bawah kapal, bagaimana dengan bagian atas kapal? Ouh, sudah tidak bisa kubayangkan ramainya kepala manusia disana. Tangisan anak kecil dan suara ayam-ayam yang berkotek belum lagi suara mama-mama yang menenteng keranjang mendagangkan jualannya. Sepertinya sudah tidak ada lagi kata “mengalah” untuk situasi seperti ini. Semua berebutan dan saling dorong untuk bisa berjalan dan mencari tempat. Dan aku pun melihat celah langsung ku terobos dan memperhatikan kebawah agar aku tidak menginjak kaki dari penumpang lain.

   Huft.. akhirnya sampai juga di tangga-tangga dan tibalah di bagian tempat duduk penumpang. Sungguh luar biasa penuh, yang kubayangkan kalah dengan kenyataan yang terekam mata ini. Untuk pertama kali ku naik kapal laut dengan kondisi seperti ini. Langsung saja salah seorang teman ku memimpin jalan dan membawa kami sampai di koridor ruang ABK. Disini pun manusia penuh, tapi setidaknya aku dan teman-teman yang lain bisa duduk sambil menunggu diluar sana setidaknya sedikit dingin. Walau sempat dapat marah dari ABK karena duduk disana, tapi apa boleh dibuat, sudah sangat padat.

   Nafas ku sudah mulai teratur dan detak jantungku mulai berirama normal dan kapal pun belum menunjukan tanda-tanda untuk meninggalkan pelabuhan bolok. Melihat sekeliling seperti ini aku berfikir ini yang jual tiket tidak tahu kah kalau sudah begini padat atau dari pihak kapal sendiri tidak menyadari kepadatan ini? Ini sudah sangat-sangat overload. Detik, menit dan jam pun berlalu akhirnya pukul dua siang kapal pun pelan-pelan menjauh dari dermaga Bolok dan semakin menjah dari kota Kupang.

Teman ku Fredy menikmati birunya pelabuhan

Situasi di koridor anjungan 

    Tidak bisa keliling untuk melihat-lihat hanya bisa berpaku pada posisi yang sama, takut kalau bangun berdiri dan niat meninggalkannya sebentar eh takutnya orang lain langsung datang dan mengisinya :(. Ada untungnya kami dapat duduk di koridor ABK dari sini aku bisa melihat luasnya laut walau masih terhalangi kaca dari ruang nakoda. Tarik nafas dalam dan ku mulai berdiri memberanikan diri menghampiri pintu utama ruang nakoda dan meminta ijin untuk mengambil beberapa gambar dengan ipod touch ku. Mulai gugup dan takut dilarang, dan sudah hampir membuat ku untuk mundur dari pintu, dan mereka mengijinkan ku. Sungguh senang, karena tidak sembarangan orang masuk ke ruang nakoda apa lagi untuk foto-foto.


View bagian kanan anjungan masih sepi

Padatnya sampai bagian ini juga full

Tidak ada tempat kosong lagi :(

   Yah dengan sedikit perbincangan kecil dan pelahan-lahan percakapan ini terlihat semakin panjang saat ku berdiri di luar bumbungan sebelak kanan dari ruang nakoda. Pembahasan pertama yang akan orang tanyakan adalah “kok bisa sampai di Kupang? Kenapa jauh-jauh dari Jakarta malah pilih Kupang?” dan dari pertanyaan itu akan banyak pertanyaan yang lain bila kujawab. Sudah hampir 30 menit aku bercerita tiba-tiba penumpang yang bersama-sama dengan ku tadi satu persatu datang dan mengambil tempat untuk meletakan barang dan tempat mereka akan tidur nantinya di lantai anjungan ini diikuti Albert dan kakaknya. Untuk kali ini saja kapten memberikan ijin untuk penumpang duduk disana, karena overloadnya penumpang hari ini. 


   Laut lumayan tenang dan dari sini mata ku bebas menikmati semua tanpa hambatan. Walau harus menahan rasa sakit karena berbaring dibawah dan berdesak-desakan dengan beralaskan koran yang diberi oleh seorang ABK. Dari sini ku bisa melihat pulau Kera yang pernah ku datangi dan pulau itu masih terlihat sepi dengan pantai berpasir putih yang mengelilingi pulau Kera tersebut.  

Pulau Kera


    Sambil menunggu matahari turun dan sinar yang diberikan tidak terlalu panas, maka aku dan Albert berjalan perlahan melewati penumpang-penumpang yang sudah duduk berdesak-desakan untuk turun ke bagian buritan untuk bertemu kedua teman ku yang mendapatkan tempat untuk duduk disana. 

Buritan kapal pun padat dengan orang-orang

    Ternyata posisi disini  lebih tepat untuk menikmati sunset. Sambil bercerita bersama Fredy dan Anto, akhirnya momoent romatis itu pun akan datang beberapa menit lagi. Uniknya lagi saat mentari hilang seakan ditelan lautan lepas, awan berbentuk kepala buaya sedang bersiap-siap untuk menelan sang mentari.

Sunset 19 Okt 2013 dari atas kapal ferry

    Menikmati sunset sampai hilang ditelan sang lautan, itu adalah kejadian yang jarang untuk ku, karena kalau dari kota Kupang, pasti tertutupi bukit atau pulau, tapi kali ini tidak ada yang menghalangi kedua mata ku untuk menikmati cantiknya sunset sore itu. Tidak lama setelah sunset, sang bulan pun datang dan menerangi lautan walau tidak seterang sang mentari. Dan, malam ini adalah malam purnama dan menambah keromantisan. *walau sedang padatnya penumpang :D

Bulan purnama dari atas kapal ferry

    Diatas kapal ini tidak ada yang menjual makanan seperti nasi, hanya popmie yang berhasil mengisi perut kami setidaknya sampai besok pagi tiba di pulau Alor. Dan persediaan air minum ku pun habis, mau tidak mau harus beli di atas kapal dengan harga 3 kali lipat dari harga biasanya yaitu Rp. 15.000,- / botol. Menjadi suatu pelajaran untuk membawa bekal makanan dan minuman lebih bantak lagi :).

     Malam semakin larut dan suara-suara penumpang pun perlahan-lahan tidak terdengar lagi hanya suara deburan ompak yang terdengar nyaring seperti nyanyian nina bobo untuk menghantarkan tidur ku. Walau mata sudah begitu berat dan angin malam semakin dingin tidak bisa membuat ku terjaga. Aku dan Albert bergantian untuk tidur dan melurusakan badan, karena ruang untuk tidur tidak cukup untuk kami berdua.

     Saat bagianku untuk tidur dan kedua mata ku mulai tertutup, samar-samar kudengar suara dari laut sana, suara khas ikan lumba-lumba, tapi tidak mungkin menurut ku. Saat Albert membangunkan ku mengatakan kalau ada banyak lumba-lumba, aku langsung bangun dan melihat kebawah dan WOW benar sekali, banyak sekali lumba-lumba dan besar-besar. Saling berkejaran dan saling melompat. Untung sekali sinar rembulan yang terang dan dibantu sinar senter ku dapat melihat dengan jelas. Sayangnya, kamera ku tidak mampu untuk membidik atau pun merekam lumba-lumba. 

    Kulihat ke arah lain, penumpang semua sedang tertidur dan di anjungan sebelah kanan kapal hanya aku dan Albert yang bangun dan menyaksikan indahnya lompatan lumba-lumba dari atas tepat dibawah terang bulan. Dan ternyata ada moment romantis juga yang kurasakan diatas kapal yang overload ini. Hahaha...

   Saat ikan lumba-lumba sudah tidak terlihat lagi lompatan dan terdengar lagi suara-suaranya aku dan Albert kembali menyusul penumpang lain yang sudah tertidur, berharap saat aku membukakan mata, kapal ini sudah memasuki "Mulut Kumbang" pulau Alor.

***

Bersambung...

Tiket Promo Rp. 89.999,-??? Grab fast

    Yeheiiiiiii...... Tahun ini aku masih beruntung karena masih bisa merasakan serunya berburu tiket PROMO untuk menikmati bagian sisi lain dari cantiknya Nusa Tenggara Timur..

   Kalau tahun lalu aku dapat tiket promo dengan maskapai Transnusa Rp 79.999 sudah bisa membawa ku menikmati dan takjub akan keunikan Indonesia timur.

    Dan menutup tahun 2013 aku mendapatkan lagi tiket promo dengan Rp. 89.999,- hahaha beda Rp. 10.000,- dengan yang tahun lalu. Dan kali ini pun ku tidak terlalu banyak menggambil destinasi yang akan ku datangi.

   Pulau sumba menjadi tujuan utama ku pada awal bulan februari 2014. Penuh perjuangan juga untuk mendapatkan tiket promo ke pulau Sumba. Secara tiket normal ke Sumba dari Kupang 900K tpilapi ini hanya 90K betapa bahagianya dan beruntung. 

    Walau ku harus bangun pagi-pagi sekali dan mengantri di kantor pusat Transnusa dari pukul 7.30 wita dan itu aku sudah mendapat nomor antrian ke 19. Masih begini pagi sudah antrian yang angka cukup besar bagaimana kalau aku datang pukul 8.00 wita? Sepertinya aku sudah di nomor antrian ke 100. Hahaha

    Oke. Bukan hanya ke pulau Sumba tapi kembali ke pulau Flores. Bener banget ke Labuan Bajo lagi.. Mungkin ku tidak akan pernah bosan untuk pergi ke Labuan Bajo lagi. Karena disana aku bisa ke pulau-pulau yang mampu membuat ku nyaman..

    Tiket sudah ditangan dan saatnya membuat itin ahaiii :D
***

Kamis, 28 November 2013

Keajaiban dan Misteri Danau 3 Warna, Kelimutu

   Masih ingat tentang tulisan ku yang pernah membahas betapa beruntungnya ku mendapatkan banyak tiket promo dan kubisa menikmati sebagian besar cantinya Nusa Tenggara Timur. Yup! Salah satu tempat dengan tiket PP Rp. 160.000,- ini sudah membawa ku ke Flores Tengah, Ende. Kota yang sudah terkenal dengan sejarahnya.

   Kota dimana tempat pengungisan Bung Karno dimasa Indonesia masih dijajah dan tempat tercetusnya isi dari Pancasila. Tapi kali ini aku bukan membahas tentang itu, tapi tentang salah satu keajaiban yang sudah dari dulu ingin kudatangi yang terkenal dan tersohor sampai di luar negri. Benar sekali. Danau 3 warna yang dapat berubah-ubah warna, Danau Kelimutu.
Ku akan tetap membahas isi kota Ende, tapi itu ditulisan lain yang akan menyusul.:)

    Oke hasil kesepakatan tadi malam, minggu dini hari tanggal 03-03-2013, aku dan bersama kakak-kakak pemuda dari gereja menemani ku tuk menikmati rutinitas sang mentari perlahan-lahan menerangi bumi ini. Ah, bahasa ku ini membuat ku sendiri bingung apa yang aku bilang. Hadeh!!!

   Tidur pun tidak nyaman setiap kelopak mata tertutup selalu bayang-bayang danau 3 warna yang muncul.. tidak sabar untuk segera sampai sana, padahal dalam hitungan beberapa jam saja ku pasti sudah disana. Dengan perjanjian pukul 03.00 wita sudah jalan ternyata pukul segitu kita baru bangun dan siap-siap dan yah kita mulai perjalanan hari ini kurang 20 menit pukul 04.00 dini hari.


   Dan benar saja, Ende kota yang sepi belum ada tanda-tanda aktifitas dimulai dan jalanan pun masih gelap ditemani  udara dingin mulai menusuk tulang, padahal sudah memakai jaket dan penutup kepala dan tetap saja terasa dingin sampai harus berapa kali menahan badan yang menggigil. Demi keajaiban dunia ini, aku rela. Hahaha…

    Kami berempat mengendarai sepeda motor dan membelah gelapnya jalan dan hutan lindung. Tidak ada hal yang bisa diberikan pada mata ini untuk dinikmati, hanya gelap yang sedikit penerangan dari cahaha 2 motor dan taburan bintang di langit yang pelahan mulai menghilang satu persatu.
Mungkin sudah mulai terbiasa dengan dinginnya udara dini hari ku tak merasakan tubuh ku menggigil lagi dan sangat menikmati perjalan ini.

    Sudah mendekati Moni gelap pun mulai pudar dan awan mulai memberikan warna dan cahaya. Tapi belum terlihat warna orange tanda-tanda sang mentari terbit. Tibalah di desa moni dan jalan pun terbagi, langsung saja mengikuti jalan sebelah kanan dan mendaki ternyata sangat mudah untuk dijangkau. Baik dengan kendaraan bermotor atau pun mobil sudah sangat mudah.

    Kali ini mata ku dimanjakan dengan pemandangan yang segar dan alami. Sawah-sawah yang bertingkat dan perkebunan pohon cengkeh menghiasai bersamaan dengan itu langit pun semakin terang dan perlahan sudah memberikan warna orang. Dan yaaaaah aku belum sampai di danau kenapa sudah harus terbit??

    Tiba di pos penjagaan, ku langsung mengeluarkan uang untuk membeli karcis untuk empat orang. Dan mengisi buku tamu. Wah ternyata kami tamu ke 6, dan rata-rata tamu dari luar negri.  Dari pos penjagaan ke parkiran tidak terlalu jauh, dan motor pun diparkir dan disanalah ku berdiri tuk sesaat tuk menikmati perubahan warna dan menyambut sang mentari. Walau tidak bisa menikmati sunrise dari bibir danau Kelimutu, tapi setidaknya bisa menikmati dari parkiran Kelimutu, yang penting sama-sama “Kelimutu” hahaha. Bukan malasah dimana tempat kita menikmati dan menyambut sunrise tapi bagaimana cara kita menyambut. Dan aku bersyukur bisa langsung melihat sunrise. Tidak sia-sia kedinginan dan waktu tidur hanya sedikit tapi kepuasan itu muncul sendiri. Tetap tidak lupa untuk mernarcis bersama sunrise :)


Sunrise dari parkiran
Narcis dulu bersama sunrise
    Sudah merasa cukup, disinilah dimulai menaiki anak-anak tangga yang akan menghantarkan ku dan teman-teman ku sampai di danau 3 warna.

   Sudah mulai tercium aroma khas dari kawah yaitu aroma belerang, berarti sudah semakin dekat keberadaan ku. Dan benar saja sudah sampai dan aaaaaaaaaaaaa ku berteriak dengan senangnya dan bahagia. Bagaimana tidak, tempat ini adalah satu-satunya di dunia yang memiliki warna kawah yang berbeda-beda dan bisa berubah-ubah, tanya di mbah google, tidak ada danau yang bisa berganti-ganti warna seperti danau Kelimutu. Dan hanya ada di Indonesia, cool.. :) bangga banget menjadi orang Indonesia.

    Tempat yang terkenal ini entah bagaimana ceritanya tidak lepas dari sebuah misteri.  2 bulan sebelum ku datang dan menginjakan kaki disini warna danau ini masih biru muda dan biru keputih-putihan plus warna hitam. Tapi sekarang entah bagaimana dan kapan proses perubahan warnanya sudah sangat berbeda memberikan warna coklat kemerahan,  hijau tosca, dan hijau muda.

    Oke saatnya “Tour danau 3 warna, Kelimutu”. Yah danau pertama yang kutemui adalah dua danau yang berdampingan dan kalau kita ingat lagi diuang pecahan Rp 5.000,- foto danau ini pernah ada disitu. Dan Sekarang ku bisa berdiri dan melihat dengan kedua mata ku sendiri wujud asli foto dari mata uang itu. Kalau dilembar mata uang Rp 5.000 dua danau di depan ku ini berwarna merah dan biru.

Papan sejarah terjadinya kawah dan tanda BERBAHAYA
    Sebelum berdiri dipagar pembatas, kita seharusnya WAJIB untuk membaca peraturan yang ada disana, dan mengetahui bagai mana danau ini terjadi. Tunggu ini danau atau kawah yah? Karena Kelimutu sendiri adalah nama gunung berapi yang berada di Ende. Dan saat perjalanan ke atas tadi ku mencium aroma belerang, berarti ini adalah kawah. Tapi sudahlah buat apa kubahas panjang lebar dan memang sudah terkenal baik itu dengan nama “Danau Kelimutu atau Kawah Kelimutu”.

    Kembali ke papan nama sebelum pagar pembatas. Ternyata papan itu menandakan area berbahaya dan sejarah terjadinya danau ini.  Danau pertama adalah danau Titu Ata Polo dengan luas 4 Ha dan kedalaman 64 meter. Sungguh besar. Titu Ata Polo ini berwarna coklat tua agak kemerahan malah hampir sama dengan warna cola. Dari ketiga danau yang ada, ini danau yang paling berbahaya sihingga ada pagar pembatas yang tidak boleh dilewati.

   Dan misteri selanjutnya adalah masyarakat setempat mempercayai ketiga danau ini adalah tempat arwah-arwah leluhur, yah bisa dikatakan sakral. Untuk Titu Ata Polo sendiri adalah tempat persemayaman arwah-arwah dulu saat masih hidup melakukan kejahatan yah seperti sihir, jadi bisa dibilang danau ini tempat arwah jahat.

    Untuk danau yang ke-2 yang beada di dengah itu adalah danau Tiwu Nuamuri Koofai yang lebih luas dan lebih dalam dari danau ke-1 yakni tuk luasnya aja kurang lebih 5,5 Ha dan kedalamannya  127 meter. Warna danau ke-2 berwarna hijau sedikit muda J yah seperti danau ke-1 danau ini juga memiliki misteri tempat semayamnya arwah muda-mudi yang mati muda. Jadi kalau aku mati sekarang apa aku menjadi salah satu anggota arwah di danau Titu Nuamuri Koofai??? Hahahaha lucu juga yah. Hadeh!! :p

   Entah kenapa rasa penasaran dan rasa keingin tahuanku yang besar tiba-tiba muncul. Lihat kanan-kiri tidak ada penjaga dan hanya ada kami berempat di danau ini, ketiga teman ku lebih memilih berfoto-foto di balik pagar pembatas mungkin karena mereka orang Ende sendiri jadi sudah berkali-kali datang kesini. Sedangkan aku yang baru pertama sekali datang, langsung saja ku ambil DSLR ku dan langsung ku gantung di leher dan ku mulai melewati pagar pembatas dan berjalan menyusuri bibir danau Titu Ata Polo dan ingin sekali rasanya memutar lebih jauh tapi teman-teman sudah memanggil untuk menyuruh ku kembali dan berhati-hati.
Panggilan mereka seakan ku tidak dengar atau aku yang pura-pura tidak dengar dan dengan santai ku sudah berjalan lumayan jauh dan disinilah ku berdiri dan memejamkan mata dan menahan napas, tanganku mulai berkeringat dan detak jantungku pun dapat ku dengar dengan jelas.

    Kubentangkan kedua tangan ku dan terasa angin pelan menyentuh telapak tangan ku yang perlahan-lahan tak berkeringat dan kubuka mata ku perhalan dan menghembusakan nafas dengan tenang dan OH MY GOD!!! Amazing… sungguh cantik. Thanks God, ku bisa merakasan keajaiban yang luar biasa. Kedua bola mataku melihat kebawah dan entah mungkin pikiran ku saja saat itu aku seperti tertarik kebawah.

    Perlahan tapi pasti ku dengar suara teman-teman ku memanggil ku yah dengan nada yang sepertinya cepas. Dan disaat itulah ku sadar sudah cukup tuntuk ku terhipnotis kecantikan Titu Ata Polo. Langsung dengan tanpa diperintah tangan ku langsung mengambil kamera yang dari tadi ku anggurin dan sekaranglah dia berfungsi :)

Warna cola pada Titu Ata Polo

Dua danau berdampingan

Jarak antara aku dan pagar pembatas

Nekat melewati pagar pembatas sampai jauh
    Karena aku sendirian yah dengan timer itu adalah cara yang paling pas untuk mengabadiakn foto ku yang sudah nakal melewati pagar sampai jauh.

Tiwu Nuamuri Koofai berwarna Hijau muda 
Titu Ana Polo dan Tiwu Nuamuri Koofai terlihat tenang

Menikmati keindahan yang Tuhan beri
Aku bersama kakak-kakak pemuda gereja :)
   Pernahkah kalian berpikir untuk merasakan hangatnya air danau Kelimutu ini? Dapat berenang seperti danau vulkanik danau toba. Tapi di danau Kelimutu ini menurut penjaga dan masyarakat setempat belum ada orang yang pernah memegang air dari danau ini kecuali danau yang ke3. Malah sering ada yang jatuh dan tidak bisa ditemukan dan yah seperti itulah, menurut penjaga sih seperti itu.

   Saat ku sudah berada bersama teman-teman ku, yah pertanyaan-pertanyaan mulai bertadangan. Ku dapat merasakan kekawatiran mereka bila terjadi sesuatu pada ku yang tidak dinginkan karena kejahilan ku ingin tahu. Dan konyol! Itu kata kusebut untuk diriku sendiri. Dengan santai ku mengeluarkan snorkel dari dalam tas dan heloooooo ini kawah loh bukan lautan. Ketiga teman ku melihat heran untuk apa ku membawa alat snorkeling ke atas gunung Kelimutu dan di kawah yang berbahaya seperti ini.

    Mereka pun tertawa saat ku meminta tolong untuk memfoto ku saat ku duduk di pinggir danau dan snorkel sudah terpasang. Untung danau 3 warna ini berada di ketinggan membuat ku tidak niat untuk membawa baju renang. Hahaha, kenapa gak sekalian dengan scuba? Berat bawanya ke atas gunung. Kocak.

Snorkling at Denger lake??

or snorkling at the same danger lake??
    Andai saya bisa snorkling di danau ini.. :D
Oke sudah puas dengan ke dua danau ini, sudah waktunya ke danau ke-3 yang airnya bisa disentuh bahkan untuk cuci muka pun bisa disana, tapi yah mesti punya tenaga cadangan karena harus turun ke bawah dan naik kembali :)


    Berjalan menaiki anak-anak tangga lagi untuk mencapai puncak tertinggi di gunung ini yang bisa melihat ketiga danau sekaligus. Sayang sekali saat berjalan ke atas papan petunjuk arah terlepas dan saat ku gabungkan yah jadi kacau sendiri. Ada juga papan sebagai sejarah aktifitas gunung Kelimutu. 

Rekaman aktifitas gunung Kelimutu

Papan penunjuk jalan yang sudah rusak

Narcis di tangga-tangga menuju tugu

Banyak juga anak tangganya :)
    Saat berada di tangga-tangga bagian sebelah kiri ku menyambut dengan cantiknya. Hutan pinus melingkari lubang besar yang berisi air berwarna hijau tosca. Sudah tidak sabar kali untuk melangkahi anak-anak tangga ini. 

   Dan sampai diatas para turis asing sudah mengambil posisi mereka sambil menikmati dan merekam keajaiban yang Tuhan beri dengan kedua mata mereka. Dan disana sudah ada bapak-bapak dan mama-mama yang berjualan. Dari jam berapa mereka sudah berada disini, dan ternyata mereka sudah ada dari pukul 3 dini hari dan berjalan ditengah kegelapan dan dengan udara yang begitu dingin. Mereka tinggal di desa Moni. 

   Popmie panas sepertinya pas untuk kami bersantai. Sebelum keinginanku untuk turun kebawah dan mencoba menyentuh airnya kusampaikan, teman-teman ku sudah melarang ku dahulu. Mereka bilang sebelum kabut datang lebih baik kita turun. 

    Yah, dari pada ku menghabiskan waktu tuk berjalan kebawah dan naik kembali lebih baik memilih untuk bersantai diatas dan merasakan keindahan yang Tuhan berikan.

   Ada misteri lagi yang tersimpan di danau ini, yaitu lempar batu. Aku dan teman-teman ku sudah berusaha untuk melepar batu dan batu-batu itu langsung hilang atau berbelok ke kanan, padahal kami melempar lurus. Tidak ada yang pernah berhasil melempar batu dan batu itu selalu berbelok. Entah kenapa dan ku menikmatinya semua.

   Hati-hati juga kalau kesini, Karena ada banyak monyet-monyet yang entah dari mana datangnya tiba-tiba sudah ada di samping ku berusaha merebut kamera yang ku gantung di leherku. Apapun yang kemungkinan bisa dirampas paksa oleh sang monyet hindari barang-barang itu terlebih dahulu. :)

Aku di atas tugu

Sibapak penjual popmie

Menikmati dari tangga-tangga

Wow ada monyet di belakang ku :)

Bercerita tentang perjalanan dengan turis asing
Yooooo amazing ya
Add caption

Pati Du'a Bapu Ata Mata

Habis mencoba lempar batu :)
    Oh yah, aku lupa member tahu kalau danau ke-3 ini bernama danau Titu Ata Mbubu dengan luas hampir sama dengan Titu Ata Polo yaitu luas 4,5 Ha dan dalamnya 67 meter. Dan tempat ini juga sebagai tempat semayam arwah-arwah orang tua yang sudah mati.

    Dan pada setiap tanggal 14 Agustus diadakan acara “Pati  Du’a  Bapu Ata Mata” acara memberikan makan kepada arwah yang ada disitu. Dan itu adalah acara adat. Dan terjawablah sudah rasa penasaran ku terhadap danau warna ini. Tempat keramat yang penuh dengan misteri dan penuh dengan ketakjuban.

   Kabut pun mulai datang dan sudah saatnya kembali ke Ende karena penerbangan ku siang ini ke Kupang.

Kabut sudah datang + dingin

Istirahat bentar sebelum melanjutkan turun kebawah

Welcome to Kelumutu National Park
Papan Iklan dipercabangan Moni - Kelimutu

    Karena sang mentari sudah terbit dan kabut pun memenuhi sejauh mata memandang, jadi selama perjalanan turun ke Moni hanya bisa melihat sawah-sawah dan perkebunan cengkeh dengan jelas.

    Dan berharap ada kejutan lain selama perjalanan kembali ke Ende, dan benar sekali mata ku dimanjakan pemandangan air terjun dan itu banyak sekali semua kunikmati dari atas motor dan karena jaraknya jauh sekali. Ada satu air terjun yang tidak terlalu besar tapi sudah mampu membuat ku dan teman-teman berhenti untuk sekedar berfoto-foto karena air terjun ini berada tepat dipinggir jalan raya. 

Air terjun dilihat dari jalan raya

Airterjun dipinggir jalan raya
    Suatu pemandangan yang untuk pertama kalinya ku lihat dan sangat sulit untuk mendapatkannya. Kalau di Kupang ku sudah terbiasa melihat sepeda motor digantung di bagian belakang bus, tapi ini puluhan ayam kampong yang digantung di bagian belakang bus seperti wallpaper.

Ayam bergentatungan di bus

    Dua jam perjalan tidak terasa karena alam yang begitu indah menghiasi sepanjang jalan.

***