Minggu, 17 Maret 2013

Pantai Oeseli, Pantai dan Hari Pertama ku di Pulau Rote



      Perjalanan saya kali ini meninggalkan jejak kaki di pulau paling selatan wilayah Indonesia. Kalau masih ingat iklan indomie, pulau ini masuk di iklan tersebut. Pulau yang terkenal dengan salah satu wisata surfingnya, pulau Rote. Saya masih ingat waktu saya duduk di sekolah dasar pada saat pelajaran kesenian, tentang alat musik daerah. Dan alat musik sasando berasal dari pulau Rote, Nusa Tenggara Timur. Saya datang ke pulau ini bukan untuk surfing atau melihat permainan surfing para wisatawan asing (karena bukan misim angin ombak tidak terlalu besar), tapi karena niat menghilangkan stress yang kali ini persentasi laporan KP (Kerja Praktek) ku dibatalkan lagi.

Seharusnya saya pergi bersama teman-teman trip yang lain di hari rabu, tapi karena masih ada tanggung jawab dengan perkuliahan, saya mengurungkan niat dan membatalkan trip ke Rote.  Walau teman saya sudah mengatakan “pergi saja, persentasi pasti batal” tapi saya tidak memperdulikan perkataan itu. Yah, secara saya sudah setengah tahun lebih menunggu waktu ini, waktu saya persentasi hasil KP saya.


     Tibalah di hari yang saya tunggu-tunggu, pagi pukul 6.30 sabtu 17 November 2012 tiba-tiba dosen pembimbing memberi kabar kalau PERSENTASI BATAL. Rasa kesal yang memuncak sampai ubun-ubun.  Hari yang ku nanti batal, trip ke Rote juga batal, kesalnya. Iseng telpon temen  yang sudah di Rote tanya kapal cepat dari Kupang – Rote jam berapa berangakat, jam 8.00. Masih ada waktu 1,5 jam lagi dan dengan cepat saya pergi kepelabuhan. Kondisi yang benar-benar hancur menurut saya, belum tidur dari malam, belum mandi, belum makan dan nekat ke Rote sendirian.

Dari kos saya naik ojek ke pelabuhan Tenau Rp 10.000,- sebenarnya saya bisa naik angkot dengan ongkos 2000 dari terminal Kupang, tapi kapan saya sampai. Sedangkan saya sedang memburu waktu agar tidak telat L. Setibanya di pelabuhan Tenau, saya langsung membeli tiket di loket. Karena saya berangkat dengan kapal cepat saya harus mengeluarkan Rp 120.000,- kalau saya naik kapal lambat dari pelabuhan Bolok  yah kisaran Rp 80.000 – Rp 90.000 sudah bisa membawa saya sampai pulau Rote. Saya mengejar waktu agar bisa bersama teman-teman yang lain untuk explore pantai Nembrala (pantai  yang terkenal di Rote).


   Selama diperjalanan saya manfaatkan dengan tidur sejenak, mengumpulkan tenaga. Perjalanan Kupang-Rote ditembuh 2,5  jam yang seharusnya bisa ditembuh dengan waktu 1-2 jam, Karena mesin turun. Entah apa itu saya tidak mengerti tentang mesin turun atau mesin naik. Yang penting adalah saya tiba juga di pulau selatan Indonesia, pulau Rote.

Om Mesakh sudah mensuruh saya naik angkot kenalannya dan saya seharusnya membayar Rp 5.000,- sampai ke rumah Raja Ti’i di daerah Oebafok. Tapi karena supir angkot melihat saya orang baru dan saya pun tertipu Rp 15.000,- saya harus membayar Rp 20.000,- Hari yang membuat saya kesal (membatin).
Rumah Raja Ti'i bagian depan

    Belum sampai 5 menit saya tiba di rumah Raja Ti’i, saya dan teman-teman langsung memulai perjalanan dengan tujuan pantai Nembrala. Sebelumnya kami harus mengisi bensin mobil yang akan menghantarakan kami menikmati indahnya pantai yang terkenal sampai ke luar negeri itu. Tidak ada pom bensin di pulau ini, hanya pertamini yang mereka sebut untuk mendapatkan bensin, pertamini (bensin yang dijual eceran dengan botol-botol perliter dan drigen perlima liter). Oh ya trip kali ini saya bersama kak Annet, Dr. Ary, Dr Jo, Dr. Agata, dan Dr. Ellen (kok semua dokter yah?) hehehe :p 

Kondisi jalan menuju kesana masih dikatakan bagus, walau ada jalan yang  masih rusak. 
Kondisi jalan menuju pantai Oeseli
    Dalam perjalanan kami melewati daerah Oeseli dan ternyata kami disambut pemandangan indah disepanjang jalan. Pantai yang bersih dan cantik menggerakan kami untuk berhenti dan menikmatinya ditambah dengan pasir putihnya yang halus. Kurang lebih 10 menit kami singgah di pantai ini.  Dan pantai ini adalah pantai pertama yang ku kunjuni di pulau Rote.
Pantai Oeseli
 
Bagian kanan pantai dengan pasir putih

Bagian kiri pantai seperti pintu meuju ke pulau karang
Saya dan teman-teman trip
      Seperti ada pulau kecil di depan kami, sayangnya ada pembatas, air di pantai ini penghalang untuk menyebrang kesana. Sepertinya kalau air laut sedang surut, kayaknya bisa untuk menyebrang sampai sana karena sudah tidak ada air.
Melompat lebih tinggi

Cara kami menikmati cantiknya pantai Oeseli
 
      Sungguh cantik. Walau matahari tepat membakar kami dari atas kepala, tidak mengurangi rasa bahagia kami untuk menikmati dan mengabadikan pantai Oeseli yang cantik. Walau pun pantai ini hanya sebagai pantai persinggahan karena berada tepat di pinggir jalan umum. Dan salah satu yang memjadi perhatian kami selain pantainya yang cantik adalah pulau karang yang berbentuk seperti mulut buaya.
Pulau karang seperti mulut buaya

     Perjalanan kami lanjutkan dengan pemandangan batu-batu karang yang menjulang tinggi dan pantai-pantai disepanjang jalan.
Batu karang yang menjulang tinggi


      Hari ini tidak selalu menjadi hari yang mengesalan, malah rasa kesal itu menghasilkan kepusan dengan menikmati ciptaan Tuhan yang indah.


Bersambung...

***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar