Senin, 13 Mei 2013

Hidden Beach @Semau Island, NTT

Kesibukan kuliah membuat diriku semakin jenuh dan penat karena menunggu kapan selesai kuliah. Butuh ketenangan, sangat-sangat butuh. Tapi kemana? Dan pulau Semau menjadi tujuan ku untuk menghilangkan kepenatan rutinitas dan untungnya pulau Semau ini adalah pulau tetangga dari kota Kupang. Beruntungnya saya memiliki kenalan yang berkerja di pulau Semau dan teman-teman  yang punya hobi sama-sama jalan. Kami putuskan menghabisakan akhir pekan di pulau Semau.Pulau Semau berada di bagian barat pulau Timor atau disebalah baratnya kota Kupang.

Tanggal 03 November 2012, saya dan 4 orang teman saya dari latar belakang profesi yang berbeda-beda yaitu Dr. Jo (kenalan yang kerja di Semau) dan  Dr. Ari, Kak Annet, Mas Arul menuju ke pelabuhan Tenau, Kupang.dan kenalan yang kerja di Semau sudah menunggu kami nanti di pelabuhan Hansisi, Dr. Jo.  Dipelabuhan inilah kami bisa mendapatkan akses menuju ke pulau Semau. Bukan kapal-kapal besar yang mengantar kami ke pulau Semau. Tetapi kapal-kapal kecil milik nelayan yang dijadikan alat transportasi Kupang - Semau.

1352270928510100355
Kapal yang akan membawa kami dari Pelabuhan Tenau


13522954401221282983
Satu persatu penumpang naik ke kapal

Jarak yang ditempuh untuk sampai di pulau Semau tidaklah terlalu lama, hanya 25-35 menit kita sudah akan sampai.  Uniknya dari kapal yang membawa kami ini adalah bukan hanya manusia yang diangkut oleh kapal kecil ini tetapi belanjaan sembako yang mereka beli di Kupang bahkan sepeda motor pun diangkut. Bukan hanya kapal yang membawa kami, tapi semua kapal yang digunakan sebagai alat transportasi Semau - Kupang - Semau ini akan mengangkut seperti ini. Bahkan biasanya satu kapal bisa mengangkut 2-3 sepeda motor (motor besar).
13522817451870447489
Manusia, sembako, dan motor pun ikut diangkut
Selama perjalanan kami disuguhi hamparan laut biru dari luar kapal dengan Kupang barat sebagai latar belakangnya. Tidak terasa kapal yang telah membawa kami telah bersandar di pelabuhan Semau di daerah Hansisi…


13522818901323112881
Laut biru dengan latar Kupang barat


1352271853948810279
Pelabuhan Hansisi
1352272116913400177
Saya dan partner trip Semau
Panaaaaaaaaaaaaasss…. keluhan yang tidak akan terlupakan… Suhu di semau saat itu sama dengan suhu di Kota kupang hampir 37 derajat. Karena belum masuk musim hujan, pulau ini semakin panas karena setiap mata memandang hanyalah tanah tandus dan gersang. Air bersih (air tawar) pun susah didapat di daerah ini. Air minum yang kami bawa dari kupang dalam sekejam kosong. Benar-benar panas.
Karena kami berlima dan hanya membawa motor 1, jadi kami mensewa motor. Lirik jam tangan sudah hampir jam 2 siang, maka kami langsung menuju ke arah selatan pulau Semau untuk mendapatkan sunset yang cantik.

Kondisi jalan yang berpasir dan tidak rata membuat kami seperti menunggangi kuda. Di perjalanan kami mendaptakan suguhan kegersangan pulau ini dengan hiasan pohon-pohon raksasa dan pantai berpasir putih yang panjang sekali. “Tuhan, sungguh cantik ciptaan Mu ini” kata ku dengan mata tak bisa berkedip lagi karena tidak ingin pandangan di depan mata saya ini terlewati. Kami berhenti sejenak untuk menikmati dan mengabadikannya dengan kamera yang dibawa.

13522749561289802833
Rintangan di tengah jalan
1352275362359447521
Kondisi jalan tanah putih dengan pandangan pantai panjang di ujung jalan
1352275605187969105
Biru laut yang menggoda dari pinggir jalan
Pantai yang biru yang bersih ingin sekali rasanya masuk kedalamnya dan merasakan hangatnya air laut. Namun sayang, belum sekarang waktunya, karena masih setangah perjalanan untuk mencapai bukit Liman di bagian selatan pulau Semau.
Setengah perjalanan menuju ke bukit Liman, pasir putih yang halus menggarisi bibir pantai yang indah memanggil-manggil kami untuk singgah dan menginjakan kaki di putihnya pasir-pasir itu.

1352276409447258840
The hidden beach
13522764821023180092
Pantai  yang masih perawan di Pulau Semau
Belum afdol rasanya bila kami berlima tidak mengabadikan dengan foto bersama. Tapi siapa yang mau mengambil gambar kami? Diantara kami tidak ada satu pun yang membawa tripod. Terlintas ide ngeletakin kamera di atas jok motor dan…. hasilnya

13522768061035948414
Narcis dengan latar pantai yang cantik
Tanda-tanda kami hampir sampai adalah terlihat bukit Liman dari jauh dan jalan pun penuh dengan pasir. Beberapa kali kami terjatuh karena pasir yang halus menahan ban motor kami. Dan pilihan terakhir adalah mendorongnnya sampai melewati jalan berpasir ini.

13522769491118969305
Pantai Selatan yang masih alami
1352277041309232784
Tidak ada penduduk disekitar pantai ini
13522771321551609019
Bukit liman dengan pantai berpasir berwarna berbentuk  merica
Melewat jalan yang berpasir halus, sekarang rintangan yang datang adalah jalan yang dibuat masyarakat setempat untuk jalan kaki, bukan untuk jalur motor. Tetapi, karena ingin cepat-cepat sampai di puncak, bebatuan dan pohon-pohon duri yang tajam pun kami lewati dengan susah payah.

13522775221761436318
Dr. Ary harus mendorong motornya karena jalan berpasir halus
13522780732097306529
Kak Annet dan Dr. Ari mencoba menerobos jalan berduri

135227739860030740
Kaki bukit Liman
Rasa bahagia merasuki hati kami. Tinggal hitungan menit kami sudah hampir sampai di puncak bukit Liman. Tapi hati-hati jangan terlalu ngebut membawa motornya. Karena di puncak bukit Liman ini langsung tebing menuju laut. Salah-salah bisa terjun bebas dengan motor-motornya :)
Perjuangan wanita dengan motornya berhasil memberikan kesan tersendiri untuk puncak bukit Liman ini.

1352278801760681428
Dr. Ary berhasil melewati rintangan sampai puncak :D
Luar biasa, sungguh-sungguh cantik. Tidak ada kata-kata yang bisa menjabarkan betapa cantiknya ciptaan Tuhan yang satu ini. Amazing. Rasa letih karena menempuh waktu kurang lebih 1,5 jam dari pelabuhan Hansisi dengan kondisi jalan yang tidak mulus dan berpasir halus semua terbayar lunas saat mencapai puncak bukit Liman. 
Pantai di bagian selatan pulau Semau ini masih sangat-sangat virgin, bahkan tidak ada penduduk di sepanjang pantai ini. Hanya pondok-pondok nelayan rumput laut  yang menghiasi pinggir pantai dan itu hanya beberapa saja. Pantai ini sangat cocol bila disebut sebagai "Hidden Beach".
Bila kita lihat ada keunikan dari pantai yang bentuk melengkung mengikuti pinggir pulau. Ada dua warna pasir di pantai yang terpisah oleh bagian pulau. Dua cekungan yang diakibatkan karena bentuk pulau memberikan pemandangan yang indah sekali. 1 cekungan berpasir halus dan berwarna putih bersih (Foto di atas) dan 1 cekungan lagi berbasir mericah dan berwarna. Sungguh cantik dan unik.
Mungkin kalian akan merasa bosan karena saya selalu mengatakan cantik, tapi pantai ini benar-benar cantik.

135227907435939370
Pantai selatan yang sedang surut dengan 2 warna pantai yang berbeda
1352279243425850496
Pantai Selatan dari sisi kiri bukit Liman
WOOOOOW….. bener-bener indah dari atas puncak bukit Liman. Bahkan 6 kamera yang kami bawa pun tidak bisa mengabadikan seindah aslinya.
Kalau tadi tidak ada tripod jok motor pun jadi, kali ini… terpaksa diatas karang (Papa maaf kameranya diletakin diatas karang :D)

1352279374861020513
Berpose di puncak bukit Liman
Matahari sudah mau memberikan saat-saat terindahnya. Saya beranikan turun ke bawah bukit sendirian untuk mengabadikan sunset dibalik ranting-ranting pohon yang tetap berdiri kokoh di pinggir pantai..


13522795591568522012
Menjelang sunset
Matahari  yang terbenam kali ini sangat besar sekali tanpa awan yang menutupi, sayang kamera ku tidak mendukung untuk mengabadikan besarnya sunset.
13522801261046232690
Cantiknya Sunset
13522801821116718394
Sunset dibalik ranting
Ingin rasanya saya memetik matahari… tapi apa boleh buat, saya hanya bisa menikmati dan mengabadikan “Memetik Sunset” dengan timer. Mungkin banyak yang tidak percaya saya bisa mengabadikan memetik sunset dengan timer kamera, tapi ini hasil dari berkali-kali mencoba dan gagal. 
1352280366323344716
Memetik Sunset
Dan saatnya kembali ke puncak bukit. Waw, tinggi sekali… andai ada eksalator yang membawa saya dengan santai sampai diatas, saya mungkin orang pertama yang akan menaikinya berkali-kali setiap detik :D

13522805231578096865
Terlihat 4 teman ku di puncak bukin Liman
1352280897357545248
Love Sunset
13522811151943174223
Langit sehabis sunset
Romantisme pun menyambut matahari yang tenggelam, sungguh tak ingin rasanya meninggalkan bukit ini secepat ini. Jingga sang sunset menghantarkan kami pulang ke penginapan di desa Uitao.


Bersambung...

***

Minggu, 12 Mei 2013

Mengeksplore Pulau Kanawa Hari ke 2 (part 4)

Merasa sudah cukup waktu untuk istirahat sepanjang malam, rasa penasaran dengan pulau yang berada di Labuan Bajo, Kanawa mulai bangkit saat kedua mata saya terbuka.
Udara yang segar dan masih bersih masuk dan mengisi paruku, terasa nyaman sekali. Masih ingin bermalas di tempat tidur, tapi perut sudah tidak sabar untuk disi. Hangatnya sinar mentari sudah terasa dan langit pun cerah pun mendukung. Entah karena memang daerah NTT ini jam 7 pagi sudah panas seperti jam 10 pagi atau memang saya yang sensitif dengan panas (alah padahal Kupang juga panas) :D
Tidak perlu mandi pagi lagi, toh ini sudah mau mandi air laut kembali. Karena air tawar di pulau Kanawa ini masih susah dan pengelola resort harus membeli air bersih seriap hari, maka pemakaian air tawar yah seperlunya saja.

Hari ini (27 oktober 2012) target saya adalah menjelajahi semua sudut pulau Kanawa ini sampai ke bukit-bukitnya. Tapi, tetap semua diawali dengan bersnorkling dari pinggir pantai. Kalau kemaren sore mulai snorkling dari dermaga, kali ini dari pinggir pantainya. Banyak sekali terumbu karang yang cantik dan si petrik temannya spongebob (bintang laut). Sayang saya maupun teman-teman tidak ada yang membawa kamera underwater, jadi tidak bisa mengabadikan cantiknya bawah laut.

Siap-siap snorkling

Menuju ke dermaga


Saat kembali ke dermaga, dan saya sadar kalau kulit saya sudah berubah warna. Mudahnya untuk orang lokal seperti saya merubah warna sedangkan para turis asing susah sekali merubah warna. Walau panasnya sinar disiang hari tepat di atas kepala, tidak mengurungkan niat saya dan kak Annet bermain kano.


Bermain kano dengan kak Annet

Dengan susah payah (karena baru pertama kali), akhirnya kami berhasil membawa kano sampai pinggir pantai dan perut pun mulai teriak lagi karena tenaga mulai habis. 
Pantulan pasir putih yang terkena cahaya matahari membuat silau mata dan semakin membuat saya dan Dr. Jo semangat untuk mulai explore pantai. Kamera, sunblock dan air minum sudah siap dibawa untuk mengitari pulau Kanawa. 


Terlihat bungalow berjejer

Lapangan voli pantai yang disediakan resort Kanawa

Sedang asiknya mengabadikan setiap sudut pulau Kanawa, ada satu turis yang mengambil perhatian saya dan tamu yang lain, ia masuk ke restoran dan meminta ijin untuk meminjam sendal-sendal kami, entah untuk apa itu tapi saya yakin dia akan membuat sesuatu hal  yang menarik. Spontan saya dan tamu yang lain keluar mengikuti dia. Panas sekali. Seperti ada api di pasir ini, saat kaki menginjaknya (karena sendal ku dipinjam juga). Ternyata turis itu membuat bentuk hati dari sendal-sendal yang ia pinjam. Dia memfoto segala momen yang romantis dan cantik untuk diberikan pada kekasihnya. Ouh.. so sweet (envy gueh).

Situris dengan kreasi hati dari sendal jepit
Setelah sendal-sendal itu dikembalikan saatnya melanjutkan mengitari pulau yang sempat terhenti. 

Walau panas tetap semangat

Menikmati kesuncian pulau Kanawa

Warna yang kontraks antara pasir, langit dan bukit
Saya pikir hanya ada sedikit mangrove yang tumbuh, ternyata saat berjalan lagi saya menemukan banyak pohon mangrove, dan denger-denger cerita sih biasanya baby shark (anak hiu) suka sembunyi di bawah pohon mangrove. Tapi sayang, kami tidak menemukan baby shark
Berteduh di samping pohon mangrove
Menyusuri pohon-pohon mangrove tibalah kami pada tempat yang tadi pagi kami sempat jumpai, terlihat pulau kecil yang berbentuk seperti kapal. 

Yaaa cainknya
Air yang jernih dan dangkal menuju ke pulau kecil di samping Kanawa bagian utara
Pulau itu sangat dekat dengan Kanawa, sayangnya kami tidak membawa alat snorkling, jadi tidak bisa menyebrang hingga ke pulau itu. Cukup mengabadikan dari pinggir pantai dan dari puncak bukit.


Sambil berjalan kemnbali ke resort, kami melihat bukit yang tidak terlalu tinggi yang bisa disebrangi karena air laut sedang surut. Ingin rasanya mendaki bukit ini, tapi begitu curam dan tidak ada alat pelindung diri yang bisa dipakai. Karena sudah nekat, akhirnya saya dan Dr. Jo menaiki bukit dengan pelan-pelan ditambah harus extra hati-hati karena membawa kamera. 


Istirahat sebentar baru lanjut naik lagi

Aku diantara indahnya Kanawa

Dr. Jo sedang mengabadikan setiap sudut kanawa

Nekat naik bukit untuk keindahan yang luar biasa



Pulau batu dilihat dari atas bukit


Sudah waktunya turun dan kembali karena sudah menjelang sore. Dan siap-siap untuk nyebur lagi menyaksikan ikan-ikan yang sedang berenang. :)


Bersambung...



***

Romantisme pun terjadi di Kanawa saat malam (part 3)

Masih di pulau yang begitu cantik dan sempurna, Pulau Kanawa. Setelah puas menikmati hangatnya air laut dan  menikmati cantiknya ikan-ikan dan terumbu karang dengan bersnorkling, badan ini masih belum terasa letih. Entah karena masih takjub dengan ciptaan Tuhan yang satu ini atau memang terhipnotis dengan suasana romantis yang disuguhkan pulau ini.
  
Pohon ketapang yang romantis
 Kejutan pun dihadirkan pulau Kanawa disaat malam, ternyata karang yang menghiasi disepanjang jalan yang menghubungkan penginapan dan restorannya adalah sumber cahaya disaat malam untuk menuntun para tamu di pulau ini untuk berjalan. Karena listrik di pulau ini masih terbatas, sampai jam 11 malam, maka para tamu dapan mencas  hp dan gadget mereka di restoran yang telah disediakan.


Suasana di dalam restoran, semua tamu turis asing
Makan malam pun sangat romantis, baik itu di dalam atau di luar restoran. Pohon ketapang yang berdiri tegap menjadi atap untuk para tamu menikmati makanan mereka dengan ditemani suara dan aroma pantai yang khas. Tamu yang datang di pulau Kanawa saat itu semua turis asing (kecuali saya dan kedua teman saya).

Suasana di depan restoran bersama kak Annet, Dr. Jo, dan pasangan dari luar(lupa nama negaranya)
Malam pertama yang tepat untuk menikmati semua keromantisan yang diberikan pulau Kanawa ini, di malam bulan penuh atau purnama. Cahaya bulan yang menyinari pun menambah romansa antara diriku dan pulau ini sendiri (berharap suatu saat kesini dengan pacar).


Membayangkan bersama pasangan T_T
Pizza, yah saya mendapatkan pizza disini, tapi bukan pizza seperti pizza hut tapi pizza yang diracik sedemikian rupa untuk memanjakan para turis-turis asing dengan ala italy nya. Gimana yah rasanya menyantap pizza yang mencairkan lidah ini diatas kano? pertama itu hanya sebuah pikiran sesaat, ternyata terkabul juga.. :) Bersama chef nya Kanawa mas Heru, saya, kak Annet, dan Dr. Jo melintasi jematan dengan lampu jembatan yang memberi nilai tambah kemesraan pulau ini menuju kano yang diikat pinggir jembatan.
Pizza ala chef Heru makyos
Dr. Jo, Kak Annet dan mas Heru

Bersama mas Heru diatas kano

Muka capek tapi tetap narcis
Tetap masih menghayal kalau disaat ini juga "dia" ada bersama ku. Tapi siapa? Duh, mulai "pelacur" (pelan-pelan curhat) lagi deh. Tapi gak melebih-lebihkan tapi emang kenyataan, semua turis yang datang kesini bersama pasangan mereka masing-masing (asmara) dan saya tetap dengan pasangan (walau bertiga dan teman).

Romansa ku dan pulau Kanawa
Dari restoran Kanawa masih buka sampai tutup bahkan listrik dan lampu dipadamkan, saya dan teman-teman masih menikmati malam yang indah walau hanya ditemani satu sumber cahaya purnama bulan. Serasa tidak ingin terlelap sedikit pun. Sepertinya saya sudah terhipnotis, bukan tapi saya sudah jatuh cinta pada Kanawa. Jadi teringat film "Breaking Down" Bella dan Edward memadu kasih di private island, dan di Indonesia Kanawa Island sangat cocok untuk private islandnnya Bella dan Edward ala Indonesia :D


Restoran Kanawa sebelum tutup

Restoran Kanawa setelah ditutup

Bulan purnama menerangi malam di Kanawa
Semakin larut dengan romansa pulau kanawa, saya dan teman-teman harus kembali ke kamar untuk mengumpulkan tenaga untuk mengexplore seluruh pulau ini bahkan sampai puncak bukit Kanawa.

Bersambung...

***