Minggu, 12 Mei 2013

Romantisme pun terjadi di Kanawa saat malam (part 3)

Masih di pulau yang begitu cantik dan sempurna, Pulau Kanawa. Setelah puas menikmati hangatnya air laut dan  menikmati cantiknya ikan-ikan dan terumbu karang dengan bersnorkling, badan ini masih belum terasa letih. Entah karena masih takjub dengan ciptaan Tuhan yang satu ini atau memang terhipnotis dengan suasana romantis yang disuguhkan pulau ini.
  
Pohon ketapang yang romantis
 Kejutan pun dihadirkan pulau Kanawa disaat malam, ternyata karang yang menghiasi disepanjang jalan yang menghubungkan penginapan dan restorannya adalah sumber cahaya disaat malam untuk menuntun para tamu di pulau ini untuk berjalan. Karena listrik di pulau ini masih terbatas, sampai jam 11 malam, maka para tamu dapan mencas  hp dan gadget mereka di restoran yang telah disediakan.


Suasana di dalam restoran, semua tamu turis asing
Makan malam pun sangat romantis, baik itu di dalam atau di luar restoran. Pohon ketapang yang berdiri tegap menjadi atap untuk para tamu menikmati makanan mereka dengan ditemani suara dan aroma pantai yang khas. Tamu yang datang di pulau Kanawa saat itu semua turis asing (kecuali saya dan kedua teman saya).

Suasana di depan restoran bersama kak Annet, Dr. Jo, dan pasangan dari luar(lupa nama negaranya)
Malam pertama yang tepat untuk menikmati semua keromantisan yang diberikan pulau Kanawa ini, di malam bulan penuh atau purnama. Cahaya bulan yang menyinari pun menambah romansa antara diriku dan pulau ini sendiri (berharap suatu saat kesini dengan pacar).


Membayangkan bersama pasangan T_T
Pizza, yah saya mendapatkan pizza disini, tapi bukan pizza seperti pizza hut tapi pizza yang diracik sedemikian rupa untuk memanjakan para turis-turis asing dengan ala italy nya. Gimana yah rasanya menyantap pizza yang mencairkan lidah ini diatas kano? pertama itu hanya sebuah pikiran sesaat, ternyata terkabul juga.. :) Bersama chef nya Kanawa mas Heru, saya, kak Annet, dan Dr. Jo melintasi jematan dengan lampu jembatan yang memberi nilai tambah kemesraan pulau ini menuju kano yang diikat pinggir jembatan.
Pizza ala chef Heru makyos
Dr. Jo, Kak Annet dan mas Heru

Bersama mas Heru diatas kano

Muka capek tapi tetap narcis
Tetap masih menghayal kalau disaat ini juga "dia" ada bersama ku. Tapi siapa? Duh, mulai "pelacur" (pelan-pelan curhat) lagi deh. Tapi gak melebih-lebihkan tapi emang kenyataan, semua turis yang datang kesini bersama pasangan mereka masing-masing (asmara) dan saya tetap dengan pasangan (walau bertiga dan teman).

Romansa ku dan pulau Kanawa
Dari restoran Kanawa masih buka sampai tutup bahkan listrik dan lampu dipadamkan, saya dan teman-teman masih menikmati malam yang indah walau hanya ditemani satu sumber cahaya purnama bulan. Serasa tidak ingin terlelap sedikit pun. Sepertinya saya sudah terhipnotis, bukan tapi saya sudah jatuh cinta pada Kanawa. Jadi teringat film "Breaking Down" Bella dan Edward memadu kasih di private island, dan di Indonesia Kanawa Island sangat cocok untuk private islandnnya Bella dan Edward ala Indonesia :D


Restoran Kanawa sebelum tutup

Restoran Kanawa setelah ditutup

Bulan purnama menerangi malam di Kanawa
Semakin larut dengan romansa pulau kanawa, saya dan teman-teman harus kembali ke kamar untuk mengumpulkan tenaga untuk mengexplore seluruh pulau ini bahkan sampai puncak bukit Kanawa.

Bersambung...

***

2 komentar: