Rabu, 31 Juli 2013

Trip to Bena Village, Ngada, Flores Island

    Mulai terasa penat dengan kesibukan kerja dan skripsi saatnya hunting tiket promo. Yess ada promo Kupang – Bajawa, saat cek-cek harga tiket promo sudah habis dan malanglah nasib ku, kehabisan tiket promo dan yang tersisa harga ekonomi, yah masih dibatas murah lah tuk normal di musim liburan seperti ini.

    Beruntungnya Bajawa tidak terlalu banyak  pusat wisata yang bisa aku datangi dengan waktu weekend hanya 3D2N. 3 tempat yang sangat terkenal dari Ngada ini yaitu, kampung adat megalitik yaitu Desa Bena, sumber mata air panas Soa, dan taman laut 17 pulau di Riung. Aku ingin sekali ke Riung, dari pertama ke Bawaja tahun lalu tidak sempat untuk mengunjungi pulau Flores bagian tengah itu. Hanya sumber mata air Soa yang sempat ku datangi. Jadi, jejak perjalanan ku ke dua di Bajawa adalah desa Bena dan Riung 17 pulau.

   Sudah satu setengah bulan menunggu dari beli tiket sampai akhirnya weekend tanggal 13 Juli 2013 yang ditungu-tunggu datang juga. Jam 5 dini hari ku sudah menuju ke bandara El-Tari karena penerbangan pertama di hari itu. Wow, ramai sekali, lumayan juga berdiri 30 menit sampai akhirnya ku cek-in juga.

   Dengan pesawat kecil merpati yang terdengar berisik sekali karena suara dari baling-baling disamping jendela tempat kududuk. Penerbangan dari Kupang – Soa ditempuh dengan waktu kurang lebih 1jam. Oh iya, bandara di Bajawa berada di Soa. Karena masih terasa mengantuk bangun pagi-pagi dan harus ke bandara, ku membalaskan hutang tidur ku selama di atas penerbangan ditemani mentari pagi :)

Mentari pagi dari atas pesawat


   Sampai juga di bandara Soa. Wow.. ini bandara Soa masih kecil sekali. Karena ku tidak ada bagasi langsung saja ku menuju pintu keluar. Terharu teman backpacker yang stay di Bajawa rela dingin-dingin dan masih pagi datang menjemput ku.



   Setibanya di rumah BPI bang Andy langsung disambut hangat oleh keluarga bang Andy. Mulai saatnya mengatur itin selama weekend ini. 

   Yang ku datangi pertama kali dihari pertama di Bajawa, Ngada adalah kampung Bena. Kampung ini terkenal karena bangun megalitiknya. Jarak dari Bajawa ke kampung bena yah kurang lebih 19km. Aku, kak Novi istri bang Andy, kak Hiller anak BPI NTT juga, dan kak Ely saat pergi ke Bena lewat kampung Mangulewa walau jalannya berbelok-belok tapi pemandangan yang indah menghiasi sepanjang jalan, pohon-pohon bambu yang besar-besar tumbuh liar dan gunung Inerie yang menjadi backgroung pemandangan sepanjang jalan. 

Kota Bajawa

Gunung Inerie tertutup kabut
   Ditengah perjalanan kami berhenti di Manulalu tempat yang pas banget untuk menikmati view antara kampung adat Bena dan desa lain, gunung Inerie, dan birunya laut Aimere. Menurut penjaganya Manulalu itu artinya adalah “Ayam jago”. Aku bingung kenapa tempat ini disebut “Ayam jago” lihat kiri kanan tidak ada peternakan ayam, yang ada hanya perkebunan tomat dan sayur-sayur lainnya. Saat penjaga menunjuk kebawah dan wow :D bener-bener ayam jago. Cuma di Manulalu aku nemuin ayam yang bener-bener jago. Ini ayam raksasa yang pernah ku lihat. Hahaha


Berpose di depan pintu masuk Manu Lalu

Ayam jago

View laut Aimere, kampung Bena dan gunung Inerie

Tinggi nih ayam hampir sama :D
   Sayang sekali gunung Inerie sedang dibungkus awan, jadi gak bisa mengabadikan sampai puncak gunung. Kabut sudah menyelimuti Manulalu, maka kami pun harus melanjutkan perjalanan ke kampung Bena, dan ternyata tidak terlalu jauh tibalah kami ke kampung megalitik yang menjadi icon kabupaten Ngada ini.


Wellcome to Bena Village

   Langsung aku dan kak Novi menghampiri teras rumah dan mulai mengisi buku tamu. Dari buku tamu tertutis pengunjung dari belanda, australia dan di pagi ini hanya kami pengunjung dari Indonesia. Hahaha betapa bangganya menjadi orang Indonesia, budaya Indonesia dapat menarik perhatian dari luar negri. Pengunjung di kampung Bena tidak terlalu ramai malah bisa dikategorikan sepi. Dengan takjubnya ku berjalan perlahan menikmati salah satu budaya Indonesia yang masih terjaga sampai sekarang walau perkembangan modern telah menyebar. Penduduk asli kampung Bena masih menjaga warisan leluhur mereka yang akan menjadi harta warisan kepada anak cucu mereka nanti.


Bena Village
   Uniknya di kampung Bena ini kalau diperhatikan setiap rumah pasti tergantung tengkorak-tengkorak rahang yang dikat dengan tali. Itu menandakan sudah berapa hewan peliharaan mereka yang mereka potong. Dan tanduk-tanduk kerbau yang berjejer rapih terpasang di dinding rumah teras mereka itu juga sebagai pertanda sudah berapa ekor kerbau yang mereka topong. Semakin banyak tengkorak dan tandung itu dipasang berarti semakin sering yang punya rumah membuat acara. 


Tanduk-tanduk kerbau

Tengkorak rahang dan kain adat
   Rata-rata penduduk kampung Bena ini menenun kain adat mereka sendiri dengan pewarna alami yang kemudian mereka jual kepada pengunjung sebagai kenang-kenangan. Masyarakat di sini sungguh ramah-ramah. Senyum mereka menjadikan suasana semakin hangat. :)


Menenun kain adat
   Dan uniknya lagi dari kampung ini adalah kuburan batu yang terletak tepat di depan rumah mereka dan batu-batu alam yang menjulur tinggi mengelilingi meja batu yang nanti tempat ini akan dijadikan sebagai tempat persembahan kepada nenek moyang dan leluhur mereka. Rumah adat mereka juga kecil dan mungkin tidak bisa dimasuki orang. Rumah itu tempat leluhur tinggal, kalau tidak salah yah.. :)


Kuburan baru depan halaman rumah

Gaya dulu di depan kuburan batu dan rumah adat
Kampung Bena dibawah kaki gunung Inerie

   Setelah puas mengelilingi rumah-rumah adat, aku dan teman-teman menuju pondok tertinggi di kampung ini yang mejadi tempat favorit semua pengunjung yang datang karena dari sini kita bisa melihat semua kampung adat Bena ini.  Waktunya untuk bernarcis ria.. hahaha


Aku dan Kak Hiller menaiki anak tangga
Kampung Bena dari sisi Utara

Rumah-rumah adat Bena
Bersantai di Kampung Bena

Tetep narcis walau dengan timer.. :D
  Dari atas ku bisa merasakan indahnya kampung Bena secara menyeluruh. Bagai mana tidak, kalau dilihat bentuk kampung ini memanjang seperti perahu. Selain lopo untuk tempat duduk ada juga patung bunda Maria sebagai simbol dari agama Katolik.


Patung bunda Maria


   Ada sesuatu hal yang menjadi perhatian ku saat berada diatas. Atap-atap rumah adat ini terpasang boneka-boneka yang menandakan itu rumah pihak keluarga perempuan atau pihak keluarga laki-laki. Untuk boneka yang memegang tombak itu adalah rumah keluarga laki-laki. dan untuk boneka yang tidak memagang tombak itu adalah rumah keluarga perempuan.

   Di desa ini posisi perempuan lebih tinggi dari laki-laki. Kalau ada anak mereka perempuan dan laki-laki menikah dari kampung Bena itu sendiri maka mereka diharuskan tinggal di rumah perempuan. Karena itu atap rumah mereka dibedakan dari boneka yang dipasang agar bisa membedakan mana rumah perempuan dan rumah laki-laki.


Atap rumah adat Bena

Boneka memegang tombak di atap rumah


   Mengingat kami akan melanjutkan perjalanan ke Riung maka kami segera bergegas kembali ke Bajawa. Saat pulang kami melewati kampung Langa yang berada di bawah kaki gunung Inerie trus kami masuk ke Watujaji dan tibalah kami ke kota bajawa lagi.. ^^

***

Bersambung...

Sabtu, 20 Juli 2013

Backpacker untuk menikmati "The Hidden Paradise" pulau Semau

    Jejak perjalanan ku kali ini tidak jauh beda dengan jejak perjalanan yang sebelum-sebelumnya.. dan lokasinya pun sama, yaitu pulau Semau. Entah kenapa ku begitu menyukai pulau semau ini meskipun sudah berulang-ulang ke Semau http://tinasiringoringo.blogspot.com/2013/05/hidden-beach-semau-island-ntt.html.
     Mungkin karena jarak yang ditempuh tidaklah terlalu jauh dan lama dan aksesnya mudah tuk dijangkau makanya aku selalu ke Semau kapan pun aku mau sesuai dengan nama pulaunya “ Semau Gue” hahaha.. 

    Bukan suatu keanehan lagi jika teman-teman ku selalu menolak setiap diajak ke Semau dengan alasan takut. Yah, wajar mereka takut karena pulau ini terkenal mistik. Konon dulu kalau orang yang bukan penduduk asli Semau datang ke pulau ini pagi dengan kondisi masih bernyawa dan saat sore hendak pulang tinggal tubuh tanpa nyawa yang pulang. Memang mengerikan kalau mendengar cerita-cerita mistik di pulau ini.  Bukan hanya itu, kalau malam di pulau ini suka terlihat di langit api beterbangan, dan itu konon katanya orang-orang sakti Semau sedang berinteraksi. Entah benar atau tidak itu semua terjadi saat  penduduk di pulau Semau belum mengenal agama. Tapi sekarang sudah mengenal agama, jadi cerita tentang kejadian-kejadian mistik itu pelan-pelan mulai tak terdengar lagi. 

   Kok aku malah menceritakan kejadian-kejadian mistik yang saya dengar. Ada istilah yang pernah aku dengar dan pegang sampai saat ini “ kalau pergi dengan maksud baik maka kita akan baik-baik saja, tapi kalau datang dengan maksud tidak baik maka kita pun tidak akan baik-baik”. Sudah cukup sepertinya kata pengantar tentang sisi lain dari pulau Semau (sudah seperti skripsi hahaha :D )

   Walau terkenal mistik, pulau Semau ini adalah salah satu pulau unik yang pernah ku datangi. Selain gersang dan panas tentunya, karena sudah terbiasa dengan keadaan seperti itu di Kupang. Banyak pantai-pantai dengan karakteristik yang berbeda dan pasir putih yang halus ditambah pantai-pantai ini belum terjamah dengan kejahatan tangan manusia yang tidak bisa menjaga alamnya sendiri.

  Tidak akan pernah bosan ku menyebut pantai-pantai di pulau Semau ini adalah “Hidden Paradise” karena semua pantai-pantai yang ku datangi adalah pantai-pantai yang tersembunyi dari jalan utama.
Ingin sekali perjalanan kali ini ke tempat yang baru yang belum pernah ku datangi dan keinganku pun terkabul saat teman yang kerja di Semau, Dr. Jo menawarkan akan mengajak saya ke tempat-tempat yang baru dan benar-benar hidden paradise :D.

   Pagi itu dihari minggu tanggal 19 Mei 2013 ku sudah sepakat dengan teman akan mengexplore sisi lain dari pulau Semau. Perkenalkan dulu travelmate ku kali ini bernama Miki. Jam 7 pagi kami sudah berada di pelabuhan Tenau dan kamia adalah penumpang pertama yang sudah datang. Mungkin karena hari minggu, jadi penumpang yang akan menyebrang ke pulau Semau sedikit, jadi kami harus menunggu beberapa penumpang lagi agar berangkat. 


Atraksi "konjak" kapal di pelabuhan Tenau

   Sambil menunggu penumpang, tangan langsung mengambil kamera dan membidik kegiatan “konjak” kapal berenang dan melakukan aktrasi jumping. Jadi iri melihat konjak yang masih kecil tapi sudah mahir berenang (wajarlah wong orang laut) hahaha...

   Yess, satu persatu penumpang kapal datang, ada yang memang mau pulang ke rumahnya di Semau, ada juga yang pergi hanya sampai di kapal karam untuk memancing.

Miki siap-siap naik public boad

   Sesampainya di pelabuhan Semau, akan banyak ojek-ojek yang akan menawari jasanya, tapi untungnya kami sudah berkali-kali kesini dan Dr. Jo sudah mensewa motor untuk kami berdua. Kami singgah dulu di tempat tinggalnya Dr. Jo sekaligus tempat dia kerja. Karena Dr. Jimmy, kak Butet dan Yesti akan ikut juga mengexplore pantai-pantai di Semau, padahal mereka sudah berkali-kali pergi tapi tidak pernah bosan, Semau benar-benar unik.

Kawasan puskesmas Uitao

Narcis di papan puskesmas. :D

   Ada untungnya saya di bonceng, jadi saya bisa mengabadikan setiap yang saya temui disepanjang jalan. Tujuan pertama kami adalah ke pantai Uihmake dan kondisi jalan ke pantai ini jalan sempit, berbatu, tanah putih dan rumah penduduk disepanjang jalan pun hanya 1-3 kali ditemukan. Hanya semak-semak yang menjadi pembatas jalan. 

Kondisi jalan ke pantai Uihmake dengan batas semak-semak

Tanah putih disepanjang jalan

Hanya beberapa rumah penduduk ditemukan sepanjang jalan

   Dari pinggir jalan terlihat laut biru muda yang tenang dan cantik dengan pasir putih yang halus.. sayangnya banyak ditemukan sampah plasik, yah sampah-sampah ini bawaan dari pulau lain. Tidak sempat turun saya cepat-cepat menjepret takut terlewati.





   Tidak jauh dari pantai itu kami tiba juga di tujuan pertama kami pantai Uihmake dan benar sekali, kalau waktu itu aku hanya lewat dan tidak singgah, kali ini kami berhenti dan langsung turun dan mulai satu-satu mengeluarkan kamera dan mengabadikannya.. :D

Panorama pantai Uihmake

View pantai Uihmake dari pinggir jalan

Aku dan pantai Uihmake

Mau foto Miki malah difoto :D

Me and my travelmate

3 motor yang telah berjasa membawa kami sampai di sini


Me, sist Butet and 


Pose bermama teman-teman trip ^^

    Ingin sekali turun ke bawah, tapi masih banyak pantai yang blm didatangi secara aku dan Miki langsung pulang sorenya.


    Kami langsung melanjutkan perjalan menuju tujuan ke dua yaitu pantai Uihnian dengan kondisi jalannya sama dengan kondisi jalan ke pantai Uihmake ini hanya jalan tanah dan malah melewati jalan setapak. 

Jalan tanah tetap dengan semak-semak sebagai batas

Jalan setapak yang sepi


    Disepanjang jalan menuju ke pantai Uihnian aku selalu melihat ada pohon kecil tak berdaun tapi memiliki buah seperti biji-bijian. Aku belum mendapatkan jawaban yang tepat tentang pohon itu. Tapi menurut masyarakat setempat itu seperti bunga raflesia. Karena sebelum berbuah, ujung dari pohon itu berbentuk kuncup seperti tertutup yah seperti bunga raflesia. Benar atau tidak yah itu semua pendapat dari masing-masing pribadi.


Pohon tak berdaun dan hanya berbuah biji

Narcis dikit ah LOL :D

   Sebelum tiba di pantai yang dituju, kami melewati pohon beringin yang besar sekali dengan akar-akar yang ramai sekali.. terlihat angker dan mistik.. walau bulu kuduk berdiri kami sempatkan singgah sebentar dan mengabadikan foto bersama dengan pohon yang terlihat mistic.


The mistic tree -__-'

Cocok gak yah semedi?? 

   Tidak jauh dari lokasi kami berfoto di tempat pohon beringin, aroma laut, dan angin pantai sudah menyambut kami. Suara deburan ombak yang menggulung-gulung menabrak pasir putih yang halus langsung memanggil saya untuk segera menginjakan kaki di pasir nya. Tidak ada rumah penduduk ditempat ini, satu pondok pun tidak ada. Yaah... kami tiba di destinasi kedua yaitu pantai Uihnian.




View diambil dari tangga-tangga

    Pasir di pantai ini sangat halus sekali, berdiri di atasnya kaki tertanam sampai diatas mata kaki, sungguh halus. Batu karang di pantai ini sanggat tajam dan berwarna hitam. Ombak di pantai ini pun tinggi-tinggi, sebenernya cocok kalau dijadikan lokasi surfing atau olahraga air seperti ski air, tapi kalau dilihat lagi dari karakteristik banyaknya batu-batu karang yang tajam tidak mendukung sama sekali kalau dilakukan olahraga air. 


Uihnian beach
Kaki tertanam dalam di pasir

Miki dan pantai Uihnian



Ombak yang tinggi

Deburan ombak yang menghantam pasir

Canda tawa bersama miki terekam saat kamera disetting timer


        Saat mentari panas membakar kulit sama sekali tidak mengurangi nait untuk menginjakan kaki di pasir putih yang halus,walau harus menahan panas di telapak kaki. Dengar cerita dari Dr. Jo kalau jalan ketengah dari pantai bisa mendapatkan kebun lidah buaya yang tumbuh liar dan besar-besar. 

  Karena rasa penasaran, dengan sekuat tenaga kaki melangkah karena cukup dalam saat kaki tertatam dipasir. Benar sekali, ada tumbuhan lidah buaya yang tumbuh liar, dan baru pertama kali aku melihat bunganya lidah buaya. Bunganya berwarna orange. Karena sudah mulai masuk musim panas, maka warna lidah buaya sudah menguning seperti rumput disekitarnya. Membayangkan saat musim hujan pasti warna orange ini akan menjadi sangat kontras. 


Kebun lidah buaya yang tumbuh liar


   Sudah puas menikmati pantai dengan batu karang dibalik birunya warna air laut, kami langsung melanjutkan perjalan kami ke pantai selanjutnya. Pantai apa? Pantai yang harus didatangi saat trip ke pulau Semau, karena pantai ini sungguh unik dengan ditengah-tengah ada bukit yang bisa didaki dengan menggunakna motor, apa lagi kalau bukan bukit liman dengan pantai yang memiliki warna pasir berbeda. Pulau yang sungguh unik.






   Pemandangan pantai dengan pasir putih yang halus sekali dan warna biru muda air laut yang tenang sungguh perpaduan yang harmonis. Cukup dari atas motor saat berjalan aku dapat mengabadikan pantai itu dan sungguh cantik sekali. Pantai ini dan bukit liman berada di desa Naikean.


Pasir putih dan biru muda air laut

Perpaduan warna yang cantik
  Dari kejauhan terlihat langit berwarna gelap dan sudah menunjukan tanda-tanda hujan atau badai akan datang. Bukannya kembali malah tetap melanjutkan penasaran. Seperti bekejaran dengan badai untuk mendapatkan kecantikan view dari pundak bukit Liman.



Badai di balik bukit Liman

Bukit Liman

   Kalau dari awal kondisi jalan tanah dan sempit, kali ini akses ke bukit Liman lebih sukar, karena melewati pohon-pohon lontar, semak-semak berduri dan jalan yang berpasir. Kalau tidak hati-hati bisa saja terjatuh dan harus pintar mengendalikan motor yang dibawa.Yah yang dibelakang harap-harap cemas takut jatuh hahaha.. :D 


Jalan berpasir


Jalan melewati pohon-pohon lontar


Jalan sempit dan mesti hati-hati

Jalan semak berduri

   Akhirnya kami sampai pada kaki bukit Liman. Karena kondisi jalan yang sulit kami yang dibonceng turun dan berjalan kaki sampai menyebrangi jalur sungai kecil yang berduri. Bahkan Dr. Jimmy merasa kesulitan untuk melewati pohon duri. 

    Sangat bersyukur datang saat sudah musim panas, karena sungai musiman sedang kering, dan kita bisa menyebranginya dengan mudah, tak terbayangkan kalau datang di musim hujan pasti akan sangat susah dan becek. :(

Dibawah kaki bukit Liman

Dr. Jimmy berusaha melewati pohon duri

View antara bukit, laut, dan sungai musiman yang kering

Mendaki bukit Liman dengan motor

        Rasa bahagia dan puas tercermin dari semua muka kami. Sungguh indah pulau Semau ini bagian selatan. Benar-benar hidden paradise dan suatu surga yang harus dijaga. Terbayarkan sudah rasa panas, haus, capek dipuncak bukit Liman. Badai sudah mulai datang, tapi kami tetap menikmati keindahan ciptaan Tuhan. Ini yang kedua aku berdiri di bukit Liman dan selalu merasa tidak puas, dan next time saat ke Semau lagi aku akan kebukit Liman lagi, walau jalan susah dan jauh. Hahaha... 

Pose bersama di puncak bukit Liman

    Di sebelah kanan dari aku berdiri langit biru cerah, air laut berwarna biru dan pasir pantai yang bersih, tapi disisi kiri saya berdiri langit sudah gelap dan badai sudah hampir mendekati kami. Jangankan itu dari belakang bukit juga tanda-tanda badai datang sudah terlihat. Benar-benar berebut hidden paradise dengan badai. Seperti ada batas terlihat di pulau kambing didepan sana antara langit gelap dan langit cerah. 

View dari sebelah kanan puncak bukit Liman

View dari sebelah kiri puncak bukit Liman

Langit gelap dari belakang bukit Liman
Pulau Kambing

    Dari puncak bukit Liman ini aku dapat melihat perbedaan warna pasir dibelah kanan, antara warna putih dan pasir berwarna. :D sungguh unik, hanya dibatasi oleh tanjung karang sudah berbeda warna. 

2 warna pasir dibatasi lanjung karang

Walau badai datang, pantai selatan tetap cantik

    Tidak lama kami diatas bukit, karena panas sekali jadi kami turun dan berteduh di bawah pohoh dan bermain dengan pasir pantai yang berwana cantik. 

  
Pantai bukit Liman dari bawah

Pasir berwarna yang halus

Melompat lebih tinggi

Mengekspresikan kebahagiaan

Pose gak jelas :D

Perpaduan yang sempurna

   Langit gelap sudah semakin dekat dan kami harus bergegas meninggalkan tempat ini karena perjalanan masih jauh. 

3 jagoan yang membonceng kami para wanita

Jalan menyusuri sungai kering

    Tujuan berikutnya adalah pulau Merah, yah menutur cerita penduduk setempat pulau merah itu bisa disebrangi saat air laut surut dan di pulau itu tidak ada penduduk yang tinggal karena terkenal dengan banyak ular yang berpenghuni disana. Tapi sebelum ke pulau Merah kami masih singgah di tanjung karang untuk mengabadikan bukit Liman yang terlihat eksotic dengan langit yang gelap, sungguh terlihat mistic dan cantik. 


Cantik

Eksotic bukit Liman

Eksotic bukit liman dengan ombak pantainya

Menikmati pantai, ombak, karang bersamaan

    Dalam perjalanan ke pulau Merah kami berhenti di pantai pasir putih karena melihat cangkang-cangkang kerang yang bersar bertebaran di atas tanah. Cangkang-cangkang itu adalah tempat untuk menjemur air laut atau juga bisa disebut sebagai tempat pembuatan garam. 



Pembuatan garam
      Setelah melewati jalan yang lumayan extreme karena tanjangan yang berlubang dan berpasir dan sempat bertanya ke penduduk setempat akhirnya kami tiba juga di pantai yang akan menjadi jalur untuk menyebrang ke pulau Merah. Sayangnya, saat kami datang air laut sedang pasang dan pulau merah mulai tertutup air, hingga pucuk2 pohon yang dapat terlihat sedikit.


Pulau merah tertutup air pasang
   Di pantai ini sangat cocok dijadikan sebagai budidaya rumput laut. Jelas terlihat banyak rumah-rumah dan pondok-pondok milik petani rumput laut mengeringkan rumput laut mereka.  Tapi sayang, dipantai ini cukup kotor dan banyak ditemukan limbah plastik membuat pantai ini tidak secantik aslinya. 

Petani rumput laut

   Kulit sudah merasakan rintikan hujan dan dengan terburu-buru kami memasukan kamera, handphone, dan dompet didalam plasting, yah mengurangi terkena air hujan. 

   Saat kembali ke pelabuhan hendak pulang ke Kupang, kami pulang melewati pantai Otan yang panjang. Bahkan kalau dilihat dari atas pesawat pantai ini sangat panjang dan berpasir putih. Tapi sayang, banyak batu karang berwarna hitam yang tajam disepanjang pantai. kurang pas bila dipakai untuk berenang (kecuali disisi pantai yang lain). 

   Melewati sekolah SD Otan, kami menyempatkan diri untuk singgah sebentar melihat kolam alami air payau. Didalam kolam tersebut terdapat sepasang penyu, dan kalau kita berenang didalam kolam kita bisa menyentuh pentu-penyu itu. Kolam ini berada tepat di belakang SD Otan dan kolam ini cukup terkenal juga. 

Penyu di kolam Otan

    Tidak lama kami di kolam Otan kami langsung pulang, sayangnya di perjalanan kami terjebak hujan deras. Sudah kepalang basah kami langsung melanjutkan perjalanan sampai dikompleks perumahan puskesmas Uitao. Hujan deras dengan angin yang kuat sebagai tanda sepertinya aku dan Miki memang harus stay di pulau Semau makan itu dan menunggu mentari pagi menyapa kami pulang ke kota Kupang. 


Miki, Kak Butet dan Dr. Jo


Eksis di kolam Otan


Ada yang mau berenang

    Kolam Otan adalah jejak terakhir perjalanan ku di hari itu. Dari Otan kami langsung pulang, sayangnya di perjalanan kami terjebak hujan deras. Sudah kepalang basah kami langsung melanjutkan perjalanan sampai dikompleks perumahan puskesmas Uitao. Hujan deras dengan angin yang kuat sebagai tanda sepertinya aku dan Miki memang harus stay di pulau Semau makan itu dan menunggu mentari pagi menyapa kami pulang ke kota Kupang. 


***