Rabu, 31 Juli 2013

Trip to Bena Village, Ngada, Flores Island

    Mulai terasa penat dengan kesibukan kerja dan skripsi saatnya hunting tiket promo. Yess ada promo Kupang – Bajawa, saat cek-cek harga tiket promo sudah habis dan malanglah nasib ku, kehabisan tiket promo dan yang tersisa harga ekonomi, yah masih dibatas murah lah tuk normal di musim liburan seperti ini.

    Beruntungnya Bajawa tidak terlalu banyak  pusat wisata yang bisa aku datangi dengan waktu weekend hanya 3D2N. 3 tempat yang sangat terkenal dari Ngada ini yaitu, kampung adat megalitik yaitu Desa Bena, sumber mata air panas Soa, dan taman laut 17 pulau di Riung. Aku ingin sekali ke Riung, dari pertama ke Bawaja tahun lalu tidak sempat untuk mengunjungi pulau Flores bagian tengah itu. Hanya sumber mata air Soa yang sempat ku datangi. Jadi, jejak perjalanan ku ke dua di Bajawa adalah desa Bena dan Riung 17 pulau.

   Sudah satu setengah bulan menunggu dari beli tiket sampai akhirnya weekend tanggal 13 Juli 2013 yang ditungu-tunggu datang juga. Jam 5 dini hari ku sudah menuju ke bandara El-Tari karena penerbangan pertama di hari itu. Wow, ramai sekali, lumayan juga berdiri 30 menit sampai akhirnya ku cek-in juga.

   Dengan pesawat kecil merpati yang terdengar berisik sekali karena suara dari baling-baling disamping jendela tempat kududuk. Penerbangan dari Kupang – Soa ditempuh dengan waktu kurang lebih 1jam. Oh iya, bandara di Bajawa berada di Soa. Karena masih terasa mengantuk bangun pagi-pagi dan harus ke bandara, ku membalaskan hutang tidur ku selama di atas penerbangan ditemani mentari pagi :)

Mentari pagi dari atas pesawat


   Sampai juga di bandara Soa. Wow.. ini bandara Soa masih kecil sekali. Karena ku tidak ada bagasi langsung saja ku menuju pintu keluar. Terharu teman backpacker yang stay di Bajawa rela dingin-dingin dan masih pagi datang menjemput ku.



   Setibanya di rumah BPI bang Andy langsung disambut hangat oleh keluarga bang Andy. Mulai saatnya mengatur itin selama weekend ini. 

   Yang ku datangi pertama kali dihari pertama di Bajawa, Ngada adalah kampung Bena. Kampung ini terkenal karena bangun megalitiknya. Jarak dari Bajawa ke kampung bena yah kurang lebih 19km. Aku, kak Novi istri bang Andy, kak Hiller anak BPI NTT juga, dan kak Ely saat pergi ke Bena lewat kampung Mangulewa walau jalannya berbelok-belok tapi pemandangan yang indah menghiasi sepanjang jalan, pohon-pohon bambu yang besar-besar tumbuh liar dan gunung Inerie yang menjadi backgroung pemandangan sepanjang jalan. 

Kota Bajawa

Gunung Inerie tertutup kabut
   Ditengah perjalanan kami berhenti di Manulalu tempat yang pas banget untuk menikmati view antara kampung adat Bena dan desa lain, gunung Inerie, dan birunya laut Aimere. Menurut penjaganya Manulalu itu artinya adalah “Ayam jago”. Aku bingung kenapa tempat ini disebut “Ayam jago” lihat kiri kanan tidak ada peternakan ayam, yang ada hanya perkebunan tomat dan sayur-sayur lainnya. Saat penjaga menunjuk kebawah dan wow :D bener-bener ayam jago. Cuma di Manulalu aku nemuin ayam yang bener-bener jago. Ini ayam raksasa yang pernah ku lihat. Hahaha


Berpose di depan pintu masuk Manu Lalu

Ayam jago

View laut Aimere, kampung Bena dan gunung Inerie

Tinggi nih ayam hampir sama :D
   Sayang sekali gunung Inerie sedang dibungkus awan, jadi gak bisa mengabadikan sampai puncak gunung. Kabut sudah menyelimuti Manulalu, maka kami pun harus melanjutkan perjalanan ke kampung Bena, dan ternyata tidak terlalu jauh tibalah kami ke kampung megalitik yang menjadi icon kabupaten Ngada ini.


Wellcome to Bena Village

   Langsung aku dan kak Novi menghampiri teras rumah dan mulai mengisi buku tamu. Dari buku tamu tertutis pengunjung dari belanda, australia dan di pagi ini hanya kami pengunjung dari Indonesia. Hahaha betapa bangganya menjadi orang Indonesia, budaya Indonesia dapat menarik perhatian dari luar negri. Pengunjung di kampung Bena tidak terlalu ramai malah bisa dikategorikan sepi. Dengan takjubnya ku berjalan perlahan menikmati salah satu budaya Indonesia yang masih terjaga sampai sekarang walau perkembangan modern telah menyebar. Penduduk asli kampung Bena masih menjaga warisan leluhur mereka yang akan menjadi harta warisan kepada anak cucu mereka nanti.


Bena Village
   Uniknya di kampung Bena ini kalau diperhatikan setiap rumah pasti tergantung tengkorak-tengkorak rahang yang dikat dengan tali. Itu menandakan sudah berapa hewan peliharaan mereka yang mereka potong. Dan tanduk-tanduk kerbau yang berjejer rapih terpasang di dinding rumah teras mereka itu juga sebagai pertanda sudah berapa ekor kerbau yang mereka topong. Semakin banyak tengkorak dan tandung itu dipasang berarti semakin sering yang punya rumah membuat acara. 


Tanduk-tanduk kerbau

Tengkorak rahang dan kain adat
   Rata-rata penduduk kampung Bena ini menenun kain adat mereka sendiri dengan pewarna alami yang kemudian mereka jual kepada pengunjung sebagai kenang-kenangan. Masyarakat di sini sungguh ramah-ramah. Senyum mereka menjadikan suasana semakin hangat. :)


Menenun kain adat
   Dan uniknya lagi dari kampung ini adalah kuburan batu yang terletak tepat di depan rumah mereka dan batu-batu alam yang menjulur tinggi mengelilingi meja batu yang nanti tempat ini akan dijadikan sebagai tempat persembahan kepada nenek moyang dan leluhur mereka. Rumah adat mereka juga kecil dan mungkin tidak bisa dimasuki orang. Rumah itu tempat leluhur tinggal, kalau tidak salah yah.. :)


Kuburan baru depan halaman rumah

Gaya dulu di depan kuburan batu dan rumah adat
Kampung Bena dibawah kaki gunung Inerie

   Setelah puas mengelilingi rumah-rumah adat, aku dan teman-teman menuju pondok tertinggi di kampung ini yang mejadi tempat favorit semua pengunjung yang datang karena dari sini kita bisa melihat semua kampung adat Bena ini.  Waktunya untuk bernarcis ria.. hahaha


Aku dan Kak Hiller menaiki anak tangga
Kampung Bena dari sisi Utara

Rumah-rumah adat Bena
Bersantai di Kampung Bena

Tetep narcis walau dengan timer.. :D
  Dari atas ku bisa merasakan indahnya kampung Bena secara menyeluruh. Bagai mana tidak, kalau dilihat bentuk kampung ini memanjang seperti perahu. Selain lopo untuk tempat duduk ada juga patung bunda Maria sebagai simbol dari agama Katolik.


Patung bunda Maria


   Ada sesuatu hal yang menjadi perhatian ku saat berada diatas. Atap-atap rumah adat ini terpasang boneka-boneka yang menandakan itu rumah pihak keluarga perempuan atau pihak keluarga laki-laki. Untuk boneka yang memegang tombak itu adalah rumah keluarga laki-laki. dan untuk boneka yang tidak memagang tombak itu adalah rumah keluarga perempuan.

   Di desa ini posisi perempuan lebih tinggi dari laki-laki. Kalau ada anak mereka perempuan dan laki-laki menikah dari kampung Bena itu sendiri maka mereka diharuskan tinggal di rumah perempuan. Karena itu atap rumah mereka dibedakan dari boneka yang dipasang agar bisa membedakan mana rumah perempuan dan rumah laki-laki.


Atap rumah adat Bena

Boneka memegang tombak di atap rumah


   Mengingat kami akan melanjutkan perjalanan ke Riung maka kami segera bergegas kembali ke Bajawa. Saat pulang kami melewati kampung Langa yang berada di bawah kaki gunung Inerie trus kami masuk ke Watujaji dan tibalah kami ke kota bajawa lagi.. ^^

***

Bersambung...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar