Kamis, 08 Agustus 2013

Cantiknya Riung 17 Pulau, Ngada

    Setelah puas menikmati kampung “arsitek”  (Kampung “arsitek” yaah aku mendapat julukan itu karena banyak dari beberapa negara selain Indonesia melakukan kunjungan dengan maksud penelitian. Dan kampung Bena itu adalah salah satunya) dan merasakan udara yang dingin, sudah saatnya menikmati hawa panas dan mendengar suara deburan ombak dan aroma pantai yang khas. Apa lagi kalau bukan pantai di Riung yang terkenal dengan 17 pulau.

    Sebenarnya pulau di Riung ini bukan 17 pulau, tapi lebih dari 17 pulau, menurut blog yang ku baca Riung memiliki lebih dari 17 pulau.

   Perjalanan ke Riung ditembuh dengan waktu 3-4 jam dengan menggunakan kendaraan roda 4. Kalau tadi kami ke Bena berempat, sekarang kami berlima bersama bang Andy. Kami mengambil jalur dari Soa, dan kondisi jalannya sempit dengan semak-semak sebagai pembatas jalan dengan jurang di pinggir jalan. Untuk orang pertama kali datang seperti aku, mungkin langsung takut kalau nanti kenapa-napa. Tapi untung aku pergi dengan orang Riung yang kami panggil dengan “RR”.

   Jalan yang berbelok dan ada bagian jalan yang rusak suatu pengalaman tersendiri untuk ku benar-benar ngukngak.. hahaha :D 

    Karena perjalanan sudah mulai gelap dan tidak bisa menikmati pemadangan dan kamera pun anteng di dalam case nya. Suasana gelap dan aroma pantai dan angin pantai sudah terasa saat keluar dari mobil dan “wellcome to Riung” teriak ku dalam hati sembari senyum sumringah. :D

    Keluarga kak Hiller menyambut kedatangan kami dengan senang. Kumerasakan hangatnya kekeluargaan yang diberikan. Sambil satu persatu membersihkan badan dan merasa segar, duduk di teras dan mulai memetik jambu biji entah sudah matang atau masih mentah yang penting nguk-ngak nya. Hahaha

    Makan malam kali ini sungguh nikmat dan mantap. Rasa yang pas dan rasa capek selama perjalanan hilang dengan sendirinya. Terimakasih buat keluarga kak Hiller yang sudah memasak. Benar-benar sudah seperti ala chef. :D


Makan malam di Riung

Kenyang :D


  Malam pun semakin larut dan tubuh pun menuntut untuk beristirahat agar besok pagi bisa melanjutkan mengexplore pulau-pulau di Riung.:D

   Suara ayam jantan sudah mengudara walau matahari belum sempurna menampakan dirinya di langit. Dan sudah saatnya bangun dan bersiap-siap. Jarak dari rumah kak Hiller ke pelabuhan tidaklah terlalu jauh, berjalan kaki pun sebenarnya bisa.


Pelabuhan Riung


   Setibanya kami di pelabuhan Riung, aku langsung meliat kondisi pantainya, ternyata berlumpur karena banyak tumbuh pohon-pohon bakau.

    Sudah deal dengan yang empunya perahu yang akan membawa kami menyebrangi pulau satu ke pulau lain satu persatu kami naik ke atas perahu motor dan tidak lupa juga bekal yang telah disiapkan dari rumah.

    Wow ada ikan besar. Ikan hasil pancing nelayan ini beratnya kurang lebih 5-6kg. Dan ikan kerapuh raksasa ini masih hidup. Gigi-giginya terlihat kokoh dan tajam. Bagaimana yah rasanya kalau makan ikan kerapuh sebesar ini, sedangkan waktu aku di Kupang makan ikan kerapuh yang paling besar yang pernah ku makan seberat 2kg. Hahaha


Ikan Kerapuh yang masih hidup :D

    Tujuan pertama kami adalah pulau Rutong, dan selama di atas perahu motor ku sangat menikmati air laut yang tenang dan warna biru yang menyegarkan mata. Sungguh cantik ciptaan Tuhan ini.


Naik kapal langsung narcis :D

Tenang dan birunya air laut Riung





Pulau Rutong yang dituju
    Kapal motor bersandar di bagian barat pulau Rutong, jadi kami masih bisa terlindung dari sinar mentari. Sebenarnya itu hanya alasan, tapi memang bagian timur pulau Rutong tidak ada pantai hanya bagian timur saja yang ada pantai, dan kami adalah pengunjung pertama di pulau Rutong dan benar-benar sepi. Sudah seperti pulau milik pribadi.

    Sibuk dengan kegiatan masing-masing aku pun mulai berjalan ke arah ujung pantai bagian selatan pulau Rutong. Dan mengabadikan yang dapat ku abadikan. Pantai di pulau ini tidak terlalu lebar jadi masih bisa di jangkau dengan mudah. triport sudah terpasang kamera sudah stanby dan waktunya narcis sendiri. :D




Kak Hiller dengan ikan Kerapuh

Pada sibuk dengan kegiatan masing-masing

Sayang papan nama sudah berkarat dan tak terawat
Kak Hiller mengekspresikan bahagianya





Pulau Rutong di pagi hari masih sepi

Jernih dan bersih pantai di pagi hari


Perahu motor yang membawa kami

Melompat lebih tinggi
    Setelah puas eksis sendiri sudah saatnya menikmati bawah laut. Yah sembari menunggu bapak yang punya perahu motor membakar ikannya.


Ikan kerapuh sebelum dibersihkan

Sang bapak habis membersihkan ikan

Waktunya bakar-bakar ikan



    Seperti biasa pertama tanpa life jacket menikmati bawah laut, dan pinggir pantai sudah mulai rusak dan tidak terlihat lagi adanya terumbu karang yang masih hidup. Ingin rasanya berenang sampai tengah dimana warna air laut berwarna biru lebih gelap. Tapi apa daya dengan kondisi yang tidak bisa berenang ini mulai mencari-cari life jacket. Hahaha adapun fins tapi tidak muat di kaki terlalu longgar, ya sudahlah snorkle dan life jacket sudah bisa mewakili untuk menikmati bawah laut pulau Rutong.

    Dan benar sekali, akhirnya ku bisa juga sampai di tengah dan banyak ku temukan ikan-ikan yang beraneka warna dan lucu-lucu, ikan pemalu pun ku temukan banyak berenang bersembunyi, yah apa lagi kalau bukan ikan nemo.

   Benar-benar menyesal tidak membawa bingo pelindung kamera milikku. Tidak bisa mengabadikan keindahan bawah laut tapi cukup puas bisa menikmati dan mengabadikan dengan mata sendiri.

   Badan sudah mulai terasa capek dan lemas mengingat belum sarapan pagi, pelan-pelan ku berenang kearah bibir pantai dan benar dugaanku dalam hati. Butuh waktu yang lama untuk sampai ke bibir pantai, karena ku sudah snorkling sampai sejauh itu.

    Sudah banyak perahu-perahu motor dan pengunjung yang datang di pulau ini saat ku sudah tiba di pasir putih yang halus.

   Langsung saja ku mengambil air minum ku dan mencuci muka, hitung-hitung agar tidak terlalu hitam terbakar karena air laut. Terdengar suara drum yang sontak membuat air liur ku mengalir melihat sedapnya ikan bakarnya di bapak. Dengan lahap pelan-pelan tapi pasti isi perut ku sudah tidak mengeluarkan suara-suara drum lagi.


Menyantap ikan bakar si bapak

   Cahaya mentari sudah sangat cukup untuk mengabadikan keindahan pulau Rutong dengan kamera yang selalu setia menemaniku. Sempat menyesal tidak sampai pada puncak pulau Rutong mengingat masih ada pulau yang mau dikunjungi, sudah cukuplah menikmati sepanjang pantai ini.

Berpose dari bagian utara pulau Rutong
 
Pulau Rutong saat siang hari



Pulau Rutong

Menikmati indahnya pantai

Tidur di air pantai yang hangat
    Terlihat sekelompok anak laki-laki sedang asik bermain dan mengubur salah seorang temannya di dalam pasir yang halus. Terlihat tawa mereka yang polos dan begitu bahagia menikmati semua di depan mereka.






   Sayang sekali belum ada kesadaran dari beberapa pengunjung untuk menjaga kebersihan. Banyak sekali sampah plastik si sepanjang bibir pantai pulau Rutong bagian utara pulau Rutong ini.

    Setelah berkemas saatnya menuju ke pulau yang menjadi salah satu icon dari 17 pulau Riung adalah pulau Kelelawar (Kalong). Penghuni di pulau ini adalah kelelawar yang besar dan memiliki kepala yang berwarna merah.

   Tapi sebelum sampai di pulau Kelelawar, kami melewati beberapa pulau dan itu aku tidak tahu nama dari pulau-pulau itu apa saja. Ada 1 pulau yang unik, disaat surut pantai yang menjulur ke laut terlihat sungguh cantik.



Pantai pasir yang muncul saat air laut surut
    Kami melewati budidaya rumput laut dengan pelan, agar tidak tersangkut di tali dan tidak merusak.

Budidaya rumput laut


    Wow pohon bakau itu berbuah kelelawar. Dari kejauhan sudah terlihat warna hitam pebuh mengisi pohon bakau. Dan perahu motor semakin dekat membawa kami untuk melihat hewan yang menjadi icon disalah satu film superhero Batman. Yang bisa beterbangan di malah hari tapi siang ini kita bisa menikmati batman-batman beterbangan. 

Dari kejauhan terlihat warna gelap di pucuk pohon bakau

Pohon bakau penuh dengan kalong yang tidur

Pulau Kelelawar
    Karena kondisi di pulau ini berawa dan berlumpur tidak cocok untuk turun dari kapal, tapi untuk mendapatkan keindahan berbeda kak Hiller dan bang Andy rala turun ke bawah dan masuk ke rawa-rawa pohon bakau.






Batman-batman beterbangan di siang hari






Pohon berbuah kalong :D

Kak Hiller sedang asik hunting foto kalong
Rumah kak Hiller di Riung

Jala pulang ke Bajawa singgah di mata air

Segeeeerrrrr
   Puas menikmati ciptaan Tuhan yang satu ini, beterbangan disiang hari dan sungguh mengagumkan. Walau perjalanan ku kali ini hanya 3H2M dengan 2 lokasi meninggalkan jejak sudah bisa membayar rasa penat dari rutinitas pekerjaan.

   Tidak terasa waktu weekend pun sudah berakhir dan saatnya kembali ke kota dingin Bajawa dan bersiap-siap kembali ke kota Kupang esok paginya.

   Selalu seperti ini, kejar-kejaran dengan waktu itu sudah seperti olah raga jantung. Kondisi jalan yang sempit dan berliku ditambah udara yang dingin menusuk sampai ke sum-sum tulang membuat ku bertanya-tanya sempat atau tidak. Secara jarak dari Bajawa – Soa normalnya 40 – 60 menit. Sudah was-was telat atau enggak ternyata sampai di bandara Soa pesawat juga belum landing. Hahaha, sungguh perjalanan yang menguji adrenalin.


    Di bandara kecil ini tidak terlalu sulit untuk cek-in. Wah airportax di bandara Soa sudah Rp 9.000,- sedangkan tahun lalu masih Rp 7.000,- :D jauh sekali perbandingannya kalau dengan bandara di Kupang yang Rp 20.000,- apa lagi kalau dengan bandara Ngurah Rai Rp 40.000,-

Kondisi bandara Soa

Airportax Rp 9.000,-

Kopi khas dari Bajawa

    Tidak lupa membeli oleh-oleh kopi bubuk arabika asli Bajawa. Yah walau tidak bisa minum kopi tapi buat oleh-oleh sudah cukup.. :D

    Sudah siap dengan pekerjaan dan skripsi yang menunggu untuk digarap dan sudah cukup pula untuk menikmati indahnya Bajawa dan Riung, Ngada.

    Terimakasih banyak untuk BPI Andy dan keluarga dan BPI Hiller atas pelayanan yang memuaskan :D


***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar