Senin, 14 Oktober 2013

Hangatnya Kampung Waerebo, Manggarai, Flores



Beruntung, mungkin kali ini bisa dikatakan untuk kesekian kalinya dalam perjalanan ku "beruntungan atau hoki" itu datang lagi.
Dengan tiket promo salah satu maskapai penerbangan, aku membeli tiket promo ke daratan pulau Flores di bulan September dan "hoki" yang lain datang lagi, yaitu tiket promo yang tersisa di tanggal 11-16 September 2013 dan disaat itu adalah puncak penutupan acara Sail Komodo 2013 di Labuan Bajo. Benar-benar hoki datang lagi pada jejak perjalanan ku kali ini.

Tiket PP Kupang - Ruteng sudah ditangan, dan tanggal keberangkatan pun datang. Betapa bahagia rasanya aku bisa menginjakan kaki di pulau Flores lagi.

Perjalanan ku kali ini sudah ku share jauh hari sebelum hari-H di forum Backpacker Indonesia. Yah siapa tau ada temen-temen BPI yang bersamaan juga waktunya tuk ninggalin jejak kaki di kampung Wae Rebo dan puncak Sail Komodo 2013 bisa join. 

Untuk ke Wae Rebo tidak ada temen yang punya planing kesana di tanggal saya pergi, tapi untuk Sail Komodo 2013 ada 2 temen backpacker dari Lombok yang akan join.



Untuk ke Ruteng bila dengan pesawat terbang harus keberangkatan pagi, karena Ruteng berada di dataran tinggi dan selalu berkabut, yang mengakibatkan pagi adalah waktu yang tepat untuk landing dan takeoff pesawat sebelum kabut atau hujan datang.

Keberangkatan pagi ke Ruteng membuat aku dan travelmate ku kali ini kak Ary mesti bangun dini hari dan siap-siap brangkat ke Bandara. Tetap seperti biasa saat pesawat sudah bording baru aku cekin dan alhasil dapat nomor bangku paling depan, huff lutut harus ditekuk karena sempit dan air port tax di bandara Eltari ½ dari bandara Ngurah Rai Bali hanya Rp. 20.000,- mungkin sesuai dengan fasilitas dan keadaan yang ada.

Mata masih terasa berat untuk dibuka, selama penerbangan dari Kupang – Ruteng yang ditempuh selama 50 menit aku dan kak Ary habiskan dengan melanjutkan mimpi yang tertunda. Hahaha

Pesawat yang menghantarkan tiba di Ruteng

Bandara Frans Seda

Keberuntungan lain yang aku dapatkan adalah, seorang teman yang berkerja di Ruteng sebagai dokter PTT telah menjemput kami di bandara Frans Seda dan kami sangat berterimakasih karena mau mengantarkan kami ke terminal Mena untuk naik Oto Kol (angkutan pedesaan dari truk kayu yang dimodif dengan bangku-bangku untuk duduk penumpang dari kayu).

Hanya 10 menit kami sampai dan dengan hasil yang mengecewakan Oto Kol mulai keluar dari terminal sekitar jam 12 – 2 siang, karena berburu dengan waktu agar malam ini bisa merasakan tidur di rumah adat kampung Wae Rebo aku memakai alternatif cadangan.
Sebenarnya ada 3 alternatif untuk ke desa Dintor atau desa Denge, yaitu pertama dengan Oto Kol memakan waktu 6 jam sampai Dintor dengan ongkos Rp. 50.000,- / orang dan lanjut naik ojek ke Denge untuk traking Rp. 25.000,- . Yang ke-2 dengan naik ojek memakan waktu 3 jam sampai Denge dengan ongkos Rp. 120.000,- (hasil menawar dari harga normal Rp. 150.000,-), dan alternatif ke-3 adalah dengan mesewa travel atau mobil, emang lebih mahal Rp. 500.000,- tapi kalau banyak orang yah yang ke-3 ini pas, walau waktu yang ditempuh 4jam.

Kami memilih alternatif ke-2 dengan pertimbangan waktu lebih cepat, bisa menikmati pemandangan, bisa berhenti-berhenti walau mengeluarkan uang lebih dari alternatif ke-1, tapi lebih efisien karena memburu waktu.

Perjalanan ini sebenarnya bisa dibilang uji nyali, karena hanya kami berdua cewek naik ojek melewati hutan lindung Ruteng. Udara yang segar dan bersih masuk ke dalam paru-paru dan terasa hangat, walau udara dingin menusuk kulit membuat gemetar.

Melintasi hutan Ruteng dengan ojek

Pemandangan dari kiri jalan saat keluar dari hutan

Pemandangan dari kanan jalan saat keluar dari hutan

Setelah melewati hutan, kami melewati persawahan yang luas dan indah sekali. Mata pun dimanjakan dengan perpaduan hutan, sawah, dan laut. Dari kejauhan sudah terlihat pulau Mules (pulau yang berada di depan desa Dintor atau gunung tempat kampung Wae Rebo berada) dan semakin tidak sabar untuk segera sampai.


Foto dengan background pulau Mules

Ternyata ada untungnya menggunakan ojek, saat lutut terasa keram, kaki masih bisa diluruskan dan berhenti di spot-spot yang viewnya keren. Selain untuk merenggangkan badan mengabadikan pemandangan indah itu salah satu menjadi alasan.

Air laut yang jernih dan bersih menghempas batu besar

Deburan ombak yang menghantam batu-batu besar di sepanjang pantai yang menjadi penghilang rasa mengantuk. Air laut yang begitu bersih dan jernih masih terjaga oleh alam. Karena belum ada penduduk yang tinggal di sepanjang jalan. Hanya beberapa rumah nelayan yang kami temukan sebelebihnya adalah semak-semak.



Sampailah kami pada pasar ikan di Dintor dan sempat bertanya-tanya arah mana untuk ke Wae Rebo. Tidak terlalu susah untuk sampai di Denge, karena di pertigaan antara Dintor dan Denge terpasang papan nama “Waerebo Lodge” dan tukang ojek pun membawa kami mengikuti jalan dan tibalah kami di pusat informasi di Denge. Pusat informasi ini sekaligus homestay untuk para tamu yang hendak ke Waerebo ataupun yang baru turun dari Waerebo.


Papan nama di pertigaan menunjuk ke kampung Waerebo

Dibalik awan itu kampung Waerebo berada
Sekolah Denge menjadi titik awal traking

Senyum ramah pak Bilasius menyambut kedatangan kami dengan ramah dan hangat. Pak Billasius adalah anak asli Waerebo yang sekaligus pemilik homestay di Denge. Kami tiba pukul 11.20 dan perut mulai terasa lapar, dan memang kami harus mengisi perut sebelum kami melakukan traking ke kampung Waerebo. 

Tidak ada warung disana, hanya homestay pak Billasius yang menyediakan, walau makanan yang disuguhkan apa adanya itu sudah cukup memberikan tenaga pada kami dengan harga Rp. 25.000,- dan teh panas Rp. 5.000,- dan aku membeli air minum 2 botol untuk persediaan selama traking jadi Rp. 10.000,- tuk 2 botol.


Perut sudah diisi dan tenaga sudah siap, dan oh ya kami pakai 1 porter untuk membantu kami bawa air minum dan 1 tas. Karna kami berdua jadi masing-masing setengah harga pakai porter 1 hari Rp. 150.000,-

Porter kami bernama Juventus, om Juven ini baik sekali, kadang sempat rasa kasihan juga karna membawa tas kami, dan untuk porter ataupun orang lokal sudah terbiasa berjalan kaki tanpa alas kaki dan lebih menakjubkan mereka kuat dan sudah terbiasa berjalan berjam-jam ditengah hutan dan memikul beban yang berat.
Medan yang kami lewati pun lumayan membuat kami harus hati-hati karena jalanan yang sempit dan menyusuri sungai agar tidak terpeleset.



Perjalan menuju kampung yang begitu terkenal sampai di mancanegara itu terdapat 2 tempat pos peristirahatan dan yang menjadi pos paling favorit adalah pos 2, yang pagarnya dari semen, karena hanya disitu bisa mendapatkan signal. :)


Jalan menuju pos 1

Ingin segera sampai di Waerebo, kabut tebal disejauh mata memandang, maka mesti jalan pelan-pelan karena kiri jalan jurang dan tanah longsor.


Kabut tebal sejauh mata memandang

Rasa bahagia perlahan datang saat melihat jembatan bambu dan kebun kopi menandakan bahwa kampung Waerebo sudah di depan mata. Dan saat sampai semua tertutup kabun tebal. Hanya bayang-bayang rumah Waerebo yang samar-samar terlihat.


Waerebo saat kabut

Seperti yang sudah diberikan informasi dari bpk. Billasius jangan foto-foto sebelum memasuki rumang Gendang dan permisi.
Kami langsung dituntun om Juven ke rumah Gendang untuk permisi, dan saat kami datang rombongan camat sudah tiba duluan. Beruntungnya kami saat datang semua tua-tua adat Waerebo ada dan menyambut kami.

Kami mengeluarkan uang Rp. 20.000,- sebagai salah satu syarat permisi agar para leluhur merestui kami selama ada di Waerebo. Ritual adat ini tidak terlalu lama, dan resmilah aku dan kak Ary sebagai masyarakat Waerebo (itu kata mereka pada kami).

Karena masih hujan maka kami masih di dalam rumah Gendang dan bercengkrama dengan tua-tua adat dan rombongan bpk. Camat yang akan menyambut kehadiran wakil mentri Pendidikan dan Kebudayaan esok harinya.

Para mama-mama kampung Waerebo sudah menyediakan makan untuk kami para tamu, dan sekali lagi keberuntungan adalah bisa makan bersama dengan tua-tua adat di dalam rumah Gendang.

Hujan sudah mulai berhenti, inilah saatnya untuk ku mengabadikan cantiknya waerebo walau kabut menyelimuti dan kak Ary membersihkan diri karena baru sadar lintah menghisap darahnya di 2 tempat. :D

Kami bermalam di guess house bersama dengan turis asing di rumah kerucut yang ujung sebelah kanan. Kalau pertama kali kita datang rumah ini rumah pertama yang kita lihat disebelah kanan.

Setelah membersihkan diri, berbaring adalah pilihan yang tepat untuk memulihkan tenaga yang hilang saat traking. Oh ia aku hampir lupa apa yang ku lihat di dalam rumah Gendang tadi, rumah tertua dan yang paling besar yang sekarang ditempati 8 kepala keluarga.

Dapur terdapat di dalam rumah Gendang bi bagian belakang. Dan ditengah-tengah terdapat bambu yang dijadikan tangga-tangga untuk naik ke tingkat atas. Rumah adat Waerebo ini terdapat 5 tingkat, tingkat 1 adalah lutur (tenda) yang dijadikan tempat tinggal masyarakat, tingkat ke 2 adalah Lobo (loteng) sebagai menyimpan bahan makanan dan barang-barang lainnya, tingkat ke 3 adalah Lentar digunakan sebagai tempat menyimpan benih-benih seperti jagung, pagi, dan kacang-kacangan, tingkat ke 4 adalah Lempa Rae sebagai tempat stok cadangan makanan dan tingkat terakhir tingkat 5 adalah Hengkang Kode sebagai menyimpan langkar (anyaman dari bambu yang berbentuk persegi digunakan sebagai tempat penyimpan sesajen kepada leluhur.

Dapur didalam rumah Gendang
Tangga dari bambu di tengah ruangan
    
TIngkatan rumah yang dapat dilihat pada guess house
                        
Selain gendang yang akan dipakai untuk acara-acara adat atau acara-acara besar digantung di depan pintu utama, ada juga seperti tempat terbuat dari mambu yang ada bulu ayam. Dan menurut penjelasan dari masyarakat Waerebo tempat ini bernama Dengker atau tempat persembahan untuk para leluhur dan disetiap rumah ada digantung. Dan biasanya Dengker digunakan saat upacara Penti (upacara persembahan pada leluhur) pada tanggal 15 atau 16 november.


Alat musik tradisional yang digandung di depan pintu utama

Dengker menjadi tempat persembahan kepada leluhur

Ada bulu ayam yang digantung adalah tanda bahwa masyarakat membuhuh ayam dan babi disaat acara itu. Karena potongan daun telinga babi dan bulu ayam diletakan di Dengker.

Wah aku sudah seperti pengamat sejarah aja, sampai mencari tahu segala. Sebenarnya karena rasa keingintahuan yang besar dan aku datang jauh-jauh bukan hanya untuk foto-foto tapi ingin tahu tentang sejarah mereka walau tidak secara detail.

Ada satu ungkapan yang sampai sekarang membuat ku pernyataan bahwa suku Waerebo ini nenek moyang mereka berasal dari Minang kabau Sumatera. Dan saat saya tanya gimana ceritanya, mereka tidak tau pasti kronologinya, mereka hanya tau seperti itu turun menurun.

Apa lagi yah yang menjadi perhatian ku saat masuk ke rumah gendang ini, oh ya untuk para tamu saat masuk mereka akan mempersilahkan kita duduk di atas tempat duduk yang terbuat dari anyaman pandan yang berisi kapuk di bagian kiri atau kanan rumah. Tampat duduk itu bisa juga dijadikan sebagai bantal kaki untuk tidur. Saat mereka letih karena bekerja seharian di kebun atau berburu mereka akan menggunakan bantal kaki saat tidur. Dari situ saja bisa dilihat bahwa mereka dari dulu sudah mengetahui cara untuk melancarkan peredaran darah pada kaki.


Tempat duduk dari anyaman pandan liar yang diisi kapuk

Dan bagian tengah di rumah gendang yang tepat dekat tangga langsung menghadap ke pintu utama adalah tempat untuk tua-tua adat suku Waerebo, tidak bisa sembarangan orang duduk disana.


Bagian tengah tempat duduk tua-tua adat Waerebo

Jam makan malam pun datang, aku dan kak Ary bersama dengan turis asing berkumpul ditengah dan menikmati makan malam kami yang sambalnya mampu membuat saya dan tamu lain menangis. :D

Sudah saatnya membaringkan badan dan mengumpulkan tenaga agar esok hari bisa melanjutkan menikmati indahnya Waerebo dan traking turun ke Denge. Tidak perlu takut akan kedinginan di Waerebo, karena sudah disediakan selimut yang tebal dan bila masih kurang hangat bisa menggulung badan dengan tikar pandan hutan (itu benar-benar hangat sekali).

Gelap, sepi, sunyi saat terbangun tengah malam, karena genset sudah dipadamkan dan memang harus membawa senter. Untung membawa hp senter yang setidaknya mampu memberi cahaya ke luar.

Dan mentari pagi pun menyinari kampung Waerebo, saat yang tepat untuk menikmati Waerebo dan mengabadikan semua di kamera yang selalu setia mendampingi setiap ku meninggalkan jejak kaki. 

Menikmati dari balik jendela

View rumah gendang dari dalam guess house

Nyenyak sekali dan rasa hangat tidur di rumah niang ini. Hanya guess house yang dapurnya terpisah. 6 rumah lain itu dapurnya ada didalam rumah. Air yang dingin membuat aku mengurungkan niat untuk mandi, toh nanti juga akan keringatan saat traking turun. Mumpung masih pagi dan kabut pun belum datang menutupi Waerebo, saya keluar dan mulai mengabadikan semua.


Masih menikmati hangatnya rumah Waerebo

Masih terasa dingin aku masuk ke dapur dan bercerita bersama mama-mama desa Waerebo yang sedang masak untuk menyambut wamen. Ada yang unik di dalam daput ini, ada katron yang bertulis nama-nama benda dan bahasa inggrisnya. Ternyata masyarakat setempat belajar bahasa Inggris untuk membantu mereka berkomunikasi dengan pata tamu asing.
  
Bercerita bersama mama-mama Waerebo di dapur guess house
Bahasa Inggris dan cara membaca
Badan sudah mulai terasa hangat karena duduk di dapur, dan ini saatnya sarapan pagi, karena para tamu asing mereka segera turun ke Denge dan melanjutkan perjalanan mereka, sedangkan aku dan kak Ary masih ingin mengabadikan hangatnya Waerebo.


Sarapan pagi nasi goreng :D

Dari belakang guess house bapak-bapak Waerebo sedang sibuk memotong daging sapi yang baru mereka potong subuh tadi, untuk menyambut kedatangan Wamen Pendidikan dan Kebudayaan semua masyarakat Waerebo sudah sibuk dari dini hari.
 
Bapak-bapak sedang memotong daging sapi
Bapak-bapak sibuk memotong daging sapi

Tawa polos dan tulus dari anak-anak Waerebo memberikan energi positif untuk ku mensyukuri keindahan yang Tuhan berikan ini. Sayang sekali aliran sungai kecil mengalir dari hidung mereka, menurut mas Sugi, seorang LSM anak-anak Waerebo selalu terkenal flu dan untuk obat-obatan sangat kurang.
                                 


Foto bersama dengan anak-anak kampung Waerebo

Tawa mereka yang kurindukan

Ada satu lagu dengan menggunakan bahasa Indonesia yang anak-anak kampung Waerebo tahu untuk dinyanyikan. Dan saat ku meminta mereka bernyanyi, mereka dengan semangat dan girang menyanyikan lagu itu, yah walau masih ada beberapa kata yang mereka lupa. Harap maklum kalau hasil videonya kurang bagus, masih amatiran untuk merekam video :D


Suatu pagi di kampung Waerebo

Mereka sangat membutuhkan obat-obatan dan buku-buku bacaan bergambar untuk anak-anak kampung Waerebo. Membantu mereka belajar bahasa ibu pertiwi, semoga teman-teman yang nanti akan berkunjung ke kampung adat ini bisa membantu mereka dengan membawa buku bacaan.

Bendera merah putih berkibar dengan gagahnya di depan rumah gendang. Dan tidak lupa berfoto dengan tua-tua adat Waerebo dan mama-mama Waerebo. 





Aku dan kak Ary didepan rumah gendang

Tanda-tanda kabut sudah datang aku dan kak Ary langsung pergi ke spot view yang bisa melihat seluruh kampung Waerebo dan spot itu juga adalah rumah baca yang akan diresmikan siang ini oleh wamen pendidikan dan budaya. 


Kabut mulai menutupi kampung Waerebo

Cantiknya Waerebo

Tetep eksis dulu sebelum kabut datang :D

Yeeeiii :p

Saat turun kembali ke penginapan untuk bersiap-siap turun, anak-anak kampung Waerebo sedang asik menonton dari laptop,kalau tidak salah yang ditonton itu film "Tanah Air Beta".


Anak-anak kampung Waerebo berkumpul di depan guess house

Bapak capat yang mengantarkan kami :D
Sebelum meninggalkan kampung warisan Unesco ini kami mengisi buku tamu dan membayar penginapan dan sudah termasuk dengan makan 3 kali dan kopi/teh. Harganya juga sudah ditetapi tidak ada beda untuk wisatawan lokal maupun wisatawan asing yaitu Rp. 250.000,- / orang bila menginap. Bila tidak menginap tamu wajib membayar Rp. 100.000,- / orang.


Ayeii nama kami ada dibuku tamu :D

Sedih sih saat meninggalkan kampung Waerebo dan mereka sudah menahan kami untuk tinggal satu malam lagi biar bersama dengan ibu wamen, tapi kami sudah harus turun ke bawah untuk mengejar waktu lanjut ke Labuan Bajo. Walau kabut tetap menemani perjalanan saat turun, tidak begitu mengurangi untuk menikmati pemandangan dan mendengar kicauan burung-burung.


Batas antara kebun kampung Waerebo dan Hutan

Kampung yang sudah sangat terkenal lama di kalangan pejalan mancanegara, tetapi baru terkenal di pejalan dalam negri. Aku termasuk beruntung bisa meninggalkan jejak di kampung warisan Unesco ini.


Kampung adat Waerebo yang tersisa di Manggarai menjadikan sebuah warisan yang paling berharga untuk masyarakat setempat dan untuk warna Indonesia. Di masa semua orang sudah maju dengan teknologi canggih, namun di Waerebo masa itu tidak ada. Mereka menolak masuknya teknologi canggih ke kampung mereka, karena mereka tidak mau suatu hari nanti kampung ini perlahan-lahan hilang karena perkembangan teknologi. Mereka bangga masih bisa melestarikan warisan leluhur. 

Aku sendiri sempat tekejut saat mendengar nominal /malam di kampung ini, bagaimana tidak, seorang mahasiswa dengan menikmati setiap perjalanan dengan ala backpacker harus mengeluarkan uang yang cukup besar dari kantong. Tapi bila dibandingkan dengan kehidupan mereka yang harus membeli bahan-bahan kebutuhan lain yang tidak ada di hutan atau di kampung, mereka harus turun ke kampung terdekat atau pun ke tempat dimana mereka bisa membelinya. Dan pergi kesana pun berjalan kaki berjam-jam dan harus memikul beban di pundak mereka. Wajarlah kalau pengunjung sudah dipatokan harus membayar berapa kalau menginap. Lagi pula kampung ini sudah termasuk sebagai icon pariwisata dari Manggarai, Flores. Yah sah-sah saja kalau kita harus menabung dari jauh hari untuk mendapatkan kecantikan rumah adat yang begitu tersohor. 


Warisan adat Manggarai


Kampung Waerebo dari atas

Tuk terakhir menikmati Waerebo

Selama perjalanan turung ke Denge kami bertemu rombongan guru-guru pengabdian dan beberapa turis asing di pos dua. Jalan menurun ini lebih cepat dari pada kemaren kami traking naik. Dan istirahat sejenak di pos 1 sambil menikmati segarnya air sungai yang deras akibat hujan semalam.

Keberuntungan lain datang saat kami jalan turun ke Denge, bisa bertemu dengan ibu wamen yang akan meresmikan rumah baca yang dibangun di Waerebo, bersama dokter-dokter PTT dan guru-guru yang mengabdi di Manggarai.


Foto bersama ibu Wamen Pendidikan dan Kebudayaan



Foto bersama teman-teman SM3T


Bersama travelmate

Porter yang kuat om Juven

Setibanya di Denge, hujan turun dan membuat kami tidak bisa melanjutkan perjalanan sampai di Pella. Bila naik ojek sampai Pella Rp. 200.000,- / orang karena oto kol hanya ada sekali sehari yang pergi ke Ruteng dan itu pun berangkat jam 3 atau 4 dini hari.

Hujan terus mengguyur desa Denge sampai sore dan pilihan yang harus kami ambil adalah menginap di Denge dan melanjutkan perjalanan besok pagi.

Rasa letih mulai terasa saat air mengguyur tubuh saat membersihkan diri, dan ingin sekali langsung membaringkan badan, tetapi pikiran tidak tenang karena ada janji. Sambil mencari jalan keluar di dalam otak, pak Billasius sudah menyediakan makan siang untuk mengganti tenaga yang telah hilang saat traking turun ke Denge.


Makan siang di penginapan di Denge

Hanya aku sudah ada janji dengan teman dari kampung Komodo yang akan menampung ku disana, untuk bertemu di tanggal 12 malam karena ada acara pentas seni di Labuan Bajo.  Itu yang mekbuat aku gelisah dan sialnya di Denge tidak ada signal. Dan menurut pak Billasius untuk mendapatkan signal itu di atas batu depan sekolah atau di samping Gereja. Dan aku sudah mencari tapi tidak dapat juga. Untungnya kami bertemu dan berkenalan dengan 2 orang polisi sekaligus forener rombongan wamen yang mau menghantarkan aku mencari signal. Akhirnya di persawahan yang luas dan di jendela rumah warga aku mendapatkan signal dan dapat menghubungi teman.


Rumah di samping gereja bentuk atapnya seperti Mbaru Niang

Pemandangan sawah dan laut tempat mencari signal

Dijendela rumah ini ku mendapatkan signal

Cengkeh yang baru dipanen milik yang punya rumah :D
Tidak lupa ku berhenti di persawahan di desa pemekaran kampung Waerebo, karena dari sini aku bisa menikmati sawah, laut, dan pulau yang cukup terkenal kalau kita searching tentang Waerebo di google akan muncul pulau ini. Kalau saat pergi kemarin hanya sebagian dan tidak begitu jelas pulau Mulesnya. Dan sore ini ku beruntung lagi bisa menikmati dengan jelas.


Pulau Mules

Hujan berhenti dan desa Denge dihiasi indahnya pelangi yang full. Sungguh cantik sekali. Jarang sekali bisa mendapatkan pemandangan yang indah ini di perkotaan.


Pelangi dari penginapan bpk Billasius

Pelanginya cantik

Tetep yah narcisnya.

Sambil menikmati sore di desa Denge, aku pun menguji ingatan dan kemampuan ku untuk bermain permainan tradisional lompat tali. Sudah belasan tahun yang lalu terakhir kali aku memainkan permainan ini, dan disinilah aku bisa mengingat kembali betapa serunya permainan tradisonal yang semakin hari semakin tidak tetdengar lagi namanya. Anak-anak desa masih memainkan permainan ini, beda sekali dengan anak-anak kota yang permainannya adalah getged.


Ikut bermain lompat karet

Sambil menonton permainan tradisional, aku dan kak Ary bersama dengan dua orang polisi duduk santai sambil bercerita dengan pak Billasius lebih mantapnya lagi, sambil menikmati teh/kopi dan pisang goreng. Sungguh nikmat. 


Bercengkrama dengan pak Billasius
Pelengkap menikmasi sore di Denge

Ini malam terakhir aku di desa pemekaran kampung Waerebo, dan penginapan di tempat bapak Billasius ini Rp. 200.000,- / orang karena kami berdua makan kami perorang membayar Rp. 175.000,-
Seperti yang sudah disepakati, jam 3 dini oto kol sudah parkir di depaj home stay milik pak Billasius dengan suara musiknya yang sangat kencang dan benar-benar telinga kita harus kuat menahan.

Gelap gulita di luar hanya mendapat cahaya dari senter aku benar-benar terkagum saat melihat kelangit. Sungguh cantik sekali gugusan bintang di langit.

Perjalanan dari Denge ke Pella tersimpangan antara Ruteng dan Labuan Bajo ditempuh dengan waktu 5 jam dan biayanya lumayan cocok dengan aku yang suka backpackeran, hanya Rp. 25.000,- langsung saja aku dan kak Ary naik bis menuju ke Labuan Bajo dengan ongkos Rp. 50.000,- dan untuk naik bis harus ditanya dulu berapa ongkosnya. Jangan sampai kena tipu dari konjak (kernek) atau supirnya.
Oto kol yang menghantarkan kami sampai Pella



***
Estimasi biaya selama trip ke Waerebo
-          Airport tax = Rp. 20.000,-
-          Ojek Ruteng – Denge = Rp. 130.000,-
-          Makan siang di Denge = Rp. 25.000,-
-          Teh panas = Rp. 5.000,-
-          Porter = @ Rp. 75.000,-
-          Uang adat = @ Rp. 10.000,-
-          Bermalam di Waerebo = Rp. 250.000,-
-          Bermakan di Denge = Rp. 175.000,-
-          Oto kol Denge – Pella = Rp. 25.000,-
-          Bis Pella – L. Bajo = Rp. 50.000,-
Total : Rp. 765.000,- 

5 komentar:

  1. halo mbak tinae, saya ariel. salam kenal mbak! keren-keren banget fotonya selama di wae rebo. kalau boleh saya mau nanya beberapa pertanyaan nih mengenai wae rebo. saya kirim di sini aja atau via email ya? terimakasih banyak mbak

    BalasHapus
    Balasan
    1. hai.. sorry aku baru bales, baru buka2 blog soalnya... makasih ya dah berkunjung... boleh2 via email aja yah, tinasiringoringo@gmail.com :)

      Hapus
  2. Hii saya lora boru siringoringo. Rencana mau ke waerebo juni nanti. Apa aja ya yg perlu dipersiapkan tuk trekking kesana? Mauliate kk or bou

    BalasHapus
  3. keren banget emang yaaa desa-desa unik disana, destinasi yang wajib dijelajahi nih

    BalasHapus
  4. kerennn kak tinae :)
    rencanca bulan 7 setelah lebaran mau ke wae rebo, ada yg mau join?
    bisa hubungi saya di alambecak@gmail.com atau 081243380700

    BalasHapus