Kamis, 28 November 2013

Keajaiban dan Misteri Danau 3 Warna, Kelimutu

   Masih ingat tentang tulisan ku yang pernah membahas betapa beruntungnya ku mendapatkan banyak tiket promo dan kubisa menikmati sebagian besar cantinya Nusa Tenggara Timur. Yup! Salah satu tempat dengan tiket PP Rp. 160.000,- ini sudah membawa ku ke Flores Tengah, Ende. Kota yang sudah terkenal dengan sejarahnya.

   Kota dimana tempat pengungisan Bung Karno dimasa Indonesia masih dijajah dan tempat tercetusnya isi dari Pancasila. Tapi kali ini aku bukan membahas tentang itu, tapi tentang salah satu keajaiban yang sudah dari dulu ingin kudatangi yang terkenal dan tersohor sampai di luar negri. Benar sekali. Danau 3 warna yang dapat berubah-ubah warna, Danau Kelimutu.
Ku akan tetap membahas isi kota Ende, tapi itu ditulisan lain yang akan menyusul.:)

    Oke hasil kesepakatan tadi malam, minggu dini hari tanggal 03-03-2013, aku dan bersama kakak-kakak pemuda dari gereja menemani ku tuk menikmati rutinitas sang mentari perlahan-lahan menerangi bumi ini. Ah, bahasa ku ini membuat ku sendiri bingung apa yang aku bilang. Hadeh!!!

   Tidur pun tidak nyaman setiap kelopak mata tertutup selalu bayang-bayang danau 3 warna yang muncul.. tidak sabar untuk segera sampai sana, padahal dalam hitungan beberapa jam saja ku pasti sudah disana. Dengan perjanjian pukul 03.00 wita sudah jalan ternyata pukul segitu kita baru bangun dan siap-siap dan yah kita mulai perjalanan hari ini kurang 20 menit pukul 04.00 dini hari.


   Dan benar saja, Ende kota yang sepi belum ada tanda-tanda aktifitas dimulai dan jalanan pun masih gelap ditemani  udara dingin mulai menusuk tulang, padahal sudah memakai jaket dan penutup kepala dan tetap saja terasa dingin sampai harus berapa kali menahan badan yang menggigil. Demi keajaiban dunia ini, aku rela. Hahaha…

    Kami berempat mengendarai sepeda motor dan membelah gelapnya jalan dan hutan lindung. Tidak ada hal yang bisa diberikan pada mata ini untuk dinikmati, hanya gelap yang sedikit penerangan dari cahaha 2 motor dan taburan bintang di langit yang pelahan mulai menghilang satu persatu.
Mungkin sudah mulai terbiasa dengan dinginnya udara dini hari ku tak merasakan tubuh ku menggigil lagi dan sangat menikmati perjalan ini.

    Sudah mendekati Moni gelap pun mulai pudar dan awan mulai memberikan warna dan cahaya. Tapi belum terlihat warna orange tanda-tanda sang mentari terbit. Tibalah di desa moni dan jalan pun terbagi, langsung saja mengikuti jalan sebelah kanan dan mendaki ternyata sangat mudah untuk dijangkau. Baik dengan kendaraan bermotor atau pun mobil sudah sangat mudah.

    Kali ini mata ku dimanjakan dengan pemandangan yang segar dan alami. Sawah-sawah yang bertingkat dan perkebunan pohon cengkeh menghiasai bersamaan dengan itu langit pun semakin terang dan perlahan sudah memberikan warna orang. Dan yaaaaah aku belum sampai di danau kenapa sudah harus terbit??

    Tiba di pos penjagaan, ku langsung mengeluarkan uang untuk membeli karcis untuk empat orang. Dan mengisi buku tamu. Wah ternyata kami tamu ke 6, dan rata-rata tamu dari luar negri.  Dari pos penjagaan ke parkiran tidak terlalu jauh, dan motor pun diparkir dan disanalah ku berdiri tuk sesaat tuk menikmati perubahan warna dan menyambut sang mentari. Walau tidak bisa menikmati sunrise dari bibir danau Kelimutu, tapi setidaknya bisa menikmati dari parkiran Kelimutu, yang penting sama-sama “Kelimutu” hahaha. Bukan malasah dimana tempat kita menikmati dan menyambut sunrise tapi bagaimana cara kita menyambut. Dan aku bersyukur bisa langsung melihat sunrise. Tidak sia-sia kedinginan dan waktu tidur hanya sedikit tapi kepuasan itu muncul sendiri. Tetap tidak lupa untuk mernarcis bersama sunrise :)


Sunrise dari parkiran
Narcis dulu bersama sunrise
    Sudah merasa cukup, disinilah dimulai menaiki anak-anak tangga yang akan menghantarkan ku dan teman-teman ku sampai di danau 3 warna.

   Sudah mulai tercium aroma khas dari kawah yaitu aroma belerang, berarti sudah semakin dekat keberadaan ku. Dan benar saja sudah sampai dan aaaaaaaaaaaaa ku berteriak dengan senangnya dan bahagia. Bagaimana tidak, tempat ini adalah satu-satunya di dunia yang memiliki warna kawah yang berbeda-beda dan bisa berubah-ubah, tanya di mbah google, tidak ada danau yang bisa berganti-ganti warna seperti danau Kelimutu. Dan hanya ada di Indonesia, cool.. :) bangga banget menjadi orang Indonesia.

    Tempat yang terkenal ini entah bagaimana ceritanya tidak lepas dari sebuah misteri.  2 bulan sebelum ku datang dan menginjakan kaki disini warna danau ini masih biru muda dan biru keputih-putihan plus warna hitam. Tapi sekarang entah bagaimana dan kapan proses perubahan warnanya sudah sangat berbeda memberikan warna coklat kemerahan,  hijau tosca, dan hijau muda.

    Oke saatnya “Tour danau 3 warna, Kelimutu”. Yah danau pertama yang kutemui adalah dua danau yang berdampingan dan kalau kita ingat lagi diuang pecahan Rp 5.000,- foto danau ini pernah ada disitu. Dan Sekarang ku bisa berdiri dan melihat dengan kedua mata ku sendiri wujud asli foto dari mata uang itu. Kalau dilembar mata uang Rp 5.000 dua danau di depan ku ini berwarna merah dan biru.

Papan sejarah terjadinya kawah dan tanda BERBAHAYA
    Sebelum berdiri dipagar pembatas, kita seharusnya WAJIB untuk membaca peraturan yang ada disana, dan mengetahui bagai mana danau ini terjadi. Tunggu ini danau atau kawah yah? Karena Kelimutu sendiri adalah nama gunung berapi yang berada di Ende. Dan saat perjalanan ke atas tadi ku mencium aroma belerang, berarti ini adalah kawah. Tapi sudahlah buat apa kubahas panjang lebar dan memang sudah terkenal baik itu dengan nama “Danau Kelimutu atau Kawah Kelimutu”.

    Kembali ke papan nama sebelum pagar pembatas. Ternyata papan itu menandakan area berbahaya dan sejarah terjadinya danau ini.  Danau pertama adalah danau Titu Ata Polo dengan luas 4 Ha dan kedalaman 64 meter. Sungguh besar. Titu Ata Polo ini berwarna coklat tua agak kemerahan malah hampir sama dengan warna cola. Dari ketiga danau yang ada, ini danau yang paling berbahaya sihingga ada pagar pembatas yang tidak boleh dilewati.

   Dan misteri selanjutnya adalah masyarakat setempat mempercayai ketiga danau ini adalah tempat arwah-arwah leluhur, yah bisa dikatakan sakral. Untuk Titu Ata Polo sendiri adalah tempat persemayaman arwah-arwah dulu saat masih hidup melakukan kejahatan yah seperti sihir, jadi bisa dibilang danau ini tempat arwah jahat.

    Untuk danau yang ke-2 yang beada di dengah itu adalah danau Tiwu Nuamuri Koofai yang lebih luas dan lebih dalam dari danau ke-1 yakni tuk luasnya aja kurang lebih 5,5 Ha dan kedalamannya  127 meter. Warna danau ke-2 berwarna hijau sedikit muda J yah seperti danau ke-1 danau ini juga memiliki misteri tempat semayamnya arwah muda-mudi yang mati muda. Jadi kalau aku mati sekarang apa aku menjadi salah satu anggota arwah di danau Titu Nuamuri Koofai??? Hahahaha lucu juga yah. Hadeh!! :p

   Entah kenapa rasa penasaran dan rasa keingin tahuanku yang besar tiba-tiba muncul. Lihat kanan-kiri tidak ada penjaga dan hanya ada kami berempat di danau ini, ketiga teman ku lebih memilih berfoto-foto di balik pagar pembatas mungkin karena mereka orang Ende sendiri jadi sudah berkali-kali datang kesini. Sedangkan aku yang baru pertama sekali datang, langsung saja ku ambil DSLR ku dan langsung ku gantung di leher dan ku mulai melewati pagar pembatas dan berjalan menyusuri bibir danau Titu Ata Polo dan ingin sekali rasanya memutar lebih jauh tapi teman-teman sudah memanggil untuk menyuruh ku kembali dan berhati-hati.
Panggilan mereka seakan ku tidak dengar atau aku yang pura-pura tidak dengar dan dengan santai ku sudah berjalan lumayan jauh dan disinilah ku berdiri dan memejamkan mata dan menahan napas, tanganku mulai berkeringat dan detak jantungku pun dapat ku dengar dengan jelas.

    Kubentangkan kedua tangan ku dan terasa angin pelan menyentuh telapak tangan ku yang perlahan-lahan tak berkeringat dan kubuka mata ku perhalan dan menghembusakan nafas dengan tenang dan OH MY GOD!!! Amazing… sungguh cantik. Thanks God, ku bisa merakasan keajaiban yang luar biasa. Kedua bola mataku melihat kebawah dan entah mungkin pikiran ku saja saat itu aku seperti tertarik kebawah.

    Perlahan tapi pasti ku dengar suara teman-teman ku memanggil ku yah dengan nada yang sepertinya cepas. Dan disaat itulah ku sadar sudah cukup tuntuk ku terhipnotis kecantikan Titu Ata Polo. Langsung dengan tanpa diperintah tangan ku langsung mengambil kamera yang dari tadi ku anggurin dan sekaranglah dia berfungsi :)

Warna cola pada Titu Ata Polo

Dua danau berdampingan

Jarak antara aku dan pagar pembatas

Nekat melewati pagar pembatas sampai jauh
    Karena aku sendirian yah dengan timer itu adalah cara yang paling pas untuk mengabadiakn foto ku yang sudah nakal melewati pagar sampai jauh.

Tiwu Nuamuri Koofai berwarna Hijau muda 
Titu Ana Polo dan Tiwu Nuamuri Koofai terlihat tenang

Menikmati keindahan yang Tuhan beri
Aku bersama kakak-kakak pemuda gereja :)
   Pernahkah kalian berpikir untuk merasakan hangatnya air danau Kelimutu ini? Dapat berenang seperti danau vulkanik danau toba. Tapi di danau Kelimutu ini menurut penjaga dan masyarakat setempat belum ada orang yang pernah memegang air dari danau ini kecuali danau yang ke3. Malah sering ada yang jatuh dan tidak bisa ditemukan dan yah seperti itulah, menurut penjaga sih seperti itu.

   Saat ku sudah berada bersama teman-teman ku, yah pertanyaan-pertanyaan mulai bertadangan. Ku dapat merasakan kekawatiran mereka bila terjadi sesuatu pada ku yang tidak dinginkan karena kejahilan ku ingin tahu. Dan konyol! Itu kata kusebut untuk diriku sendiri. Dengan santai ku mengeluarkan snorkel dari dalam tas dan heloooooo ini kawah loh bukan lautan. Ketiga teman ku melihat heran untuk apa ku membawa alat snorkeling ke atas gunung Kelimutu dan di kawah yang berbahaya seperti ini.

    Mereka pun tertawa saat ku meminta tolong untuk memfoto ku saat ku duduk di pinggir danau dan snorkel sudah terpasang. Untung danau 3 warna ini berada di ketinggan membuat ku tidak niat untuk membawa baju renang. Hahaha, kenapa gak sekalian dengan scuba? Berat bawanya ke atas gunung. Kocak.

Snorkling at Denger lake??

or snorkling at the same danger lake??
    Andai saya bisa snorkling di danau ini.. :D
Oke sudah puas dengan ke dua danau ini, sudah waktunya ke danau ke-3 yang airnya bisa disentuh bahkan untuk cuci muka pun bisa disana, tapi yah mesti punya tenaga cadangan karena harus turun ke bawah dan naik kembali :)


    Berjalan menaiki anak-anak tangga lagi untuk mencapai puncak tertinggi di gunung ini yang bisa melihat ketiga danau sekaligus. Sayang sekali saat berjalan ke atas papan petunjuk arah terlepas dan saat ku gabungkan yah jadi kacau sendiri. Ada juga papan sebagai sejarah aktifitas gunung Kelimutu. 

Rekaman aktifitas gunung Kelimutu

Papan penunjuk jalan yang sudah rusak

Narcis di tangga-tangga menuju tugu

Banyak juga anak tangganya :)
    Saat berada di tangga-tangga bagian sebelah kiri ku menyambut dengan cantiknya. Hutan pinus melingkari lubang besar yang berisi air berwarna hijau tosca. Sudah tidak sabar kali untuk melangkahi anak-anak tangga ini. 

   Dan sampai diatas para turis asing sudah mengambil posisi mereka sambil menikmati dan merekam keajaiban yang Tuhan beri dengan kedua mata mereka. Dan disana sudah ada bapak-bapak dan mama-mama yang berjualan. Dari jam berapa mereka sudah berada disini, dan ternyata mereka sudah ada dari pukul 3 dini hari dan berjalan ditengah kegelapan dan dengan udara yang begitu dingin. Mereka tinggal di desa Moni. 

   Popmie panas sepertinya pas untuk kami bersantai. Sebelum keinginanku untuk turun kebawah dan mencoba menyentuh airnya kusampaikan, teman-teman ku sudah melarang ku dahulu. Mereka bilang sebelum kabut datang lebih baik kita turun. 

    Yah, dari pada ku menghabiskan waktu tuk berjalan kebawah dan naik kembali lebih baik memilih untuk bersantai diatas dan merasakan keindahan yang Tuhan berikan.

   Ada misteri lagi yang tersimpan di danau ini, yaitu lempar batu. Aku dan teman-teman ku sudah berusaha untuk melepar batu dan batu-batu itu langsung hilang atau berbelok ke kanan, padahal kami melempar lurus. Tidak ada yang pernah berhasil melempar batu dan batu itu selalu berbelok. Entah kenapa dan ku menikmatinya semua.

   Hati-hati juga kalau kesini, Karena ada banyak monyet-monyet yang entah dari mana datangnya tiba-tiba sudah ada di samping ku berusaha merebut kamera yang ku gantung di leherku. Apapun yang kemungkinan bisa dirampas paksa oleh sang monyet hindari barang-barang itu terlebih dahulu. :)

Aku di atas tugu

Sibapak penjual popmie

Menikmati dari tangga-tangga

Wow ada monyet di belakang ku :)

Bercerita tentang perjalanan dengan turis asing
Yooooo amazing ya
Add caption

Pati Du'a Bapu Ata Mata

Habis mencoba lempar batu :)
    Oh yah, aku lupa member tahu kalau danau ke-3 ini bernama danau Titu Ata Mbubu dengan luas hampir sama dengan Titu Ata Polo yaitu luas 4,5 Ha dan dalamnya 67 meter. Dan tempat ini juga sebagai tempat semayam arwah-arwah orang tua yang sudah mati.

    Dan pada setiap tanggal 14 Agustus diadakan acara “Pati  Du’a  Bapu Ata Mata” acara memberikan makan kepada arwah yang ada disitu. Dan itu adalah acara adat. Dan terjawablah sudah rasa penasaran ku terhadap danau warna ini. Tempat keramat yang penuh dengan misteri dan penuh dengan ketakjuban.

   Kabut pun mulai datang dan sudah saatnya kembali ke Ende karena penerbangan ku siang ini ke Kupang.

Kabut sudah datang + dingin

Istirahat bentar sebelum melanjutkan turun kebawah

Welcome to Kelumutu National Park
Papan Iklan dipercabangan Moni - Kelimutu

    Karena sang mentari sudah terbit dan kabut pun memenuhi sejauh mata memandang, jadi selama perjalanan turun ke Moni hanya bisa melihat sawah-sawah dan perkebunan cengkeh dengan jelas.

    Dan berharap ada kejutan lain selama perjalanan kembali ke Ende, dan benar sekali mata ku dimanjakan pemandangan air terjun dan itu banyak sekali semua kunikmati dari atas motor dan karena jaraknya jauh sekali. Ada satu air terjun yang tidak terlalu besar tapi sudah mampu membuat ku dan teman-teman berhenti untuk sekedar berfoto-foto karena air terjun ini berada tepat dipinggir jalan raya. 

Air terjun dilihat dari jalan raya

Airterjun dipinggir jalan raya
    Suatu pemandangan yang untuk pertama kalinya ku lihat dan sangat sulit untuk mendapatkannya. Kalau di Kupang ku sudah terbiasa melihat sepeda motor digantung di bagian belakang bus, tapi ini puluhan ayam kampong yang digantung di bagian belakang bus seperti wallpaper.

Ayam bergentatungan di bus

    Dua jam perjalan tidak terasa karena alam yang begitu indah menghiasi sepanjang jalan.

***

6 komentar:

  1. Eh Ibu Tinae sudah sampai sini juga akhirnya hahahahhahahaha.....

    BalasHapus
  2. ia nih pak.. sampe juga dan yah bener-bener puas :)

    BalasHapus
  3. Wah keren warnanya udah berubah lagi..dulu pas ke situ yang satunya itu ngak hitam..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Danau kelimutu emang selalu keren mas... selain punya 3 warna, hobi berubah-ubah itu yang bikin penasaran dan pingin balik lagi dan lagi :)

      Hapus