Sabtu, 28 Desember 2013

Perjalanan ke Pulau Alor , Bag 1

   Sudah berapa kali aku batal pergi ketempat yang menjadi salah satu yang ingin sekali kudatangi. Hah (tarik nafas) sepertinya semua tempat di Nusa Tenggara Timur ini menjadi tempat yang ingin sekali kudatangi. Pulau yang berada di bagian timur dari NTT yang sangat terkenal di manca Negara dan yah di Indonesia pulau ini juga cukup terkenal *untuk kalangan pejalan yah. :) diluar pejalan aku kurang tahu.

   Dari begitu banyak pulau di NTT dan banyak budaya dan bahasa yang berbeda-beda ditiap pulau, tapi di pulau yang satu ini lebih banyak lagi bahasa dan budaya yang tersimpan. Bagaimana tidak, setiap daerah di pulau ini memiliki bahasa dan kain adat yang berbeda, walau mereka berasal dari kabupaten yang sama.
Yup benar sekali, pulau yang ku maksud adalah pulau Alor. Akan banyak cerita dan pengalaman yang akan ku dapatkan bila ku menginjakan kaki di Alor. Itu pikir ku dari pertama kali aku tiba di NTT tahun 2008 yang lalu.

   Tapi sayang keinginan ku itu selalu terhambat. Dari aku punya waktu tapi aku tidak punya dana, dan dari aku punya dana dan tidak ada waktu, bahkan yang paling tragis adalah tidak punya waktu dan tidak punya dana. Semua keadaan membuat ku batal berulang-ulang ke pulau yang terkanal dengan kacang kenari.

    Akhirnya di tanggal 19 Oktober 2013 ku ikut bersama keluarga teman dekat ku ke Alor, oke tepatnya teman dekat pria ku :D. Sepertinya muka ku sudah seperti kepiting rebus. Hahaha. Pelabuhan Bolok disiang itu sungguh-sungguh padat dan sangat panas. Ditambah kami harus ikut barisan paling belakang untuk mengantri membeli tiket ferry Kupang – Kalabahi. Dengan harga Rp 80.000,- pemumpang sudah bisa pergi ke pulau Alor. Harga yang sangat cocok untuk teman-teman pejalan yang lain bila ingin ke Alor. :)

   Padat, penuh, panas, dan panas lagi, itu yang kurasakan saat berdesak-desakan masuk ke dalam kapal. Apakah aku akan pingsan di sini? Pikir ku dalam batin. Dengan jarak hanya 10 meter untuk pertama kalinya ku tembuh dengan waktu hampir 30 menit. Sudah bisa masuk rekor muri belum yah? Hahaha. Aku dan yang lain menerobos padatnya orang dan berusaha tenang, walau kami semua sedang berebutan oksigen.  Sangat-sangat penuh. Ini baru dibagian bawah kapal, bagaimana dengan bagian atas kapal? Ouh, sudah tidak bisa kubayangkan ramainya kepala manusia disana. Tangisan anak kecil dan suara ayam-ayam yang berkotek belum lagi suara mama-mama yang menenteng keranjang mendagangkan jualannya. Sepertinya sudah tidak ada lagi kata “mengalah” untuk situasi seperti ini. Semua berebutan dan saling dorong untuk bisa berjalan dan mencari tempat. Dan aku pun melihat celah langsung ku terobos dan memperhatikan kebawah agar aku tidak menginjak kaki dari penumpang lain.

   Huft.. akhirnya sampai juga di tangga-tangga dan tibalah di bagian tempat duduk penumpang. Sungguh luar biasa penuh, yang kubayangkan kalah dengan kenyataan yang terekam mata ini. Untuk pertama kali ku naik kapal laut dengan kondisi seperti ini. Langsung saja salah seorang teman ku memimpin jalan dan membawa kami sampai di koridor ruang ABK. Disini pun manusia penuh, tapi setidaknya aku dan teman-teman yang lain bisa duduk sambil menunggu diluar sana setidaknya sedikit dingin. Walau sempat dapat marah dari ABK karena duduk disana, tapi apa boleh dibuat, sudah sangat padat.

   Nafas ku sudah mulai teratur dan detak jantungku mulai berirama normal dan kapal pun belum menunjukan tanda-tanda untuk meninggalkan pelabuhan bolok. Melihat sekeliling seperti ini aku berfikir ini yang jual tiket tidak tahu kah kalau sudah begini padat atau dari pihak kapal sendiri tidak menyadari kepadatan ini? Ini sudah sangat-sangat overload. Detik, menit dan jam pun berlalu akhirnya pukul dua siang kapal pun pelan-pelan menjauh dari dermaga Bolok dan semakin menjah dari kota Kupang.

Teman ku Fredy menikmati birunya pelabuhan

Situasi di koridor anjungan 

    Tidak bisa keliling untuk melihat-lihat hanya bisa berpaku pada posisi yang sama, takut kalau bangun berdiri dan niat meninggalkannya sebentar eh takutnya orang lain langsung datang dan mengisinya :(. Ada untungnya kami dapat duduk di koridor ABK dari sini aku bisa melihat luasnya laut walau masih terhalangi kaca dari ruang nakoda. Tarik nafas dalam dan ku mulai berdiri memberanikan diri menghampiri pintu utama ruang nakoda dan meminta ijin untuk mengambil beberapa gambar dengan ipod touch ku. Mulai gugup dan takut dilarang, dan sudah hampir membuat ku untuk mundur dari pintu, dan mereka mengijinkan ku. Sungguh senang, karena tidak sembarangan orang masuk ke ruang nakoda apa lagi untuk foto-foto.


View bagian kanan anjungan masih sepi

Padatnya sampai bagian ini juga full

Tidak ada tempat kosong lagi :(

   Yah dengan sedikit perbincangan kecil dan pelahan-lahan percakapan ini terlihat semakin panjang saat ku berdiri di luar bumbungan sebelak kanan dari ruang nakoda. Pembahasan pertama yang akan orang tanyakan adalah “kok bisa sampai di Kupang? Kenapa jauh-jauh dari Jakarta malah pilih Kupang?” dan dari pertanyaan itu akan banyak pertanyaan yang lain bila kujawab. Sudah hampir 30 menit aku bercerita tiba-tiba penumpang yang bersama-sama dengan ku tadi satu persatu datang dan mengambil tempat untuk meletakan barang dan tempat mereka akan tidur nantinya di lantai anjungan ini diikuti Albert dan kakaknya. Untuk kali ini saja kapten memberikan ijin untuk penumpang duduk disana, karena overloadnya penumpang hari ini. 


   Laut lumayan tenang dan dari sini mata ku bebas menikmati semua tanpa hambatan. Walau harus menahan rasa sakit karena berbaring dibawah dan berdesak-desakan dengan beralaskan koran yang diberi oleh seorang ABK. Dari sini ku bisa melihat pulau Kera yang pernah ku datangi dan pulau itu masih terlihat sepi dengan pantai berpasir putih yang mengelilingi pulau Kera tersebut.  

Pulau Kera


    Sambil menunggu matahari turun dan sinar yang diberikan tidak terlalu panas, maka aku dan Albert berjalan perlahan melewati penumpang-penumpang yang sudah duduk berdesak-desakan untuk turun ke bagian buritan untuk bertemu kedua teman ku yang mendapatkan tempat untuk duduk disana. 

Buritan kapal pun padat dengan orang-orang

    Ternyata posisi disini  lebih tepat untuk menikmati sunset. Sambil bercerita bersama Fredy dan Anto, akhirnya momoent romatis itu pun akan datang beberapa menit lagi. Uniknya lagi saat mentari hilang seakan ditelan lautan lepas, awan berbentuk kepala buaya sedang bersiap-siap untuk menelan sang mentari.

Sunset 19 Okt 2013 dari atas kapal ferry

    Menikmati sunset sampai hilang ditelan sang lautan, itu adalah kejadian yang jarang untuk ku, karena kalau dari kota Kupang, pasti tertutupi bukit atau pulau, tapi kali ini tidak ada yang menghalangi kedua mata ku untuk menikmati cantiknya sunset sore itu. Tidak lama setelah sunset, sang bulan pun datang dan menerangi lautan walau tidak seterang sang mentari. Dan, malam ini adalah malam purnama dan menambah keromantisan. *walau sedang padatnya penumpang :D

Bulan purnama dari atas kapal ferry

    Diatas kapal ini tidak ada yang menjual makanan seperti nasi, hanya popmie yang berhasil mengisi perut kami setidaknya sampai besok pagi tiba di pulau Alor. Dan persediaan air minum ku pun habis, mau tidak mau harus beli di atas kapal dengan harga 3 kali lipat dari harga biasanya yaitu Rp. 15.000,- / botol. Menjadi suatu pelajaran untuk membawa bekal makanan dan minuman lebih bantak lagi :).

     Malam semakin larut dan suara-suara penumpang pun perlahan-lahan tidak terdengar lagi hanya suara deburan ompak yang terdengar nyaring seperti nyanyian nina bobo untuk menghantarkan tidur ku. Walau mata sudah begitu berat dan angin malam semakin dingin tidak bisa membuat ku terjaga. Aku dan Albert bergantian untuk tidur dan melurusakan badan, karena ruang untuk tidur tidak cukup untuk kami berdua.

     Saat bagianku untuk tidur dan kedua mata ku mulai tertutup, samar-samar kudengar suara dari laut sana, suara khas ikan lumba-lumba, tapi tidak mungkin menurut ku. Saat Albert membangunkan ku mengatakan kalau ada banyak lumba-lumba, aku langsung bangun dan melihat kebawah dan WOW benar sekali, banyak sekali lumba-lumba dan besar-besar. Saling berkejaran dan saling melompat. Untung sekali sinar rembulan yang terang dan dibantu sinar senter ku dapat melihat dengan jelas. Sayangnya, kamera ku tidak mampu untuk membidik atau pun merekam lumba-lumba. 

    Kulihat ke arah lain, penumpang semua sedang tertidur dan di anjungan sebelah kanan kapal hanya aku dan Albert yang bangun dan menyaksikan indahnya lompatan lumba-lumba dari atas tepat dibawah terang bulan. Dan ternyata ada moment romantis juga yang kurasakan diatas kapal yang overload ini. Hahaha...

   Saat ikan lumba-lumba sudah tidak terlihat lagi lompatan dan terdengar lagi suara-suaranya aku dan Albert kembali menyusul penumpang lain yang sudah tertidur, berharap saat aku membukakan mata, kapal ini sudah memasuki "Mulut Kumbang" pulau Alor.

***

Bersambung...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar