Minggu, 26 Januari 2014

Desa Kopidil dan Desa Takpala, Pulau Alor, Bag 6

   Tanggal 26 Oktober 2013 adalah hari terakhir aku bisa menikmati pulau Alor, sebelum besok aku kebali ke Kupang dengan kapal Ferry. Hampir semua pantai di Kepala burung sudah kudatangi, tapi ada tujuan lain yang sampai sekarang belum kesampean, yaitu mengujungi desa adat. Ada banyak desa Adat di pulau Alor ini.

Setidaknya ada dua desa yang menjadi tujuan utamaku datang ke pulau yang banyak sekali dengan desa-desa adatnya.

1. Desa Kopidil

   Desa Kopidil tidak terlalu jauh dari kota Kalabahi, bahkan bisa dikatakan dekat. Dengan jarak tempuh kurang lebih 7 km, bisa ditempuh dengan motor atau pun mobil. Desa Kopidil yang berada di kec. Kabola ini terletak di Kebun Kopi, di dataran tinggi. Terkenal dengan suply kopi nya yang khas. Kata mereka yang pecinta kopi, secara aku tidak minum kopi.. :D

    Jalannya.... nanjaaaaaak sambil belok-belok mana sempit lagi, ada bagian yang rusak juga... tapi KEREN. Dari ini bisa melihat kota Kalabahi di bawah sana. Sumpah, keren banget. Ada pondok yang sepertinya sengaja dibuat untuk nikmatin view dari ketinggian, tapi sayang sudah mulai tidak terawat.

    Mesti hati-hati nih, merangkak, biar bambunya tidak jatuh dan akupun tidak ikut jatuh. :D

Menikmati kota Kalabahi dari atas

   Sudah puas foto-foto, aku bersama 3 teman ku melanjutkan perjalanan. Dan kali ini, pantatku mesti kuat dengan keadaan jalan seperti ini. Hahaha

    Tidak sampai 30 menit dari tempat kami berhenti untuk foto-foto tadi, tibalah kami di papan nama Desa Kopidil. Dari papan namanya sih terlihat baru beberapa bulan papan ini dibuat oleh mahasiswa arsitek dari Kupang yang datang ke desa ini untuk mempelajari sejarah bangunan atau apapun itu.


    Dengan bertanya-tanya tibalah kami di kampung. Kok semua rumah sudah dari tembok dan masyarakatnya sudah menggunakan pakaian dari kain? Dari referensi yang kudapat, kalau kampung adat ini masih menggunkan pakaian dari kulit kayu.

    Ternyata mereka sudah menerima perkembangan modern, tepi tetap menjaga sejarah, budaya dan adat. Jadi ada saat-saatnya mereka menggukan pakaian adat dan berkumpul di rumah adat yang dipagari itu. 

    Kadang mereka juga memakai pakaian itu dan menyambut para tamu dengan tarian Lego-lego. Tapi kali ini kami tidak beruntung. Sebenarnya bukan tidak beruntung, tapi kami menggunakan jalur sendiri backpacker bukan dari dinas pariwisata yang sudah diatur paketannya untuk menikmati tarian tersebut dan itu harganya gak kuat untuk aku yang backpacker luyuh seperti ini. Hahaha

    Kami disambut hangat oleh ketua sanggar dan istri. Mereka menceritakan tentang desa ini, dan tentang pakaian yang terbuat dari kulit Kayu. Banyak sekali yang diceritakan, dan kalau kujabarkan di blog ini mungkin bisa dibuat buku sangkin banyaknya :D.

    Pakaian dari kulit kayu ini terbuat dari pohon Ek, bahasa lokalnya. Kalau bahasa Indonesianya kepala sanggar tidak tau, apa lagi aku yang tidak menau tentang kayu. Tapi kayu ini tumbuh di lembah dan dekat air. 

Ketua sanggar mengambil pohon Ek

Bersama istri ketua sanggar

  Setelah berbincang-bincang, aku meminta ijin untuk diperbolehkan menggukan pakaian dari kulit kayu tersebut di rumah adat. Dan beryukur sekali akhirnya kesampaian juga menggunakan pakaian ini. Hahaha

Rumah adat desa Kopidil

    Cukup berjalan kaki hampir 5 menit, tibalah kami di rumah adat yang dipagari dan berada di tengah-tengah kebun. 



   Langsung tanpa diperintahkan lagi, kami langsung mencari tempat untuk berganti pakaian dan hasilnya..... WOW jadi merasakan hidup seperti warga desa Kopidil. 

     Bapak ketua sanggar dan istri pun menunjukan cara menyalakan api dengan gesekan bampu pada waktu dulu. Sayang angin terlalu kencang, jadi sulit sekali untuk membuat api.

Menghidupkan api secara tradisional

     Oh ia, di tengah terdapat batu-batu yang disusun itu adalah tempat persembahan hasil panen, ataupun mesbah yang akan diputari saat tarian Lego-lego. Dan di dalam rumah adat itu digunakan sebagai dapur untuk memasak.

Dapur di rumah adat Kopidil

Lantai rumah adat di Kopidil

Mesbah

     Sudah cukup didesa Kopidil, aku mengisi buku kamu dengan Rp 50.000,- itu sebenarnya bisa berapa saja, hanya karena kami berempat dan menjadi ucapan terimakasih karena sudah mengijinkan kami memakai pakaian dari kulit kayu tersebut.

    Langsung kami turun kembali ke Kalabahi dan sepertinya badan kami sudah lemas semua, dan perlu untuk di charge. Setelah makan siang, kami melanjutakan perjalaan ke desa satu lagi, desa yang sangat terkenal di Alor, desa yang masih menjaga adat budayanya dan gambaran masyarakat Alor pada jaman dulu.

    Perjalan kesana melewati pinggir pantai dan hanya ditempuh kurang lebih 40 menit dan itu hanya lurus-lurus saja, belok pun saat mau naik ke kampung. 

2. Desa Takpala

    Dari kiri jalan viewnya bandara, pulau sika, dan laut dengan ombak yang besar sekali. Dari tepi jalan raya akan terpasang papan nama penujuk jalan "Selamat datang di desa Takpala"

   Saat pertama naik, wow para bapak-bapak disini semua berjenggot panjaaaang banget dan berkumis panjang. Awal kupikir mereka adalah orang arab yang biasa di film-film itu. Tapi ini orang Alor asli. Yang menurut cerita mereka adalah bagian dari penjaga desa Takpala yang tinggal di bawah desa utama.

    Tibalah kami di puncak dan disinilah desa Takpala berada. Sungguh berbeda dengan desa Kopidil. Kalau Kopidil view yang diberikan adalah tatanan kebun, disini view yang diberikan adalah laut. Dan cantik sekali.


     Menaiki tangga-tangga terlihat rumah-rumah desa Takpala dan sepi. Hanya ada seorang mama dan dua anaknya sedang menunggu daganggannya. Mereka menjual kalung, gelang, buatan tangan dari biji-bijian di hutan dan kain tenun ikat. Sedangkan para pria berburu untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga mereka. Kerajianan tangan tersebut mereka jual dari harga Rp 5.000 - Rp 50.000 dan untuk kain tenun mereka jual dari harga Rp 150.000,- Tidak lama, mama-mama dan anak mereka datang dan membuka lapak.

Kerajinan tangan dan kain ikat yang dijual


Anak desa Takpala

    Kami bertemu dengan seorang guide penduduk setempat, dan saat menjelaskan tentang desa Takpala, sangat ramah dan bersahabat sekali. 

    Dari cerita yang kudapat bahwa Takpala memiliki arti Tak = batas dan Pala = Kayu maka Takpala itu adalah kayu pembatas. Takpala adalah suku terbesar pulau Alor, yaitu suku Abui. Suku yang berada di atas gunung dan jauh. Tapi karena ada alasan tertentu maka desa Takpala ini dipindahakan ke bawah.

    Ada 2 rumah yang sangat berbeda dari rumah-rumah lainnya. Diatas atap itu ada bendera berwarna putih dan warna hitam. Jadi menurut mereka, hanya tua adat yang bisa memasuki rumah tersebut dan itu hanya pada waktu-waktu tertentu. 

    Sedangkan rumah-rumah lain ada 2 model, yaitu Kolwat = Perembuan dan Kanuarwat = Laki-laki. Disana ada lopo dan rumah adat ini bertingkat 4 yang disebut sebagai fala foka, dimana pada tingkat 1 digunakan sebagai tempat untuk melaksanan rapat, pada tingakt 2 digunakan sebagai tempat tidur dan masak harus hati-hati dan menunjuk untuk masuk ke ruang tingkat 2 karena pintunya yang pendek, pada tingkat ke 3 digunakan sebagai tempat menyimpan persediaan makanan, dan terakhir tingkat 4 digunakan sebagai tempat menyimpan benda-benda pusaka keluarga seperti moko, senjata, panah, gong. 

Rumah tingkat 4

Dapur dan kamar tingkat 2


      Setelah mendengar sejarah dasa Takpala, kami mengambil pose untuk berfoto dan meminta ijin untuk mengenakan pakaian adat Takpala. Dan mereka memberikannya yah, pastinya tidak lupa nanti memberikan uang sebagai ucapan terimakasih pada mama-mama yang sudah memperbolehkan kami memakai pakaian adat mereka.

     Tidak terlalu lama untuk make over. Yah mungkin bisa dikatakan belum atau hampir mirip dengan mama-mama di desa ini, yang sangat terlihat jelas perbedaannya adalah rambut.

    Untuk wanita, menggunakan gelang kaki 3-4 untuk menjadi sumber bunyi bisa berjalan, dan tidak lupa menggendong tempat sirih.  Sedangkan untuk pria, lengkap dengan senjata panah. Itu panah asli loh! Ada 4 busur panah, yang 1-3 dekat dengan dada adalah panah untuk memburu hewan tidak beracun, tapi yang ke-4 itu untuk membunuh manusia dan itu wow BERACUN, jadi harus hati-hati saat menggunakannya. Bahkan parangnya pun tajam sekali.

Pakaian adat Takpala untuk perempuan

Pakaian adat Takpala untuk pria

    Berposelah kami dan meraksaan sesaat hidup sebagai masyarakat setempat. Benar-benar merasakan kehidupan di desa yang cantik ini.



Bersama mama-mama dan adek-adek desa Takpala

Nama kami ada di buku tamu desa Takpala

   Dan banyak sekali pelajaran yang didapat selama 1 minggu berada di pulau Alor. Budaya, adat, dan alam yang saling menjaga dan mempertahankannya sudah mendarah daging di masyarakat Alor. Makanya ku sampai terkagum dan terharu dengan mereka yang tetap menjaga. 

    Mungkin untuk ku yang bukan orang NTT apalagi Alor, mungkin pertama ku akan takut melihat mereka, tapi seletah mulai berteman dan bersama-sama mereka sungguh baik dan ramah sekali sangat berkekeluarga. 

   Saat kukembali ke Kupang besok, ku pasti sangat merindukan suasana Alor dan perjalanan yang tidak bisa kulupa dan suatu saat ku akan kembali ke Alor menyapa alam dan budaya yang sungguh asri.

***

Dari Museum 1000 Moko - Pantai Batu Putih, Alor, Bag 5

   Masih ada waktu dan ternyata masih banyak banget pantai yang belum kudatangi di Pulau Alor. Gak usah jauh-jauh, kepala burung pulau Alor, belum semuanya kudatangi.

   Hari ini, cuaca sungguh terang dan sangat-sangat bersahabat, beda dengan kemarin saat ku pergi ke pantai batu putih, langit benar-benar tidak bersahabat. Tidak, tepatnya tidak berteman sama sekali. 

   Mungkin terhipnotis dengan cantiknya biru laut dan alamnya yang masih alamai sekali, ku tidak terlalu banyak aktivitasku mengabadikan semua dalam bentuk foto. Jadi harap maklum kalau foto yang ku posting tidak terlalu banyak.

   Sebelum ke pantai, museum 1000 Moko adalah tujuan pertama yang letaknya sangat mudah ditemukan dan tepat sekali dipinggir jalan raya, yaitu di jl. Diponegoro masih di kota Kalabahi.

   Di dalam museum inilah ku melihat sejarah dan beranekaragam budaya yang dimiliki masyarakat Alor menjadi satu. Moko sendiri adalah sebuah nekara peninggalan sejarah yang menjadi mahar. Dan harga Moko ini sendiri bisa mencapai 30-50 juta. Mahal yah, itu satu buah loh. Gimana kalau keluarga meminta mahar 6 Moko? What? nyari dimana??? Barangnya dan uang untuk membelinya. Moko sendiri sudah sangat sulit ditemukan. Moko sendiri selain sebagai mahar, menjadikan cermin untuk menentukan status sosial masyarakat Alor itu sendiri. Waaah... 

Moko




Peninggalan Cina

Alat musik tradisional

Samurai peninggalan Jepang

   Selain Moko yang dipajang, kain tenun ikat juga dipajang, bahkan kain dari India pun adaloh. :D Ternyata dulu Alor ini menjadi lintasan dari beberapa negara untuk berdagang. Singkat cerita begitu yang aku baca dari buku tetang museum 1000 moko yang diberikan. Uniknya adalah hampir 80% yang ada di dalam museum ini adalah milik warisan orang cina yang tinggal di Kalabahi.

Kain tenun ikat Alor Pantar

   Mengisi buku tamu kulakukan diakhir tour museum ku dan bapak yang menemani sungguh ramah dan baik sekali. :)

  Melanjutkan perjalanan kepantai pertama ke arah bandara. Sepertinya semua pantai di Alor ini tepat di pinggir jalan. Warna birunya sungguh memancing ingin segera nyebur. Tapi perjalanan masih panjang dan jauh, maka cukup berhenti dan menikmatinya. Dikiri jalan terdapat batu-batu besar seperti goa. 



   Tidak jauh dari sana, tibalah kami di pantai Moimol. Ini adalah pantai wisata dan sering dikunjungi. Terlihat dari penataan tempat duduk dipinggi pantai. Ada lagi keunikan yang kutemukan dari sini. Pasir pantai yang terlihat kontras perbedaannya. Pasir hitam dan pasir putih.

Pantai Moimol

   Lanjut kepantai selanjutnya. Pantai Mali. Ini lokasinya dekat dengan bandara, dan aku hanya melihat dari atas motor, mungkin karena hampir sama dengan pantai Moimol, bahkan tidak terlihar pantainya karena ditutupi pohon-pohon tinggi.

   Singgah di rumah teman di Mali, bercengkrama dengan keluarga akhirnya aku diajak ke belakang rumah untuk melihat secara langsung pohon kenari dan wow besar sekali. Tapi menurut bapa, pohon itu masih kecil, ada yang 2-3 kali lipat besar dan tingginya. 

Mengumpuli biji kenari yang jatuh

  Mengumpuli kenari yang jatuh aktifitasku sebelum berangkat kepantai lain. Disini kubelajar cara memecahkan biji kenari yang sangat-sangat keras dan butuh teknik. Bahkan harus menggunakna batu yang ada sedikit cekungan untuk dijadikan tempat memecahkan biji kenari untuk mengambil kacang kenarinya. Untuk orang lokal biasanya menyebutnya titi (tumbuk) kenari.

Belajar memecahkan biji kenari


Titi biji Kenari

  Dirumah tua, atau gudang orang-orang Alor menyebutkan ku berusaha keras untuk memerahkannya. Tapi tetap saja, selalu gagal. Mungkin dari 10 kali percobaan hanya 1 kali berhasil dengan kacang yang tidak pecah, dan 2 kali berhasil dengan kacang yang sudah hancur. Sedangkan kalau beli di pasar tradisional kacang kenari dijual dengan harga Rp. 40.000,- /kg dan itu kadang sudah tidak segar lagi.

   Kami berenam akhirnya melanjutkan perjalanan menuju ke pantai batu putih sebagai tujuan terakhir dari perjalanan ini. 

   Oh iya, lebih baik saat masih di Kalabahi membeli nasi bungkus atau roti dan air minum, karena kios terakhir ada di pintu masuk bandara. Dan untuk harga air minum botol besar saja Rp. 8.000,- itu mahal. Tapi mau gimana lagi, aku lupa membelinya di kota.




  Dari ketinggian, akan terlihat lintasan bandara tepat dipinggir pantai, dan terlihat pasir putih yang panjang menghubungkan ke pulau Sika. Bila air laut surut, dengan berjalan kaki saja sudah bisa menyebranginya. Yah bisa dibilang, surut menjadi padang pasir, pasang menjadi lautan. :)

Pulau Sika

Lintasan bandara

   Jalan yang dilalui lumayan juga membuat pantat mulai tidak terasa nyaman, karena jalan yang rusak dan sempit. Tapi semua terbalas dengan keindahan disebelah kanan jalan. Sungguh cantik sekali.

   Aku berhenti di pinggir jalan dan diketinggian ini sungguh cantik dibawah sana. Gradasi yang menggoda. Air laut yang tidak bisa kutemukan ditempat lain. Sungguh Alor terkenal dengan lautnya yang cantik, saat kedua mataku sudah membuktikannya sendiri akhirnya kupercaya apa yang selalu teman-teman asal Alor membagakan kecantikan lautnya.

Gradasi warna yang menggiurkan

    Aku saja yang bukan orang Alor sangat bangga dengan kekayaan alam yang dimiliki, sungguh alam Indonesia timur sungguh cantik.

    Tidak jauh dari aku berhenti tadi, akhirnya aku bisa melihat langsung pinggir pantai yang kullihat tadi. Dipantai ini, menurut teman ku, ada sumber air panas dibalik batu-batu besar sana. Aku belum membuktikannya karena berburu dengan waktu untuk menemani teman-teman lain survey lokasi penelitian.

View dari kiri kuberdiri

View dari kanan kuberdiri 

  Jalan yang lurus-lurus walau ada beberapa yang rusak, menandakan bahwa kami sudah berada di desa Deere. Pantai Deere disini cantik dan panjang. Yang terkenal dari pantai Deere adalah pohon bakau yang ada di tengah laut. Saat air laut surut maka mudah untuk menuju kesana, tapi kalau air laut pasang, jangan coba-coba untuk jalan kesana dengan kaki. Jauh sekali.

Pantai Deere

Pohon bakau

  Hanya sebentar di pantai Deere, kami melanjutakan lagi perjalanan yang cukup lumayan juga. Tibalah kami di lokasi penelitian. Dari sinilah kami akan memulai menyusuri sungai untuk mencari batuan induk.

   Namanya juga ditempat baru, jadi kami memakai jasa pemuda setempat untuk menghantarkan kami secara dia yang lebih mengenal tempat yang akan kami tuju.

    Tunggu, ada sesuatu yang membuat ku penasaran. Pohon lontar ini berasal darimana. Karena aku sudah mengelilingi pohon beringin ini, tapi tidak kutemukan batang pohon lontar. Malah aku melihat daun lontar dan buahnya diatas, namun batannya tidak ada. Yang ada hanya batang pohon beringin yang besar dengan daun-daun yang lebat.

Pohon lontar didalam pohon beringin

Pohon yang unik

    Ternyata batang pohon lontar itu ada didalam pohon beringin. Ha? Kok bisa? huff.... Hari ini sungguh penuh dengan kejutan. Entah kejutan apa yang akan kudapati nanti setelah ini. 

   Lumayan lama juga kami menyusuri sungai dan seperti biasa mendeskripsikan batuan apa ini, apa itu. Maklum anak mahasiswa, jadi sudah tugasnya. :)

   Selesai juga. Dan mumpung masih ada sinar matahari, kami melanjutkan perjalanan untuk berenang, bermain air bahkan snorkling.

    Akhirnya tiba juga di tujuan terakhir hari ini. Pantai yang ingin sekali kudatangi karena tergiur dari foto-foto dan cerita blog teman-teman pejalan yang sudah pernah ke pantai ini. Pantai batu putih.

    Pantai ini tidak dipinggir jalan, melainkan sedikit masuk ke pemukiman nelayan. Dan wow... keren banget. warna lautnya yang hijau tosca sudah memanggil-manggil ku. Dan kali ini aku sangat tergiur untuk masuk dan menikmati bawah lautnya. Yang kudengar sungguh cantik terumbu karang disini. Dan benar sekali, sedikit ketengah dan dengan air laut yang tenang ku menikmati sekali dibawah sana. Yah walau sedikit jauh dan bisa dibilang ku hanya memfoto dan merekam menggunkan ipod touch yang sudah dilindingi dengan bingo.


Terumbu karang di Batu Putih


   Kalau dari kemarin aku mengeksplor kepal burung bagian selatan sekarang giliran mengexplore kepala burung pulau alor dari selatan sampai barat :)

   Pantai batu putih ini, terkenal karena batu diujung pantai yang berwarna putih, seperti lapisan dan sedikir berbentuk goa. Pantai ini sungguh sepi, dan memang sangat cocok untuk berenang dan bersantai. Tidak terasa panas matahari, karena terhalangi oleh tingginya batu putih.

Pantai Batu Putih

View dari kiri

View dari kanan

   Disini pasirnya berwarna hitam, tapi tertutupi oleh pecahan-pecahan karang yang menjadi pasir yang menutupi pasir hitam.

Butiran batukarang yang menjadi butiran pasir

   Mentari dari timur sana sepertinya sudah mau terbenam karena ini berada di bagian barat dan tidak bisa menikmati sunset. Maka sebelum gelap sekali, kami pulang ke Kalabahi. Walau selama diperjalanan sungguh gelap karena tidak ada cahaya listik.

Waktunya pulang

   Perjalanan hari ini benar-benar memuaskan dan banyak kejutan-kejutan yang diberikan alam, banyak pantai dengan keunikannya sendiri yang masih terjaga dengan sempurna alami. Ditambah cerita sejarah yang kupelajari dari museum 1000 Moko. 


***

Bersambung...