Minggu, 05 Januari 2014

Pulau Kepa, Alor - Hari ke2, bag 4

      Kalau kemarin sudah cukup puas menikmati sebagian pantai-pantai di Alor kecil - Kokar. Untuk hari ini cukup satu tujuan. Pagi-pagi sekali aku bangun dari zona nyaman tidur dan mulai bersiap-siap untuk menikmati pantai, birunya laut, dan cantiknya bawah laut Alor. Iyups, sudah bisa ketebak. Hari ini planingnya adalah "snorkling".

   Hanya aku dan kak Intan yang dari pagi-pagi sekali sudah berada dipinggir jalan menunggu ojek yang lewat. Dari hasil tawar-menawar akhirnya dapatlah kesepakatan antara tukang ojek dan penumpang, Rp. 15.000,- sampai di Alor kecil, pintu surga menuju pulau Kepa :D

    Kalau untuk ke la-petite, selalu ada dan standby perahu motor milik ecoresort itu. Karena aku bukan tamu untuk menginap di la-petite dan yah bisa dikatakan hanya 1 hari disini, cara terbaik adalah mensewa perahu motor yang siap untuk menghantarkan dan menemani ku menikmati bawah laut dengan harga Rp. 70.000,-


    Pagi ini air laut sedang surut, dan menurut orang lokal, arus sedang tidak bersahabat. Sangat terlihat jelas air laut tenang tapi berarus kuat. 

  Jadi sambil menunggu pukul 10 atau 11 wita, mengelilingi ecoresort milik orang Prancis menjadi alternatif yang bagus juga. Tapi semuanya sudah mendapatkan ijin dari miss Anne untuk keliling-keliling La-petite :D

Jalan menuju la-petite



Bungalow

   Wah air laut surut begini, soft coral dan hard coral terlihat jelas dan aneka warna-warni yang membuat ku ingin sekali merasakan dinginnya air laut Alor.

Saat surut semua terlihat jelas

Kak Intan bersana starfish





        
    Karena perut mulai terasa lapar dan aku lupa membawa bekal dan sialnya disini tidak ada watung. Sambil berjalan kearah dermaga Kepa, kami berjumpa dengan seorang nenek yang sedang mengeringkan ilalang sepertinya. Maksud bertanya tempat untuk membeli makan karena sudah lapar, eh malah ditawrin makan dirumah nenek. 

    Walau hanya makanan sederhana, tapi aku sungguh bersyukur atas kebaikan masyarakat pribumi. Sambil bercerita dengan nenek dan keluarganya ternyara di pulau ini tidak ada sumur air tawar, jadi mereka dan resort membeli air bersih atau air tawar dari Alor kecil. Mereka pun masih menerapkan sistem barter di pasar. Jadi ada hari-hari tertentu dan itu hanya ada di satu kampung yang mata tukarnya bukan dengan uang rupiah melainkan dengan barang. Dan itu juga hal yang tidak kudatangi adalah pasar barter.

   Hanya berenang di pinggir dermaga. Berenang? Sepertinya tidak. Hanya berendam dan memasukan kepala di air lengkap dengan snorkle dan mask sudah bisa menikmati cantiknya bawah laut. Belum ada keberanian ku tuk sedikit ketengah, karena alur yang begitu kencang. Dan WOW aku bisa melihat ikan-ikan nemo. Padalah jarak ini tidak sampai 2 meter dari pantai. 




 

 
    Akhirnya bapak yang punya ketinting yang kami sewa datang dan menghantar kami ketengah untuk snorkling dan sungguh cantik. Karena air laut sudah pasang, maka arus pun tidak terlalu terasa. Tapi masih tetap tangan berpegang pada body ketinting. Menghindari kejadian yang tidak diinginkan bila tiba-tiba aku panik.




  Selama snorkling di tengah ada 1 benda yang membuat ku penasaran. Karena benda ini sempat kulihat dipinggir jalan menuju la-petite, sekarang benda ini ada di bawah laut. Menutur si bapak, itu namanya bubu perangkap ikan yang terbuat dari bambu yang diletakan di dasar. Selain itu mereka juga menangkap ikan dengan memanah dan tombak. Yah masih sangat tradisional.

Bubu Perangkap Ikan
     
    Bagi mereka laut itu adalah kehidupan mereka yang harus dijaga dan dilestarikan. Sungguh banyak pelajaran berharga yang kudapatkan. Hidup keselarasan bersama alam. Kita menjaga alam, maka alam akan menjaga kita.

    Perlahan-lahan tapi pasti, sang bapak membawa kami ke sisi lain dari pulau Kepa, disini ada pantai berpasir dan sepi. Sangat cocok untuk bersantai ditambah rimbunnya daun-daun melengkapi niatan untuk bersantai sejenak. 


Ketinting, Beach, and Pura Island

Melompat lebih tinggi

Aku bersama kak Intan

Santaaaiiii





    Mentari sudah di atas kepala, perut menuntut diisi, dan tenaga perlahan-lahan hilang, dalam situasi seperti ini keputusan untuk kembali pulang pun diambil. Walau merasa belum puas untuk menikmati bawah laut pulau Kepa, belum semua dan memang belum puas sekali. Dari pada pingsan.



    Setelah pamit di nenek, perahu motor yang kami sewa sudah menunggu kami dengan manis di bibir dermaga Kepa dan ada kejadian yang membuat ku terkagum adalah, anak sekolah SD ataupun SMP mereka membawa sendiri sampan-sampan menjadikannya alat transportasi. Kalau di kota-kota anak-anak sekolah ada beberapa yang membawa sepeda motor ataupun mobil, disini ku melihat mereka membawa sampan lengkap dengan seragam seolah. Hati ku sedikit tergugah, merasa bangga melihat mereka bersemangat mencari ilmu.






   Tidak terlalu lama untuk menyeberang ke Alor kecil, tapi karena arus, yah sang bapak dengan cekatan mengikuti arus dan berhasil membelokannya menibakan kami dengan selamat. :D

Goodbye Kepa Island

    Tidak kuat untuk naik angkot, walau hanya Rp. 5.000,- sudah sampai di Kalabahi dengan kondisi badan sudah tidak bertenaga. Kembali naik ojek dengan harga yang sama tiba dengan selamat di Kalabahi. 



***

Bersambung...

4 komentar:

  1. Masih di Alor? Coba pergi ke ujung utara kepala Alor di desa Batu Putih kalau pagi kelihatan cakep banget untuk dilihat

    BalasHapus
  2. om Baktiar... wah ada itu di Batuputih... bag. 5 ku tulis ttg itu.. :D nanti bru di posting om... :)

    BalasHapus