Jumat, 28 Februari 2014

Air Terjun Taplel Oesusu

  Tumben hari senin itu ada tanggal merah nya dan bahkan bisa dibilang JARANG. Dari pada mengisi waktu libur dengan tidur di kosan, maka aku bersama teman-teman dari Tapaleuk Ukur Kaki sudah ngeplaning-in ngetrip 1 hari ke air terjun Oesusu yang berada di Camplong. 

   Jam setengah 7 pagi dari Pasir Panjang kami memulai perjalanan ini dengan kondisi perutku belum terisi makanan. Kami berlima belum pernah ke airtejun ini, tapi sudah sering lihat foto dari baliho yang dipasang dekat kampus ku atau dari foto temen-temen yang udah pernah kesana. Jadi bisa dibilang ini perjalanan abu-abu. Tau airterjunnya di daerah camplong, tapi lokasi pastinya gak tau.

   Kulitku sudah merasakan udara yang sejuk dan motor yang kubawa sudah mulai bergoyang mengikuti bentuk jalan yang berbelok-belok, ini pertanda kalau sudah memasuki daerah Camplong.

  Di kolam Camplong, kami berhenti dan bertanya pada penduduk setempat lokasi pastinya si airterjun Oesusu ini. Tidak ada papan nama atau petunjuk yang menuliskan "Airterjun Oesusu" di jalan. Hanya pohon-pohon yang dijumpai disepanjang jalan.

   Pasti ada tanda lain yang menunjukan disitulah lokasi-nya. Yup bener banget, saat melihat kantor dinas kehutanan disebelah kiri jalan dan gazebo disebelah kanan jalan, disitulah berhenti dan memarkirkan mobil (bila datang dengan mobil) baru lanjut dengan traking. 

  Sibapak yang sedang merenovasi gazebo menunjukan kami jalan yang lebih cepat dan motor pun bisa masuk. Tepat ditikungan dengan jalan setapak dari tanah putih sebelah kanan jalan, dengan hati-hati kulewati jalan yang hanya berukuran 1 meter itu.

  Yah karena di depan sana ada jempatan dari kayu, jelas sekali mesti memparkirkan motor sebelum jembatan, dan memulai traking.

Turunan menuju jembatan

Aku dan kak Inda di atas jematan bambu

   Trakingnya tidak lama dan kondisinya jgua tidak susah. Sudah ada jalan yang yang dijadikan sebagai petunjuk arah yang ngebuat tidak perlu bingung harus lewat mana lagi.
   
Kondisi traking yang sudah ada

Tripod dadakan buat timer

Hasil jepretan timer
  Terlihat 1 gazebo berwarna hijau dan terdengar suara air, disinilah air terjun itu berada.



Wellcome to Waterfall Taplel Oesusu

Seru-seruan bersama teman-teman

Menuruni tangga kebawah dan menikmati airterjun

    Tidak memerlukan waktu lama lagi, aku langsung mencari spot yang nyaman untuk mengabadikan view air terjun Oesusu, sedangkan kedua teman pria disibukan dengan mempersiapkan ikan untuk dibakar.


Waterfall Oesusu



View dari kanan

View dari atas kiri



  Setelah puas mengabadikan foto airterjun, saatnya merasakan dingin dan segarnya air yang jatuh. Dalamnya air tidak dalam hanya sepinggangku dan kakiku merasakan lembek dari lumpur yang berada di bawah.


Menikmati sendiri

   Asiik, akhirnya ikan bakar ala bang Welly dan kak Boy sudah siap dan sepertinya menggiurkan sekali, tetep tidak lupa buat narcis. :D






  Penghuni perut sudah tidak rewel lagi dan tenaga kembali semangat. Saatnya main air lagi bersama teman-teman.

Memanjat dengan akar pohon sebagai pegangan

   Pakaian yang ditubuh basah dan mesti ganti, dari pada mesti masuk angin. Tapi disayangkan sekali kamar mandi umum yang dibuat tidak dijaga dan digunakan selayaknya. Bau pesing dan kotoran yang entah dari kapan dibuang dan tidak disiram. Ini kamar mandi bener-bener merusak keindahan dari air terjun Oesusu.

   Saat kembali pulang ke tempat parkir motor, kami mengambil jalur lain untuk bisa melihat air terjun yang satunya lagi, yah walau tidak tinggi tapi batu-batu yang terbentuk karena air terjun menjadi daya tarik sendiri disana.



Air terjun Oesusu kecil

Berdoa biar jangan jatuh
Narcis bareng teman-teman sebelum pulang

***

Nb: makasih buat drg. Welly tuk sebagian foto-fotonya :)

Selasa, 18 Februari 2014

10 Tiket promo HANGUS!!!

  Untuk kembali kekota  yang penuh polusi dan kemacetan itu saja tidak bisa dengan isi celengan ayam yang sudah kutanam bertahun-tahun tapi tidak pernah berbunga. Mungkin pupuknya salah kali yah? Itu karena tiket pesawat dari Kupang - Jakarta mahal ditambah mesti pulang-pergi. 

  Alhasil setiap merindukan orangtua, cukup dengan memanfaatkan kecanggihkan jaman sekarang, hp, facebook, bbm, skype bahkan path untuk berkomunikasi dengan orangtua. 

  Sedangkan untuk pergi ke daerah lain yang masih satu propinsi dan hanya berbeda pulau saja biayanya sama mahalnya dengan kembali ke Jakarta. Jadi dengan rasa yang patah hati keinginan itu terkubur dalam-dalam bersama masa lalu. Kenapa mulau galau???

  Kejadian yang terus berulang dari tahun-tahun yang lalu sampai sekarang, selalu saja ada maskapai penerbangangan yang mampu membuat air liurku kebanjiran karena tawaran yang sungguh menggiurkan dan mampu menghabiskan isi celengaan ayamku dalam sekejap untuk lebih dari 2 destinasi.

  Kerangka besi yang mampu terbang dengan menggendong banyaknya manusia selalu memberikan tarif yang sepadan dengan jarak yang ditempuhnya. Terlebih untuk Nusa Tenggara Timur. Indonesia timur entah mengapa selalu sanggup membuat pejalan dari budget yang buanyaaaaaaaakkk banget sampe pejalan yang kere kayak aku tergila-gila melebihi pacar. 

  Dan kali inilah keberuntungan untukku yang numpang tinggal di tanah Timor merasakan kebahagiaan bisa terbang dan duduk santai melihat awan yang berada dibawah. Mendekati tutup tahun 2013, sudah banyak pemilik besi terbang yang memancing pejalan kere seperti aku untuk berburu tiket promo. 

  Oke penutupan akhir tahun sudah ada beberapa tiket promo yang kupegang dengan listnya:

1. Jakarta - Denpasar  15 Jan 2014, Rp 61.000, Merpati
2. Denpasar - Labuanbajo 15 Jan 2014, Rp 61.000, Merpati
3. Labuan Bajo - Denpasar 20 Jan 2014, Rp 61.000, Merpati
4. Denpasar - Jakarta 21 Jan 2014, Rp 61.000, Merpati

  Ke-4 tiket promo dari si besi terbang HANGUS gak kupakai karena posisiku masih setia di NTT. Dulu saat kubeli itu aku sudah berpikir kalau aku sudah tidak ada lagi di NTT, ternyata nasibku tetap saja tidak jelas.

5. Denpasar - Tambolaka 7 Feb 2014, Rp 61.000, Merpati
6. Tambolaka - Denpasar 10 Feb 2014, Rp 61.000, Merpati

  Ke-2 tiket ini pun ikut HANGUS. Selain karena posisiku masih di NTT, maskapai itu sendiri membatalkan penerbangannya. Berarti aku menjadi salah satu korban yang di PHP-in.

  Ternyata aku tidak patah semangat untuk menikmati pulau lain di NTT. Salah satu maskapai besi terbang lagi memancingku untuk berebut antri dengan calon penumpang lainnya. Seperti pada tulisan ku sebelumnya http://tinasiringoringo.blogspot.com/2013/12/tiket-promo-rp-89999-grab-fast.html dan alhasil kumendapatkan juga tiket dengan harga yang sangat-sangat murah dari harga normal.

  Otak ku tidak berhenti berpikir, karena batal pergi ke pulau Sumba dengan Merpati. Kali ini aku harus bisa. Optimis.

7. Kupang - Tambolaka 4 Feb 2014, Rp 90.000 Transnusa
8. Waingapu - Kupang 7 Feb 2014, Rp 90.000 Transnusa

  Kembali lagi aku batal pergi karena waktu yang betepatan dengan aku harus mempersiapkan diri dan semuanya untuk masa depan perhuliahanku. Dan dengan menangis tanpa air mata akhirnya aku mengiklaskan kebatalan ikut si besi terbang.

  Dan 1 destinasi terakhir yang mampu menguras berat badan ku dan lebih kacau dari putus cinta adalah tujuan ke Labuan bajo.

9. Kupang - Labuan Bajo 10 Feb 2014, Transnusa
10. Labuan Bajo - Kupang 15 Feb 2014, Transnusa 

  Hisk T___T ini juga HANGUS bukan karena maskapainya tapi karena aku harus memilih yang paling terbaik dari yang tebaik. Dan pilihan ku adalah membatalkan kepergian untuk masa depan yang cerah.

  Sungguh tragis memang nasib tiket-tiket promoku dan diriku yang belum berjodoh. Dikarenakan aku yang selingkuh atau maskapainya yang selingkuh. 10 tiket yang sempurna memcabik-cabik dan merobek hatiku. T_T

  
***

Selasa, 11 Februari 2014

Keunikan Pantai Kolbano

    Pantai ini sudah pernah ku datangi beberapa tahun lalu dan sudah berkali-kali. Dan tidak pernah bosan untuk ke sini. Bagaimana aku akan bosan secara pantai ini sangat unik. Pantai yang berada di bagian selatan pulau Timor ini terkenal dengan batu-batu warna yang cantik dan halus. Batu-batu itu biasa dibeli oleh orang-orang dari luar pulau dan propinsi yaitu Bali dan Jawa untuk dijual kembali di daerah mereka. Dulu saat aku masih kecil dan belum menginjak tanah NTT, aku selalu bertanya dari mana asal batu-batu alam yang warna warni ini? Dan ternyata berasal dari laut....  Oke kembali ke pantai tak berpasir. Kami pergi di hari minggu tahun 2013 dan untuk tanggal dan bulan aku sudah lupa, tapi tepatnya itu disaat musim jeruk. :D

   Pantai Kolbano ini berada tepat di pinggir jalan umum dan memerlukan 3-4 jam perjalanan menggunakan kendaraan roda dua. pagi itu aku dan teman sejalan bersama kedua teman yang lain melakukan perjalanan ke pantai Kolbano yang sudah masuk dengan kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS). 

    Tidak susah untuk ke pantai ini yang penting ikuti saja jalan besar dan kamu akan dituntun perlahan sampai pada pantai selatan yang berwarna putih susu. Tetapi, harus hati-hati karena akan melewati beberapa jembatan kayu dan yah bisa dikatakan jembatan itu sudah tua dan bisa kapan saja putus. 

    Sempat menyesal aku tidak langsung memposting perjalanan ku ke pantai Kolbano sepulang dari sana, dan sekarang semua foto-foto sudah hilang akibat hardisk laptop rusak dan hanya beberapa foto saja yang masih tersisa (mulai curhat) hahaha.

     Selama perjalanan menuju ke pantai Kolbano hal yang paling kusuka adalah melewati desa Bena, oke ini bukan desa adat Bena yang ada di Bajawa ini nama desa yang ada di pulau Timor yang cukup terkenal dengan daerah persawahan yang luas. Saat melewati Bena dengan kondisi jalan luruuuuuus aja yang entah berapa kilometer jauhnya dengan pemandangan sebelah kiri dan kanan jalan adalah sawah-sawah yang baru habis panen dan melihat burung-burung kuntul atau bangau putih yang banyak. Kalau saja aku datang disaat musim penghujan ataupun musim penanaman padi aku akan melihat luasnya hamparan warna hijau.

   Di pantai Kolbano sendiri tidak ada warung yang menjual makanan, jadi sebelum memasuksi daerah Batuputih atau Takari lebih baik mencari warung makan dan membungkusnya. Dan disana juga bensin lumayan sedikit mahal dari harga normal dan sedikit saja yang menjual. Pombensin terakhir yang ada sebelum memasuki Batu Putih ada di Takari. 

    Cuaca di hari minggu itu sangat mendukung dengan langit yang cerah berwarna biru. Sudah tidak sabar untuk memanjakan mata dengan pemandangan indah birunya laut pantai selatan, Kolbano.

    Wow pantai Kolbano sudah terlihat dari pinggir jalan dan sungguh cantik sekali. Kaget pastinya yah, gradasi warna air laut yang sungguh kontras. Antara warna putih susu, biru muda dan biru tua.


Aku di pantai Kolbano dengan batu berbentuk wajah manusia

Putih susu dan batu warna-warna

    Mungkin hanya perkiraan ku saya kalau warnanya putih susu, maka aku langsung memanjat batu besar yang menjadi ciri khas dari pantai Kolbano selain batu warna-warninya. 

   Dari atas batu ini aku melihat dengan jelas gradasi warnanya. Dan sungguh luar biasa. Untuk pertama kali aku melihat gradasi warna yang seperti ini.


Yeeee..... akhirnya di pantai Kolbano

Gradasi warna laut pantai Kolbano dari atas batu

   Dulu saat aku datang, sudah sore dan warna laut pun tidak terlalu cantikk karena kurangnya cahaya yang ada. Tapi kali ini sungguh menawan. Gak ada kata-kata yang tepat untuk menggambarkan ekspresiku saat itu.

   Setelah menghabiskan nasi bungkus yang kami bawa tadi, kami melanjutkan menuju ke jalan putus diatas yang dari sana akan melihat garis bibir pantai.

   Dari sinipun tidak kalah cantiknya dan luar biasa. Walau pantat sempat sakit karena berjam-jam di atas motor, tapi ini semua terbalaskan dengan warna putih gading air laut pantai Kolbano.


Gradasi warna dari atas jalan putus

The beauty colours

Perahu sanpan seperti titik hitam 

     Tidak dainjurkan untuk berenang di pantai ini, karena pantai ini adalah pantai selatan dan langsung berhadapan dengan laut lepas perbatasan antara Indonesia dan Australia.

   Mumpung sinar matahari masih ada, kami memutuskan untuk kembali pulang ke Kupang. Dalam perjalanan pulang, aku dan Danio melihat peninggalan penjajahan. Ada satu kuburan masal yang dibuat tanggal 30 agustus dan aku lupa tanggalnya, secara tanggal dibuatnya sama dengan hari ulang tahunku makanya aku mudah mengingatnya.

   Dengan niat untuk menikmati cantiknya pantai Kolbano ternyata dapat bonus juga dapat mengunjungi peninggalan sejarah penjajahan yang ada di Kolbano.

   Untuk ku yang sudah berkali-kali datang ke pantai Kolbano tidak pernah bosan apalagi dengan temanku Danio untuk pertama kali pergi. Akan meninggalkan kesan sendiri tentang pantai unik yang satu ini.   

   Malampun menyambut kedatangan kami di Kupang, dan tubuhku tanpa diperintahkan sudah terasa capek ingin sekali merasakan hangatnya air panas.


***

   

Kamis, 06 Februari 2014

Aku dan tas dalam perjalanan ala "Backpacker" (#WeAreTravelBlogger)

Semua jejak perjalanan ku yang kutinggalin di Nusa Tenggara Timur selalu identik dengan cara aku buat menjalankannya dengan sungguh-sungguh dan sepenuh hati. Emang puasa, menjalankan? Halah, bukan puasa yang kujalankan, yang ada setiap nge-trip bawaannya laper dan haus, kan gak lucu lagi narcis-narcisnya foto di pantai tiba-tiba pingsan karena kehausan ato kelaperan.:D. oke kembali ketopik awal dengan ala "backpacker" pastinya yang paling cocok buat aku untuk menikmati setiap perjalanan. Mau itu solo backpack atau pun dengan temen-temen. Kantong mahasiswa rantau yang pas-pasan ini sangat mendukung setiap perjalanan ku ala backpacker. 

Banyak juga sih temen-temen yang mikir perjalanan ku ini menghabiskan banyak budget, secara nih Indonesia timur yah dan biaya yang keluar buuuuanyaaaak banget, dan lebih memilih buat melakukan perjalanan ke luar negri contohnya Asia Tenggara karena budgetnya bisa lebih murah dari pada harus ke Indonesia timur, itu sih kata mereka. Padahal budgetku itu hanya bermodal sisa-sisa koin kembalian beli mie instan dan 1 ransel yang selalu selalu nempel di punggungku. Gak mahal, tapi yah setiap orang punya cara pandang yang berbeda dalam menikmati keindahan alam ataupun budaya.

Walau bukan pejalan sejati seperti senior-senior pejalan yang lain yang sudah keliling Indonesia bahkan keliling dunia, aku cuma bisa keliling Nusa Tenggara Timur, itu juga belum semua pelosok hahaha. Tapi ada satu kesamaan yang gak akan pernah bisa lepas dari sebuah perjalanan yaitu TAS. Mau itu tas punggung, tas samping, tas kamera, tas ransel bahkan tas carrier yang sedege apapun selama dia bisa nempel di punggung kayak perangko "akan menjadi sebuah identias dari seorang pejalan ala backpacker". Entah itu statement darimana asal-muasalnya yang pasti yah seperti itu. Hahaha. Garing.

Tas menjadi sebuah kosan miniku yang bisa kubawa kemana-mana. Hampir semua isi kamar kosku ada di dalamnya. Dari pakaian, makanan, peralatan mandi, bahkan tempat tidur pun ada. Tas sangat menjadi multifungsi setiap melakukan perjalanan. Dan tas itu lebih setia daripada pacar. What? apa hubungannya? Tas selalu nemenin aku nge-trip, selalu nempel, selalu setia setiap aku butuhin dan gak akan pernah selingkuh dan kalau pacar????? Mulai galau. T_T

Oke, aku memang sering berganti tas setiap nge-trip tapi bukan sering berganti pacar yah. Kok galau lagi??? fokus fokus fokus. Tapi aku tidak akan pernah melupakan untuk membawanya kemanapun kakiku meninggalkan jejak.

Ini ada beberapa foto narcisku dengan beberapa tas selama ku meninggalkan jejak. :)

aku dan tas saat menikmati view kota Kalabahi

Aku dan tas saat berada di alun-alun Kalabahi

aku, tas dan teman-teman di air terjun Oesusu

Aku dan tas di pulau Kanawa

Aku dan tas di pantai pulau Semau

Aku dan tas di pantai pulau Semau

Aku, tas dan teman-teman di Labuan bajo
Aku dan tas di Desa Bena

Aku dan tas di bandara Frans Sales Lega

Mau melakukan perjalanan dengan ala backpacker ataupun dengan tujuan Luar Negri, keliling Indonesia, gunung, pantai dan dengan tas merek dan model apa pun selama itu membuat kita nyaman nge-trip dan kita juga bisa menikmati semuanya ya sah sah saja.

"Karena setiap orang mempunyai caranya sendiri untuk travelling"

whatever i'm backpacker ***

Selasa, 04 Februari 2014

Hunting Paradise 8 pantai dan 2 kolam di Pulau Semau.

   Mendadak tanpa rencana sekali pun, pagi itu tanggal 15 Des 2013 ku langsung bersiap-siap untuk pergi ke pelabuhan Tenau. Apalagi kalau bukan untuk pergi ke pulau Semau.Walau sudah berkali-kali ke Pulau Semau, tapi tetap saja aku ingin sekali pergi lagi. Karna aku yakin banget akan selalu mendapatkan kejutan pantai-pantai yang baru yang belum pernah kudatangi sebelumnya. Dengan naik Ojek dari kosan Rp 15.000,- biar cepat sampai dipelabuhan. Pergi sepagi ini dengan harapan mendapatkan kapal penyebrangan yang pertama. Dan aku telat 10 menit. Sial.

   Baru 5 orang penumpang yang sedang menunggu kapal penyebrangan selanjutnya ditambah aku jadi 6 orang deh. Matahari Kupang hari minggu itu walau masih pukul 07.00 WITA sudah mampu membuat kulitku terasa terbakar. Ditunggu-tunggu kapal belum berjalan juga. Hingga pukul 09.10 WITA akhirnya kapal ke-2 berangkat dengan penumpang lumayan banyak.
  Karena hari minggu, maka kapal-kapal motor yang menjadi transportasi utama Kupang - Semau akan berangkat bila penumpang sudah banyak.
  
  Oke. waktu terbuang 2 jam yang seharusnya kugunakan untuk menikmati pantai disana.

   Aku memilih duduk di atas atap kapal motor, walau panas ku bisa menikmati birunya laut dan langit dengan bersamaan. Sungguh tenang, dan harganya jelas sudah naik dari terakhir kali aku kepulau Semau yaitu Rp. 15.000,-

  Diatas kapal aku bercerita bersama bapak-bapak dan yang empunya kapal. Mereka melihat tas bogger ku dan sudah pasti bisa ditebak tujuanku datang ke Kupang ini karena apa. Yup aku ingin snorkling.

  Sebenarnya di Kupang pun aku bisa snorkling tanpa harus menyebrang ke pulau Semau. Tapi karena sudah beberapa saat ini laut menjadi "danger" karena adanya buaya. Entah itu buaya air laut atau air tawar entah pula mungkin buaya jadi-jadian. Walau aku belum pernah melihat secara langsung, tapi itu sudah menjadi warning.

   Dengan percaya diri aku pergi ke pulau Semau untuk snorkling, ternayata 1 minggu sebelum aku pergi buaya sudah berhasil memutuskan salah satu kaki seorang kariawan dari salah satu kontraktor yang sedang mengerjaan proyek disana.

   Lengkaplah diatas kapal aku semakin takut untuk masuk ke dalam air. Mana terumbu karang dipulau Semau masih bagus sekali dan terjaga.
  Karena sudah sampai di pulau Semau, maka keinginan tuk snorkling terganti dengan mengexplore semau bagian timur.

  Tiba di pelabuhan Onanbatu ojek-ojek yang mangkal akan menawarkan jasanya untuk menghantarkan penumpang yang baru saja turun dari kapal motor. Tapi aku sudah membuat janji dadakan dengan kak Eman. 

  Tidak susah untuk menemukan sosok kak Eman secara postur tubuhnya bisa dikatakan hampir berbeda dengan yang lain. Di rumah kak Eman aku memberikan gambaran kemana aku ingin pergi. karena aku sendiri tidak tau mau kemana. Intinya ke pantai yang belum pernah aku datangi.

  Oke aku sudah siap dengan kejutan-kejutan pantai yang akan ditunjukan pulau Semau melewati kak Eman sebagai guide ku hari itu.


1. Pantai Koblain

   Pantai Koblain ini tidak terlalu jauh dari pelabuhan Onanbatu. Ternyata di pantai ini tempat tinggal seorang bule yang menikahi wanita setempat dan mereka mempunyai cafe di pantai Uiasa. Tapi sayang, si bule sudah meninggal dan cafe pun sudah tidak berjalan lagi. Itu kutahu saat aku melihat anak mereka yang cantik. Sekarang cafe itu sudah tidak ada dan pantai Koblain sendiri adalah pantainya para nelayan ikan dan petani rumput laut.

   Aku langsung melanjutkan perjalanan ke tempat selanjutnya yang dari pantai Koblain ini terlihat lurus kedepan pantai dengan pasir putihnya, yaitu pantai Uiasa.

Pantai Koblain


2. Pantai Uiasa

   Lanjut kepantai selanjutnya, pantai Uiasa ini berada di balik pohon-pohon di pinggir jalan. Aku sendiri tidak tahu kalau ada pantai di balik pohon-pohon itu kalau kak Eman tidak memberitahu ku.

    Melewati semak-semak dan pohon-pohon yang cukup menghalangi akhirnya kudapat melihat pantai yang tadinya ku lihat dari pantai Koblain, kini kedua kakiku sudah berdiri dan merakan indahnya pantai Uiasa.

Akses menuju pantai Uiasa 1

View dari kiri kuberdiri

View dari kanan kuberdiri
   Tidak lama ku di pantai Uiasa, langsung saja ku menuju ketujuan selanjutnya.



3. Kolam Uiasa

   Kolam Uiasa ini berada di pinggir jalan tepat di samping gereja protestan. Kolam air tawar ini sangat dimanfaatkan oleh masyarakat setempat. Bahkan kolam Uiasa ini juga sebagai tempat wisata di pulau Semau. 

   Karena hari minggu dan orang-orang baru keluar gereja, jadi kolam ini masih sepi. Tapi kalau di hari biasa atau di minggu sore akan ramai orang di kolam ini, untuk berenang, mencuci baju bahkan untuk piknik. :)

Pintu masuk kolam Uiasa

Seorang bu yang sedang mencuci dan anknya sedang berenang

Kolam Uiasa


4. Pantai Uiasa *lagi

   Pantai Uiasa ini panjang cuman ada beberapa yang terhalang ileh pohon-pohon makanya jadi bisa 2 pantai dengan nama yang sama.

   Pantai ini dulu juga digunakan sebagai tempat pariwisata yang fokus kepada tamu-tamu asing, terlihat dari beberapa bangunan cafe yang sudah rusak karena tidak di pakai.

   Pasir di pantai ini pun tidak berwarna putih atau hitam bahkan merah pun tidak, tapi akan terdapat pecahan-pecahan terumbu kareng yang merah dipasir.

View dari kiri kuberdiri

   Bila sedang beruntung datang disaat bulan-bulan 11 akan menyaksikan bunga-bunga flamboyan yang bermekaran di pinggir pantai. 

   Sayangnya aku datang di bulan 12 dan hanya beberapa pohon flamboyan yang bermekaran di pinggir pantai.

View dari kanan kuberdiri

Kak Eman dan view dari depan


5. Pantai Letbaun 



   Pantai Letbaun tidak terlalu jauh dari Goa Letbaun (di tulisan sebelumnya). Diujung jalan akan dijumpai rumah-rumah yang terbuat dari bebeak (bambu dan ilalang) yang digunakan sebagai tempat penyimpanan rumput laut.
   Mesti hari-hati bila membawa motor di pantai ini, karena jalan yang berpasir halus sekali bisa tiba-tiba membuat keseimbangan goyang.

   Wah, banjak jacpot si sapi, dan sapi-sapi itu bebas ber keliaran tidak ada yang menjaga, tapi itu bukan berarti bebas tidak ada yang punya loh. Di punggung sapi-sapi itu akan ada cap inisial nama siempunya sapi.

     

    Pantai ini cantik dan sepi sekali. Hanya ada aku dan kak Eman di pantai ini. Warna pasir pantai disini soft pink yang memancing imaginasiku untuk mengajak kekasih kesini. Hadeh, siang-siang terik udah ngayal aja. Hahaha

Pasir pantai berwarna soft pink

    Cuaca memang tidak berteman dari kemarin-kemarin dan baru hari ini terang dan yah tiba-tiba saja nanti awan gelap datang entah dari mana asal datangnya tiba-tiba saja sudah gelap, dan warna laut pun gelap karena dipengaruhi oleh sang awan.



Diantara awan gelap ada sinar yang menerangi pantai


   Banyak sekali kerang-kerang kima dengan ukuran yang besar-besar digunakan untuk pembuatan garam. Wah masih sangat traditional prosesnya. Aku belum melihat langsung pembuatan garam di pulau Semau ini, hanya melihat cangkang kerang kima saja menjemur air laut guna mendapatkan garam.

Aku dan kerang Kepi



6. Batu Penyembahan dan Pantai Letbaun *lagi


Batu Penyembahan
    
    Disinilah sebenarnya tujuan utamaku bila aku ke pulau Semau lagi. Disini ada batu yang besar sekali dan pertama kulihat dari foto seorang temanku dokter yang pernah mengabdi di pulau Semau ini. Seperti difotonya benar cantik. Dari info yang kudapat benar tidaknya, dulu batu ini adalah tempat penyembahan berhala. Tapi semua itu adalah hal pribadi masing-masing percaya atau tidak.

   Terdengar suara deburan ombak yang menghantam batu karang, langsung kakiku melangkah ke atas batu karang yang tajam. Untuk memastikan darimana asal suara ombak tersebut. Dan WOW... Amazing. "The hidden beach" dapat kulihat disini. Saat kutanya pada kak Eman, apakah tahu tempat ini, dan ternyata ini adalah untuk pertama kali kami berdua melihat "the hidden beach" disini. Dan benar-benar tersembunyi. 

The hidden beach di Letbaun 2

   Kalau dilihat dari jalan tidak akan pernah terbayang dibawah sana ada pantai kecil yang tersembunyi. Dan hempasan debur ombak yang tiba-tiba bisa saja bisa membasahkan kita saat berdiri dipinggir batu karang itu.

Berani turun gak yah???

   Harus sangat extra hati-hati melangkah diatas karang, karena sangat tajam. Aku hanya memakai sendal jepit yang bisa saja melukai kakiku. 

Batu karang yang tajam

   Dari pantai-pantai yang sudah kudatangi dari tadi, pantai inilah yang sangat-sangat kusuka dengan keunikannya berada dibawah batu karang. Bibawah batu karang, aku melihat 3 batang kayu yang terjepit dan sudah membentuk kerucut, ini sangat jelas bahwa kayu itu sudah lama sekali ada di bawah situ dan perlahan-lahan terkikis ombak.

The hidden beach

   Ingin sekali kuturun dan merasakan halusnya pasir di pantai Letbaun 2 ini. Tapi keinginan itu urung saat kupikir kembali bagaimana caranya nanti aku naik dengan kondisi batu karang yang sangat runcing tajamnya, belum lagi kalau aku harus terbawa ombak. Untuk sekarang lebih baik aku cari amannya saja. :D

Kak Eman berdiri di batu karang yang tajem banget
The beach

   Langit tiba-tiba gelap dan tanda-tanda hujan sudah datang. Sebelum hujan datang, aku dan kak Eman langsung mengikuti jalan mendaki dengan kondisi jalannya yang wah, rusak.


7. Pantai Tutun

   Kami beruntung karena tidak terkena hujan. Kami memasuki perkampungan yang akupun tidak tahu namanya. Hanya pasrah saja dibawa kemana oleh kak Eman. Disebelah kanan jalan terlihat gradasi warna laut yang begitu cantik. Walau terhalang pohon-pohon besar. 

   Aku melihat seorang bapak yang sedang memanggul drigen isi air bersih datang dari arah laut. Penasaran aku pun turun dari atas motor dan bertanya pada si bapak ambil air dimana. Dan bapak pun menunjuk kearah bawah dan mengatakan melewati tangga-tangga tidak jauh ada mata air. Wow ada mata air di pinggir pantai?

   Aku mengikuti petunjuk yang bapak berikan dan yah kudapati pantai-pantai dengan batu-batu karang yang besar. 

   Mata air tawar itu tidak terlalu jauh dari pantai, mungkin jaraknya 10 meter.

Mata air tawar di tepi pantai

View laut pantai Tutun

Tangga dari akar pohon

  Ingin turun kebawah tapi sepertinya tenagaku sudah tidak sanggup. Karena aku belum mengisi makanan ke perutku dari pagi. Dipikir-pikir aku kuat melakukan perjalanan ini karena niat, tapi belum cukup bila perut berteriak lapar.



8. Pantai Batu Inan


   Pantai panjang yang sepi dan cantik sekali. Pasirnya yang berbutir seperti merica dan gradasi warna laut yang memancing ingin merasakan hangatnya. Walau cuaca kadang tak menentu.

Aku dan pantai Batu Inan

Butiran pasir di pantai Batu Inan

    Di ujung sebelah kiri pantai Batu Inan ini terlihat lagi pantai yang juga lumayan panjang dan itu adalah pantai Otan. 

View dari kiri kuberdiri

View dari kanan ku berdiri

    Kalau kita naik pesawat dan melintasi pulau Semau, akan terlihat pantai pasir putih yang panjaaaaaaaang banget, dan itulah pantai ini dan pantai Otan, yah walau ada juga pantai lain yang terhubung di pantai panjang pulau Semau ini.

     

9. Pantai Otan



    Pantai ini cukup terkenal di pulau Semau, karena dulu pantai ini dijadikan tempat tujuan wisata para turis yang datang dengan speedboad dari pantai Kupang. Sekarang sangat jarang terlihat turis di pantai ini. 
   
    Bila ingin berenang di pantai ini sangat cocok, ombak yang tenang dan dengan tidak terlalu dalam. Dilihat saja sudah jelas, karena biru muda air laut sangat menandakan bahwa pantai ini tidak dalam. :)

    Di pantai Otan juga digunakan sebagai terminalnya pulau Semau. Selain ojek, beberapa mobil pick-up dijadikian sebagai alat transportasi yang ongkosnya lumayan mahal.

    Dipantai inilah ditemukan mayat-mayat yang terdampar saat kapal ferry menuju Rote dari Kupang terbaik dan tenggelam, tapi itu sudah bertahun-tahun.

    Yang terakhir awal bulan 2 tahun 2013 kemarin ikan paus dengan panjang 7m terdampar di pantai ini dengan kondisi yang sudah mati.

    Sudah, itu tidak ada lagi. Sekarang waktunya menikmati pantai yang cantik walau cukup panas. :D

View dari kiri kuberdiri

View dari kanan kuberdiri

Tempat berteduh dari panas di pantai Otan


10. Kolam Penyu

   Kolam penyu ini berada tepat di belakang SD Otan. Dan ini adalah kolam alami dan entah dari mana datangnya penyu ini. Ada 4 ekor penyu di dalam kolam ini. Airnya pun air tawar. :D Bukan hanya penyu yang ada di kolam ini, tapi juga ikan-ikan lain ada dari ukuran yang kecil sampe ukuran yang besar.

Kondisi jalan menuju kolam penyu di belakang SD

   Kolam ini disore hari selalu ramai, ada yang berenang bahkan sampai ada juga yang memanfaatkannya sebagai tempat cuci baju.

   
Kolam Penyu dan Penyu-nya

   Jam tangan sudah menunjukan pukul 2 sore, sepertinya sudah cukup perjalanan ku hari ini karena takut tidak ada kapal nanti sore, walau kak eman bilang nanti sore ada kapal yang ke Kupang. Lebih baik jaga-jaga takutnya sore hari hujan dan itu sudah pasti tidak akan ada kapal yang berangkat ke Kupang.

    Dari desa Otan menuju pelabuhan Onanbatu lumayan terasa lama karena jalan yang hanya lurus-lurus saja membuat ku sedikit mengantuk.

    Menyegarkan mata kembali melihat laut biru dari dermaga Onanbatu.


Dermaga Onanbatu

    Sambil menunggu kapal yang akan membawaku tiba di pelabuhan Tenau, aku menyempatkan diri untuk melihat finising pembuatan kapal yang ada di pelabuhan Onanbatu sambil bermain ayunan. Aku baru tahu ternyata setelah body kapal semua selesai mereka harus menyelipkan kulit kayu di setiap sela antar papan yah dijadikan sebagai lem. Aku lupa istilah namanya.


Bermain ayunan di pelabuhan Onanbatu




    Akhirnya kapal penumpang pun penuh, seperti awal datang aku memilih duduk di atas atap kapal. Dan dari kejauhan sudah terlihat awan gelap, berharap saat aku tiba di kosan tidak terkena hujan.

   Walau niatan awalku ke pulau Semau untuk menikmati bawah lautnya batal, tapi terbayarkan dengan pantai-pantai yang masih terjaga alami dan sangat sepi. Cocok untuk ku menghilangkan rasa kecewa.

    Next trip aku pasti akan kembali lagi ke pulau ini, entah untuk yang keberapa kali. :) Ingin mencoba camping di salah satu pinggir pantai yang tersembunyi :)


***