Sabtu, 26 Juli 2014

Ngabuburit - Gunung Semeru Saksi Pendakian Pertama, part 1

Keluar dari "KEBIASAAN" ya mungkin itu kata yang cocok untuk mengawali cerita jejak perjalananku kali ini. Mencoba hal baru yang belum pernah terlintas walau yakin itu mustahil atau belum pernah terlintas dan itu mustahil. Duh, ribet banget kata-katanya. Terserahlah ya, intinya aku mencoba hal baru dan itu sudah dari lama ingin sekali kulakukan, hanya apa daya waktu dan budget tidak pernah mau temanan dengan aku. Mungkin bukan hanya itu, tapi satu hal yang menjadi penting yaitu mental, siap tidaknya untuk mengalami suatu hal baru yang benar-benar belum pernah dicoba. Kayak menikah aja, hal baru dalam hidup. Oke, malah gak jelas.

Dulu aku pernah berangan-angan untuk mencoba mendaki gunung dan seperti menjadi banyak sekali teka-teki di dalam isi otak yang gak bisa terjawab kalau belum merasakan dan melakukannya sendiri. Melihat foto-foto gunung dan teman-teman yang berhasil meninggalkan jejaknya, mendengar dan membaca cerita-cerita mereka semakin memotivasi untuk mendaki gunung. Ditambah racun-racun yang disebarin seorang teman tentang gunung menjadi bagian cerita hidupnya dan pantai itu adalah bonus dari gunung itu sendiri. Bahkan sepertinya gunung adalah rumahnya dan kehidupannya. Dan dia berhasil membuat aku teracuni gunung. 

Walau berkali-kali batal untuk mendaki gunung, tapi saat ini adalah saat dimana kumulai takut dan tidak yakin sanggupkah aku, mampukah aku. Keluar dari kebiasaanku menikmati birunya laut, birunya langit, putihnya pasir, suara ombak, dan snorkling menikmati biota bawah laut. Sekarang hal baru sudah di depan mata. Hal yang sudah lama kubayangkan tinggal selangkah lagi kurasakan. Menikmati birunya langit, hijaunya rumput, putihnya kabut, dan membaur bersama kadar oksigen yang tinggi.

Hanya bermodal nekat dan perlengkapan seadanya akhirnya aku bersama sumber racun bang Rahmat berangkat ke Malang dari Jakarta dengan kereta ekonomi-ac. Dengan tujuan utama gunung Semeru dan bermalam di Ranu Kumbolo. Buset, sekali perdana langsung mendaki gunung tertinggi di pulau Jawa. Seperti biasa sebelum pergi melakukan perjalanan, pasti ku membaca dan mencari tau tentang tempat yang akan kudatangi. Tapi memang aku yang salah, tidak mempersiapkan fisik untuk mendaki dengan menggendong keril padahal sudah dari bulan lalu diingatkan setidaknya olahraga. Bukan hanya fisik, perlengkapanku pun tidak dipersiapakan dengan baik. Itu saja sudah membuatku takut dan lengkaplah ketakutanku saat melihat foto-foto bang Rahmat di Ranu Kumbolo yang tenda, rumput, nesting jadi es sangkin dinginnya. What? aku yang gak kuat dingin ini gimana? Di dalam kereta aja, aku sudah tidak kuat dengan dinginnya AC gimana nanti disana yah? Okeh aku mulai parno.


Hari 1, 04 Juli 2014


Our carrier

Tiba juga di stasiun Malang, sambil menunggu kedua teman yang dari Jakarta dengan kereta selanjutnya aku menenangkan diri biar gak parno lagi. Oh ya sempat lupa, perjalanan kali ini dilakukan saat bulan puasa dan teman-teman pejalanku semua sedang melakukan ibadah puasa kecuali aku. Kami berenam, 4 dari Jakarta dan 2 dari Surabaya. Dari stasiun Malang kami menuju ke Tumpang dengan mensewa angkot. Aku diajak ke besecamp yang dari luar saja sudah banyak stiker-stiker dari pendaki-pendaki gunung yang datang dan aku takjub melihatnya, cool. Di Tumpang sisinilah kami melengkapi logistik yang kurang.

Dulu aku membaca dan mendengar untuk menuju ke Ranu Pani (desa terakhir sebelum melakukan pendakian) para pendaki menggunakan mobil jeep, sekarang aku yang ada merasakan itu. Pengalaman pertama itu mampu bikin darah ser-ser. Sempat berhenti di Jempalang dan wow keren banget, jalur jeep menuju ke gunung Bromo terlihat dari sini dan jeep yang lewat terlihat kecil sekali. 

Kiri-kanan : Bg Rahmat, aku, bg Ronald, bu Nang, bg Udin
dan mbak Dian yang foto :)

Cantik, yup desa Ranu Pani adalah desa terakhir sebelum penanjakan dan disinilah jeep kuning menghantarkan kami. Hal pertama yang kulihat adalah lahan yang luas banget yang dijadikan kebun sayuran dan itu sungguh cantik. Huh. Cantik. Setibanya di Ranu Pani, teman-temanku mulai melakukan kewajibannya dengan sholat, sedangkan aku yang masih newbie mencari warung yang mungkin bisa mengisi perutku sebelum mulai tracking.

Wellcome to Ranu Pani

Start tracking

Wow, otot pahaku mulai kaget dan perlahan mulai terasa nyeri, padahal baru bentar banget jalan. Hisk. Benar-benar menyesal tidak melakukan persiapan. Ku akui hari pertama mendaki itu membuatku mengeluh dan diserang ketakutan yang dari kemarin tiba-tiba datang. Aku masih belajar beradaptasi dengan sekelilingku. Yah mungkin istirahatku termasuk banyak, dari teman-teman yang lain, yang memang mereka sudah pernah mendaki gunung. Aku berterimakasih banget ke mereka yang menyemangatiku dan mau menungguku saat kecapekan.

Untuk jalurnya sih memang sudah ada satu jalur, sedikit landai, dan sedikit menanjak. Ya iyalah namanya nanjak gunung, gak mungkin landai terus kayak di lapangan bola. Memasuki hutan yang kandungan oksigen tinggi dan basah mensibukan mata untuk memandang pepohonan di hutan ini. Bunga warna-warni menghiasi disepanjang jalur, sungguh menenangkan. Sayangnya aku belum bisa menikmatinya seutuhnya. 

_Ranu Kumbolo_

Senja di Ranu Kumbolo
Oh God. Terimakasih banget buat alam yang cantik ini. Walau sudah sore dan mulai gelap, dan danau tidak terlalu terlihat jelas, tapi masih cantik, aku yakin besok pagi pasti lebih cantik dari ini. 4 jam perjalanan dari Ranu Pani - Ranu Kumbolo. Yang dari tadi kamera disimpen di dalam tas, kali ini dikeluarkan untuk mengabadikan cantiknya danau dan bunga verbena brasiliensis vell (bunga warna ungu yang seperti bunga lavender tapi bukan loh). 


Verbena Brasiliensis Vell

Aku dan bu Nang tiba di Ranu Kumbolo

Selama ini yang kudengar, Ranu Kumbolo tidak pernah sepi dan selalu ramai, tapi kali ini tidak. Hanya ada 7 tenda yang dipasang. Ternyata ini maksudnya mendaki di bulan puasa, merasakan sepinya Ranu Kumbolo. Aku, bang Rahmat, bu Nang, dan bang Ronald yang tiba duluan di Ranum. Mbak Dian dan bang Udin masih di belakang.

Karena sudah pukul 5.30 PM sedikit lagi waktunya berbuka puasa, maka menu buka puasa pertama di Ranum; nasi + indomie + sambel + teh manis + kopi + susu + kerupuk.Pukul 8.00 PM mbak Dian dan bang Udin tiba dan langsung menyipkan menu utama untuk berbuka yaitu sup iga Sapi + takjil kurma + koktail lidah buaya jahe. Wow amazing yah, buka puasa di Ranum saja sudah keren ditambah nemu buka nya bikin tambang keren.

Udara dingin menusuk sekali, nah saat kenyang lumayan bikin badan hangat dikit. Tanpa sadar saat mau tidur, air mataku mengalir mengucap syukur pada Tuhan sang pencipta untuk alam yang dapat menjagaku malam ini. Malam pertama di gunung yang menjadi saksi pendakian pertamaku. Dan di Ranum itu dingin. Yah, namanya juga gunung yah, kalau tidak dingin yah di pantai. Malam inilah aku berantem dengan dingin. Kaus kaki, sarung tangan, jaket, syal untuk kepala, dan sb masih bisa ditembus dinginnya udara. 

Keluar dari tenda dan mendapati hanya tenda mbak Dian yang sedang sibuk memasak asem-asem untuk sahur. Dan pemandangan yang sudah sebulan ini kurindukan, menyaksikan milkyway. Malam pertama yang sungguh cantik walau tetap dingin yah hehehe. Berhubung kamera jadulku sudah tidak kuat untuk mengabadikan cantiknya milkyway, kamera mbak Dian pun menemaniku melawan dingin diluar tenda. Dan Dengan berapa kali jepret akhirnya berhasil mengabadikan yang kumau. Makasih loh mbak Dian dah minjemin kameranya.

The milkyway

Milkyway at Ranu Kumbolo

Oke, sepertinya kusudah bisa melanjutkan usaha tidur dengan melawannya dingin dari dalem tenda. Pelan-pelan terbiasa dan kantuk pun berhasil mengalahkan semua hingga sahur dan dilanjutkan tidur lagi. Untuk menu sahur ada asem-asem iga + sop iga sapi + kopi + teh + indomie. Aku sih memang gak puasa, tapi ikutan sahur he he he. 


Hari 2, 05 Juli 2014

Good morning Ranu Kumbolo, good morning my patner trip, thanks God for Your blessing until this morning. Takjub, sungguh terkesima dengan lukisan Tuhan di depan mata, walau pertama hanya melihat dari dalam tenda dan akupun terhipnotis dengan kecantikan Ranum. Gak henti-henti aku mengucap syukur dan berdoa berterimakasih untuk kesekian kali. Ciptaan Tuhan yang selama ini kulihat hanya di layar gadget sekarang sudah ada di depan mata dengan jelas, beda dengan kemarin sore yang memang sudah mau gelap saja masih cantik. Terbayarkan rasa capek dan otot badan yang pada kaget. Yah, walau sempat kusesali diriku yang selalu mengeluh capek disepanjang perjalanan Ranu Pani - Ranu Kumbolo.

Tenda kami


Sarapan pagi dulu hehe

Mbak dian dan bahan masakan

Ini bahan masakan untuk berbuka dan sahur

Gini enaknya kalau tentative. Tidak terikat dengan rule yang habis ini-itu, habis itu-ini. Planing awal sih ngabisin 3 malam di Ranum dan santai aja gak ngejer target apa-apa selain karena puasa juga. Awalnya sih cuma ingin ke Oro-oro Ombo menikmati zona ungu, tapi skalian deh dilanjutkan ke Kalimati sebelum gelap. 

Semua sudah dipacking dan inilah ujian pertama hari ini, mendaki tanjakan cinta. Konon katanya kalau mendaki bukit cinta tidak boleh menoleh kebelakang. Karena nanti bisa putus atau pisah dengan pasangannya bila di tengah jalan menoleh kebelakang, tapi kalau tidak menoleh hubungan dengan pasangan akan langgeng atau akan dipertemukan pasangan hidupnya. Yah, percaya gak percaya kita yang menentukan.

Mendaki tanjakan cinta

Yah aku coba tantangan itu, pelan banget melangkah dan berhenti sesekali sambil berdoa dalam hati, ouh saat sampai di atas kecantikan Ranum terlihat jelas dan benar-benar mempesona. Balik belakang hamparan Verbena dihimpit bukit-bukit savana. Warna ungunya benar-benar membuat ku jatuh cinta. Terlihat jalur yang sering dilewati.

Ranum dari puncak tanjakan cinta
_Oro-oro Ombo_

Hah. Gak berenti deh dari kemaren takjub. Gak ada kata-kata lain selain takjub dengan lukisan alam yang begitu indah di depan mata. Dulu aku sempat berpikir hamparan bunga berwarna ungu di gunung Semeru ini adalah bunga lavender, ternyata aku salah. Tinggi batang bunga verbena sama tingginya denganku dan hampir 2 meter, jelas saja tubuhku bisa tenggelam di zona ungu. 

Bukit-bukit dengan savananya yang khas mengelilingi zona ungu ditambah birunya langit dan awan putih yang menghiasi. Sungguh beruntung dapat menikmati semuanya dengan cuaca yang cerah tanpa kabut.

Tidak banyak cerita dalam kata saat di Oro-oro Ombo. Semua sudah diceritakan lewat foto-foto yang kuabadikan.

Turun menuju Oro-oro Ombo

Tina bareng Verbena
Dijalur zona ungu

Oro-oro Ombo
_ Cemoro Kandang_

Dari sinilah kami melanjutkan kembali untuk mengangkat kaki lebih tinggi untuk melangkah. Lengkaplah pemberhentian kali ini dengan mencicipi semanga merah yang manis. Maap teman-teman yang puasa, saya hanya sebagai tester semangka. 


Yah seperti yang sudah diceritakan bang Rahmat, jalur kali ini lebih nanjak dan yah lumayan berdebu karena sudah ada pasir hitam gunung Semeru. Aku pun menikmati jalur kali ini tidak seperti kemarin, dan dengan tidak berfikir "kapan sampai? masih jauh?" karena pertanyaan itu yang bisa ngebuat aku takut duluan dan bisa-bisa gak menikmati semua ini.

Cacing-cacing di perutku semua lagi demo. Aku belum makan dan sudah mulai keringat dingin, sabar Tina. Tinggal dikit lagi, hayok terus melangkah.

_Jambangan_
Wellcome to Jambangan

Jalan sendirian paling belakang itulah waktu yang kumanfaatkan untuk mengucap syukur. Merasakan semangat yang diberikan oleh hutan di gunung ini agar aku bisa. Jalur pun mulai rata dan sedikit menurun, dan dari Jambangan aku mulai melihat pohon-pohon bunga edelwes dan saat melihat puncak mahameru rasa lapar itu hilang dan semakin bersemangat untuk segera tiba.

Jalan sendirian paling belakang itulah waktu yang kumanfaatkan untuk mengucap syukur. Merasakan semangat yang diberikan oleh hutan di gunung ini agar aku bisa. Jalur pun mulai rata dan sedikit menurun, dan dari Jambangan aku mulai melihat pohon-pohon bunga edelwes danDan itu terbukti, saat melihat puncak mahameru rasa lapar itu hilang dan semakin bersemangat untuk segera tiba. 



Benar atau tidak, aku dapat melihat jalur summit di pasir hitam itu dari jauh. Betapa gagahnya gunung tertinggi di pulau Jawa ini.

Jalur summit nya kelihatan
_Kalimati_

Ketiga temanku sudah tiba di Kalimati saat aku masih terkesima dengan puncak gunung dihadapanku. Disinilah kami akan bermalam ditemani gagahnya gunung Semeru.

Santai mandangi Mahameru

Lagi masak disamperin si bule 

We are in here with watermelon hoho

Saat seperti ini yang pasti akan aku dan teman-teman lain rindukan yaitu ngabuburit di Kalimati dengan mempersiapkan menu berbuka; es buah puding natadecoco , buah semangka, puding coklat, bakwan jagung, pisang goreng, bakwan ikan teri, kurma, kopi, teh panas, indomie, tetep gak lupa sambel bawang yang pedesnya beuh mantaplah. Hahaha kayak aku bisa tahan pedes aja.


Bahan makanan yang belum dikonsumsi

Ngebantu bang Ronald buat es buah

Es buah Kalimati


Goreng bakwan tetep narcis yah hehe

Selamat berbuka puasa :D

Mungkin dari sini tidak bisa melihat sunset, tapi bisa menikmati cahaya sunset yang mewarnai gunung Semeru. Sungguh cantik.


Senja di Kalimati

Dan malam pun datang, saat tengah malam adalah saat yang tepat untuk summit dan saat mentari menyapa bumi para pendaki sudah dapat menyambutnya dari puncak Mahameru. Sebagian dari kami pun tiba-tiba berencana ingin summit dan menyambut mentari yang datang. Maka setelah berbuka kami manfaatkan waktu dengan baik untuk tidur. Tapi entah mengapa, aku merasakan malam kedua ini lebih dingin dari Ranu Kumbolo, mungkin karena selain ketinggiannya juga berbeda. 

Sudah berusaha untuk bisa tidur, tapi tetap saja tidak bisa tidur, maka kami semua bercerita dan menertawakan apapun yang ada. Tetep dong, kalo buat foto bintang-bintang berterimakasih pada kameranya mbak Dian.

Gunung Semeru saat malam bersama milyaran bintang
Bintang-bintang bertabur dilangit yang gelap dan dihiasi bulan sabit. Ku melihat asap vulcano dari puncak mahameru berwarna merah. Percaya gak percaya, aku melihat pelangi di malam hari. Aku sendiri bingung itu biasan cahaya dari mana yang menyebabkan pelangi.

Aku dan malam itu
Pelangi di malam hari


Langit yang dari cerah langsung ditutupi kabut dan angin pun perlahan datang. Semakin dingin malam ini. Sudah kenyang dengan menu tambahan berbuka ; bubur kacang ijo, wedang jahe pandan, sayur lodeh + nasi (yang seharusnya menjadi menu sahur)dan gorengan yang masih ada, kopi dan teh. 

Sepertinya memang tidak jadi summit, selain hujan yang sudah mulai datang, aku secara pribadi ingin tapi tidak mau karena perlengkapan ku yang sungguh tidak ada untuk summit, lebih baik diam didalam tenda menghangatkan badan dan menunggu sang mentari pagi menyapa.

***

Bersambung...
























9 komentar:

  1. Fotonya keren keren... nice share, kawan. Btw sampahnya nggak ditinggal di atas gunung kan? ^^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Gak dong. Sampahnya dibawa dan dibuang di bawah :)

      Hapus
  2. Pelanginya keren! Semoga lain kali bisa summit attack :) Tanggunf.

    BalasHapus
    Balasan
    1. thanks mas... :) ia moga-moga bisa summit hehe

      Hapus
  3. keren mupeng banget.pas puasa nanjak bener-bener stamina yang kuat banget

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mesti coba untuk nanjak pas puasa.. Bener2 keren mbak indah

      Hapus
  4. Juli 2015 nanti mau kesana, tp yg baru pasti cuman berdua

    BalasHapus
    Balasan
    1. Gmn? Jadi ke Semeru.. Keren banget kan??

      Hapus
    2. Gmn? Jadi ke Semeru.. Keren banget kan??

      Hapus