Rabu, 11 Februari 2015

Perjalanan ke Kawah Ijen malam Jumat

  Sempat terpikir dan ingin pergi, tapi tidak begitu antusias. Yah tetap masuk di waiting list "my destination" yang berharap suatu saat entah kapan pun itu dapat berhasil aku meninggalkan jejak dalam sebuah pengalaman cerita perjalanan. Berawal dari teman-teman yang mempunyai kegilaan hobi yang sama  walau aku tidak seakut meraka yah, aku masih 1,05% tercandu dibanding mereka yang 150% dari 100%. Tiba-tiba aku diajak untuk menginjakan kaki ke salah satu gunung di Jawa Timur. Yah bukan gunung Semeru yang harus dilalui berjam-jam bahkan hari tuk sampai puncak. Bukan pula Gunung bromo yang tidak pernah sepi dari kunjungan lautan manusia. Raung? Tidak tidak, bukan gunung yang menjadi impian semua pendaki sejati yang berhasil di puncak sejatinya gunung Raung, dan aku belum sejati pendaki gunung yang lain. Tetapi gunung dengan kawah hijau dan si api biru yang tak kunjung padam dan entah orang iseng siapa yang nyalain api di hamparan belerang dan para penambang belerang dengan cara tradisional. Yup. Gunung Ijen dengan tujuan utama adalah kawah Ijen melihat si blue fire.

Dengan keterbatasan budget bahkan bisa dibilang isi celengan kodok tidak ada (emang aku punya celengan ya? Abaikan!) Pagi 21 Januari 2015 pukul 5.20 KAI Pasundan pagi membawaku melewati berbagai desa, kota, kabupaten, bahkan propinsi sekalipun walau tetap pulau Jawa berteman pemandangan persawahan dan gunung dari kejauhan. Dengan harga tiket ekonomi termurah  Rp 150.000,- (padahal sebelum naik cuma Rp 50.000,-). Kelemahan naik KAI ekonomi bila kereta telat dikit atau kebanyakan ganti log, yah mesti bersabar dan memberi kesempatan pada kereta yang kelasnya lebih tinggi untuk lewat. Dengan pembuktian, seharusnya aku tiba di stasiun Gubeg itu pukul 19.30 malah kenyataan tiba pukul 22.15. Kereta juga bisa delay tibanya.

 Setelah menghubungi teman yang tinggal di Surabaya, ternyata dia sedang dalam perjalanan dari Madiun (rumah orangtua nya) menuju Surabaya. Aku pikir karna aku datang makanya dia pulang. Ternyata pacarnya besok datang dan dia jemput di bandara. Huff. Oke, setelah seharian duduk cantik di kereta akhirnya malam ini aku dapat melentangkan tubuhku untuk mengumpulkan tenaga, karena besok dimulainya perjalanan sesungguhnya. 
Janjinya sih pukul 10.00 wib kumpul di terminal bungurasih tanggal 22 Januari 2015. Aku bersiap-siap dari pukul 8.00 wib, jalan dari rumah temen pukul 9.30 dan terminal itu jauh banget dari tempat tinggal dia. Ditambah macetnya kota Surabaya dan teman-teman yang sudah berkumpul di teminal selalu menghubungi menanyakan posisiku. Sebernya sih nanyain tas titipannya dibawa apa gak, bukan karna akunya. :(

Eh ternyata udah siang aja sampai di terminal. Dengan pakai acara petak umpet atau bermain labirin lagi dengan teman-teman saling mencari. Keril 55L dan daypack masih lengket di belakang dan depan tubuhku sambil berjalan mencari. 

Berjumpalah aku dengan mereka, sungguh terharu melihat mereka masih lengkap dan setia menunggu kedatanganku (air mata dah mau keluar). Haiii... *tas gue mana tin? Gubrak! Memang benar, bukan aku yang ditunggu tapi titipan mereka T_T.  Ya sudahlah memang sudah nasib aku. Hahaha. 

Terminal ini tidak jauh beda dengan terminal-terminal lain yang ada di Indonesia yaitu "calo" banyak yang menawarkan jasa bis mereka. Cara mereka itu jelas sekali datang beramai-ramai mengerubungi kami dengan kata-kata yang keluar dari mulut mereka tidak jelas, aku berpikir keras kenapa para calo ini ngerubungi kami? Emang kami artis ya? Atau kami makanan? Lalat kali merubungi. Entahlah.

Di dalam patas Surabaya - Probolinggo dengan ongkos Rp 30.000,-.org (rasanya kok aku gak bayar ya? Atau memang hanya perasanku saja) semua duduk berpasangan kecuali aku, kembali mewe :(. Bukan pasangan sebenernya sih selain calon keluarga baru Tari dan mas Bram yang bobo imut, Tofik dan Riska yang baru kenal juga bobo jaga-jaga, satu pasang lagi yang berkonspirasi menghabiskan nasi goreng pjatahku bang Enzat dan Eva "jamela" (tapi gak apa-apa deh, diganti nasi rawon saat di terminal Probolinggo), dan aku yang tidur cantik karna kecapekan sambil mangap. Hohoho cantik dari mana gitu?

Melanjutkan perjalanan dengan bus ekonomi Probolinggo - Paiton yang ongkosnya Rp 8.000,-/org. Yup, seharusnya kami berhenti di Situbondo untuk ke Ijen, berhubung dan dihubung-hubungkan masih ada seorang lagi yang akan gabung dengan trip ini dan di tempat dia juga kami akan ditampung sekaligus mensewa mobil dari sana /hari kami dapat Rp 250.000,-. Setelah sharing cost berdelapan untuk bayar sewa mobil dan bensin kami melanjutkan perjalanan menuju kawah Ijen. Oh iya, aku lupa mengenalkan teman yang dipaiton ini, namanya mbak Risky (kiki) kenalannya bang Enzat dari Instagram dan baru berjumpa untuk pertama kalinya. Mau yah mbak kiki percaya bang Enzat yang baru kenal dan itu di dunia maya. Hahaha. Kabur cantik ah sebelum yang punya nama nongol tiba-tiba hahaha.

Tiba di Paiton, pertigaan Gudang Garam

Berhubung aku gak bisa nyetir mobil, mas Bram yang mengendalikan stir bulat itu sebenernya bukan hanya aku yang gak bisa. Aku sih duduk cantik dan bobo ganteng di belakang *kalau sempat bobo. Satu persatu yang di dalam mobil mulai tidak bersuara menandakan mereka tidur kecuali yang nyupir yah. Aku pun mulai sayup-sayup mau tidur. Ternyata satu mobil tidak ada yang tau jalan ke gunung Ijen. Oh my God. Ini bukan acara nyodorin diri untuk kesasar kan? Entah mas bram yang salah ngebawa kami atau petunjuk dari mbak Kiki yang salah, aku merasa ada yang aneh selama perjalanan. Gelap, sunyi tidak ada lampu ataupun petunjuk jalan. Jalanan pun bukan jalan aspal ataupun jalan raya. Fix kita kesasar batinku. Masuk ke kompleks perumahan yang sepi dan gelap baru kami semua dalam mobil tersadar kenapa sampai disana. Mas Bram pun tidak tau kenapa tiba-tiba sudah ada di sana, padahal ikutin petunjuk dari mbak Kiki.

Ini malam jumat. Entah benar atau tidak, percaya atau tidak perjalanan kami seperti ditutup entah oleh makhluk iseng yang mana. Bukan hanya disitu, kami tanpa sadar melewati jalan sempit tanpa lampu jalan dan kondisi jalan yang rusak, tidak ada rumah. Hanya ilalang tinggi dan pohon-pohon yang menatap menemani perjalanan kami. Kami yang sudah keburu parno dengan kejadian awal semakin bertambah parno saat melihat Univeraitas disana. Oh God, semoga memang kami lewat jalan yang bener yah. Amin.  Tetap mengikuti jalan akhirnya kami berjumpa dengan orang dan bertanya kemana arah menuju gunung Ijen.  Penuh rasa lega akhirnya kami berhasil sampai jalan raya. Dan sampai saat ini satu diantara kami tidak ada yang tau jawaban kenapa kami tiba-tiba ada di perumahan kosong dan universitas yang tidak tau namanya dan sepi.

Aku pikir kejadian yang sedikit berhasil memompa jantung lebih cepat tadi sudah berhasil, ternyata belum. Kami memasuki hutan sesuai petunjuk arah.  Kondisi jalan kadang aspal kadang lumpur, sempit dan tanpa penerangan. Pertama melewati hutan dengan pohon-pohon yang menjulang tinggi dan gagah yah aku pikir wajar saja karna ini hutan lindung dan ini gunung.
Tapi tidak ada satu pun kami jumpai Mobil atau kendaraan yang lewat berpapasan, di depan ataupun di belakang mobil kami. Perjalanan kembali mencekam mana sudah hampir jam 12 malam. Perjalanan pun menurun, wah jangan-jangan kita dari tadi memutari gunung dan kembali ke bawah. Wah serangan panik saat seorang celetuk "jangan-jangan kesasar" dan kalau memang iya pun mau putar balik jauh sekali. Akhirnya kami memasuki perkebunan dan mendapatkan pos penjagaan. Saat mobil berhenti tiba-tiba dari belakang ada lampu mobil dan mobil itu tepat di belakang mobil kami. Sumpah ini kenapa tiba-tiba ada di belakang? Darimana datangnya? Kenapa dari tadi aku bahkan satu dari kami tidak melihat ada cahaya lampu dari belakang? Padahal aku, bang Enzat, mbak Kiki dan mas Bram tidak tidur bahkan aku sering lihat ke belakang tapi hanya gelap dan sepi yang kutemui. Untuk kesekian kalinya bulu kuduk merinding.

Setelah melewati 3 pos penjagaan tibalah kami di parkiran kawah Ijen. Kami ditawari untuk pakai guide karna kata mereka sekarang harus pakai guide dan bayar Rp 150.000,-/guide untuk bisa turun ke kawah melihat blue fire (tujuan utama).  Untungnya ada Tofik yang pernah kesini dengan paket tour dan tidak perlu pakai guide.
Oke. Semua sudah siap dan tidak lupa diawali dengan doa sebelum muncak ke atas. Perjalanan ini kami mulai pukul 2.00 wib dan hanya cahaya dari senter yang menuntun kami dalam tracking.  Pertama sih semua bersama-sama tapi lama-lama mulai ada yang jalan didepan duluan. Aku berjalan pelan tapi pasti dan aku sudah lebih dulu dari rombongan, padahal aku tidak pakai senter. Cuma mengandalkan insting.  Teman-teman lain masih di belakang dan beristirahat saat capek. Intinya jangan memaksakan jalan cepat untuk sampai atas. Toh kita akan sampai atas juga kok nantinya mau jalan cepat atau lama bahkan banyak istirahat sekalipun. Tapi kelamaan istirahat juga gak baik, karna badan jadinya berat untuk melangkah lagi.

Saat berjalan sendiri kok bulu kuduk berdiri dan kepala tiba-tiba membesar. Oke ini tanda ada yang lagi nemenin aku. Coba yang nemenin keliatan atau nunjukin diri kan aku gak perlu salah tingkah disamping dia. Edan. Aku memanggil mereka yang masih dibelakangku jauh. Untungnya masih terdengar. Aku tunggu mereka sambil berusaha menikmati bintang-bintang di langit dan lampu-lampu yang menyala dalam gelap dari bawah dari pada ngajak ngomong yang disebelah tapi gak jawab-jawab.

Berdua dengan Riska di depan semakin semangat setelah Riska dah tau tips and trick tracking nyaman bisa sampe puncak. Akhirnya tiba juga di atas dan wuuuss angin yang bertiup membuat semakin dingin ditambah kabut yang datang. Karna sudah sampai atas dan tanggung kalau tidak turun kebawah melihat langsung si api biru. Kalau dipikir lagi ngapain capek-capek sampe sini toh cuma liat api biru, dirumahkan bisa tuh kompor gas, wah aku pake kompor minyak jadi gak biru. Oke berarti alasan semakin kuat untuk turun kebawah.

Jalurnya menurun curam, bebatuan dan licin. Mesti hati-hati. Sudah mulai terang dan takut tidak sampai bawah, aku berlari pelan ke bawah. Itu membuat kaki sakit, karna cuma pakai kaus kaki dan sendal gunung.

Blue fire

Yes. Berhasil dan wow memang keren. Ditumpukan belerang berwarna kuning blue fire itu hidup dengan cantiknya. Hanya berjarak 3 meter dari aku berdiri. Walau hanya sempat mengabadikan dalam sedikit foto, aku, Eva "jamela" Riska, mas Bram dan bang Enzat yang turun melihat langsung blue fire harus segera cepat-cepat ke atas. Dalam seketika angin berbalik arah dan aku merasa serangan fajar itu seperti ini. Susah bernafas, lidah dan kerongkongan terasa pahit dan kering. Bernafas dengan hidung terasa sakit. Memang gas beracun dari belerang ini sungguh berbahaya.

Me and blue fire

Please jangan mati disini. Gak lucu kan masuk di koran seorang perempuan pengangguran mati di kawah Ijen karna kelaparan! Perempuan? Itu aku maksudnya? Aku siapa? Pengangguran? Menyakitkan ia, meyedihkan belum tentu. Abaikan itu, fokus! fokus cerita. Kaki yang keseleo, nafas yang susah dan tidak ada yang menolongku entah memomang gitu. Tapi melihat kedua teman cewek yang sudah mau pingsan biarlah kedua pria itu membantu mereka. Hai.. Aku juga capek.. Kataku memanggil dan tidak ada yang gubris. Ya sudahlah, aku yang mengambil keputusan turun kebawah dan sudah sejauh ini kok aku menyerah begitu saja. Dengan bermodal botol air minum yang sedikit membantu mengurangi kering mulut dan sisa tenaga cadangan, aku berusaha melangkahkan kaki dan terus melangkah.

Walau sesekali berhenti untuk istirahat dan memberikan jalan pada para penambang belerang yang menggotong beratnya belerang di pundak mereka, yang lebih berat adalah mereka menaiki jalan berbatu dan licin untuk mendapatkan uang. Hidup itu keras dan susah bro. Oke fokus.

Belerang hasil tambang rakyat

Setelah melewati asap bercampur gas beracun itu, kami beristirahat sejenak untuk memasukan oksigen kedalam paru-paru biar gas beracun yang terhirup dapat berganti.

Bernafas mengumpulkan oksigen 
Kawah Ijen

Huff... Peluh dan nafas yang terengah-engah perlahan hilang dan berganti dengan semangat yang bergelora untuk foto-foto. Memang nekat untuk foto sampai payung pink pun dibawa agar fotonya cantik.


Aku disini
Pink girl

Umbrella girl



Aku dan mereka yang habis goyang dumang


Setelah puas berfoto cantik dan lucu, satu yang bikin Susan dilupa. Dengan percaya diri aku bersama yang lain merekam video goyang dumang. Itu kami ditengah-tengah, semua orang melihat dan tertawa. Malu sih, tapi toh bareng-bareng ya malu nya juga pasti bareng-bareng. Semua itu ide Eva "jamela". Oh aku belum cerita ya kenapa Eva ditambah " jamela" karna menurut aku dan yang liat sih dia mirip Mulan Jamelah, sempat berfikir mau aku daftarin diacara tv swasta kemiripan wajahnya. Hahaha

Karena ini trip gila dan nekat, kami segera turun ke parkiran karna akan melanjutkan perjalanan kembali dengan bus ke Madura. Ujung keujung mbak mas broo...

Tari, Riska, Aku, mas Bram, Eva, bang Enzat, mbak Kiki, Tofik


Penamabang Belerang saat di jalur turun ke bawah

Bertambah lagi pengalaman, jejak perjalananku dan tidak akan bisa terulang lagi. Karna setiap perjalanan mempunyai cerita dan rasa tersendiri walau sempat parno karna terbawa suasana malam jumat.


***

Nb: thans buat bang Enzat dan Tari buat gopro dan iphone nya :)

2 komentar:

  1. Wonderful Kawah Ijen Banyuwangi, Kunjungan juga http://www.ijentamansari.com, menyediakan layanan Tours menawarkan harga tour terbaik seperti: Kawah Ijen Tour, Ijen Crater, Ijen Blue Fire Tour, Kawah Ijen Night Tour, Ijen Morning, Ijen Blue Flame Tour, Ijen transportasi, Ijen Bromo Tour. Liburan ke Wisata Jawa timur dengan Ijen Tamansari Tour (I.J.T).

    BalasHapus
  2. Wonderful Kawah Ijen Banyuwangi, Kunjungan juga http://www.ijentamansari.com, menyediakan layanan Tours menawarkan harga tour terbaik seperti: Kawah Ijen Tour, Ijen Crater, Ijen Blue Fire Tour, Kawah Ijen Night Tour, Ijen Morning, Ijen Blue Flame Tour, Ijen transportasi, Ijen Bromo Tour. Liburan ke Wisata Jawa timur dengan Ijen Tamansari Tour (I.J.T).

    BalasHapus