Selasa, 04 Agustus 2015

Gunung Merapi saat bulan Puasa via New Selo


We are the team
Merapi mt. 050715

Aku sih sudah tau kalau ada beberapa orang gila yang akan reunian di atas gunung Merapi, Jawa Tengah. Temu kangen di gunung? Merapi pula! Gak ada tempat lain apa yah untuk reunian, temu kangen bahkan menguji iman saat puasa selain di gunung? Mungkin Kerinci atau Rinjani mungkin? Sama aja itu juga gunung. Oke berarti aku udah hampir ikutan gila karena ngasih ide lebih gila. Yah mungkin karena mereka orang-orang aneh yang mempunyai kepribadian gila jadi wajar mencari tempat silahturami di gunung. Sebenernya mereka bukan gila yang biasa aku liat di jalan-jalan atau di tv yang dengan tampilan tak jelas dan suka ketawa sendiri. Kalau mereka ini adalah ketawa mesti ajak-ajak dan penampilan mereka pun masih dibilang ketce untuk diajak foto-foto. Persiapan mereka sudah berbulan-bulan dan pembahasan ini itu juga sudah hampir diambil kesimpulannya, yah singkat kata sudah 80% persiapan untuk puasaan di gunung Merapi sudah fix.
      Hampir mendekati hari H mereka melepaskan kangen-kangenannya seperti ada magnet yang narik-narik aku untuk kepoin persiapan mereka, siapa aja mereka yang ikut, dan budget yang akan dikeluarkan. Mulai cek-cek harga tiket kereta dan ngecek saja sudah patah hati. Oke fix sepertinya kepo ku membuat sakit hati tapi semakin dikepoin alhasil seperti bintang jatuh tetiba di depan mata ada tiket ke Jogja dari Pasar Senen dengan harga yang sebenernya bisa dapat PP Kiaracondong-Lempuyangan. Tapi niat hati ingin membuat kejutan, tiket  Pasar Senen – Tugu akhirnya ditangan meski belum di print.
     Habis packing langsung cus ke stasiun dan entah rumah ku yang sangat jauh di Bekasi atau memang akunya yang lambat, pukul 20.52 wib tanggal 3 Juli 2015 aku masih duduk keringet dingin dengan cemas di dalam commuter line di Jatinegara. Gimana gak keringetan padahal di dalam sudah ber-ac dan orang sedikit tapi nih kereta ngetem (lebih parah dari ngetemnya angkot) sedangkan tiket kereta itu jalan jam 22.00 wib. Ini namanya bunuh diri. 
Lorong stasiun p. senen
     Dengan kekuatan penuh setibanya di st. Pasar Senen aku berlari sebisaku sambil menggendong keril 55L menaiki tangga melewati lembah dan jurang *abaikan. Lari ke ujung stasiun untuk print tiket dan petugas sudah memanggil-manggil penumpang kereta tujuan Jogja yang belum masuk. AKUUUU….. teriak dengan sekencengnya takut ketinggalan kereta, secara tiket begini mahal, ah bukan tiket yang aku sayangkan kalau ketinggalan kereta. Ketinggalan ikut gila dengan mereka ini yang aku sayangkan. Dah di kepoin eh masa hasil akhir keponya gak tau, itukan namanya rugi. Semua pengumpang yang ada di luar melihat sumber suara teriak itu. Ah gak peduli lagi orang-orang mau liat atau ngomongin. Yah sesekali jadi artis diliatin ribuan orang dengan bersamaan sambil aku melambaikan tangan ala putri Inggris. Ha ha ha. Ke 3 teman  yang sudah di dalam kereta baru tahu kalau aku satu kereta dengan mereka ikutan panik. Dengan lari tergesa melewati tiap lorong kereta akhirnya aku melihat teman-teman gila yang aku rindukan, hisk air mata berkaca melihat mereka dan aku ingin nangis. Rasa lapar tetiba datang bikin aku ingin menangis sejadinya.       
Isi di dalam keril Eiger 55L
   Bang Ibeng, Topik, dan Pak Rangga menjadi teman ngerumpi di kereta selama perjalanan, dan dengan santai mereka bilang “drama Tina itu akhirnya akan happy ending” om ini bukan drama T_T. Sudahlah lebih baik aku tidur sajalah karena mau beli makan di kereta lihat list harganya tetiba perut full ha ha ha.
     Pagi pukul 5.50 wib tiba dengan cantik di st. Tugu, mbak Suci sudah dengan tampan menjemputku di Sarkem. Wow pagi-pagi ketemuan di Sarkem ha ha ha. Aku pisah dengan Topik, bang Ibeng, pak Rangga memilih tidur tampan dulu dengan mbak Suci. Sedangkan mereka bertiga dijemput sama om bulu bersarung, siapa lagi kalau bukan om Fahmie.
     Setelah belanja logistik dan ambil sewa peralatan tinggal duduk cantik nunggu mereka yang di dalam mobil menjemput kami yang tampan ini, eh cantik deh.
Peralatan yang disewa dan logistik
       Memang benar aku mulai tertular virus gila dari mereka di dalam mobil. Kebayang dong yah keril bertumpuk di dalam mobil dan banyak cowok tapi yang jadi driver khusus di kirim dari Sangata adalah seorang cewek, Riska. Di posisi depan Fahmie dan driver cantik Riksa *sini um dulu ris :*, baris tengah pak Rangga, bang Ibeng, dan aku. Posisi belakang dijaga om cipit sang juragan pak Enzat, Topik dan mbak Suci di apit om-om itu.
Formasi di dalam mobil
     Entah secepat apa Riska membawa mobil tiba-tiba sudah sampai saja di New Selo. Huaaaa keren gunung Merbabu terlihat jelas dari sini. Dengan perkebunan tembakau disinari warna orange sang mentari dan gunung merbabu. Disana kami bertemu teman satu lagi di team kami om Ucup, dan ini perjalan kedua ku bersama om Ucup setelah tahun 2013 sama-sama ke pulau Komodo. Untuk simaksi Rp 15.000/org dan mulai packing ulang di New Selo sambil teman-teman sholat. 
Memulai pendakian via New Selo
Packing ulang sembari ada yang sholat
       Karena tidak membawa untuk berbuka, maka mereka membeli nasi + telur disana. Aku sih nanti icip-icip aja punya mereka pasti kenyang juga ha ha ha. Entah siapa nama abang itu yang sedang bersantai menikmati sunset ngasih stiker ini dan mengingatkan untuk membawa sampah kami dari atas. Dan itu pasti kami bawa :)

Gunung Bukan Tempat Sampah
Aku, gunung Merbabu dan sunset
       Diawali doa dan kami mulai bersorak menyemangati bersama dan tiba-tiba suara paling kenceng dan kata yang berbeda sendiri berasal dari bang Ibeng, bagaimana tidak kita bersorak Merapi eh bang Ibeng bersorak Merbabu. Spontan semua tertawa melihat ke bang Ibeng. Mungkin bang Ibeng sudah sangat kebelet pingin ke Merbabu. Ha ha ha.

Berdoa mulai
Merbabuuuu eh Merapiiii :D
Full team

      Jalur diawali dengan tanjakan yang sudah di cor semen. Terdengar dari bawah adzan maghrib dan teman-teman yang berpuasa segera membatalkannya dengan air minum dan kerupuk :) sampai nanti di shelter satu baru akan makan nasi yang tadi mereka beli.

Lihat sunset dari jalur
Golden hour
After sunset
Batalin puasa dulu
    Gelap mulai menemani perjalanan kami dan dengan jalur yang wow, berbatu dan menanjak yang membuat otot paha mulai kejang. Oh God, langit malam begitu cantik dengan full moon dan berhenti untuk foto-foto.


     Setelah aku selesai foto aku ikuti om cipit berjalan duluan dengan kaget berjumpa seorang bapak dan kedua anaknya duduk di pojokan. Aku pikir si bapak ini porter tapi ternyata bukan. Setelah di introgasi dengan tanya ini itu ternyata di bapak sedang membawa anaknya yang masih sd dan smp ke gunung sebagai hadiah naik kelas. Hanya dengan bersendal jepit, si anak pakai celana pendek, dan membawa tas kecil entah apa isinya. Seperti tidak terlihat naik gunung. Ehtahlah mungkin aku yang sering baca dan nonton tentang orang-orang yang naik gunung pasti hal yang dipakai adalah sepatu tracking dan tas yah day pack ataupun keril. Tapi berbeda sekali dengan si bapak ini. Sudah mengajarkan si anak untuk mencintai alam dan naik gunung. Setelah berbuka bersama si bapak dan kedua anaknya tidak lupa buah semangka juga disantap yang dengan senang hati Topik bawakan begitu nikmat terasa walau hanya cahaya senter yang menerangi. Kami berjalan dahulu meninggalkan si bapak yang masih ingin istirahat. 
      Duh track nya semakin susah dan semakin bikin ingin kembali turun ke bawah. Mau rutun ke bawah sendiri gelap dah ah lanjut aja. Sampai di pos 1 si bapak dan kedua anaknya sedang istirahat disana. Haduh kok jadi parno sendiri yah aku. Jangan jangan nih bapak utusannya mbak Marijan, perasaan aku si bapak belum menyalip kami selama di jalan, kenapa si bapak tiba-tiba sudah ada aja di pos 1. Usut punya usut ternyata si bapak melewati jalur evakuasi yang katanya lebih landai dan lebih cepat dari pada jalur utama. Mendengar penjelasan si bapak akhirnya aku dan teman-teman memutusakan untuk melanjutkan perjalanan mengikuti si bapak dan wow view ke bawah cantik dengan lampu-lampu di bawah dan bintang-bintang di langit  tidak mau kalah cantiknya. Memang jalurnya lebih banyak landai dan bertanah namun di sebelah kanan sudah jurang, jadi memang mesti hati-hati melewati jalur ini kalau di malam hari. Nanya si bapak kapan sampai si bapaknya bilang 15 menit lagi, yah aku sih percaya aja 15 menit di kali berapa gitu. Dan memang dengan perjuangan tiba juga kami sebelum batu Gajah dan tidak sanggup lagi untuk naik ke atas karena aku udah lapar dan kedinginan. Entah aku lupa dimana ngeletakin remot ac atau siapa yang sedang megang mohon di kecilin ac nya. Disinilah kami mendirikan 3 tenda. Sementara teman-teman sedang berusaha mendirikan tenda, aku memasak air panas untuk minum, eh yang ada kaki ketumpahan air mendidih dan memang terasa panas, tapi tidak lama. Mungkin udara dingin lebih kuat dari pada panas tadi. Tapi akhirnya berhasil juga teh jahe panas dibuat.
Di tenda 1 Riska, Topik dan Rangga sudah tidur, entah beneran tidur atau berusaha biar gak kedinginan, tenda 2 bang Ibeng, om Enzat, dan mbak Suci sedang seru membahas si dodol Lombok dan meleleh-meleleh, sedangkan di tenda 3 om Ucup dan Fahmie sudah mulai balapan dengkur. Sedangkan aku masih berusaha masak mie instan telur pedas, biar kenyang dan hangat. Eh pas dah matang hampir semua bangun dan datang mengambil porsi mereka masing-masing. Sambil masak pudding coklat, ngerokin buah belewah untuk bikin es buah besok pagi, motongin buncis dibantu Fahmie, dan siapin bahan-bahan untuk dimasak pas sahur mereka nanti.
Main-main ke tenda 2 eh tetiba di tenda 1 si Rangga dan Riska menggigil kedinginan. Hua takut juga nih mereka kenapa-napa, takut hypo. Bg Enzat sang kekasih tak sampainya Rangga mulai panik dari minta tolong mbak suci buatin mie kuah dan susu panas biar di makan Rangga dulu. Yah Rangga tidur tidak ganti baju dan baju saat daki itu dipakai lagi kan itu basah dan dia belum makan, yah menambah rasa dinginnya.
Pukul 3.00 wib om ucup manggil-manggil tak kirain dia kenapa bangun tidur mungkin dia kaget badannya tiba-tiba jadi langsing dan berbidang atau dia kaget pas buka mata pertama bukan wanita cantik yang di lihat tapi bulu-bulu Fahmie ha ha ha. Ternyata mau ngajak ke pasar burbah. Pingin ikut tapi udah janji mau masakin sahur untuk teman-teman dan dinginnya ini bener-bener.
Menu sahur nasi putih, tumis buncis dan jagung manis, ikan sarden, kornet, sambel tempe, dan es belewa pudding coklat. Lagi asiknya makan tiba-tiba terdengar suara dengkur yang bikin kami bertiga (aku, bg Enzat, dan pak Rangga) diam hening mencari sumber dengkuran di tenda 2. Dan saat di temukan asal suara itu kami sontak tertawa bersama.
Sunrise dari pasar Bubrah
Good morning sunshine
       Keluar tenda dan melihat garis lurus ciptaan Tuhan menandakan sang mentari segera terbit. Walau dingin, moment seperti ini untuk pertama kali aku lihat langsung dari gunung :) dan itu sungguh sangat luar biasa. Mungkin sudah banyak orang yang menulis atau menyebutkan kata “cantik, amazing, luar biasa, keren, sempurna dll” dan aku salah satu orang itu menyebutkan kata-kata itu. Walau kata2 itu mainstream tapi gak bisa bohong memang begitulah kalau dijabarkan dengan kata-kata. Memang foto bisa mengabadikannya namun memori ingatanlah yang bisa mengabadikan dan dapat aku nikmati sendiri di dalam kepala ku dengan cara kusendiri.



Entah apa yang dirumpiin pagi-pagi
aku dan pemandangan puncak g. Merapi
Sarapan pagi dulu & view g. Andong, G. Sindoro, G sumbing
Bunga Edelweis siap mekar
Mulai terang dan semakin terang, kami menyusul om Ucup dan Fahmie ke pasar burbah tanpa Topik. Karena Topik sedang menikmati waktunya bersama mimpi-mimpinya ke Komodo di dalam tenda. Ha ha ha. Jalan ke atas sih enak, tapi sepertinya turun ini adalah peer. 

Walau berbeda, hobi yang sama mempersatukan
Salah satu puncak lain di Merapi
Kondiri tracking ke pasar Bubrah
Bercengkrama apa ngegosip nih hehe
Jurus masing-masing
entahlah
      Termasuk beruntung ke gunung di saat bulan puasa, akan sepi. Lebih banyak orang yang datang untuk tektok ketimbang mereka ngecam. Serulah bisa foto-foto gak ada background orang-orang. cukup langit biru background, kayak pas photo 4x4 hahaha. Melihat dari atas tenda 3 sudah di bongkar. Sungguh terharu saat turun Topik sudah menyambut kami dengan senyum dan berkata “kalian jahara foto ku gak ada” hahaha.

Mau lompat tapi gak bisa yah berdiri ajalah


Mulai packing ulang dan foto team full tidak lupa juga dilakukan. Kita memang tidak naik sampai atas karena tujuan utama kita adalah pulang ke rumah dengan selamat. Tidak mau memaksakan fisik dan memang dilarang sampai atas apa lagi karna kasus kemaren. Tapi yang paling terutama dari terutama adalah untuk beryukur ke pada sang pencipta dan mendekatkan diri bahwa aku itu masih jauh lebih kecil dari semua ini. Aeh jadi terbawa kembali suasana di gunung  merenung kapan dapat kerja, kapan ini kapan itu yah semua itu memang sudah diatur sama Tuhan. Sudahlah jarang-jarang juga otakku normal, jadi lebih baik nikmati foto-foto sajalah.

Feel free yeiiiii

Bareng si bapak dan kedua anaknya
terbaaaaaaang
Fonomenal (tebak)
Kapal miring kapten
nih cewek-cewek tangguh hahaha
Sempat sedikit drama sih memilih jalur evakuasi yang tadi malam kami lewati atau jalur utama yang kita gak lewati pos 2. Setelah jalan kesana batal jalan kesini batal akhirnya lewat jalur utama, dengan alesan biar pernah lewat dan tau tracknya. Dan bener banget. Baru berapa meter jalan batuan yang lumayan ukurannya sudah menyambut seakan berteriak “ ha ha ha bentar lagi kalian akan jatuh”. Salah melangkah, salah ambil  ijakan kemungkinan jatuh akan sangat ada. Entah terpeleset atau guling-guling atau mungkin koprol. Kan belum pernah ada koprol di bebatuan dengan kemiringan seperti ini hahaha *abaikan.
Dan bener banget bikin mau nangis nih jalur. Batu-batu dan tanahnya ini sepertinya tidak akan pernah bersahabat sampai kami sampai di New Selo, itu kan namanya mati segan hidup pasti mau ha ha ha. Di depan bang Enzat, mbak Suci, dan bang Ibeng sudah duluan. Di belakang ku sisanya, nah aku ada di tengah-tengah. Kalau om Ucup dan Fahmie kali ini mereka sepakat untuk menjadi kura-kura. Bukan jalan bawa rumah, tapi bawa keril. Aku juga dong yah bisa dibilang kura-kura, kan bawa keril juga. Maksudnya jalannya diperpelan. Bukan karena unsur kesengajakan, tapi kaki mereka sudah terasa sakit, saat di pasar Bubrah kaki om Ucup sudah keseleo. Jadi mesti extra hati-hati.
Sedikit merasa bersalah juga sih ninggalin mereka di belakang dan mengejar 3 orang di depan sana. Bukan niat ninggalin yah om, hanya memang biar cepet sampe langsung tak cariin minuman dingin biar seger lagi *alesan.
Akibat salah injak aku terpeleset dan keril dan nyangkut di ranting pohon sampe sobek, dan nusuk ke paha. Untungnya celana tidak sampai sobek hanya aku yakin aka nada memar yang ditinggalin. Karena aku sampe menggelantung dipohon. Kalo gak seperti itu sudah pasti aku jatuh guling-guling ke bawah dan keril sobek. Toloooong…. Gak ada yang datang nolongin aku tuk lepas dari ranting pohon ini. Padahal mereka bertiga ada di bawah tikungan pas di bawah pohon ini. Yang bikin sakit dari pada paha yang ketusuk itu adalah terdengar suara dari bawah “ oh Tina yang jatuh.” dengan yang tidak menunjukan sedikitpun rasa khawatir tapi yang ada nada-nada ehtahlah kalau dijabarkan dari kata-kata seakan tidak ada apa-apa. Hisk kadang disitu saya ingin kembali naik ke puncak Merapi sajalah. Tetiba jadi teringat saat di gunung Ijen, aku sudah gak kuat jalan ke atas karena asap berenang, dan tidak ada yang nolong L. Tapi gak apa-apa, itu menunjukan kalau aku mampu berjuang disaat tersulit. Sombong.
Tiba di pos 1 Watu Belah ketemu lagi dengan si bapak yang tadi malam bareng ke atas bersama anaknya yang kecil, yang besar sudah duluan jalan turun kebawah, sedang memasak mie instan. Ah melihat itu kok rasanya pingin makan juga yah tetiba lapar. Berhubung teman-teman yang masih belum sampai di pos 1, aku dan bang Ibeng sepakat masak mie kuah pedes pakai telur. Gak tanggung-tanggung langsung 3 butir telur biar nih telur habis. Duh maaflah bang Enzat dan mbak Suci dan kalian yang ada di pos 1 yang sedang berpuasa. Kalau mau membatalkan puasanya hayuk aja :) dan siap-siap di keplak nih.
Pos 1
Semua anggota team sudah berkumbul dan istirahat, kami melanjutkan perjalanan yang si bapak tunjuk lewat jalur evakuali. Dan memang tidak ada batu-batu ditemui di sini, namun lebih dalam turunnya. Memang tetap mesti hati-hati. Lumayan banyak landai dan lebih cepat sepertinya. Namun disinilah mulai diadakan secara tidak resmi perlombaan jatuh yang tidak sengaja. Pertama adalah Topik karena uji coba potong jalur dan ngebuat jatuh. Melihat topik jatuh akhirnya kami yang lain mengambil jalan satunya biar jangan ikutan jatuh. Aku sudah jalan di depan, tetiba dari belakang terdengar lagi suara buuug. Yah ada lagi yang jatuh. Entah kami memang sudah gila atau apa, malah menjadi bahan lelucuan. Ada yang jatuh sampe berkali-kali, bahkan ada yang jatuh trus bilang “aku gak jatuh kok, aku lagi duduk” ha ha ha. Hampir semua kami jatuh dan 2 orang yang turun bareng juga jatuh di shalter 1, padahal mereka dari atas sudah ikut tertawa kalau ada yang jatuh. Jadi seperti ganjaran, siapa yang jatuh dan yang lain tertawa pasti yang tertawa itu akan terjatuh. Yah bang Enzat pas jatuh langsung bertumpu pada telapak tangan jadi pantat gak sampai tanah.
Jempol kakiku mulai terasa sakit karena aku juga pakai sepatu lari, jadi terasa sekali sakit dan menahan saat turun itu. Aku sudah mengangkat tangan dan melambaikan tangan menyerah tapi percuma karena gak ada kamera cctv disana L.
Alhasil hampir mendekati shalter 1, kejadian yang bikin semua tidak lagi tertawa adalah saat Topik jatuh dan bunyinya itu gede banget. Aku sudah lumayan dibawah, topik yang jatuh, dan posisi di atas sisanya sedang membantu satu dengan yang lain untuk turun agar tidak jatuh. Melihat itu temen-temen di atas gak bisa lari turun karena pasti akan jatuh juga, sedangkan Topik tidak bisa dibiarin gitu aja, pasti sangat sakit. Karena dia pemenang perlombaan ini sepertinya. Tanpa pikir panjang lagi dengan keril yang lumayan berat masih nempel di punggung, langsung lari keatas ngebantu Topik berdiri. Kasihan juga, ditambah dia puasa. Kami dah suru batalin aja puasa biar kuat, dia bilang pasti bisa kok sampe berbuka nanti.
Suatu pelajaran juga buat aku sendiri. Walau dalam keadaan yang sakit dan sulit seperti itu dengan medan yang gak mau berteman, menjaga iman dan komitmen kita ke sang pencipta dan menyerahkan semua kepada yang diatas dengan yakin, pasti kita mampu bertahan hingga akhir kesulitan. Yah, bangga dengan Topik. Terharu.
            Duh kaki udah kayak mau lepas nih, aku dan beng Enzat yang jalan duluan akhirnya memutuskan untuk naik ke kebun warga, dengan harapan bisa kebawah lewat kebun. Biar terhindar dari jatuh lagi. Berhasil. Lumayan juga bisa melewati jalur susah itu walau sedikit sih, setidaknya kaki ku dapat beristirahat melewati medan yang bikin mata kaki menangis.
            Hal yang paling aku inget banget saat sampai di New Selo, mata langsung tertuju pada es teh di depan. Aku tergoda, dan yah minum yang dingin-dingin bener-bener seger. Capek itu berasa ilang, itu bo’ong banget kalo capek ilang. Ha ha ha.
            Gak lengkap sepertinya kalau aku tidak menceritakan jejak perjalanku saat pulang dari gunung  Merapi, masa cuma cerita perjalanku saat berangkat. Riska menginjak gas mobil kembali ke Jogja, kayaknya Riska gak pernah injak rem atau belokan semua jadi lurus. Muah. Pusing. Ya, aku merasakan gejala itu. Tutup mata dan saat muka mata huueeaaaakkkk T___T keluar dari mulut dan untung gak liat apa itu yang keluar karena tutup mata. Akhirnya nyaman juga dan karena mengejar kereta ke Jakarta jam 17.55 wib, demi bang Ibeng dan Topik agar tidak ketinggalan tiket kereta, yah aku juga sih karena keretaku jam 18.58 wib ke Bandung.
       Sampe di Jogja, Rangga dan Fahmie langsung nganter ke st. Lempuyangan dan mbak Suci ke rumahnya. Itu adalah saat jam-jam jalanan akan macet karena jam buka puasa. Aku mandi dulu di kota Dege dan harap-harap cemas kapan Rangga dan Fahmie kembali ke kota gede buat jemput aku. Ah adzan maghrib sudah berkumandang, menandakan sudah buka puasa sedangkan mereka belum datang juga ke kota Gede. Akhirnya aku, bang Enzat dan Riska cari bukaan di pasar kota Gede. Sudah ketebak apa yang akan terjadi. Telat ke st. Lempuyangan dan tiket hangus. Berdiam diri tiba-tiba ada email masuk kalau tiket kereta ke Jakarta besok paginya an. Agustina Siringoringo. Wow, ada tiket kreta pulang besok. Malam ini tidurlah dulu di jogja bareng riska menunggu besok pagi berangkat ke Jakarta.
     Siapapun kalian aku berterimakasih banyak untuk trip gila kita reunian di gunung Merapi dengan apapun itu.
bye Yogyakarta...

***

*makasih foto-foto kalian sudah dibolehkan aku masukin. 
  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar