Rabu, 23 November 2016

Sailing Komodo - Eastrip #1

Kembali ke Timur Indonesia yaitu Nusa Tenggara Timur. Dari 2008 aku sudah meninggalkan jejak di provinsi yang banyak sekali pulau-pulau dan bahasa daerahnya. Kali ini untuk ketiga kalinya aku mengunjungi Labuan Bajo. Bukan hanya transit yah, karena sebelum-sebelumnya selalu transit saja disini.
Kali ini aku menjadi guide komodo dan flores, lebih tepatnya menjadi private guide Komodo untuk teman-teman dekat yang sudah menjadi virus jalan-jalanku.
 
Labuan bajo :D
Check-in dululah
Dengan penerbangan pertama Denpasar - Labuan Bajo tibalah di bandara Komodo (tahun lalu belum menjadi bandara Internasional karena belum diresmikan)l. Disini lengkaplah peserta untuk trip Komodo dan Flores ini, walau tanpa Danio karena ketinggalan pesawat dari Kupang. 
 
otw pelabuhan
Selama 4 hari 3 malam petualangan dimulai bersama kedepan temanku. Kami memilih untuk paket backpacker, yaitu dengan menggunakna kapal open deck. Untuk menginapnya di homestay alm. Herman (yang membantu ku untuk info dan itinerary selama di Komodo) di kampung Komodo. Namun di malam terakhir kami meilih untuk camping disalah satu pulau. Untung beberapa teman memang membawa tenda setelah turun dari gunung Rinjani dan tetap sebagian memilih untuk tidur di hammock. 
 
Komodo village
Our boat "Open deck"
moving
Ini destinasi trip Komodo selama 4 hari 3 malam:

- Pulau Kanawa : Pulau yang hanya berjarak 1 jam 20 menit dari labuan bajo dengan kapal motor adalah pulau yang cukup terkenal di lingkungan taman nasional Komodo karena kecantikan bawah lautnya dan view dari puncak pulau Kanawa. Tapi entah kenapa aku merasa berbeda sekarang daripada pertama kali aku menghabiskan 4 hari di pulau Kanawa tahun 2012 lalu.
 
Kanawa island
welcome to Kanawa
- Manta point : Berputar-putar mencari manta yang berenang dipermukaan namun tidak terlihat maka beralihkan pandangan ke pulau yang pasir putih disana. 

- Taka Makasar : Pulau kecil yang penuh dengan pasir putihnya ini berada di lingkungan manta point, dengan arus yang kencang dan air yang dingin tapi gak mengurangi niat untuk menghitamkan kulit disini.


- Pantai Namong : Pantai ini lebih pink dan lebih sepi dari pantai pink yang terkenal itu. Masih di pulau Komodo dan ini terletak di selatan pulau Komodo. Hanya kami di pulau ini seakan oantai pribadi.
 
Our team
Langga was here
- Loh Liang / Pulau Komodo : Di Taman Nasional Komodo hanya ada 2 tempat yang bisa melihat Komodo di alam liar ataupun bebas tanpa penghalang yaitu, Loh Liang (Pulau Komodo) dan Loh Buaya (Pulau Rinca). 
 
Welcome to komodo island




Komodo in Komodo island
Tracking in Loh Liang

 - Pantai Pink : Ini pantai yang terkenal itu loh, pantai yang berpasir pink dan kami datang di saat sudah mau sore jadi memang sepi sekali.


 - Loh Buaya / Pulau Rinca : Ini salah satu pulau yang bisa melihat kehidupan liat Komodo. Komodo disini ukurannya lebih kecil ketimbang yang di Loh Liang tapi lebih agresif.


Komodo in Rinca
Our team in Rinca

 - Pulau Gili Lawa Darat : Pulau yang berbatasan dengan pulau Komodo bagian utara ini adalah salah satu spot terbaik untuk menikmati sunset dan sunrise, namun mesti tracking. Ada 3 pilihan untuk tracking: 1. Long track dan ini memang lebih landau namun memerlukan waktu yang lebih lama. 2. Medium track sedikit menanjak dan lumayan landau 3. Short track ini yang paling banyak orang untuk lewati karena jaraknya lebih pendek namum lebih terjal dan lebih menantang.
Kami tiba dipulau ini siang hari dan memang panas, tapi terbayarkan dengan cantiknya gradasi warna dan view yang luar biasa. 
 
I was here

Tante Lynda was here

eastrip #1

- Pulau Padar : Dan pulau ini berada di selatan pulau Komodo, tracking kesini lebih tinggi daripada di pulau Gili Lawa Datar. Namun disini uniknya adalah dari atas bisa melihat 3 teluk dengan warna pasir/ pantai yang berbeda. Dari warna Pink, Putih, hingga hitam.
 
Padar island
Dea was here
- Pulau Kelor : Disini kami menghabiskan malam dengan membuat api unggun dan ikan bakar. Dimalam penuh taburan bintang keakraban kami semakin menjadi. Bermain bersama airnya yang hangat ditemani sunset dan beberapa kejadian lucu kami ciptakan. 

Enjoying the sunset
Dinner time
Me and the sunset
Good morning
Camping & hammocking
Pulau Kelor
Hammocking girls
Makan dulu yuk
Tidak banyak pulau yang kami datangi namun setiap cerita dan moment yang terjadi selalu spontanitas dan itu mampu membuat aku tertawa sendiri bisa mengingat moment itu.

Setibanya di Labuan Bajo kami langsung naik ke mini bus untuk melanjutkan perjalanan ke Denge, desa terakhir sebelum Waerebo.

Dengan mereka adalah teman-teman yang menggila bersama menyemangati kegilaanku untuk berkenala menggendok kerilku entah kemana dan sampai kapan. Trip Komodo ini adalah trip pertama untuk Eastrip. Private trip ke pulau Komodo dan Flores.
***


Nb: thanks buat temam-teman ada beberapa fotonya aku pakai dan maklum kalau warna foto beda-beda karena dari beberapa kamera dan setingan yang berbeda pula :D

Jumat, 28 Oktober 2016

Labirin laut di Mulut Seribu, Rote #1

Tulisan ini adalah tulisan ulang yang pernah aku tulis di salah satu web tentang travel. Perjalanannya ini di tahun 2012 dan sekarang sudah tahun 2016 ini berarti sudah 4 tahun yang lalu tapi ingatannya masih terasa sampai sekarang seakan baru kemarin terjadi.

18 Oktober 2012, aku bersama teman-teman penggila jalan yaitu kak Anet, kak Ary, kak Agatha, kak Yohanes, kak Donal, dan ko Jhon berhasil tiba di pelabuhan Papela pukul 12.00 pm. Nah pelabuhan Papela ini ada di kabupaten Rote Timur. Ini nama tempat ya, bukan nama makanan dari maluku "papeda" hahaha. 

Pelabuhan Papela

Dari pelabuhan inilah pintu menuju paradise. Bermain labirin di lautan adalah pengalaman pertamaku. Tujuan perjalanan kali ini adalah menikmati mulut 1000 atau labirin laut atau miniatur Raja Ampat. Nama ini aku yang menyebutnya. Tapi untuk masyarakat setempat menyebutnya adalah mulut 1000. Karena banyak sekali celah dan teluk-teluk di antara beberapa pulau. Sang kapten harus bisa membaca situasi laut dan alam agar bisa keluar dan masuk ke mulut 1000 dengan mudah. 

Tidak ada kapal-kapal pesiar seperti phinisi atau kapal live on board disini. Hanya kapal nelayan yang biasa disebut dengan "body" yang tersedia. Kapal body berarti tidak ada atapnya. Sudah bisa membayangkan bagaimana panasnya nanti. Oh iya, pulau Rote ini adalah bagian selatan Indonesia dan ada pulau Ndana (bagian dari pulau Rote) yang menjadi pulau pembatas antara Indonesia dan Australia. 

Body yang kami tumpangi

Sedikit was-was untuk naik kapal ini karena tidak ada life jacket dan aku tidak bisa berenang. Ya untung teman-temanku dan pak kapten bisa berenang jadi lebih sedikit tenang. Mulai mengambil posisi duduk dan bagian depan ditempati para pria dan belakang wanita. Sungguh panas sekali, maka mulai melumuri tubuh dengan sunblock, menutup kulit dengan jaket, topi, bahkan kain bali. Maklum dulu aku masih menjaga kulit agar tetap putih :D


Saat masuk ke teluk pertama warna laut yang hijau tosca dan memang seperti labirin selalu ada pintu dan celah yang bisa dilalui di teluk yang satu dan keluar diteluk yang alain. Pulau-pulau batu karang berdiri tegas dan air tenang yang membawa kami menikmati satu-persatu ciptaan Tuhan yang luar biasa ini. Aku saja yang belum pernah ke Raja Ampat berani menyebutkan ini adalah miniatur Raja Ampat karena banyak foto-foto dan video yang menunjukan bentuk dan cantiknya Raja Ampat. 




 


Untuk masyakarat setempat lokasi ini dijadikan sebagai tempat budidaya rumput laut katena air yang tenang dan tidak berombak cocok untuk sirumput laut tumbuh dengan sempurna. Yah walau menjadi nelayan masih menjadi pekerjaan utama mereka. 




Walau di body tetap mengabagikan foto-foto diri namun tidak lama kapten bilang kita sudah mau keluar dari mulut 1000 itu tandanya mesti menyimpan kamera dan benda elektronik lainnya. Karena akan memasuki laut lepas dengan ombak yang lebih berani. 




Tidak sadar ko Jhon menunjuk ke satu pantai pasir putih yang cantik sekali untuk stop disana dan bermain dengan air. Airnya yang jernih dan pasir putihnya seakaan memanggil untuk lompat dan merasakan hangatnya air laut di pulau Rote Timu. 

 



Bersambung...
***

Rabu, 26 Oktober 2016

Wish list tidur di Bandara

Kalau setiap tourist punya wish list buat tidur di hotel yang kece dari pemandangan dan semuanya aku punya wish list tidur ngemper di bandara hehe karena aku bukan tourist. Akhirnya wishlist ku terjadi di bandara Ngurah Rai Bali. Setelah penerbangan dari Lombok dan ingin melanjutkan penerbangan ke Labuan Bajo, Flores, Nusa Tenggara Timur di penerbangan pertama besok paginya maka aku mulai mencari posisi enak untuk meletakan ransel dan bobo cantik.

Ingin menitipkan barang di bandara dan pergi ke luar hitung-hitung bisa liat pantai yang terkenal itu di Bali, tapi biaya penitipan itu Rp 50.000,- / tas. wow aku dan teman-teman ada banyak tas jatuhnya banyak banget nih. Oke niat itu dibatalkan demi menghemat uang.

Menunggu sisa team Komodo yang dari Jakarta duduk bercerita dengan teman-teman. Selalu ada bahan untuk diceritakan dan sepertinya stoknya unlimited banget. Cerita ngawur ngidul sampe gak sadar lagi mata sudah tertutup dan ingin bobo cantik dan mimpi yang cantik juga. Karena aku memang sudah cantik.

Aku sudah memimpikan berdansa dengan komodo tapi dibawah alam sadar aku mendengar suara yang khas sekali. Suara bang Ibeng si kacamata. Entah drama apa lagi yang tercipta namun aku merasa tenang karena semua personil untuk trip Komodo hampir komplit, ya karena ada 2 orang lagi yang akan berjumpa di bandara Komodo besok pagi. 

Apalah daya ku yang seorang pengangguran ini hanya bisa membawa teman-temanku berbagi dan menciptakan pengalaman bersama di pulau Flores dan aku menjadi tour guide Flores mereka selama mereka bosan atau memang diharuskan kembali ke pekerjaan di ibu kota sana.

Tidur ngemper di bandara itu tidak seseram orang-orang lain katakan. Dingin karena ada ac dan merasa aman karena ada cctv dan petugas yang selalu mondar mandir buat ngecek. Akan lebih nyaman bila bersama teman-teman perjalanan. 

Jadi tidur di bandara masuk ke wish list mu atau gak???


***

Selasa, 25 Oktober 2016

#Rinjani 3 "Malam terpanjang"

"STOP! Matiin senter mu tin. Ada yang nyenter dari sana!" 
Deg! Dari tadi aku merinding karena ada sesuatu yang terjadi. 
Dan benar, ada cahaya senter dari depan. Yah, kami berpikir positif saja kalau ada pendaki lain yang sedang naik. Yang nekat atau gila seperti kami juga. Tapi cahaya itu hanya berkedip 3 kali. Seperti memberi tanda. Untung dulu saat sekolah belajar soal morse jadi tau dikit lah soal kode-kode. Tapi kalau kode untuk meluluhkan hati mu mah aku selalu salah eh. Jadi, dari ingatanku kalau 3 kali itu artinya perhatian. 

Eh iya, kalau kalian belum baca yang #1 dan #2 ini ada linknya http://travelingwithtinae.blogspot.co.id/2016/10/rinjani-1.html dan http://travelingwithtinae.blogspot.co.id/2016/10/rinjani-2-saat-kebodohan-menjadi_6.html :) 

Aku dan keenam temanku masih berdiri dan saat dekak jantung sudah tenang kami melanjutkan lagi berjalan. Karena sudah mulai diawali bulu kuduk berdiri dan si Fariz menambahkan kalau kita sudah masuk ke hutan ya. Kita harus selalu bersama karena kita tidak tahu apa yang terjadi didepan nanti.
Perjalanan mulai terasa jauh dan waktu berjalan terasa lambat sekali. Pohon-pohon besar dengan akar menjuntai. Udara pun semakin dingin menembus kulit bagian luar. Masih jam 2 pagi sudah terdengar suara ayam berkokok dengan harapan sudah mau dekat dengan perkampungan. Ternyata ini adalah suara dari ayam hutan atau ayam apapun itu.

Riza mulai memutarkan doa-doa dari hp nya dan kita saling bercerita untuk membantu agar jangan sampai tertidur di jalan. Nah susunan kami berjalan yaitu Fariz (karena dia yang paling kecil dan satu-satunya yang sudah pernah ke Rinjani), aku (yang takut tapi berusaha gak takut buat nemenin Fariz nyari jalur), Pak Bagus (dia bisa liat loh 🙊 liat hati kamu 😂), Riza (yang lagi kabur dari urusan skripsi yang bikin gemes), Wakid (si mas-mas yang temenin summit), pak Pur (pertama kali naik gunung dan summit pertama dalam hidupnya, dan terakhir pak Woko (memiliki langkah 1000 sangkin cepatnya jalan).

Batre hp Riza sudah mulai habis, maka aku menjadi radio kenangan yang rusak disetiap langkah. Cerita-ceritaku membantu sekali untuk membuat teman-teman tidak berjalan dengan pandangan kosong. Hingga berawal dari belakang yang sudah mulai bersuara capek, dan Riza jatuh karena jalan sambil tertidur. Oke kita istirahat lagi. Tidak ada stok makanan yang tersisa. Hanya puding yang sempat aku simpan untuk keadaan urgent. 


Salah seorang teman memberi masukan untuk tidur dulu atau buka tenda disini. Tapi aku lihat tidak ada tempat dan terus menyemangati untuk tetap berjalan dan bersama-sama. Cahaya senter pun mulai meredup dan batre habis. Lengkaplah rasa takut yang tersimpan namun aku harus sembunyikan untuk saat itu dan menjadi tegar. Saat aku lihat semua teman sudah lelah dan Fariz pun yang pimpin di depan mulai mendukung dengan fatigue nya. maka kami sepakat untuk tidur sebentar di jalur 30 menit. Dan aku memilih untuk bangun menjaga mereka dan membangunkan mereka disaat 30 menit waktu habis.
Hp ku yang satu sudah mati total dan tinggal hp yang cuma bisa putar musik dan hanya lagu rohani yang tersimpan. Suaraku yang tidak pernah merdu saat menyanyi kali ini lebih parah. Aku membuat alarm untuk 30 menit. Dimenit ke 29 seseorang jongkok disamping kananku dan berbisik dengan suara datar dan pelan "Bangun Tina. lanjut Jalan!" namun aku tidak menjawab dan hingga ketiga kalinya dengan suara yang lebih kencang dan tegas. "BANGUN TINA, LANJUT JALAN" sontak mataku melitik kekanan dan dia sedang jongkok dan melihatku dengan tatapan kosong. Seketika kepalaku membesar sekali dan alarm di hp pun berbunyi aku langsung berdiri memberanikan diri dan membangunkan satu-persatu teman-teman yang sudah terlelap. Maafkan aku teman harus membangunkan kalian karena suasana semakin horor. Satu orang yang terakhir susah sekali dibangunkan.

Radio kenangan yang memboskan kembali diceritakan dan rasa kantuk semakin menjadi. Aku tidak menceritakan pada mereka dan membuat semua tidak terjadi. Namun aku masih memikirkan itu. Itu nyata. Untuk pertama kali aku melihat dengan mata sendiri kalau dia dekat sekali denganku dan suaranya jelas sekali di telinga. Ini bukan mimpi ataupun halusinasi. (Nulis ini aja aku mesti memberanikan diri dan putar musik kuat-kuat, masih suka merinding sendiri kalau ingat kembali kejadian itu).

Malam itu adalah malam yang terpanjang yang pernah aku jalani dalam hidupku. Dari pos 3 ke pos 2 sepertinya tidak ada ujung. Bahkan pos bayangan pun tidak terlihat tanda-tandanya hingga tiba kaki ini mau melangkah  ke dataran yang sepertinya bisa mendirikan tenda. Tetiba ada sesuatu yang terbang dari sebelah kiri dan hanya pohon itu saja yang menarikan daun-daunnya. Saat kita mencoba senter apa yang ada disana, kepala membesar dan badan semakin berat susah untuk melangkah. Pak Bagus sempet bilang "jangan disenter, Tin gimana?" Aku mencoba menguatkan diri dan mendorong Fariz untuk tetap berjalan dan mengabaikan yang mengganggu. Namun Fariz tidak bisa melangkahkan kakinya. 

Ini sudah tidak benar lagi, maka aku kumpulkan semua dan merapat serapat-rapatnya "sebelum melanjutkan jalan mari kita berdoa dengan kepercayaan kita masing-masing. Berdoa dimulai." walau sudah selesai berdoa aku tetap menyuru untuk berdoa hingga kepala yang besar ini kembali ke size yang normal dan langkah kaki kembali normal. "Berdoa selesai." semakin terkejut saat di depan kami ada sesuatu yang aku tidak bisa jabarkan apa itu bentuknya, kalau aku melihat itu anjing dan baju warna putih, teman yang satu melihat itu rusa, ada juga yang melihat itu kantong plastik dan ya itu abstrak. Tetiba seekor anjing berjalan perlajan dari kejauhan ke arah kami. Langsung membuat formasi 3 laki-laki didepan dengan trackpoll, aku dan Riza di tengah dan 2 laki-laki lagi di belakang. 

"Yuk gak papa kok itu, itu cuma anjing" ajakku
"Gak ah mbak Tin." tolak Fariz.
dan satu ekor lagi anjing menyusul dari belakang. Mulai panik dan mulai mengambil posisi. Mulai merasa tenang saat melihat seorang pendaki berjalan kearah kami. Satu hal yang ingin aku pastikan itu adalah kakinya napak. Dia pendaki bule sendirian di jam 3.30 pagi sudah tiba disana. Entah jam berapa dia memulai mendaki. Tidak jauh dari pria itu ada seorang pendaki dan porternya berjalan. Dan kita sempat bilang tadi ada pendaki bule sendirian dan didepannya ada 2 anjing. Si bapak porter bilang kalau anjing itu guide nya si Bule dan cuma 1 anjing. What???

Suasana sudah tenang kami melanjutkan perjalanan dan tiba juga di pos 2 yang penuh dengan tenda. Dengan jelas kami mengenali tenda ini, karena mereka adalah group dari "trash bag community". Kelelahan yang sangat membuat kami tidak bisa lagi untuk mendirikan tenda dan tidur seadanya di jalur dengan udara yang semakin dingin. Aku dan pak Bagus memilih untuk tidur menyelip di teman-teman pendaki yang sedang menyalakan api untuk menghangatkan tubuh dan berakhir tidur di bale-bale pos 2. 

Dingin yang menusuk sampai tulang tidak kurasakan lagi saat berjumpa dengan pendaki lain di pos 2 yang terkenal paling serem di hutan senaru Rinjani. Bahkan aku dan pak Bagus disuguhi "bubur sendal" duh rasanya itu makanan yang paling enak saat itu hahaha.

Rasa hangat dari matahari mulai terasa dan akhirnya melanjutkan perjalanan hingga kebawah. Tetap sama, jalanan hanya bonus namun seperti tidak ada ujung yang bikin penasaran dan letih. Saat melihat rumah-rumah dan gerbang Senaru kaki langsung lemas dan airmata hampir menetes. Terharu dengan pengalaman yang luar biasa di malam yang panjang bersama keenam teman terbaik selama tracking. 

Akan selalu ada perdebatan dan tawa bersama teman perjalanan yang akan menciptakan semua kenangan yang layak untuk diingat dan nanti akan membuat senyum-senyum sendiri disaat waktu kita tidak sama dan jarak kita juga tidak dekat lagi. Maka hanya pengalaman kenangan yang selalu ada.

Thankyou my "Rinjani team" sudah membawaku membuat pengalaman yang tak terlupakan di awal perjalan panjangku yang aku sendiri belum tahu hapan akan berakhir.



***

Kamis, 06 Oktober 2016

Rinjani #2 “Saat kebodohan menjadi kekompakan yang luar biasa”

Rinjani team
Yang dikatakan orang-orang itu benar, rasa letih akan terbayar setibanya di puncak. Hal itu aku sarakan untuk pertama kali merasakan kebahagiaan yang mampu meneteskan airmata. Rasa sakit kaki, perut, kantuk dan lapar pun seperti hilang seketika saat kedua kaki ini berhasil membawa badanku pada ketinggian 3726 mdpl.


kegilaan aku dan Fariz
Tidur sejenak di hammock adalah hal yang paling bahagia setelah bersusah payah mendaki dan lebih susah lagi saat turun. Setiba di lokasi camp tidak ada makanan yang bisa membuat perut kenyang. Alhasil setelah masak, makan, dan mandi memanjakan tubuh bergelantungan di celah pohon. http://travelingwithtinae.blogspot.co.id/2016/10/rinjani-1.html ini link Rinjani #1. Jadi lebih baik baca dari #1 baru ke #2 biar ceritanya sedikit nyambung. Ya disambung-sambungin aja deh :)

Orang tua pernah bilang “jangan terlalu terlena nak, perjalanan masih panjang”. Kalau dibilang sudah segar dan siap untuk melanjutkan perjalanan turun ke danau rasanya bohong banget. Masih ingin bersantai di hammock dan masih belum terkumpul penuh tenaga ini. Namun semangat teman-teman team yang memunculkan untuk melanjutkan perjalanan.

Setidaknya aku dapat menikmati sunset 2 kali di Sembalun-Plawangan ini, kemarin dan hati itu hehehe. Setelah menikmati sunset dan teman-teman selesai sholat, kami melanjutkan perjalanan di jam 6 sore tanpa porter. Maka dari sini kami membawa dan bertanggung jawab dengan barang bawaan juga keselamatan satu team.

my 2snd sunset at Rinjani
Siap buat lanjut berjalan

Dari hasil kepo ke porter yang lain menanyakan berapa jam perjalanan turun dan mereka bilang hanya 3 jam. Oke aku tambahin 1 jam jadi 4 jam karena mereka sudah terbiasa naik turun di lokasi ini maka extra 1 jam itu untuk aku dan teman-teman yang baru pertama kali juga kesini. Terlihat dekat namun berjalan saat gelap memang membuat konsentrasi semakin besar.

Awal sih semangat 45 ditambah gugusan bintang menemani sungguh cantik. Ingin rasanya mengabadikan dengan kamera, tapi mata lebih serakah rupanya. Hanya ingin dinikmati dan diabadikan di memori otak dan hati. Tuhan memang sungguh luar biasa. Sungguh kagum dengan yang aku rasakan. Saat siang langit biru dan danau yang cantik bahkan awan pun berada di bawah kaki dan tiba malam langit hitam namun begitu bersinar dengan milkyway nya. 

Kondisi saat turun ini mesti lebih hati-hati, bisa-bisa kepeleset dan harus selalu bersama-sama di satu team. Saling bercerita, curhat dan tertawa mengisi malam yang sepi. Sudah 4 jam berjalan namun tanda-tanda letak danau pun belum terlihat. Teman-teman sudah mulai lelah dan ingin rasanya beristirahat. Mulai sedikit jiper saat aku mendengar suara yang entah dari mana asalnya namun teman-teman lain tidak ada yang mendengar. Okeh aku berpura-pura tidak ada masalah dan aku tetap berjalan di depan menyemangati mereka dan lebih tepatnya diri sendiri sambil bilang “ yuk dikit lagi. Gak ada apa-apa kok” :D Kami saling menyemangati hingga tiba juga di tepi danau pukul 12.00 am. Wow 6 jam berjalan di malam hari.

Udara semakin dingin dan ingin rasanya menghangatkan tubuh dengan air panas dan tidur yang nyaman. Memang ada  hot spring didekat sini, ingin kesana tapi sudah tidak sanggup lagi biarlah dengan minum air panas dan makan malam yang dimasak menjadi penghangat tubuh.
Salah satu dari kami mulai kedinginan, entahlah dia terlihat pucat dan dia memang bilang sakit. Maka yang tadinya mau menyelip di tenda yang isinya 2 orang maka aku mesti stay di tenda yang isi 2 orang. Badannya lemas dan dingin, mulai parno jangan sampai hypo. Saat ku Tanya masih aman? Dia Cuma bilang “aku lapar” oke ini artinya dia kelaparan hahaha.

Oh iya, aku belum mengenalkan personil Rinjani team –nya aku. Kalau aku jabarin dari paling tua hingga paling muda bisa-bisa tulisanku penuh dengan biodata diri mereka. Nah mereka ini adalah pak Bagus, pak Pur, Fariz, pak Woko, pak Wahid, Riza, dan aku. Ini panggil pak bukan karena mereka sudah tua hanya biasa di panggil seperti itu. Tapi untuk pak yang mata sipit sih sepertinya memang sudah Tua hehehe (pis :p)

Malam ini tubuhku sudah mulai terbiasa dengan dinginnya gunung. Tidur pun rasanya nyenyak. Terbangun dipagi hari karena kebelet pingin pipis :D ups. Di tetangga sebelah ada yang sedang menghangatkan tubuh di bara dan menikmati kopi (dari aromanya sih sepertinya kopi) saat ditawari aku menolak. Bukan sok jaim atau apa, hanya  aku tidak minum kopi. Eh pas ditawari teh jahe cus deh langsung bilang iya.


Menikmati teh panas di tepi danau

Mentari mulai naik dan saat aku melihat ke puncak, 24 jam yang lalu aku disana dan sekarang aku disini dengan view yang tidak kalah cantik. Perpaduan gunung dan danau. Beberapa ada yang sedang memancing, dan wah didanau ini banyak ikan. Entah siapa orang yang pertama membawa sepasang ikan dan melepaskannya. Karena ini adalah danau dari hasil letusan gunung berapi. Dan gunung Rinjani masih aktif.


Hasil pancingan tetangga :D
Kebersamaan kami semakin kompak saat sebagian mengambil air untuk minum dan sebagian memasak. Kebodohan kami pun mulai terlihat. Beberapa tenda sudah mulai dibongkar dan mereka kembali melanjutkan perjalanan naik ke Sembalun-Plawangan atau naik ke Senaru-Plawangan. Tenda kami dan beberapa yang lain masih setia di pinggir danau.

Masak dulu 
Add caption



Kali ini perut dimanjakan dengan makanan-makan yang sehat juga bikin kenyang. Memang sengaja tidak membawa piring yang banyak karena untuk menghemat air dan saat makan di 1 tempat membuat kebersamaan semakin mesra. Sifat asli teman jalan semakin terlihat saat makan. Siapa yang sudah mengincar ini dan itu, kemudian siapa yang makan cepat-cepat karena kelaparan atau memang suka makan :D momen makan di danau ini masih teringat segar di ingatanku. Bagaimana tidak terjadi perang mata antara pak Woko dan pak Bagus Hahaha. Setelah makan kami ke air panas untuk merenggangkan otot. Di siang hari berendam di air panas sungguh luar biasa. Setelah itu muka mulai belang-belang karena panas. Terutama hidung terbakar.

Siap untuk membakar kulit :)
Walau panas matahari tetap berendam di air panas

Packing. Salah satu hal bikin gereget. Karena hasil packing yang kesekian kali akan sangat berbeda rasanya dengan packing yang pertama. Entah kenapa packing kali ini semakin banyak saja dan berat. Berat, karena badan sudah nyaman dan ingin tidur harus tetap semangat untuk kembali pulang.

Mendengar beberapa teman pendaki mereka kembali melewati jalur baru dan hanya 4 jam saja tiba di Sembalun. Aku mulai merasa ragu benar tidaknya 4 jam karena kemarin 3 jam dan nyata yang aku lalui adalah 6 jam. Entah bagaimana kami sepakat untuk lewat jalur itu juga, tapi 1 pun tidak ada yang tahu jalur itu. Fariz, satu-satunya orang yang sudah pernah kesini dan dia hanya tahu jalur lewat Senaru atau Sembalun. Sayangnya kami sadar akan kebohohan kami untuk pulang melewati Senaru setelah bahan makanan dihabiskan di danau :(

Hanya mie instan dan air untuk minum yang tersisa. Gas juga sudah mulai menipis. Jam 4 sore kami mulai berjalan melewati pinggiran danau hingga perlahan mendaki ke Senaru-Plawangan. Kami tidak berjumpa dengan para pendaki yang yang naik ataupun turun. Ini adalah perjalanan malam yang ke 4 selama mendaki gunung Rinjani. Berhentilah kami di aku sendiri tidak tahu nama tempat itu. Ada 1 team yang sudah membuka tenda tanda mereka akan bermalam disana, dan akan melanjutkan perjalanan besok pagi. Rasa lapar mulai menuntut kembali. Namun kami hanya makan mie instan dan gas pun rupanya sudah mau habis L. Bersyukur porter dari tenda tetangga memberikan nasi, jadi tenaga mulai terisi. Aku sudah punya firasat gak enak nih. Pasti ada yang hal-hal yang mulai kita akan debatkan nanti nya.

Benar sekali, sudah mulai lelah dan kantuk. Argument kecil pun mulai terdengar antara buka tenda atau lanjut berjalan. Sedangkan sudah pukul 12.00 am kami tiba di Senaru-Plawangan. Menginat ini dan itu juga pertimbangan ini dan itu, keputusan akhir kami adalah kembali nekat. Entahlah ini nekat atau bodoh melanjutkan perjalan turun ke Senaru melewati hutan Senaru di tengah malam.

***

Bersambung…
Nb: Terimakasih buat teman-teman beberapa foto aku comot :D