Jumat, 28 Oktober 2016

Labirin laut di Mulut Seribu, Rote #1

Tulisan ini adalah tulisan ulang yang pernah aku tulis di salah satu web tentang travel. Perjalanannya ini di tahun 2012 dan sekarang sudah tahun 2016 ini berarti sudah 4 tahun yang lalu tapi ingatannya masih terasa sampai sekarang seakan baru kemarin terjadi.

18 Oktober 2012, aku bersama teman-teman penggila jalan yaitu kak Anet, kak Ary, kak Agatha, kak Yohanes, kak Donal, dan ko Jhon berhasil tiba di pelabuhan Papela pukul 12.00 pm. Nah pelabuhan Papela ini ada di kabupaten Rote Timur. Ini nama tempat ya, bukan nama makanan dari maluku "papeda" hahaha. 

Pelabuhan Papela

Dari pelabuhan inilah pintu menuju paradise. Bermain labirin di lautan adalah pengalaman pertamaku. Tujuan perjalanan kali ini adalah menikmati mulut 1000 atau labirin laut atau miniatur Raja Ampat. Nama ini aku yang menyebutnya. Tapi untuk masyarakat setempat menyebutnya adalah mulut 1000. Karena banyak sekali celah dan teluk-teluk di antara beberapa pulau. Sang kapten harus bisa membaca situasi laut dan alam agar bisa keluar dan masuk ke mulut 1000 dengan mudah. 

Tidak ada kapal-kapal pesiar seperti phinisi atau kapal live on board disini. Hanya kapal nelayan yang biasa disebut dengan "body" yang tersedia. Kapal body berarti tidak ada atapnya. Sudah bisa membayangkan bagaimana panasnya nanti. Oh iya, pulau Rote ini adalah bagian selatan Indonesia dan ada pulau Ndana (bagian dari pulau Rote) yang menjadi pulau pembatas antara Indonesia dan Australia. 

Body yang kami tumpangi

Sedikit was-was untuk naik kapal ini karena tidak ada life jacket dan aku tidak bisa berenang. Ya untung teman-temanku dan pak kapten bisa berenang jadi lebih sedikit tenang. Mulai mengambil posisi duduk dan bagian depan ditempati para pria dan belakang wanita. Sungguh panas sekali, maka mulai melumuri tubuh dengan sunblock, menutup kulit dengan jaket, topi, bahkan kain bali. Maklum dulu aku masih menjaga kulit agar tetap putih :D


Saat masuk ke teluk pertama warna laut yang hijau tosca dan memang seperti labirin selalu ada pintu dan celah yang bisa dilalui di teluk yang satu dan keluar diteluk yang alain. Pulau-pulau batu karang berdiri tegas dan air tenang yang membawa kami menikmati satu-persatu ciptaan Tuhan yang luar biasa ini. Aku saja yang belum pernah ke Raja Ampat berani menyebutkan ini adalah miniatur Raja Ampat karena banyak foto-foto dan video yang menunjukan bentuk dan cantiknya Raja Ampat. 




 


Untuk masyakarat setempat lokasi ini dijadikan sebagai tempat budidaya rumput laut katena air yang tenang dan tidak berombak cocok untuk sirumput laut tumbuh dengan sempurna. Yah walau menjadi nelayan masih menjadi pekerjaan utama mereka. 




Walau di body tetap mengabagikan foto-foto diri namun tidak lama kapten bilang kita sudah mau keluar dari mulut 1000 itu tandanya mesti menyimpan kamera dan benda elektronik lainnya. Karena akan memasuki laut lepas dengan ombak yang lebih berani. 




Tidak sadar ko Jhon menunjuk ke satu pantai pasir putih yang cantik sekali untuk stop disana dan bermain dengan air. Airnya yang jernih dan pasir putihnya seakaan memanggil untuk lompat dan merasakan hangatnya air laut di pulau Rote Timu. 

 



Bersambung...
***

Rabu, 26 Oktober 2016

Wish list tidur di Bandara

Kalau setiap tourist punya wish list buat tidur di hotel yang kece dari pemandangan dan semuanya aku punya wish list tidur ngemper di bandara hehe karena aku bukan tourist. Akhirnya wishlist ku terjadi di bandara Ngurah Rai Bali. Setelah penerbangan dari Lombok dan ingin melanjutkan penerbangan ke Labuan Bajo, Flores, Nusa Tenggara Timur di penerbangan pertama besok paginya maka aku mulai mencari posisi enak untuk meletakan ransel dan bobo cantik.

Ingin menitipkan barang di bandara dan pergi ke luar hitung-hitung bisa liat pantai yang terkenal itu di Bali, tapi biaya penitipan itu Rp 50.000,- / tas. wow aku dan teman-teman ada banyak tas jatuhnya banyak banget nih. Oke niat itu dibatalkan demi menghemat uang.

Menunggu sisa team Komodo yang dari Jakarta duduk bercerita dengan teman-teman. Selalu ada bahan untuk diceritakan dan sepertinya stoknya unlimited banget. Cerita ngawur ngidul sampe gak sadar lagi mata sudah tertutup dan ingin bobo cantik dan mimpi yang cantik juga. Karena aku memang sudah cantik.

Aku sudah memimpikan berdansa dengan komodo tapi dibawah alam sadar aku mendengar suara yang khas sekali. Suara bang Ibeng si kacamata. Entah drama apa lagi yang tercipta namun aku merasa tenang karena semua personil untuk trip Komodo hampir komplit, ya karena ada 2 orang lagi yang akan berjumpa di bandara Komodo besok pagi. 

Apalah daya ku yang seorang pengangguran ini hanya bisa membawa teman-temanku berbagi dan menciptakan pengalaman bersama di pulau Flores dan aku menjadi tour guide Flores mereka selama mereka bosan atau memang diharuskan kembali ke pekerjaan di ibu kota sana.

Tidur ngemper di bandara itu tidak seseram orang-orang lain katakan. Dingin karena ada ac dan merasa aman karena ada cctv dan petugas yang selalu mondar mandir buat ngecek. Akan lebih nyaman bila bersama teman-teman perjalanan. 

Jadi tidur di bandara masuk ke wish list mu atau gak???


***

Selasa, 25 Oktober 2016

#Rinjani 3 "Malam terpanjang"

"STOP! Matiin senter mu tin. Ada yang nyenter dari sana!" 
Deg! Dari tadi aku merinding karena ada sesuatu yang terjadi. 
Dan benar, ada cahaya senter dari depan. Yah, kami berpikir positif saja kalau ada pendaki lain yang sedang naik. Yang nekat atau gila seperti kami juga. Tapi cahaya itu hanya berkedip 3 kali. Seperti memberi tanda. Untung dulu saat sekolah belajar soal morse jadi tau dikit lah soal kode-kode. Tapi kalau kode untuk meluluhkan hati mu mah aku selalu salah eh. Jadi, dari ingatanku kalau 3 kali itu artinya perhatian. 

Eh iya, kalau kalian belum baca yang #1 dan #2 ini ada linknya http://travelingwithtinae.blogspot.co.id/2016/10/rinjani-1.html dan http://travelingwithtinae.blogspot.co.id/2016/10/rinjani-2-saat-kebodohan-menjadi_6.html :) 

Aku dan keenam temanku masih berdiri dan saat dekak jantung sudah tenang kami melanjutkan lagi berjalan. Karena sudah mulai diawali bulu kuduk berdiri dan si Fariz menambahkan kalau kita sudah masuk ke hutan ya. Kita harus selalu bersama karena kita tidak tahu apa yang terjadi didepan nanti.
Perjalanan mulai terasa jauh dan waktu berjalan terasa lambat sekali. Pohon-pohon besar dengan akar menjuntai. Udara pun semakin dingin menembus kulit bagian luar. Masih jam 2 pagi sudah terdengar suara ayam berkokok dengan harapan sudah mau dekat dengan perkampungan. Ternyata ini adalah suara dari ayam hutan atau ayam apapun itu.

Riza mulai memutarkan doa-doa dari hp nya dan kita saling bercerita untuk membantu agar jangan sampai tertidur di jalan. Nah susunan kami berjalan yaitu Fariz (karena dia yang paling kecil dan satu-satunya yang sudah pernah ke Rinjani), aku (yang takut tapi berusaha gak takut buat nemenin Fariz nyari jalur), Pak Bagus (dia bisa liat loh 🙊 liat hati kamu 😂), Riza (yang lagi kabur dari urusan skripsi yang bikin gemes), Wakid (si mas-mas yang temenin summit), pak Pur (pertama kali naik gunung dan summit pertama dalam hidupnya, dan terakhir pak Woko (memiliki langkah 1000 sangkin cepatnya jalan).

Batre hp Riza sudah mulai habis, maka aku menjadi radio kenangan yang rusak disetiap langkah. Cerita-ceritaku membantu sekali untuk membuat teman-teman tidak berjalan dengan pandangan kosong. Hingga berawal dari belakang yang sudah mulai bersuara capek, dan Riza jatuh karena jalan sambil tertidur. Oke kita istirahat lagi. Tidak ada stok makanan yang tersisa. Hanya puding yang sempat aku simpan untuk keadaan urgent. 


Salah seorang teman memberi masukan untuk tidur dulu atau buka tenda disini. Tapi aku lihat tidak ada tempat dan terus menyemangati untuk tetap berjalan dan bersama-sama. Cahaya senter pun mulai meredup dan batre habis. Lengkaplah rasa takut yang tersimpan namun aku harus sembunyikan untuk saat itu dan menjadi tegar. Saat aku lihat semua teman sudah lelah dan Fariz pun yang pimpin di depan mulai mendukung dengan fatigue nya. maka kami sepakat untuk tidur sebentar di jalur 30 menit. Dan aku memilih untuk bangun menjaga mereka dan membangunkan mereka disaat 30 menit waktu habis.
Hp ku yang satu sudah mati total dan tinggal hp yang cuma bisa putar musik dan hanya lagu rohani yang tersimpan. Suaraku yang tidak pernah merdu saat menyanyi kali ini lebih parah. Aku membuat alarm untuk 30 menit. Dimenit ke 29 seseorang jongkok disamping kananku dan berbisik dengan suara datar dan pelan "Bangun Tina. lanjut Jalan!" namun aku tidak menjawab dan hingga ketiga kalinya dengan suara yang lebih kencang dan tegas. "BANGUN TINA, LANJUT JALAN" sontak mataku melitik kekanan dan dia sedang jongkok dan melihatku dengan tatapan kosong. Seketika kepalaku membesar sekali dan alarm di hp pun berbunyi aku langsung berdiri memberanikan diri dan membangunkan satu-persatu teman-teman yang sudah terlelap. Maafkan aku teman harus membangunkan kalian karena suasana semakin horor. Satu orang yang terakhir susah sekali dibangunkan.

Radio kenangan yang memboskan kembali diceritakan dan rasa kantuk semakin menjadi. Aku tidak menceritakan pada mereka dan membuat semua tidak terjadi. Namun aku masih memikirkan itu. Itu nyata. Untuk pertama kali aku melihat dengan mata sendiri kalau dia dekat sekali denganku dan suaranya jelas sekali di telinga. Ini bukan mimpi ataupun halusinasi. (Nulis ini aja aku mesti memberanikan diri dan putar musik kuat-kuat, masih suka merinding sendiri kalau ingat kembali kejadian itu).

Malam itu adalah malam yang terpanjang yang pernah aku jalani dalam hidupku. Dari pos 3 ke pos 2 sepertinya tidak ada ujung. Bahkan pos bayangan pun tidak terlihat tanda-tandanya hingga tiba kaki ini mau melangkah  ke dataran yang sepertinya bisa mendirikan tenda. Tetiba ada sesuatu yang terbang dari sebelah kiri dan hanya pohon itu saja yang menarikan daun-daunnya. Saat kita mencoba senter apa yang ada disana, kepala membesar dan badan semakin berat susah untuk melangkah. Pak Bagus sempet bilang "jangan disenter, Tin gimana?" Aku mencoba menguatkan diri dan mendorong Fariz untuk tetap berjalan dan mengabaikan yang mengganggu. Namun Fariz tidak bisa melangkahkan kakinya. 

Ini sudah tidak benar lagi, maka aku kumpulkan semua dan merapat serapat-rapatnya "sebelum melanjutkan jalan mari kita berdoa dengan kepercayaan kita masing-masing. Berdoa dimulai." walau sudah selesai berdoa aku tetap menyuru untuk berdoa hingga kepala yang besar ini kembali ke size yang normal dan langkah kaki kembali normal. "Berdoa selesai." semakin terkejut saat di depan kami ada sesuatu yang aku tidak bisa jabarkan apa itu bentuknya, kalau aku melihat itu anjing dan baju warna putih, teman yang satu melihat itu rusa, ada juga yang melihat itu kantong plastik dan ya itu abstrak. Tetiba seekor anjing berjalan perlajan dari kejauhan ke arah kami. Langsung membuat formasi 3 laki-laki didepan dengan trackpoll, aku dan Riza di tengah dan 2 laki-laki lagi di belakang. 

"Yuk gak papa kok itu, itu cuma anjing" ajakku
"Gak ah mbak Tin." tolak Fariz.
dan satu ekor lagi anjing menyusul dari belakang. Mulai panik dan mulai mengambil posisi. Mulai merasa tenang saat melihat seorang pendaki berjalan kearah kami. Satu hal yang ingin aku pastikan itu adalah kakinya napak. Dia pendaki bule sendirian di jam 3.30 pagi sudah tiba disana. Entah jam berapa dia memulai mendaki. Tidak jauh dari pria itu ada seorang pendaki dan porternya berjalan. Dan kita sempat bilang tadi ada pendaki bule sendirian dan didepannya ada 2 anjing. Si bapak porter bilang kalau anjing itu guide nya si Bule dan cuma 1 anjing. What???

Suasana sudah tenang kami melanjutkan perjalanan dan tiba juga di pos 2 yang penuh dengan tenda. Dengan jelas kami mengenali tenda ini, karena mereka adalah group dari "trash bag community". Kelelahan yang sangat membuat kami tidak bisa lagi untuk mendirikan tenda dan tidur seadanya di jalur dengan udara yang semakin dingin. Aku dan pak Bagus memilih untuk tidur menyelip di teman-teman pendaki yang sedang menyalakan api untuk menghangatkan tubuh dan berakhir tidur di bale-bale pos 2. 

Dingin yang menusuk sampai tulang tidak kurasakan lagi saat berjumpa dengan pendaki lain di pos 2 yang terkenal paling serem di hutan senaru Rinjani. Bahkan aku dan pak Bagus disuguhi "bubur sendal" duh rasanya itu makanan yang paling enak saat itu hahaha.

Rasa hangat dari matahari mulai terasa dan akhirnya melanjutkan perjalanan hingga kebawah. Tetap sama, jalanan hanya bonus namun seperti tidak ada ujung yang bikin penasaran dan letih. Saat melihat rumah-rumah dan gerbang Senaru kaki langsung lemas dan airmata hampir menetes. Terharu dengan pengalaman yang luar biasa di malam yang panjang bersama keenam teman terbaik selama tracking. 

Akan selalu ada perdebatan dan tawa bersama teman perjalanan yang akan menciptakan semua kenangan yang layak untuk diingat dan nanti akan membuat senyum-senyum sendiri disaat waktu kita tidak sama dan jarak kita juga tidak dekat lagi. Maka hanya pengalaman kenangan yang selalu ada.

Thankyou my "Rinjani team" sudah membawaku membuat pengalaman yang tak terlupakan di awal perjalan panjangku yang aku sendiri belum tahu hapan akan berakhir.



***

Kamis, 06 Oktober 2016

Rinjani #2 “Saat kebodohan menjadi kekompakan yang luar biasa”

Rinjani team
Yang dikatakan orang-orang itu benar, rasa letih akan terbayar setibanya di puncak. Hal itu aku sarakan untuk pertama kali merasakan kebahagiaan yang mampu meneteskan airmata. Rasa sakit kaki, perut, kantuk dan lapar pun seperti hilang seketika saat kedua kaki ini berhasil membawa badanku pada ketinggian 3726 mdpl.


kegilaan aku dan Fariz
Tidur sejenak di hammock adalah hal yang paling bahagia setelah bersusah payah mendaki dan lebih susah lagi saat turun. Setiba di lokasi camp tidak ada makanan yang bisa membuat perut kenyang. Alhasil setelah masak, makan, dan mandi memanjakan tubuh bergelantungan di celah pohon. http://travelingwithtinae.blogspot.co.id/2016/10/rinjani-1.html ini link Rinjani #1. Jadi lebih baik baca dari #1 baru ke #2 biar ceritanya sedikit nyambung. Ya disambung-sambungin aja deh :)

Orang tua pernah bilang “jangan terlalu terlena nak, perjalanan masih panjang”. Kalau dibilang sudah segar dan siap untuk melanjutkan perjalanan turun ke danau rasanya bohong banget. Masih ingin bersantai di hammock dan masih belum terkumpul penuh tenaga ini. Namun semangat teman-teman team yang memunculkan untuk melanjutkan perjalanan.

Setidaknya aku dapat menikmati sunset 2 kali di Sembalun-Plawangan ini, kemarin dan hati itu hehehe. Setelah menikmati sunset dan teman-teman selesai sholat, kami melanjutkan perjalanan di jam 6 sore tanpa porter. Maka dari sini kami membawa dan bertanggung jawab dengan barang bawaan juga keselamatan satu team.

my 2snd sunset at Rinjani
Siap buat lanjut berjalan

Dari hasil kepo ke porter yang lain menanyakan berapa jam perjalanan turun dan mereka bilang hanya 3 jam. Oke aku tambahin 1 jam jadi 4 jam karena mereka sudah terbiasa naik turun di lokasi ini maka extra 1 jam itu untuk aku dan teman-teman yang baru pertama kali juga kesini. Terlihat dekat namun berjalan saat gelap memang membuat konsentrasi semakin besar.

Awal sih semangat 45 ditambah gugusan bintang menemani sungguh cantik. Ingin rasanya mengabadikan dengan kamera, tapi mata lebih serakah rupanya. Hanya ingin dinikmati dan diabadikan di memori otak dan hati. Tuhan memang sungguh luar biasa. Sungguh kagum dengan yang aku rasakan. Saat siang langit biru dan danau yang cantik bahkan awan pun berada di bawah kaki dan tiba malam langit hitam namun begitu bersinar dengan milkyway nya. 

Kondisi saat turun ini mesti lebih hati-hati, bisa-bisa kepeleset dan harus selalu bersama-sama di satu team. Saling bercerita, curhat dan tertawa mengisi malam yang sepi. Sudah 4 jam berjalan namun tanda-tanda letak danau pun belum terlihat. Teman-teman sudah mulai lelah dan ingin rasanya beristirahat. Mulai sedikit jiper saat aku mendengar suara yang entah dari mana asalnya namun teman-teman lain tidak ada yang mendengar. Okeh aku berpura-pura tidak ada masalah dan aku tetap berjalan di depan menyemangati mereka dan lebih tepatnya diri sendiri sambil bilang “ yuk dikit lagi. Gak ada apa-apa kok” :D Kami saling menyemangati hingga tiba juga di tepi danau pukul 12.00 am. Wow 6 jam berjalan di malam hari.

Udara semakin dingin dan ingin rasanya menghangatkan tubuh dengan air panas dan tidur yang nyaman. Memang ada  hot spring didekat sini, ingin kesana tapi sudah tidak sanggup lagi biarlah dengan minum air panas dan makan malam yang dimasak menjadi penghangat tubuh.
Salah satu dari kami mulai kedinginan, entahlah dia terlihat pucat dan dia memang bilang sakit. Maka yang tadinya mau menyelip di tenda yang isinya 2 orang maka aku mesti stay di tenda yang isi 2 orang. Badannya lemas dan dingin, mulai parno jangan sampai hypo. Saat ku Tanya masih aman? Dia Cuma bilang “aku lapar” oke ini artinya dia kelaparan hahaha.

Oh iya, aku belum mengenalkan personil Rinjani team –nya aku. Kalau aku jabarin dari paling tua hingga paling muda bisa-bisa tulisanku penuh dengan biodata diri mereka. Nah mereka ini adalah pak Bagus, pak Pur, Fariz, pak Woko, pak Wahid, Riza, dan aku. Ini panggil pak bukan karena mereka sudah tua hanya biasa di panggil seperti itu. Tapi untuk pak yang mata sipit sih sepertinya memang sudah Tua hehehe (pis :p)

Malam ini tubuhku sudah mulai terbiasa dengan dinginnya gunung. Tidur pun rasanya nyenyak. Terbangun dipagi hari karena kebelet pingin pipis :D ups. Di tetangga sebelah ada yang sedang menghangatkan tubuh di bara dan menikmati kopi (dari aromanya sih sepertinya kopi) saat ditawari aku menolak. Bukan sok jaim atau apa, hanya  aku tidak minum kopi. Eh pas ditawari teh jahe cus deh langsung bilang iya.


Menikmati teh panas di tepi danau

Mentari mulai naik dan saat aku melihat ke puncak, 24 jam yang lalu aku disana dan sekarang aku disini dengan view yang tidak kalah cantik. Perpaduan gunung dan danau. Beberapa ada yang sedang memancing, dan wah didanau ini banyak ikan. Entah siapa orang yang pertama membawa sepasang ikan dan melepaskannya. Karena ini adalah danau dari hasil letusan gunung berapi. Dan gunung Rinjani masih aktif.


Hasil pancingan tetangga :D
Kebersamaan kami semakin kompak saat sebagian mengambil air untuk minum dan sebagian memasak. Kebodohan kami pun mulai terlihat. Beberapa tenda sudah mulai dibongkar dan mereka kembali melanjutkan perjalanan naik ke Sembalun-Plawangan atau naik ke Senaru-Plawangan. Tenda kami dan beberapa yang lain masih setia di pinggir danau.

Masak dulu 
Add caption



Kali ini perut dimanjakan dengan makanan-makan yang sehat juga bikin kenyang. Memang sengaja tidak membawa piring yang banyak karena untuk menghemat air dan saat makan di 1 tempat membuat kebersamaan semakin mesra. Sifat asli teman jalan semakin terlihat saat makan. Siapa yang sudah mengincar ini dan itu, kemudian siapa yang makan cepat-cepat karena kelaparan atau memang suka makan :D momen makan di danau ini masih teringat segar di ingatanku. Bagaimana tidak terjadi perang mata antara pak Woko dan pak Bagus Hahaha. Setelah makan kami ke air panas untuk merenggangkan otot. Di siang hari berendam di air panas sungguh luar biasa. Setelah itu muka mulai belang-belang karena panas. Terutama hidung terbakar.

Siap untuk membakar kulit :)
Walau panas matahari tetap berendam di air panas

Packing. Salah satu hal bikin gereget. Karena hasil packing yang kesekian kali akan sangat berbeda rasanya dengan packing yang pertama. Entah kenapa packing kali ini semakin banyak saja dan berat. Berat, karena badan sudah nyaman dan ingin tidur harus tetap semangat untuk kembali pulang.

Mendengar beberapa teman pendaki mereka kembali melewati jalur baru dan hanya 4 jam saja tiba di Sembalun. Aku mulai merasa ragu benar tidaknya 4 jam karena kemarin 3 jam dan nyata yang aku lalui adalah 6 jam. Entah bagaimana kami sepakat untuk lewat jalur itu juga, tapi 1 pun tidak ada yang tahu jalur itu. Fariz, satu-satunya orang yang sudah pernah kesini dan dia hanya tahu jalur lewat Senaru atau Sembalun. Sayangnya kami sadar akan kebohohan kami untuk pulang melewati Senaru setelah bahan makanan dihabiskan di danau :(

Hanya mie instan dan air untuk minum yang tersisa. Gas juga sudah mulai menipis. Jam 4 sore kami mulai berjalan melewati pinggiran danau hingga perlahan mendaki ke Senaru-Plawangan. Kami tidak berjumpa dengan para pendaki yang yang naik ataupun turun. Ini adalah perjalanan malam yang ke 4 selama mendaki gunung Rinjani. Berhentilah kami di aku sendiri tidak tahu nama tempat itu. Ada 1 team yang sudah membuka tenda tanda mereka akan bermalam disana, dan akan melanjutkan perjalanan besok pagi. Rasa lapar mulai menuntut kembali. Namun kami hanya makan mie instan dan gas pun rupanya sudah mau habis L. Bersyukur porter dari tenda tetangga memberikan nasi, jadi tenaga mulai terisi. Aku sudah punya firasat gak enak nih. Pasti ada yang hal-hal yang mulai kita akan debatkan nanti nya.

Benar sekali, sudah mulai lelah dan kantuk. Argument kecil pun mulai terdengar antara buka tenda atau lanjut berjalan. Sedangkan sudah pukul 12.00 am kami tiba di Senaru-Plawangan. Menginat ini dan itu juga pertimbangan ini dan itu, keputusan akhir kami adalah kembali nekat. Entahlah ini nekat atau bodoh melanjutkan perjalan turun ke Senaru melewati hutan Senaru di tengah malam.

***

Bersambung…
Nb: Terimakasih buat teman-teman beberapa foto aku comot :D 

Rinjani #1 "My 1st summit"

Rinjani. Ya nama gunung yang berada di Nusa Tenggara Barat dan masuk di 7 summit Indonesia. Suka naik gunung juga baru-baru ini setelah beralih status menjadi penggangguran. 10 September 2015 dengan modal nekat dan uang minus aku berdiri juga di airport BIL sendirian dan ini malam celingak celinguklah dan memang bodoh. Teman-teman lain datang besok siang dan aku sendirian sekarang. Tidak pakai pikir lama lagi langsung mencari spot cantik untuk tidur di bandara malam ini. Eh, duduk cerita dengan petugas bandara dia nawari tempat tinggal yang di depan bandara, jadi lebih mudah untukku besok pagi datang lagi ke bandara untuk menjemput para donatur trip ke Rinjani hahahaha, semoga mereka beneran datang.

  Dari pukul 9.00 wita sudah duduk tampan di dalam Indomaret sambil menunggu nih para bos-bos juragan pabrik makanan ayam haha, ya itung-itung sambil ngadem karena di luar panas sekali. Satu jam berlalu dan dilanjutkan satu jam selanjutnya dan terus bersambung nih bos juragan pulsa belum menunjukan mata tertutupnya. Untungnya saat menunggu seperti ini bertemu orang yang sedang menunggu travelmatenya juga :) yah dari pertanyaan awal dari mana? mau kemana? dengan siapa? sampai ngebahas hal yang kita sendiri tidak mengerti pembahasan tentang apa. hahaha

  Akhirnya yang ditunggu-tunggu datang juga. Personil dari Rinjani team mulai bermunculan  walau mesti menunggu yang lumayan berjam-jam sampai sore. Yah, aku dan pak bagus kabur kepasar dulu belanja logistik. :) karena matahari di Lombok sepertinya sama dengan yang di Kupang lebih dari 1 maka Indomaret depan BIL menjadi tempat mojok buat ngadem lagi sambill nunggu mobil untuk mengantarkan kami ke titik start pendakian via sembalun. 

  Sempat kebawa emosi juga sih, yang dijanjikan jam 2 sore eh nih mobil datang jam 5 sore :( jelas sampai di Sembalun jam 10 malam. Setibanya di pos, masih ngebahas ini itu dengan hasil akhir tetap memulai perjalanan entah sampai pos 1 atau 2 dengan mensewa 2 porter yang masih remaja dan memulai perjalanan jam 12 malam. Edan, ya sepertinya aku masuk di lingkungan orang-orang edan atau jangan-jangan aku lah orang yang nyebarin keedan an ini? hmmm

  Jam 2 malam tiba di pos 1 langsung buka 1 tenda dan aku memilih tidur di bale-bale mencari praktis :) Bangun pagi hal yang gak mau dilewati setiap ngetrip adalah nikmati sunrise, dan setelah itu entah bagaimana aku yang mengambil bagian memasak haha belum tentu masakanku enak ih :D Ternyata si jalan cepat hebat juga memasak.


Main masak-masakan dulu

Siap di habisi nih nasi goreng

  Start dari pos 1 pukul 9.00 am wita dan kita memulai perjalanan dengan pemandangan rumput yang mencoklat ditambah langit yang cerah. Semakin naik kabut semakin datang. Pos 2 dan 3 sudah dilewati dan disinilah keseruan dimulai, terus mendaki dan berbisik di dalam hati, oke Tinae jangan berpikir sampai dimana tanjakan ini berakhir. Berusaha menikmati setiap langkah. 


Mendaki dan mendaki
Mungkin berjalan dengan teman-teman yang meracuniku sampai Rinjani ditambah lagi banyak teman-teman pendaki yang saling menyemangati membuat tanjakan-tanjakan penyesalan itu mulai terlewati satu per satu. 


Tarik napas dululah di tanjakan penyesalan
   Pukul 3.00 pm wita akhirnya tiba juga di Sembalun-Plawangan, kabut mulai datang perlahan tapi tidak terlalu banyak. Aku mencari spot yang nyaman untuk mendirikan tenda. Aku dan keempat teman sudah tiba dan 1 tenda sudah dibuka bersama dengan flysheet, tapi kedua teman bersama porter sampai matahari terbenampun belum datang juga. Duh, mulai cemas! Yah mesti berpikir positif deh jadinya. Akhirnya mereka datang disaat langit sudah menggelap. Tapi tidak apa-apa yang penting Faris dan pak Pur bersama kedua porter cilik ini datang dengan selamat :)
   
Sembalun - Plawangan

Jalur ke pos 2 Sembalun


Kedua porter cilik

Tidur tidak tenang, entahlah mungkin karena udara yang dingin. Aku sudah menyempil di tengah tapi tetap saja rasa dingin ini tidak hilang. Ya, kulitku susah diajak kerja sama kalau sudah terlalu dingin. Bukan hanya terlalu dingin, terlalu panas juga tubuh langsung merespon tidak nyaman. 
Tibalah waktu yang menetukan sanggup tidaknya aku bersama tubuhku melawan udara  yang lebih dingin diluar sana. 12.00 am kami bersiap-siap untuk melakukan summmit. Sedikit panik juga aku, karena ini adalah summit pertamaku mendaki gunung (Gunung dengan ketinggaian diatas 3000 mdpl ya). 

Mata masih mengantuk dan udara dingin juga mendukung sekali untuk tetap sembunyi dibalik sleeping bag dan bertahan di dalam tenda. Ah, kalau hanya untuk tidur ya bisa dilanjutkan nanti sekarang waktunya bangun dan bermesraan dengan dingin. Bersama kami berjalan mendaki hanya beralaskan cahaya senter

Berdoa dimulai... Amin. Tepat pukul 01.00 am kami bertujuh memulai perjalanan menuju puncak tertinggi Nusa Tenggara Barat. Apa yang aku rasakan tidak bisa dijabarkan dengan kata-kata, tapi aku percaya kalian (pembaca) bisa membayangkan dinginnya malam itu. Batuan kecil dan pasir menjadi teman selama berjalan dan kadang mereka menahanku untuk melangkah. 

Ketiga temanku sudah berjalan jauh di depan sana, aku mengetahuinya dari cahaya senter yang jauh dari pandanganku. Ketiga teman yang lain juga masih dibelakang belum terlihat cahaya senter mereka dan suara mereka. Ya, aku sendirian berjalan di tengah. Berjalan perlahan sambil menikmati jutaan bintang yang tak terhitung aku merasa senang. Ya, diwaktu ini aku dapat bercerita dengan alam akan semua dan berterimakasih pada sang pencipta atas bintang dan malam yang telah diberikan.

Rasa nyeri pun mendadak datang, perut seperti tidak ingin berteman disaat seperti ini. Saat kusadari memang sudah waktunya aku mendapatkan penyakit bulananku. Oh, sanggupkah aku? mampukah aku hingga puncak? Rasa sakitnya ini susah dijelaskan dengan kata-kata tapi semua wanita pasti mengerti rasa sakit ini :D

Satu-persatu pendaki lain melewatiku dan aku masih berjalan sambil memeluk diri sendiri. Berharap ketiga temanku yang muncul namun tidak muncul juga. Aku berhenti sesaat untuk mengatur detak jantungku, tapi yang aku rasakan adalah rasa kantuk dan rasa dingin. Ah, kemana mereka bertiga ini? Aku membutuhkan seorang teman untuk bercerita agar tidak mengantuk dan kedinginan. Tidur sejenaklah, pasti mereka akan melihatku dan membangunkan aku. 

Benar sekali, masih bukan mereka yang membangunkanku tetapi pendaki lain menyemangatiku dan dia menanyakan kenapa aku berjalan sendiri? Kemana teman-temanku yang lain? Asal darimana? dan cowok ini menawarkan diri untuk menemaniku berjalan dan berhasil aku mulai semangat kembali melangkah dan membiarkan pasir masuk ke celah-celah sepatuku.

"Kalian berapa orang mbak? Kalau aku, kami bertujuh 2 cewek dan 5 cowok." kata si mas jawa di perjalanan.
"Loh kok sama mas? aku juga loh. Wah jarang banget ya ada kebetulan seperti ini" 
"Iya dong kan kita satu team." si mas jawa tertawa. Apa? satu team? aku senter mukanya dan benar sekali, mas jawa yang berjalan bersamaku sudah hampir 30 menit ini adalah Wahid. Loh kok aku bisa gak sadar ya nih orang ternyata si brondong Wahid. Hahaha

saling bersama menguatkan

Semakin jauh kaki berjalan, semakin tinggi juga jarak dan semakin kantuklah aku. Apa lagi saat aku mendongak ke atas barisan lampu senter di jalur menuju puncak berhasil membuat kedua kakiku tidak mau berjalan lagi. Ingin rasanya menyerah saja, Tidur dululah sejenak, berharap menghilangkan fatigue, tapi semakin dingin aku rasakan. Wahid mendorongku dari belakang saat aku benar-benar tidak sanggup lagi berjalan. Mana sang mentari sudah mau muncul dari ufuk timur dan tinggal sedikit lagi Tina. Tidak sampai 100 meter sepertinya dan aku menyerah. Aku tidak sanggup lagi untuk melanjutkannya. 


Sanggupkah aku?
Mulai melangkah lagi
my sunrise

Namun rasa kecewa terhadap diri sendiri seketika hilang saat aku melihat cantiknya Matahari terbit perlahan tapi pasti, seakan berbicara padaku "berjalanlah Tinae, lanjutkan perjalananmu" Semangatku kembali dan Puji Tuhan, keindahan yang luar biasa menyambut. Suatu lukisan Tuhan yang dapatku nikmati dengan kedua mataku secara langsung tanpa ada penghalang atau pun perantara. Bukan lukisan seorang pelukis ternama, atau sebuah foto dari photographer ternama pula. Ini nyata. Sungguh nyata. Bahkan hingga saat ini pun aku tidak percaya kedua kaki ini berhasil membawaku hingga puncak. Seperti inikah Dewi Anjani? cantik.
I was here

hai Dewi Anjani :)


Rinjani

Berjumpa juga aku bersama ketiga temanku yang sudah tiba di puncak sebelum matahari terbit. Woko tiba pukul 5, bang Enzat dan Risa tiba pukul 6, dan sekarang aku bersama Wakid tiba pukul 7. Sekarang kami berlima menunggu kedua teman yang belum tiba. 1 jam berlalu dan mereka berdua belum muncul. Dimanakah mereka? Apa mereka turun? Karena sampai jam 9 mereka tidak datang juga. Mulai cemas kembali apa yang terjadi. Dari kejauhan terlihat mereka berdua tiba juga jam 10 pagi di puncak. Ternyata salah satu dari mereka tidur dan yang satu menunggu.



Finally we are here


Jalur summitnya kelihatan sekali


Track untuk summit dan turun


Rinjani


Menikmati sejauh mata memandang


cukup mengambil gambar, jangan dipetik


aku begitu kecil diantara ciptaan Nya yang cantik
Lebih cepat untuk turun namun lebih terasa lelahnya. Telapak kaki sudah mulai lecet dan panas. Turun di saat matahari mulai terik dan rasa lapar sudah mengganggu konsentrasi turun hahaha.
Ingin rasanya tiba segera di tenda dan yang diinginkan tidak ada. Porter tidak menyediakan makanan. Oke, ini artinya aku mesti masak untuk makan siang kami. Entahlah kedua porter remaja ini mampu membuatku kesal. 
Kami hanya memakai porter hingga selesai summit, selebihnya hingga kami turun nanti tidak memakai porter. 


Istirahat sejenak

Setelah makan, mencari posisi enak untuk menggantungkan hammock. Ya, di tenda panas sekali mencari pohon cemara untuk mengumpulkan tenaga kembali sebelum melanjutkan perjalanan turun ke danau.


Tidur siang dulu :D


***
Bersambung... http://travelingwithtinae.blogspot.co.id/2016/10/rinjani-2-saat-kebodohan-menjadi_6.html
http://travelingwithtinae.blogspot.co.id/2016/10/rinjani-3-malam-terpanjang.html
NB: Terimakasih teman-teman beberapa foto ku comot :)