Jumat, 28 Oktober 2016

Labirin laut di Mulut Seribu, Rote #1

Tulisan ini adalah tulisan ulang yang pernah aku tulis di salah satu web tentang travel. Perjalanannya ini di tahun 2012 dan sekarang sudah tahun 2016 ini berarti sudah 4 tahun yang lalu tapi ingatannya masih terasa sampai sekarang seakan baru kemarin terjadi.

18 Oktober 2012, aku bersama teman-teman penggila jalan yaitu kak Anet, kak Ary, kak Agatha, kak Yohanes, kak Donal, dan ko Jhon berhasil tiba di pelabuhan Papela pukul 12.00 pm. Nah pelabuhan Papela ini ada di kabupaten Rote Timur. Ini nama tempat ya, bukan nama makanan dari maluku "papeda" hahaha. 

Pelabuhan Papela

Dari pelabuhan inilah pintu menuju paradise. Bermain labirin di lautan adalah pengalaman pertamaku. Tujuan perjalanan kali ini adalah menikmati mulut 1000 atau labirin laut atau miniatur Raja Ampat. Nama ini aku yang menyebutnya. Tapi untuk masyarakat setempat menyebutnya adalah mulut 1000. Karena banyak sekali celah dan teluk-teluk di antara beberapa pulau. Sang kapten harus bisa membaca situasi laut dan alam agar bisa keluar dan masuk ke mulut 1000 dengan mudah. 

Tidak ada kapal-kapal pesiar seperti phinisi atau kapal live on board disini. Hanya kapal nelayan yang biasa disebut dengan "body" yang tersedia. Kapal body berarti tidak ada atapnya. Sudah bisa membayangkan bagaimana panasnya nanti. Oh iya, pulau Rote ini adalah bagian selatan Indonesia dan ada pulau Ndana (bagian dari pulau Rote) yang menjadi pulau pembatas antara Indonesia dan Australia. 

Body yang kami tumpangi

Sedikit was-was untuk naik kapal ini karena tidak ada life jacket dan aku tidak bisa berenang. Ya untung teman-temanku dan pak kapten bisa berenang jadi lebih sedikit tenang. Mulai mengambil posisi duduk dan bagian depan ditempati para pria dan belakang wanita. Sungguh panas sekali, maka mulai melumuri tubuh dengan sunblock, menutup kulit dengan jaket, topi, bahkan kain bali. Maklum dulu aku masih menjaga kulit agar tetap putih :D


Saat masuk ke teluk pertama warna laut yang hijau tosca dan memang seperti labirin selalu ada pintu dan celah yang bisa dilalui di teluk yang satu dan keluar diteluk yang alain. Pulau-pulau batu karang berdiri tegas dan air tenang yang membawa kami menikmati satu-persatu ciptaan Tuhan yang luar biasa ini. Aku saja yang belum pernah ke Raja Ampat berani menyebutkan ini adalah miniatur Raja Ampat karena banyak foto-foto dan video yang menunjukan bentuk dan cantiknya Raja Ampat. 




 


Untuk masyakarat setempat lokasi ini dijadikan sebagai tempat budidaya rumput laut katena air yang tenang dan tidak berombak cocok untuk sirumput laut tumbuh dengan sempurna. Yah walau menjadi nelayan masih menjadi pekerjaan utama mereka. 




Walau di body tetap mengabagikan foto-foto diri namun tidak lama kapten bilang kita sudah mau keluar dari mulut 1000 itu tandanya mesti menyimpan kamera dan benda elektronik lainnya. Karena akan memasuki laut lepas dengan ombak yang lebih berani. 




Tidak sadar ko Jhon menunjuk ke satu pantai pasir putih yang cantik sekali untuk stop disana dan bermain dengan air. Airnya yang jernih dan pasir putihnya seakaan memanggil untuk lompat dan merasakan hangatnya air laut di pulau Rote Timu. 

 



Bersambung...
***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar