Kamis, 06 Oktober 2016

Rinjani #1 "My 1st summit"

Rinjani. Ya nama gunung yang berada di Nusa Tenggara Barat dan masuk di 7 summit Indonesia. Suka naik gunung juga baru-baru ini setelah beralih status menjadi penggangguran. 10 September 2015 dengan modal nekat dan uang minus aku berdiri juga di airport BIL sendirian dan ini malam celingak celinguklah dan memang bodoh. Teman-teman lain datang besok siang dan aku sendirian sekarang. Tidak pakai pikir lama lagi langsung mencari spot cantik untuk tidur di bandara malam ini. Eh, duduk cerita dengan petugas bandara dia nawari tempat tinggal yang di depan bandara, jadi lebih mudah untukku besok pagi datang lagi ke bandara untuk menjemput para donatur trip ke Rinjani hahahaha, semoga mereka beneran datang.

  Dari pukul 9.00 wita sudah duduk tampan di dalam Indomaret sambil menunggu nih para bos-bos juragan pabrik makanan ayam haha, ya itung-itung sambil ngadem karena di luar panas sekali. Satu jam berlalu dan dilanjutkan satu jam selanjutnya dan terus bersambung nih bos juragan pulsa belum menunjukan mata tertutupnya. Untungnya saat menunggu seperti ini bertemu orang yang sedang menunggu travelmatenya juga :) yah dari pertanyaan awal dari mana? mau kemana? dengan siapa? sampai ngebahas hal yang kita sendiri tidak mengerti pembahasan tentang apa. hahaha

  Akhirnya yang ditunggu-tunggu datang juga. Personil dari Rinjani team mulai bermunculan  walau mesti menunggu yang lumayan berjam-jam sampai sore. Yah, aku dan pak bagus kabur kepasar dulu belanja logistik. :) karena matahari di Lombok sepertinya sama dengan yang di Kupang lebih dari 1 maka Indomaret depan BIL menjadi tempat mojok buat ngadem lagi sambill nunggu mobil untuk mengantarkan kami ke titik start pendakian via sembalun. 

  Sempat kebawa emosi juga sih, yang dijanjikan jam 2 sore eh nih mobil datang jam 5 sore :( jelas sampai di Sembalun jam 10 malam. Setibanya di pos, masih ngebahas ini itu dengan hasil akhir tetap memulai perjalanan entah sampai pos 1 atau 2 dengan mensewa 2 porter yang masih remaja dan memulai perjalanan jam 12 malam. Edan, ya sepertinya aku masuk di lingkungan orang-orang edan atau jangan-jangan aku lah orang yang nyebarin keedan an ini? hmmm

  Jam 2 malam tiba di pos 1 langsung buka 1 tenda dan aku memilih tidur di bale-bale mencari praktis :) Bangun pagi hal yang gak mau dilewati setiap ngetrip adalah nikmati sunrise, dan setelah itu entah bagaimana aku yang mengambil bagian memasak haha belum tentu masakanku enak ih :D Ternyata si jalan cepat hebat juga memasak.


Main masak-masakan dulu

Siap di habisi nih nasi goreng

  Start dari pos 1 pukul 9.00 am wita dan kita memulai perjalanan dengan pemandangan rumput yang mencoklat ditambah langit yang cerah. Semakin naik kabut semakin datang. Pos 2 dan 3 sudah dilewati dan disinilah keseruan dimulai, terus mendaki dan berbisik di dalam hati, oke Tinae jangan berpikir sampai dimana tanjakan ini berakhir. Berusaha menikmati setiap langkah. 


Mendaki dan mendaki
Mungkin berjalan dengan teman-teman yang meracuniku sampai Rinjani ditambah lagi banyak teman-teman pendaki yang saling menyemangati membuat tanjakan-tanjakan penyesalan itu mulai terlewati satu per satu. 


Tarik napas dululah di tanjakan penyesalan
   Pukul 3.00 pm wita akhirnya tiba juga di Sembalun-Plawangan, kabut mulai datang perlahan tapi tidak terlalu banyak. Aku mencari spot yang nyaman untuk mendirikan tenda. Aku dan keempat teman sudah tiba dan 1 tenda sudah dibuka bersama dengan flysheet, tapi kedua teman bersama porter sampai matahari terbenampun belum datang juga. Duh, mulai cemas! Yah mesti berpikir positif deh jadinya. Akhirnya mereka datang disaat langit sudah menggelap. Tapi tidak apa-apa yang penting Faris dan pak Pur bersama kedua porter cilik ini datang dengan selamat :)
   
Sembalun - Plawangan

Jalur ke pos 2 Sembalun


Kedua porter cilik

Tidur tidak tenang, entahlah mungkin karena udara yang dingin. Aku sudah menyempil di tengah tapi tetap saja rasa dingin ini tidak hilang. Ya, kulitku susah diajak kerja sama kalau sudah terlalu dingin. Bukan hanya terlalu dingin, terlalu panas juga tubuh langsung merespon tidak nyaman. 
Tibalah waktu yang menetukan sanggup tidaknya aku bersama tubuhku melawan udara  yang lebih dingin diluar sana. 12.00 am kami bersiap-siap untuk melakukan summmit. Sedikit panik juga aku, karena ini adalah summit pertamaku mendaki gunung (Gunung dengan ketinggaian diatas 3000 mdpl ya). 

Mata masih mengantuk dan udara dingin juga mendukung sekali untuk tetap sembunyi dibalik sleeping bag dan bertahan di dalam tenda. Ah, kalau hanya untuk tidur ya bisa dilanjutkan nanti sekarang waktunya bangun dan bermesraan dengan dingin. Bersama kami berjalan mendaki hanya beralaskan cahaya senter

Berdoa dimulai... Amin. Tepat pukul 01.00 am kami bertujuh memulai perjalanan menuju puncak tertinggi Nusa Tenggara Barat. Apa yang aku rasakan tidak bisa dijabarkan dengan kata-kata, tapi aku percaya kalian (pembaca) bisa membayangkan dinginnya malam itu. Batuan kecil dan pasir menjadi teman selama berjalan dan kadang mereka menahanku untuk melangkah. 

Ketiga temanku sudah berjalan jauh di depan sana, aku mengetahuinya dari cahaya senter yang jauh dari pandanganku. Ketiga teman yang lain juga masih dibelakang belum terlihat cahaya senter mereka dan suara mereka. Ya, aku sendirian berjalan di tengah. Berjalan perlahan sambil menikmati jutaan bintang yang tak terhitung aku merasa senang. Ya, diwaktu ini aku dapat bercerita dengan alam akan semua dan berterimakasih pada sang pencipta atas bintang dan malam yang telah diberikan.

Rasa nyeri pun mendadak datang, perut seperti tidak ingin berteman disaat seperti ini. Saat kusadari memang sudah waktunya aku mendapatkan penyakit bulananku. Oh, sanggupkah aku? mampukah aku hingga puncak? Rasa sakitnya ini susah dijelaskan dengan kata-kata tapi semua wanita pasti mengerti rasa sakit ini :D

Satu-persatu pendaki lain melewatiku dan aku masih berjalan sambil memeluk diri sendiri. Berharap ketiga temanku yang muncul namun tidak muncul juga. Aku berhenti sesaat untuk mengatur detak jantungku, tapi yang aku rasakan adalah rasa kantuk dan rasa dingin. Ah, kemana mereka bertiga ini? Aku membutuhkan seorang teman untuk bercerita agar tidak mengantuk dan kedinginan. Tidur sejenaklah, pasti mereka akan melihatku dan membangunkan aku. 

Benar sekali, masih bukan mereka yang membangunkanku tetapi pendaki lain menyemangatiku dan dia menanyakan kenapa aku berjalan sendiri? Kemana teman-temanku yang lain? Asal darimana? dan cowok ini menawarkan diri untuk menemaniku berjalan dan berhasil aku mulai semangat kembali melangkah dan membiarkan pasir masuk ke celah-celah sepatuku.

"Kalian berapa orang mbak? Kalau aku, kami bertujuh 2 cewek dan 5 cowok." kata si mas jawa di perjalanan.
"Loh kok sama mas? aku juga loh. Wah jarang banget ya ada kebetulan seperti ini" 
"Iya dong kan kita satu team." si mas jawa tertawa. Apa? satu team? aku senter mukanya dan benar sekali, mas jawa yang berjalan bersamaku sudah hampir 30 menit ini adalah Wahid. Loh kok aku bisa gak sadar ya nih orang ternyata si brondong Wahid. Hahaha

saling bersama menguatkan

Semakin jauh kaki berjalan, semakin tinggi juga jarak dan semakin kantuklah aku. Apa lagi saat aku mendongak ke atas barisan lampu senter di jalur menuju puncak berhasil membuat kedua kakiku tidak mau berjalan lagi. Ingin rasanya menyerah saja, Tidur dululah sejenak, berharap menghilangkan fatigue, tapi semakin dingin aku rasakan. Wahid mendorongku dari belakang saat aku benar-benar tidak sanggup lagi berjalan. Mana sang mentari sudah mau muncul dari ufuk timur dan tinggal sedikit lagi Tina. Tidak sampai 100 meter sepertinya dan aku menyerah. Aku tidak sanggup lagi untuk melanjutkannya. 


Sanggupkah aku?
Mulai melangkah lagi
my sunrise

Namun rasa kecewa terhadap diri sendiri seketika hilang saat aku melihat cantiknya Matahari terbit perlahan tapi pasti, seakan berbicara padaku "berjalanlah Tinae, lanjutkan perjalananmu" Semangatku kembali dan Puji Tuhan, keindahan yang luar biasa menyambut. Suatu lukisan Tuhan yang dapatku nikmati dengan kedua mataku secara langsung tanpa ada penghalang atau pun perantara. Bukan lukisan seorang pelukis ternama, atau sebuah foto dari photographer ternama pula. Ini nyata. Sungguh nyata. Bahkan hingga saat ini pun aku tidak percaya kedua kaki ini berhasil membawaku hingga puncak. Seperti inikah Dewi Anjani? cantik.
I was here

hai Dewi Anjani :)


Rinjani

Berjumpa juga aku bersama ketiga temanku yang sudah tiba di puncak sebelum matahari terbit. Woko tiba pukul 5, bang Enzat dan Risa tiba pukul 6, dan sekarang aku bersama Wakid tiba pukul 7. Sekarang kami berlima menunggu kedua teman yang belum tiba. 1 jam berlalu dan mereka berdua belum muncul. Dimanakah mereka? Apa mereka turun? Karena sampai jam 9 mereka tidak datang juga. Mulai cemas kembali apa yang terjadi. Dari kejauhan terlihat mereka berdua tiba juga jam 10 pagi di puncak. Ternyata salah satu dari mereka tidur dan yang satu menunggu.



Finally we are here


Jalur summitnya kelihatan sekali


Track untuk summit dan turun


Rinjani


Menikmati sejauh mata memandang


cukup mengambil gambar, jangan dipetik


aku begitu kecil diantara ciptaan Nya yang cantik
Lebih cepat untuk turun namun lebih terasa lelahnya. Telapak kaki sudah mulai lecet dan panas. Turun di saat matahari mulai terik dan rasa lapar sudah mengganggu konsentrasi turun hahaha.
Ingin rasanya tiba segera di tenda dan yang diinginkan tidak ada. Porter tidak menyediakan makanan. Oke, ini artinya aku mesti masak untuk makan siang kami. Entahlah kedua porter remaja ini mampu membuatku kesal. 
Kami hanya memakai porter hingga selesai summit, selebihnya hingga kami turun nanti tidak memakai porter. 


Istirahat sejenak

Setelah makan, mencari posisi enak untuk menggantungkan hammock. Ya, di tenda panas sekali mencari pohon cemara untuk mengumpulkan tenaga kembali sebelum melanjutkan perjalanan turun ke danau.


Tidur siang dulu :D


***
Bersambung... http://travelingwithtinae.blogspot.co.id/2016/10/rinjani-2-saat-kebodohan-menjadi_6.html
http://travelingwithtinae.blogspot.co.id/2016/10/rinjani-3-malam-terpanjang.html
NB: Terimakasih teman-teman beberapa foto ku comot :)



8 komentar:

  1. welcome back Tinae,, it's been so long, baru nulis lagi... Wah bener2 ya, such a tough girl.. bisa sampai puncak dengan kondisi seperti itu.. salute..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hey... kita mesti jalan bareng nih.. ajak istrimu bro..:) rasain sensasinya.

      Itu tissu beralih fungsi jadi pembalut brai

      Hapus
  2. Ah moga-moga tahun depan bisa kesampean kesini... bara mau naek sini gak tahun depan?

    BalasHapus
    Balasan
    1. belom siap nanjak mas,, bingung kalau kebelet boker gimana haha.. ada saran gak mas biar gk kebelet pas hiking? wkwkwk

      Hapus
    2. minum diapet 6 biji bang 😷😷😷

      Hapus
    3. Amin mas. Tahun depan mesti dijadiin yah... ditunggu pengalaman ceritamu mas.


      hahaha kalo kebelet boker tinggal di tanam loh @bara

      Bang @enzat pengalaman pribadi banget yah

      Hapus
  3. Anjaayyy... baru update dia haha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ia nih setelah bersemedi dilautan Flores bang :D

      Hapus