Selasa, 25 Oktober 2016

#Rinjani 3 "Malam terpanjang"

"STOP! Matiin senter mu tin. Ada yang nyenter dari sana!" 
Deg! Dari tadi aku merinding karena ada sesuatu yang terjadi. 
Dan benar, ada cahaya senter dari depan. Yah, kami berpikir positif saja kalau ada pendaki lain yang sedang naik. Yang nekat atau gila seperti kami juga. Tapi cahaya itu hanya berkedip 3 kali. Seperti memberi tanda. Untung dulu saat sekolah belajar soal morse jadi tau dikit lah soal kode-kode. Tapi kalau kode untuk meluluhkan hati mu mah aku selalu salah eh. Jadi, dari ingatanku kalau 3 kali itu artinya perhatian. 

Eh iya, kalau kalian belum baca yang #1 dan #2 ini ada linknya http://travelingwithtinae.blogspot.co.id/2016/10/rinjani-1.html dan http://travelingwithtinae.blogspot.co.id/2016/10/rinjani-2-saat-kebodohan-menjadi_6.html :) 

Aku dan keenam temanku masih berdiri dan saat dekak jantung sudah tenang kami melanjutkan lagi berjalan. Karena sudah mulai diawali bulu kuduk berdiri dan si Fariz menambahkan kalau kita sudah masuk ke hutan ya. Kita harus selalu bersama karena kita tidak tahu apa yang terjadi didepan nanti.
Perjalanan mulai terasa jauh dan waktu berjalan terasa lambat sekali. Pohon-pohon besar dengan akar menjuntai. Udara pun semakin dingin menembus kulit bagian luar. Masih jam 2 pagi sudah terdengar suara ayam berkokok dengan harapan sudah mau dekat dengan perkampungan. Ternyata ini adalah suara dari ayam hutan atau ayam apapun itu.

Riza mulai memutarkan doa-doa dari hp nya dan kita saling bercerita untuk membantu agar jangan sampai tertidur di jalan. Nah susunan kami berjalan yaitu Fariz (karena dia yang paling kecil dan satu-satunya yang sudah pernah ke Rinjani), aku (yang takut tapi berusaha gak takut buat nemenin Fariz nyari jalur), Pak Bagus (dia bisa liat loh 🙊 liat hati kamu 😂), Riza (yang lagi kabur dari urusan skripsi yang bikin gemes), Wakid (si mas-mas yang temenin summit), pak Pur (pertama kali naik gunung dan summit pertama dalam hidupnya, dan terakhir pak Woko (memiliki langkah 1000 sangkin cepatnya jalan).

Batre hp Riza sudah mulai habis, maka aku menjadi radio kenangan yang rusak disetiap langkah. Cerita-ceritaku membantu sekali untuk membuat teman-teman tidak berjalan dengan pandangan kosong. Hingga berawal dari belakang yang sudah mulai bersuara capek, dan Riza jatuh karena jalan sambil tertidur. Oke kita istirahat lagi. Tidak ada stok makanan yang tersisa. Hanya puding yang sempat aku simpan untuk keadaan urgent. 


Salah seorang teman memberi masukan untuk tidur dulu atau buka tenda disini. Tapi aku lihat tidak ada tempat dan terus menyemangati untuk tetap berjalan dan bersama-sama. Cahaya senter pun mulai meredup dan batre habis. Lengkaplah rasa takut yang tersimpan namun aku harus sembunyikan untuk saat itu dan menjadi tegar. Saat aku lihat semua teman sudah lelah dan Fariz pun yang pimpin di depan mulai mendukung dengan fatigue nya. maka kami sepakat untuk tidur sebentar di jalur 30 menit. Dan aku memilih untuk bangun menjaga mereka dan membangunkan mereka disaat 30 menit waktu habis.
Hp ku yang satu sudah mati total dan tinggal hp yang cuma bisa putar musik dan hanya lagu rohani yang tersimpan. Suaraku yang tidak pernah merdu saat menyanyi kali ini lebih parah. Aku membuat alarm untuk 30 menit. Dimenit ke 29 seseorang jongkok disamping kananku dan berbisik dengan suara datar dan pelan "Bangun Tina. lanjut Jalan!" namun aku tidak menjawab dan hingga ketiga kalinya dengan suara yang lebih kencang dan tegas. "BANGUN TINA, LANJUT JALAN" sontak mataku melitik kekanan dan dia sedang jongkok dan melihatku dengan tatapan kosong. Seketika kepalaku membesar sekali dan alarm di hp pun berbunyi aku langsung berdiri memberanikan diri dan membangunkan satu-persatu teman-teman yang sudah terlelap. Maafkan aku teman harus membangunkan kalian karena suasana semakin horor. Satu orang yang terakhir susah sekali dibangunkan.

Radio kenangan yang memboskan kembali diceritakan dan rasa kantuk semakin menjadi. Aku tidak menceritakan pada mereka dan membuat semua tidak terjadi. Namun aku masih memikirkan itu. Itu nyata. Untuk pertama kali aku melihat dengan mata sendiri kalau dia dekat sekali denganku dan suaranya jelas sekali di telinga. Ini bukan mimpi ataupun halusinasi. (Nulis ini aja aku mesti memberanikan diri dan putar musik kuat-kuat, masih suka merinding sendiri kalau ingat kembali kejadian itu).

Malam itu adalah malam yang terpanjang yang pernah aku jalani dalam hidupku. Dari pos 3 ke pos 2 sepertinya tidak ada ujung. Bahkan pos bayangan pun tidak terlihat tanda-tandanya hingga tiba kaki ini mau melangkah  ke dataran yang sepertinya bisa mendirikan tenda. Tetiba ada sesuatu yang terbang dari sebelah kiri dan hanya pohon itu saja yang menarikan daun-daunnya. Saat kita mencoba senter apa yang ada disana, kepala membesar dan badan semakin berat susah untuk melangkah. Pak Bagus sempet bilang "jangan disenter, Tin gimana?" Aku mencoba menguatkan diri dan mendorong Fariz untuk tetap berjalan dan mengabaikan yang mengganggu. Namun Fariz tidak bisa melangkahkan kakinya. 

Ini sudah tidak benar lagi, maka aku kumpulkan semua dan merapat serapat-rapatnya "sebelum melanjutkan jalan mari kita berdoa dengan kepercayaan kita masing-masing. Berdoa dimulai." walau sudah selesai berdoa aku tetap menyuru untuk berdoa hingga kepala yang besar ini kembali ke size yang normal dan langkah kaki kembali normal. "Berdoa selesai." semakin terkejut saat di depan kami ada sesuatu yang aku tidak bisa jabarkan apa itu bentuknya, kalau aku melihat itu anjing dan baju warna putih, teman yang satu melihat itu rusa, ada juga yang melihat itu kantong plastik dan ya itu abstrak. Tetiba seekor anjing berjalan perlajan dari kejauhan ke arah kami. Langsung membuat formasi 3 laki-laki didepan dengan trackpoll, aku dan Riza di tengah dan 2 laki-laki lagi di belakang. 

"Yuk gak papa kok itu, itu cuma anjing" ajakku
"Gak ah mbak Tin." tolak Fariz.
dan satu ekor lagi anjing menyusul dari belakang. Mulai panik dan mulai mengambil posisi. Mulai merasa tenang saat melihat seorang pendaki berjalan kearah kami. Satu hal yang ingin aku pastikan itu adalah kakinya napak. Dia pendaki bule sendirian di jam 3.30 pagi sudah tiba disana. Entah jam berapa dia memulai mendaki. Tidak jauh dari pria itu ada seorang pendaki dan porternya berjalan. Dan kita sempat bilang tadi ada pendaki bule sendirian dan didepannya ada 2 anjing. Si bapak porter bilang kalau anjing itu guide nya si Bule dan cuma 1 anjing. What???

Suasana sudah tenang kami melanjutkan perjalanan dan tiba juga di pos 2 yang penuh dengan tenda. Dengan jelas kami mengenali tenda ini, karena mereka adalah group dari "trash bag community". Kelelahan yang sangat membuat kami tidak bisa lagi untuk mendirikan tenda dan tidur seadanya di jalur dengan udara yang semakin dingin. Aku dan pak Bagus memilih untuk tidur menyelip di teman-teman pendaki yang sedang menyalakan api untuk menghangatkan tubuh dan berakhir tidur di bale-bale pos 2. 

Dingin yang menusuk sampai tulang tidak kurasakan lagi saat berjumpa dengan pendaki lain di pos 2 yang terkenal paling serem di hutan senaru Rinjani. Bahkan aku dan pak Bagus disuguhi "bubur sendal" duh rasanya itu makanan yang paling enak saat itu hahaha.

Rasa hangat dari matahari mulai terasa dan akhirnya melanjutkan perjalanan hingga kebawah. Tetap sama, jalanan hanya bonus namun seperti tidak ada ujung yang bikin penasaran dan letih. Saat melihat rumah-rumah dan gerbang Senaru kaki langsung lemas dan airmata hampir menetes. Terharu dengan pengalaman yang luar biasa di malam yang panjang bersama keenam teman terbaik selama tracking. 

Akan selalu ada perdebatan dan tawa bersama teman perjalanan yang akan menciptakan semua kenangan yang layak untuk diingat dan nanti akan membuat senyum-senyum sendiri disaat waktu kita tidak sama dan jarak kita juga tidak dekat lagi. Maka hanya pengalaman kenangan yang selalu ada.

Thankyou my "Rinjani team" sudah membawaku membuat pengalaman yang tak terlupakan di awal perjalan panjangku yang aku sendiri belum tahu hapan akan berakhir.



***

2 komentar: