Senin, 18 Desember 2017

Explore Riung 17 Island, 2016

Rutong Island
Ende - Riung. Cek google maps dan wow lumayan juga jalanya masih ada yang berbelok. Hanya ada 2 belokan, kiri dan kanan, tapi berkali-kali. 
Bis ke Riung dari Ende hanya ada di pagi hari dan waktu pagi itu adalah waktu yang masih berharga untuk bermimpi. Tapi aku harus bangun dan tetap telat dapat bisa pagi. Jadi ambil bis siang ke Mbay. Si bapak kernek sih bilangnya dekat saja kok tapi kenyataannya lama dan jauh. Turun di Mbay sudah mulai sore dan perut sudah lapar.

Galau nih lanjut ke Riung atau stay di Mbay. Tidak ada bis atau transport lagi ke Riung. Memutar otak juga tidak terputar karena ada di dalam kepala. Seperti sebelumnya mencoba keberuntungan untuk mencari tumpangan. Mobil yang satu lewat, motor yang satu lewat dan berkali-kali hingga akhirnya mobil PLN berhenti dan memberikan tumpangan. Tapi tidak sampai Riung. Hanya dapat 5km. Sudah oke itu ketimbang tidak ada yang berhenti menampung. Eh salah satu pegawai yang di dalam mobil menawarkan diri untuk mengantarkan. Serius? ahai langsung aja bilang iya. Masalah takut kenapa-napa atau gimana-gimana nantinya itu ya nanti. Positive thinking aja sih ya haha

Ternyata si abang Boris yang baik ini adalah temannya Ditho (teman yang di Riung) jadi lebih nyaman lagi cerita-cerita. Melewati sabana yang luas berwarna kecoklatan hingga tiba di Riung sudah gelap. Kurang lebih 1 jam perjalanan dari Mbay ke Riung, aku berjumpa juga dengan Ditho dan teman-temannya yang menjadi teman-teman ku sekarang. 


1 minggu di Riung, aku tinggal di Nirvana Bungalow, Riung. Menikmati banget berjalan sendiri dan berjumpa teman-teman baru dan menjadi keluarga baru dalam perjalanan. Ini kali kedua aku ke Riung 17 pulau yang terakhir tahun 2013 lalu. 

Karena sudah pernah kesini sebelumya, jadi kali ini aku seperti reuni dan mencoba ke tempat baru yang belum aku kunjungi. Ini aktivitasku yang tidak dikejar-kejar waktu. Siang hari, aku pergi ke pelabuhan dan menggantung hammock ku dipohon bakau. Bersantai sambil tidur siang. Bermalas-malasan di hammock. Disaat malam aku pergi salah satu cafe dengan live music. Eh ternyata yang nyanyi salah satu teman waktu di Kupang. Tuh kan jadi keinget masa-masa kuliah di Kupang lagi hahaha.


Hopping island di Riung, 17 pulau. Oke sebenarnya lebih dari 17 pulau disini dan hanya beberapa pulau saja yang didatangi. Rutong. Pulau kecil berpasir putih dengan laut biru kontras menjadi tujuan utama untuk setiap orang yang datang ke Riung. Tidak lama untuk naik ke puncak pulau ini, dan disanalah kamu bisa melihat pemandangan yang cantik.



Pulau Tiga
Pulau Tiga
Bukan hanya pulau Rutong yang dikunjungi ada beberapa pulau lain. Snorkeling, sunbathing. Yang manjadi ciri khas dari wisata Riung 17 pulau ini adalah BBQ untuk lunch. Yang seperti ini nih yang bikin ingin kembali lagi dan lagi ke Riung.





Bersama teman-teman di Riung, kami menuju Mbay dengan jarah kurang lebih 1 jam dengan motor. Kita ke mangrove yang ada di Mbay. Ke mata air panas.


Normalnya air panas alam itu ada di kaki gunung berapi atau di atas gunung. Tapi itu tidak berlaku di sini, air panasnya berada di hutang mangrove dan itu di pinggir pantai. Airnya ada yang masih mendidih seperti dari kompor loh. 



Saat air laut sedang surut, banyak warga yang berdatangan kesini untuk berendam bersama keluarga atau teman-teman mereka. Lokasinya tidak jauh dari jalan raya, malah tepat di pinggir jalan raya ini airnya panas. Rasa airnya payau. Karena pertemuan air tawar dan air laut.




Hari terakhir di Riung, Ditho ajak aku ke pantai dengan rencana awal untuk gantung hammock sambil nunggu mata hari terbenam, tapi itu hanya planning dan ya kita pergi ke bukit yang aku lupa namanya. Ditho pun belum pernah ke bukit ini, dan viewnya Flores banget. Padang sabana, bukit-bukit, langit biru dan laut biru. Bikin betah untuk berlama-lama di Flores. 


Waktunya menunggu sunset, kami pindah ke bukit yang lain dan dari ini bisa lihat kalong yang berterbangan di saat sunset. 



Langit orange dan kalong mulai bangun menandakan sudah waktunya balik ke rumah. Tidak terasa sudah 1 minggu aku di Riung dan tidak banyak mengexplore tempat baru lebih memilih untuk santai di Nirvana dan bersantai di hammock. Banyak cerita yang pengalaman yang terjadi selama 1 minggu itu. Waktunya lanjut berjalan menuju kota lain dan itu berarti akan kembali lagi ke Riung suatu hari nanti.



***

Kamis, 30 November 2017

Sunrise di Danau 3 Warna Kelimutu, 2016

Danau Kelimutu
Danau vulkano yang bisa berubah warna. Bisa dibilang ini bukan danau tapi ini kawah, karena kita tidak bisa lompat ke danau seperti danau vulkano yang ada di Sumatra Utara. Tiga kawah dengan warna yang berbeda dan diwaktu yang tidak bisa diprediksi warna kawah berubah. Tempat ini adalah salah satu taman nasional yang ada di Flores, Nusa Tenggara Timur. Menikmati matahari terbit dari puncak gunung Kelimutu menjadi tujuan utama turis lokal ataupun mancanegara. Tunggu, aku bukan turis ya, aku petualang hahaha. Kali ini aku kembali lagi ke danau untuk melihat sunrise. Tidak akan pernah bosan untuk datang kesini karena akan selalu punya cerita yang berbeda.

Alaram belum berbunyi namun mata sudah terbangun dari tidur dan waktunya bersiap untuk ke danau Kelimutu. Ini masih pagi sekali, pukul 4.00 pagi. Jam-jam nya untuk tidur nyenyak. Udara dingin membuat ku ingin tetap sembunyi di balik selimut. 

Wida pun masih diantara sadar tidak sadar karena harus bangun. Ini kali pertama dia datang ke danau Kelimutu dan semoga menjadi pengalaman yang luar  biasa untuk dia. Kalau tamu-tamu hotel yang lain pergi ke danau dengan mobil, aku dan Wida memilih dengan sepeda motor karena lebih murah biayanya untuk kami.

Udara ini memang benar-benar dingin dan masuk ke sum-sum tulang. Untung aku sebagai penumpang dan pakai jas hujan agar tetap hangat. 30 menit membelah jalanan yang sempit dan berbelok di tengah hutan akhirnya tiba di parkiran motor kelimutu dan langit masih gelap.

Menaiki anak tangga satu-persatu hingga habis membawa kaki ini tiba di puncak dan sudah banyak turis asing disana menanti matahari terbit sambil menikmati hangatnya teh ataupun kopi.

Hanya aku dan Wida pengunjung Indonesia di hari itu. Jadi merasa bukan berada di Indonesia hahaha. Ini kali pertama untuk ku di tahun 2016 ke danau Kelimutu.


Sang mentari perlahan muncul dari balik danau. Warna keemasan memenuhi sekitar dan berganti menjadi terang. Langit yang gelap dalam sekejap menjadi terang dan warna danau Kelimutu mulai terlihat. 


Terakhir aku datang di bulan Desember 2015, danaunya berwarna hijau susu, hijau lumut. Sekarang hijau muda dan coklat tua (coke). Kali ini warnanya sama seperti pertama kali aku datang tahun 2012.
 


Memanfaatkan momen ini untuk menikmati ciptaan-Nya yang luar biasa cantik dan beryukur masih bisa kesini lagi. Berharap nanti akan kesini lagi (segera) hahaha.

Aku dan Wida :)

Waktunya kembali ke penginapan dan melanjutkan perjalanan ke Ende dengan bis. Sebelum aku melanjutkan melangkah ke utara Flores, Riung dan Wida kembali lagi ke Larantuka melanjutkan tugas di pulau Solor. 

Perjalanan ku dengan Wida ini tidak pernah kami rencanakan, semua spontanitas karena dia sedang off dan aku membawa dia menikmati ini semua dengan hitchhiking dari Maumere ke Moni. Semoga berjumpa lagi dan kita explore tempat baru :)

***

Minggu, 19 November 2017

Pantai Tercantik di Rote, Pantai Laviti, 2012


Pantai Laviti

Ini lanjutan cerita perjalanan ku di Rote, 2012. Sama seperti cerita tentang Mulut Seribu, Rote. Ini postingan yang pernah aku posting. Mari kembali ke tahun 2012, diawal aku belajar traveling lebih dari 2 hari bersama teman-teman. 


Rasa panas di kulit mulai mengalihkan perhatian kami dari cantiknya mulut seribu dan saatnya keluar dari laut lepas menuju ke pantai Laviti yang menjanjikan keindahan untuk kami penikmat pantai. Awesome… hanya itu yang bisa kami katakan. Pantai Laviti berada di antara dua ujung pulau yang seperti melindungi pantai ini dari laut lepas.

Sinar berlian air laut saat mendapatkan pantulan sinar matahari semakin mengangkat cantiknya pasir putih di pantai ini. Private beach, pantai yang benar-benar jauh dari jangkauan manusia dan hewan. Benar-benar masih alami keindahkan yang disuguhkan oleh pantai ini. Tebing-tebing karang yang runcing dan tajam seakan menjadi benteng untuk melindungi pantai Laviti ini.

View pantai Laviti dari atas karang

Tidak ada jejak kaki di atas pasir ini, kecuali jejak kaki kami. Tidak ada satu pun orang yang ketempat ini, selain kami di hari itu. Rasa panas pun seperti hilang saat melihat kecantikan yang diberikan pantai Laviti di Rote Timur ini.

Tidak mau berlama-lama lagi, saya memanjat tebing karang yang tajam itu untuk dapat menikmati semua dari atas. Rakus, mungkin kalimat yang bisa digambarkan. Sedikit pun aku didak mau melewati indahnya tempat ini. Semua ingin ku nikmati dengan cara ku sendiri dan ditemani kamera yang setia untuk mengabadikan apa yang aku nikmati dalam sebuah gambar-gambar cantik.



Dan bukan hanya aku yang memanjat tebing itu, tapi Kak Yohanes dan disusul kak Donal untuk menikmati pantai Laviti ini dari atas. Aku melihat dari sini, teman-teman ku yang lain sudah sibuk dengan cara mereka sendiri untuk memuaskan diri menikmati ciptaan Tuhan yang satu ini.



Dan tinggal saya sendirian di atas tebing ini, ingin rasanya mengabadikan diriku di tempat ini. Tapi, kak Yohanes dan kak Donal sudah turun duluan, cara terakhir dan yang selalu menjadi andalan saya adalah timer. Walau tanpa tripod, karang yang tajam ini pun menjadi sandaran tuk kamera kesanganan ku (tetap pakai alas kain biar tidak lecet). 


Sudah cukup rasanya kaki saya merasa sakit karena menginjak batu karang yang tajam ini, dan saya pun sudah tidak sabar untuk merasakan hangatnya air laut di depan saya.

Saya melihat kebawah dan tidak mendapatkan mereka di dalam air.  Kemana mereka? Dan ternyata mereka bersembunyi di balik tebing karang untuk menyantap makan siang yang kami bawa dari Ba’a, kota Rote.


Saatnya kami bermain air dan merasakan halusnya pasir putih pantai Laviti. Air lautnya asin sekali, tidak seperti air laut yang ada di pantai kota kupang.





Langit sudah mulai menunjukan hampir gelap dan matahari dari sisi lain sudah memberikan tanda-tanda akan terbenam dan memang sudah saatnya kami pulang dan meninggalkan pantai Laviti yang begitu cantik ini. 

Perjalanan pulang kami lebih ekstrim dari pada saat kami datang, laut sudah mulai menunjukan kekuasaannya dengan ombak yang tidak henti-hentinya menabrak perahu body yang membawa kami. Percikan air laut yang terhempas sudah seperti air hujan yang berasa asin.  :D

Walau pun seperti itu, detik-detik sunset di tengah laut tetap menjadi hal yang romantis untuk kami.        


*** 

Jumat, 17 November 2017

Mulut Seribu Rote miniatur Raja Ampat, 2012

Tulisan ini sebelumnya sudah pernah aku posting di www.kompasiana.com/tinae dan ingin aku repost dan edit sedikit di sini. Mungkin karena aku sudah terlalu sering di blog ini. Sudahlah, tidak perlu panjang-panjang kata pengantarnya, yang ada pada kabur sebelum baca sampai habis. Ha ha ha. 

18 Oktober 2012, mobil yang membawa aku dan teman-temanku menuju ke Rote timur. Dari sana kami memulai explore cantiknya pulau-pulau kars yang berbentuk aneh-aneh dan seperti Labirin. Yup, Mulut Seribu. Sempat terbayang pertama kali mendengar mulut seribu berarti ada lubang yang lebih dari 1 alias banyak. Ternyata bukan lubang yang dimaksud tapi celah-celah antara pulau karang yang satu ke pulau yang karang yang lain membutuk seperti labirin laut.

Tepat pukul 12.00 wita, satu persatu dari kami menaiki body kayu atau kapal nelayan tanpa atap. Kebayanglah panasnya matahari menyentuh kulit kami dan rambut. Bukan hanya itu tidak ada pelampung, toilet dan yah ini perahu nelayan. Sempat deg deg ser ini membayangkan apa yang akan terjadi di depan nanti, mana aku gak bisa berenang. Berdoa ajalah berharap tidak terjadi apa-apa selama perjalanan.
1355390713190745345
Pelabuhan Papela


1355390785915661237
Perahu body motor
1355390996551803863
Satu persatu kami turun
Masing-masing mengambil posisi duduk senyaman mungkin, karena kata si bapak yang punya kapal mungkin sekitar 1 jam kita di atas laut dan melewati laut lepas. Oh man! Serius itu? Gak becandakan? Ah, benar-benar pengaman pertama naik body motor dan melewati laut lepas yang aku tidak pernah bayangkan.
Konon menurut cerita warga setempat, bila ada yang pergi ke Mulut Seribu dengan hati yang tidak baik, itu akan susah untuk keluar dari Mulut Seribu. Bahkan, warga setempat sendiri kadang suka kesasar dan sulit kembali. Gimana aku gak parno coba? Sudahlah, dari pada pusing mikir yang aku sendiri tidak rasakan, lebih baik menikmati perjalanan dan berpikit positif ajalah. Toh niat kami datang kesini baik kok.
Di atas body rasa panas itu semakin menggila. Prosesi melumuri kulit dengan  suncream pun dimulai. Walau aku yakin akan tetap terbakar gosong pulang nanti. Walau cuaca sungguh panas dan mulai gerah, kami tidak mau melepas kain, jaket, dan topi yang dipakai.
13553912001842674587
Luar biasa, benar-benar seperti bermain labirin, masuk ke teluk satu dan keluar di teluk yang lain. Suguhan pulau2 karang yang cantik dan air yang tenang membawa kami menikmati indahnya Mulut Seribu ini.
 13553912611396357415 

Kalau melihat pulau-pulau karang ini mengingatkan aku dengan beberapa foto di kalender bahkan di internet tentang Raja Ampat, Papua. Sekilas tempat ini jadi miniatur Raja Ampat. Kalau sekarang, 2017, Raja Ampat sudah sangat ternenal sekali dengan pulau-pulau katang lancip yang menjulang tinggi. Sedangkan Mulut Seribu, Rote belum seterkenal itu. Beruntunglah belum terlalu terkenal biar gak bantak yang #KidJamanNow kena virus #kekinian meramaikan tempat yang sepi ini :D

 13553913611009331195
 1355391408944118102
1355391460774390106
13553915421635053071
Bernarsis ria di atas perahu body itu wajib hukumnya. Sungguh pengalaman pertama untuk saya  naik perahu body dan membiarkan kamera saya mengabadikan yang diingini. Masyarakat disini menjadikan rumput laut sebagai mata pencaharian mereka sehari-hari, selain memangkap ikan.
13553916452037121901
1355391704297191799
1355391754287160177
13553918022134757702
13553918511661764777
Sempet-sempetnya kami melihat lokasi dimana kami berada dari atas perahu body ini. Karena saya benar-benar tidak tahu lokasi Mulut Seribu itu dibagian mananya pulau Rote. Berkat peta dari handphone, saya dan teman-teman akhirnya tahu. :D
1355391938643917635
1355392016586920673
13553920991919639651355392128170680732 

 Benar-benar indah sekali, dan sudah waktunya saya dan teman-teman menyimpan kamera kami masing-masing, karena sedikit lagi kami akan memasuki area laut lepas. Kapal pulau mengikuti goyangan ombak naik turun dan mulai mendekap tas masing-masing. Tidak lama setelah melewati lautan biru dan berombak, dari kejauhan terlihat air laut berwarna biru muda dan tenang. Kami sudah mulai senyam-senyum sendiri senang saat kapten kapal bilang " Ya itu sudah dia pu pantai. Kita su sampe"

1355392200498027425 
 
Selama kami menyusuri Mulut Seribu, pantai Laviti menjadi tujuan kami untuk berenang. Dari atas perahu, kami melihat betapa indah dan menggiurkan sekali pantai Laviti ini, dengan air yang begitu jernih dan pasir yang begitu putih menimbulkan gejolak ingin segera mendarat dan masuk menikmati hangatnya air laut di pulau Rote Timur ini.


13553924791310528795

***