Sabtu, 28 Januari 2017

Perjalanan Larantuka ke Pulau Alor GRATIS


Masih berlanjut #KelilingIndonesiaNobudget dari Larantuka menuju ke Alor. Perjalanan dari Larantuka ke Alor memakan waktu kurang lebih 25 jam dengan kapal Feri. Sudah bisa ketebak ya lamanya di kapal dan mulai menerka berapa ongkos yang harus aku keluarkan untuk membeli tiket. Setibanya di pelabuhan Larantuka, aku masih duduk sendiri di salah satu kios sambil menanya ibu-ibu yang jualan disana kira-kira jam berapa kapal berangkat.

Ternyata penampilanku dengan membawa keril besar warna hitam dan dandanan gembel andalan saat aku berjalan menarik perhatian si bapak petugas ASDP. Tiket ke alor tidak bisa dapat diskonkah pak? Tanyaku pada si bapak yang menanyakan tiket. Aku sudah mengetahui jawabannya tidak akan ada diskon dan saat bercerita kenapa sendiri? Dari mana sebelum ke Alor? Tujuan ke Alor ngapain? Kok lama sekali, hingga akhirnya si bapak bilang “Sudah tunggu sini saja e, kapal juga belum jalan. Di dalam terlalu panas.” Dengan muka polos aku menunggu dan memang tidak ada planing untuk naik sekarang karena belum ada tiket dan kalaupun tiket mahal alhasil mungkin aku akan menggegandang lagi di Larantuka sampai minggu depan mungkin ada peluang bisa ke Alor. Karena kapal feri hanya seminggu sekali dari Larantuka – Alor.

30 menit sudah berlalu si bapak yang tadi datang lagi dan menyuru aku naik ke kapal dan langsung ke atas ke ruang Kapten. Tapi aku belum beli tiket, dan aku naik saja dengan pikiran akan bayar diatas kapal lebih murah kata si ibu penjual. Benar saja, saat aku masuk ke dalam ternyata kapal feri ini lebih kecil dari kapal feri sebelumnya yang pernah aku naiki. Lantai bawah yang harusnya untuk kendaraan sudah penuh dengan para penumpang yang sudah membentangkan tikar untuk alas duduk dan tidur mereka. Naik ke lantai 2 ternyata sempit dan memang tidak nyaman untuk duduk disana selama 25 jam kedepan.

Akhirnya aku berhasil melewati pintu yang menghubungkan aku ke ruang nakoda. Dan disinilah perjalanan ternyaman ke Alor yang aku rasakan. Bercengkrama dengan kapten dan para crew menjawab kembali jawaban yang sama untuk kesekian kali di pertanyaan yang sama. Melihat anjungan kapal aku sudah mulai melirik untuk mengambil posisi memasang hammock. Tas keril sudah bersandar manis di ruang nakoda, bahkan aku bisa cas hp sepuasnya disana. Aku pikir kebaikan itu hanya sampai aku diijinkan untuk cas hp dan bisa di anjungan depan. Bukan hanya itu, makan dan minum pun ditawari. Tidak ada kata malu untukku saat itu, karena kalau malu ya aku kelaparan dan kehausan. Saat ditawari kapten langsung cus menuju dapur untuk makan hahaha.


Hammock pun sudah terpasang mantap dan mereka yang berada diruang nakoda mulai penasaran dan ingin mencobanya, silahkan dengan senang hati aku untuk berbagi pengalaman santai di hammock. Bersantai di hammock dan menikmati biru langit yang mulai berubah warna ke jingga, aku merasa semakin beruntung dan terberkati dalam perjalanan ini. Terimakasih Tuhan untuk pengalaman yang luar biasa ini.

Eh, kapal ini tidak langsung ke Alor rupanya, masih singgah di pulau Solor, pulau Adonara, pulau Lembata, Baranusa (pulau Pantar), dan Kalabahi (pulau Alor) pantas saja perjaanan ini sungguh lama. Setiap berhenti juga berjam-jam. Seperti halnya di Lembata memakan waktu hampir 5 jam karena menunggu air laut pasang dan arus searah menuju Alor. Di pelabuhan aku turun dan mulai mencari makan malam. Crew memanggil ku untuk duduk bergabung bersama mereka yang sedang menikmati kopi. Dengan senang aku menghampiri dan melanjutkan kembali cerita pengalaman perjalananku. 

Santai di pelabuhan Lembata

Seorang ibu yang berjualan disana menawariku ikan kerapu bakar yang cukup besar bisa untuk tiga orang. Namun aku ragu apakah akan mahal seperti di Labuan Bajo atau lebih mahal mungkin. Sudahlah, air liur hampir mengalir si ibu langsung memberi dan mengatakan bapak ini nanti yang akan membayarnya. Saat aku melihat si bapak yang membayar ternyata itu hanya Rp 5.000,- dan itu adalah murah sangat murah sekali malah.  Ah keberuntunganku masih berjalan hingga malam.

Udara malam mulai semakin dingin karena angin laut dan rasa kantuk pun mulai datang, dengan gerakan terbiasa aku memakai sleeping bag dan kain bali sambil bergantung di hammock. Pemandangan yang sungguh luar biasa. Tidak pernah bosan aku melihat bintang di langit tak berpolusi itu. Entah seberapa banyaknya itu sungguh luar biasa ciptakan Tuhan ini.
 
Menikmati sunrise
Sandar di pelabuhan Baranusa

Aku sudah mengenali bentuk pulau-pulau ini karena sebelumnya aku sudah pernah ke alor di tahun 2013 dan bisa dibaca pengalaman ku pertama kali ke Alor di sini. Kapal hampir masuk ke telur Alor lumba-lumba dengan banyaknya sudah melompat seaakan menyambut kedatangkan ku, ah aku jadi terharu karena bahagia.
 
Terimakasih Captain & crew :D
Perjalan dari Larantuka ke Alor aku tidak mengeluarkan uang Rp 0,- dan bisa dikatakan perjalanan ini GRATIS. Ya, aku selalu memegang keyakinan jujur, sabar dan berpikir positif semua akan mendatangkan hal yang indah. Ya seperti ini, aku jujur dengan keadaanku yang nekat pergi berjalan tanpa uang ditangan setiap orang yang bertanya padaku. Aku tidak melihat mereka membantuku karena rasa kasihan, tapi yang kulihat adalah mereka memang mau membantu dan mendukung perjalanku yang gila ini. Alor, disinilah aku akan membuat pengalaman baru lagi dalam perjalanan hidupku dan aku tidak tahu untuk berapa lama di Alor dan cerita seperti apa yang akan aku gambarkan untuk kehidupanku yang hanya sekali ini.

***

Perjalanan Labuan Bajo - Larantuka GRATIS



Tahun 2015 sudah hampir berakhir namun perjalanan sendiriku baru saja dimulai. Berjumpa dengan pasangan dari Kanada dan ingin overland Flores dalam 5 hari ini dan berakhir di Maumere, mereka tidak ada pilihan lain selain melanjutkan explore karena abu erupsi dari gunung Rinjani masih terbanng bebas di udara dan membuat penerbangan di Timur terhenti. Aku hanya membantu mereka mendapatkan sewa mobil yang murah dan free guide untuk mereka selama 5 hari kedepan namun aku hanya minta diijinkan untuk nebeng hingga Maumere. Aku harus menuntaskan pulau perjalanan ku di Pulau Flores ini, masih ada Maumere, Larantuka, Lembata, Solor, Lembata dan pulau Sabu yang belum aku datangi untuk Nusa Tenggar Timur.

Dalam 5 hari ini destinasi yang kubawa merek ke desa Waerebo, desa Bena, desa Gurusina, air panas Malinage, Green stone beach, lake Kelimutu, Moni waterfall, Koka beach, Paga beach, hingga check-in hotel di Maumere. Aku berterimakasih pada mereka karena mengjinkan aku untuk kembali explore bersama mereka selama 5 hari dan diberi tumpangan. Berencana menghubungi teman di Maumere untuk stay 1 malam namun mereka mereka menahanku dan membiarkan aku untuk stay bersama mereka di malam terakhir dan berpisah esok harinya.

Waerebo village
Blue stone beach

Koka beach

Entah untuk berapa hari lagi mereka akan menghabisakan waktu di Maumere, dan memilih Angkerme resort untuk stay dan lumayan jauh juga dari kota Maumere. Aku sudah tekat untuk mengantar mereka hingga benar-benar menemukan tempat yang nyaman untuk melanjutkan liburan dan aku melanjutkan perjalananku. Banyak cerita perjalanan yang saling kami bagikan dan pelajaran dari pengalaman masing-masing ataupun lawan bicara. Jujur dan percaya akan membawa kebahagiaan dalam perjalanan itu sendiri.

Mencari Tumpangan

Dari depan resort aku berdiri menunggu kendaraan yang akan menampungku menuju Maumere. Ada 3 pemuda yang yang memang rumah mereka disana sedang duduk santai di depan rumah, menemaniku sambil bercerita. Yah, pertanyaan ini muncul kok berani sekali cewek jalan sendiri dan mau numpang sana sini. Ya, menikmati hidup, jawanku singkat.

Larantuka Aku Datang

Setelah berjam-jam akhirnya sebuah mobil inova hitam berhenti setelah melihat tulisan mencari tumpangan dan akhirnya aku mendapatkan tumpangan gratis ke Maumere. Wow, yang aku bayangkan adalah truk dan ternyata adalah mobil pribadi yang hanya abang supir sendirian. Ini fix bukan travel.  Sambil bercerita menikmati perjalanan tibalah aku di Larantuka. Disini sudah ada abang yang menawarkan ku untuk tidur di gudang kacang mente dan aku sih tidak ada masalah selama aman disana. Berpisahlah aku dengan bang Gun dan menuju ke gudang mente. Eh setibanya disana ternyata perempuan tidak diperbolehkan untuk tidur disana, karena sedang ada bos dan dulu pernah terjadi yang tidak diinginkan. Wah sayang sekali ya, padahal ada cctv dan wifi gratis yang kencang :D
 
Akhirnya si abang membiayaiku untuk tidur di hotel semalam sebelum besok paginya akan melanjutkan perjalanan yang sepertinya panjang ke pulau Alor.
Bersyukur aku dalam perjalanan hingga ke timur pulau Flores aku tidak mengeluarkan uang untuk transportasi dan makan minum juga ya, yang ada malah mendapatkan kebaikan yang banyak dari setiap orang yang aku temui dalam perjalanan. Berharap besok saat bangun dari tidur masih seberuntung ini.

***

1 Minggu Tanpa Rencana di Nusa Tenggara Barat

Nusa Tenggara Barat. Kalau dipikir-pikir belum banyak tempat yang aku explore disana. Setelah 4 hari 3 malam di laut menjadi guide sailing Komodo, dan belum ada jadwal untuk trip lagi bersama Eastrip maka aku memutuskan untuk ke Lombok. Karena ini pertama kali overland ke barat dari timur aku memilih aman dan nyaman yaitu membayar Rp 350.000,- tiket di mas Aryo di pelabuhan Fery. Belum tahu mau kemana 1 minggu disana nantilah didiskusikan setelah bertemu dengan teman jalan disana.

7 jam perjalanan dengan kapal fery Labuan Bajo – Sape, 2 jam perjalanan dari Sape – Bima, Bima – Lombok aku sudah lupa tapi intinya aku tiba di terminal di Mataram pukul 7 pagi di keesokan harinya. Benar-benar perjalanan panjang. Disini aku berjumpa lagi dengan Amo, travel partnerku di Labuan Bajo. Setelah beristirahat sejenak kami melanjutkan perjalan menuju pelabuhan bangsal.
 
Dari pelabuhan ini akan ada 3 pulau kecil yang bisa didatangi yaitu gili Trawangan, gili Meno, dan gili Air. Sudah jelas kalau sudah ke Gili artinya adalah party. Tapi tidak untukku dan Amo. Untungnya kami tidak terlalu suka dengan party dan keramaian. Maka, gili Air menjadi tujuan untuk menghabiskan waktu dengan bersantai. Di pulau ini juga aku berjumpa dengan seorang teman yang dulu adalah chef di pulau Kanawa (saat aku explore pulau Kanawa tahun 2012).
Sunset pertama di Gili Air



3 hari 2 malam disini dan tidak banyak aktifitas yang dilakukan selain bermalasan di pantai, berenang, snorkeling, tidur dan makan. Ini sudah tidak seperti perjalanan disaat aku sendiri karena di pulau ini juga sekali makan hampir sama dengan Labuan Bajo, cukup menguras kantong.
 
Enjoy the sunset with reagge music
Dihari terakhir, memutuskan untuk explore pulau Kenawa. Perjalanan darat ini membuat punggung ingin rasanya bersandar nyaman. Menyebrang lagi ke pulau Sumbawa dengan kapal Fery. Tiba juga di sore hari, tidak mau berpikir lama langsung mencari nelayan setempat yang mau mengantarkan kami ke pulau Kenawa. Setelah perbincangan ini itu dan deal lah untuk menggunakan jasa si bapak mengantarkan kami ke pulau Kenawa, dan besoknya mengantar kami ke pulau Peserang dan menjemput kami untuk kembali ke pelabuhan Potetano. Harga yang diberikan untuk kami berdua adalah Rp 400.000,-

Malam di pulau Kenawa dan kami datang disaat rerumputan mengering, rasa lapar mulai mengisi. Untung ada penjaga di pulau ini dan mama-mama yang berjualan. Akhirnya api unggun pun menghangati malam dan makan malam dengan ikan bakar terenak (karena sudah lapar) haha.
 
Tidak ada tenda yang kami bawa dan hanya ada 1 hammock dan 1 sleeping bag. Untungnya hammockku bisa dijadikan flysheet dan mulai mengikat di salah satu sudut dari arah datangnya angin yang kencang, dan sleeping bag dibuka untuk dijadikan selimut. Tidur dibawah banyaknya bintang, aku tidak tahu itu ratusan, ribuan, jutaan, atau triliunan, intinya aku menikmati setiap moment itu.

Tidak perlu merasa cemas di pulau Kenawa tanpa penduduk ini ada pos penjagaan dan bila terjadi sesuatu bisa langsung berlari kesana dan kami mendapatkan kecap dan cabe untuk makan malam dari mereka :D
 
Sunrise di pulau Kenawa
Pulau Kenawa
Sunrise sudah menyapa tapi mata masih malas untuk bergerak. Mau naik ke puncak tertinggi pulau Kenawa pun urung saat melihat airnya yang jernih dan pasir putihnya. Waktunya snorkeling. Disini pertama kali aku kembali belajar berenang setelah dulu di kupang diajari teman jalan di pulau Semau.

Perahu nelayang yang mengantarkan kami tadi malam telah datang di jam 10 pagi dan saatnya pindah kepulau Peserang. Arusnya mengingatkan aku dengan Labuan Bajo yang kencang. Disini, sudah ada beberapa bangunan yang sepertinya akan dijadikan resort tapi belum beroprasi. Akhirnya kami diijinkan untuk memakai salah satu bangunan disana dan membayar sukarela ke penjaganya :D
 
Peserang dari atas bukit
Underwater disini lebih cantik ketimbang di pulau Kenawa, dan memang cantik. Tidak banyak foto dan video yang kami ambil karena lebih menikmati semua. Selain itu gadget sudah hampir mati karena tidak ada listrik dari kemarin malam dan malam ini pun akan sama. Tidak ada listrik. Yang lebih lagi tidak ada air bersih disini. Untuk mendapatkan air bersih maka mesti beli di penjaga resort. Ya, walau tidak mandi setidaknya membilas diri karena sudah bermain di air garam seharian dan explore pulau Peserang yang memang sudah terbuat jalan setapak untuk mempermudah menikmati sunset dari sisi lain pulau.
 
Nelayan cumi
Sunrise di pulau Peserang
Pagi pun datang. Saat aku menikmati sunrise ternyata banyak nelayan disana karena semalaman memancing cumi. Ya, pagi sudah datang dan hari ini aku akan berpisah dengan travel partner ku. Dia akan melanjutkan perjalanan nya ke Bali dan entah negara mana lagi dan aku kembali ke Labuan Bajo karena ada jadwal trip sailing Komodo.

Hampir sebulan explore bersama dari Labuan Bajo, air terjun, taman nasional Komodo, dan NTB kini dipelabuhan Potetano kita berpisah. Sedih, sudah pasti dan ya inilah perjalanan. Akan selalu ada pertemuan dan perpisahan entah bagaimanapun caranya, kapan dan dimana itu akan terjadi. Hanya satu yang pasti adalah kenangan. Dalam perjalanan sendirian aku memulai membuat pengalaman-pengalaman yang nanti tidak akan aku lupakan. Sampai berjumpa lagi saat kita berjumpa dimanapun teman.

***

Air Terjun Wulang di Labuan Bajo

Labuan Bajo selain terkenal dengan pintu paradise, ada beberapa destinasi yang tidak terlalu jauh dari kota untuk menikmati alam. Pantai, pulau dan bawah laut sudah pasti menjadi target untuk didatangi kalau lagi Labuan Bajo tapi ingin coba bermain dengan alam seperti hutan atau air terjun. Salah satunya adalah airterjun Wulang atau Cuncawulang.
Bersama teman-teman di hostel, kami melintasi jalanan Flores yang berlikuk hingga membawa kami ke Cuncawulang. Nah Cunca wulang juga sudah pernah aku tulis kalau tidak salah ingat. Dulu sih pengalaman pertama kesini di tahun 2012. 1 jam perjalanan dengan sepeda motor dan berjalan kaki kurang lebih 40 menit. Lumayan juga jalannya dengan batu yang kasar dan menurun. Sekarang sudah ada ada pos penjagaaan dan kita membayar uang masuk dan mesti memakai guide lokal. Saling membatu wisata lokal.


Suara deras air sudah terdengar dan saatnya melompati lubang-lubang sungai untuk tiba di sebrang sungai.
 



Tiba di saat jam makan siang maka langsung buka bekal yang kami bawa dari Labuan Bajo. Disini hp ku jatuh dan pecah berkeping-keping caseing nya ya karena dari kaca dan entahlah apa yang aku pikirkan hingga bisa pecah seperti ini.




Cunca wulang adalah air terjun wulang, cunca : air terjun. Uniknya air terjun ini adalah kamu tidak bisa melihat air terjun ini secara langsung. Ada teknik khusus untuk bisa melihatnya. Bagi yang bisa berenang dan berani, cus langsung lompat dan berenang ke balik batu untuk melihat air terjun yang airnya sangat kuat. Ya, hanya aku saja yang tidak melompat dan berenang karena tidak bisa berenang. Hahaha kalau ada pelampung mungkin berani ya untuk lompat. Hehe. Ternyata teman-teman ketagihan untuk lompat lagi dan lagi. Sedangkan aku memilih untuk mengabadikan moment ini dengan foto dan video sambil berendam cantik di sungai.






Setelah puas, kami waktunya kembali pulang yang intinya sebelum gelap dan hujan datang. Tidak mengikuti jalur sungai kali ini kami memilih untuk berjalan di hutan dengan naik lewat tangga-tangga buatan dan semak-semak dan dari sini juga bisa melihat air terjun Wulang.







Memang terlihat seperti mini canyon, pantas saja air terjun ini dijuluki canyon Labuan Bajo. Ah ya, teman-teman yang kali ini pergi dengan ku adalah bang Kadal, Livia, Anna, dan Amo. Walau bukan umur yang sama atau dari negara yang sama, setidaknya traveling ini mempertemukan dan mempersatukan untuk explore suatu tempat bersama. Semoga kelak bisa explore bareng lagi di bagian dunia yang lain yang tak kalah cantiknya.


#KelilingIndonesiaLowBudget


***