Sabtu, 28 Januari 2017

1 Minggu Tanpa Rencana di Nusa Tenggara Barat

Nusa Tenggara Barat. Kalau dipikir-pikir belum banyak tempat yang aku explore disana. Setelah 4 hari 3 malam di laut menjadi guide sailing Komodo, dan belum ada jadwal untuk trip lagi bersama Eastrip maka aku memutuskan untuk ke Lombok. Karena ini pertama kali overland ke barat dari timur aku memilih aman dan nyaman yaitu membayar Rp 350.000,- tiket di mas Aryo di pelabuhan Fery. Belum tahu mau kemana 1 minggu disana nantilah didiskusikan setelah bertemu dengan teman jalan disana.

7 jam perjalanan dengan kapal fery Labuan Bajo – Sape, 2 jam perjalanan dari Sape – Bima, Bima – Lombok aku sudah lupa tapi intinya aku tiba di terminal di Mataram pukul 7 pagi di keesokan harinya. Benar-benar perjalanan panjang. Disini aku berjumpa lagi dengan Amo, travel partnerku di Labuan Bajo. Setelah beristirahat sejenak kami melanjutkan perjalan menuju pelabuhan bangsal.
 
Dari pelabuhan ini akan ada 3 pulau kecil yang bisa didatangi yaitu gili Trawangan, gili Meno, dan gili Air. Sudah jelas kalau sudah ke Gili artinya adalah party. Tapi tidak untukku dan Amo. Untungnya kami tidak terlalu suka dengan party dan keramaian. Maka, gili Air menjadi tujuan untuk menghabiskan waktu dengan bersantai. Di pulau ini juga aku berjumpa dengan seorang teman yang dulu adalah chef di pulau Kanawa (saat aku explore pulau Kanawa tahun 2012).
Sunset pertama di Gili Air



3 hari 2 malam disini dan tidak banyak aktifitas yang dilakukan selain bermalasan di pantai, berenang, snorkeling, tidur dan makan. Ini sudah tidak seperti perjalanan disaat aku sendiri karena di pulau ini juga sekali makan hampir sama dengan Labuan Bajo, cukup menguras kantong.
 
Enjoy the sunset with reagge music
Dihari terakhir, memutuskan untuk explore pulau Kenawa. Perjalanan darat ini membuat punggung ingin rasanya bersandar nyaman. Menyebrang lagi ke pulau Sumbawa dengan kapal Fery. Tiba juga di sore hari, tidak mau berpikir lama langsung mencari nelayan setempat yang mau mengantarkan kami ke pulau Kenawa. Setelah perbincangan ini itu dan deal lah untuk menggunakan jasa si bapak mengantarkan kami ke pulau Kenawa, dan besoknya mengantar kami ke pulau Peserang dan menjemput kami untuk kembali ke pelabuhan Potetano. Harga yang diberikan untuk kami berdua adalah Rp 400.000,-

Malam di pulau Kenawa dan kami datang disaat rerumputan mengering, rasa lapar mulai mengisi. Untung ada penjaga di pulau ini dan mama-mama yang berjualan. Akhirnya api unggun pun menghangati malam dan makan malam dengan ikan bakar terenak (karena sudah lapar) haha.
 
Tidak ada tenda yang kami bawa dan hanya ada 1 hammock dan 1 sleeping bag. Untungnya hammockku bisa dijadikan flysheet dan mulai mengikat di salah satu sudut dari arah datangnya angin yang kencang, dan sleeping bag dibuka untuk dijadikan selimut. Tidur dibawah banyaknya bintang, aku tidak tahu itu ratusan, ribuan, jutaan, atau triliunan, intinya aku menikmati setiap moment itu.

Tidak perlu merasa cemas di pulau Kenawa tanpa penduduk ini ada pos penjagaan dan bila terjadi sesuatu bisa langsung berlari kesana dan kami mendapatkan kecap dan cabe untuk makan malam dari mereka :D
 
Sunrise di pulau Kenawa
Pulau Kenawa
Sunrise sudah menyapa tapi mata masih malas untuk bergerak. Mau naik ke puncak tertinggi pulau Kenawa pun urung saat melihat airnya yang jernih dan pasir putihnya. Waktunya snorkeling. Disini pertama kali aku kembali belajar berenang setelah dulu di kupang diajari teman jalan di pulau Semau.

Perahu nelayang yang mengantarkan kami tadi malam telah datang di jam 10 pagi dan saatnya pindah kepulau Peserang. Arusnya mengingatkan aku dengan Labuan Bajo yang kencang. Disini, sudah ada beberapa bangunan yang sepertinya akan dijadikan resort tapi belum beroprasi. Akhirnya kami diijinkan untuk memakai salah satu bangunan disana dan membayar sukarela ke penjaganya :D
 
Peserang dari atas bukit
Underwater disini lebih cantik ketimbang di pulau Kenawa, dan memang cantik. Tidak banyak foto dan video yang kami ambil karena lebih menikmati semua. Selain itu gadget sudah hampir mati karena tidak ada listrik dari kemarin malam dan malam ini pun akan sama. Tidak ada listrik. Yang lebih lagi tidak ada air bersih disini. Untuk mendapatkan air bersih maka mesti beli di penjaga resort. Ya, walau tidak mandi setidaknya membilas diri karena sudah bermain di air garam seharian dan explore pulau Peserang yang memang sudah terbuat jalan setapak untuk mempermudah menikmati sunset dari sisi lain pulau.
 
Nelayan cumi
Sunrise di pulau Peserang
Pagi pun datang. Saat aku menikmati sunrise ternyata banyak nelayan disana karena semalaman memancing cumi. Ya, pagi sudah datang dan hari ini aku akan berpisah dengan travel partner ku. Dia akan melanjutkan perjalanan nya ke Bali dan entah negara mana lagi dan aku kembali ke Labuan Bajo karena ada jadwal trip sailing Komodo.

Hampir sebulan explore bersama dari Labuan Bajo, air terjun, taman nasional Komodo, dan NTB kini dipelabuhan Potetano kita berpisah. Sedih, sudah pasti dan ya inilah perjalanan. Akan selalu ada pertemuan dan perpisahan entah bagaimanapun caranya, kapan dan dimana itu akan terjadi. Hanya satu yang pasti adalah kenangan. Dalam perjalanan sendirian aku memulai membuat pengalaman-pengalaman yang nanti tidak akan aku lupakan. Sampai berjumpa lagi saat kita berjumpa dimanapun teman.

***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar