Rabu, 25 Januari 2017

Mendaki Gunung Inerie dan berendam di air panas

Satu minggu di Bajawa dan tidak tahu mau kemana dan ngapain di Bajawa akhirnya aku menghubungi seorang teman yang memang suka jalan juga tapi dia tinggal di Riung.

Gunung berapi di bajawa dengan ketinggian 2245 mdpl menjadi icon dari Bajawa, bukan hanya desa megalitikumnya. Berada tidak jauh dari kota bajawa, aku bersama kedua teman dari gereja, dan Ditho pergi ke kaki gunung Inerie Mencari rumah bapak desa untuk ditumpangi beberapa jam sebelum memulai tracking. Dan sudah gelap tidak ada lagi pintu yang terbuka, sepertinya semua orang sudah pada tidur. Eh, masih ada 1 rumah lagi yang belum dimatiin lampu rumahnya. Kami memberanikan diri masuk dan menanyakan rumah bapak desa, dan ternyata rumah ini adalah rumah bapak desa. Kebetulan mereka sedang kedatangan keluarga dari Ruteng dan sedang mempersiapkan makan malam.

Kami disambut hangat dan wow keluarga ini sedang memasak daging anjing. Aku dan teman saling melihat dan untungnya ibu desa perhatian jadi kami tidak harus makan makan malam itu.

Sambil bercengkerama dengan mereka,  kami sepakat untuk memulai perjalanan di pukul 2 pagi wita. Si bapak desa yang memang kadang menjadi guide lokal untuk ke Inerie menemani kami, padahal kami sudah bilang tidak usah ditemani karena Ditho sudah pernah naik, dan tau jalur. Eh, sibapak sepertinya tau kalau kami tidak ada uang untuk membayar guide dan sibapak bilang, tidak apa-apa jangan pikirkan soal uang. Nikmati saja perjalanan ke atas.

Baru mulai melangkah langsung nanjak, tidak ada ladai sedikitpun. Tidak ada pohon dan ya angin kencang membuat tubuh juga ikut bergetar karena kedinginan. Sudah 1,5 jam berjalan tiba-tiba badai datang. Mencari batu besar sebagai penghalang angin dan membuat api untuk menghangkatkan badan tapi tetap saja masih terasa dingin sekali. Bahkan pakai flysheet juga tetap tidak mempan. Selama kurang lebih 40 menit kami berteduh disana dan menurut si bapak, selama berpuluh tahun dia naik gunung Inerie ini pertama kali dia merasakan angin yang begitu kencang.

Angin mulai mereda kami melanjutkan jalan, yang sebenarnya tinggal 1 jam lagi melangkah untuk sampai puncak. Dari ufuk timur langit sudah mulai berubah warna dan sunrise sedikit lagi akan muncul. Hampir tiba di puncak pertama, kami berdiam diri sejenak menikmati cantiknya pagi ini.


Terimakasih Tuhan untuk hari yang baru dan ciptaan yang begitu sempurna. View gunung Ebulobo dan pebukitan khas pulau Flores menjadi latar matahari terbit.

The sunrise
 

Rasa dingin pun perlahan mulai memudar namun tetap kaki melanjutkan melangkah. Tiba di puncak pertama gunung Inerie akan melihat kawah yang begitu besar dan kering. Menurut si bapak, sudah lama sekali gunung ini meletus dan inilah kawahnya.

Aku masih berdiam diri menikmati apa yang didepan mata, Ditho dan seorang teman melanjutkan ke puncak kedua, puncak tertinggi. Namun aku melihat mereka kembali turun dan ada apa sebenarnya. Aku susul dan ya, badai kembali lagi datang. Mereka tidak bisa melanjutkan perjalanan ke atas karena angin yang begitu kuat. Entahlah perasaanku mengatakan bisa kok, aku pasti bisa sampai disana. 




Dua orang ini akhirnya mengikutiku, awal aku tidak membawa tasku tapi angin membuat aku hampir jatuh dan terguling, maka kembali aku pakai dan merayap untuk naik ke atas. Melawan kencangnya angin dan dari atas inilah aku bisa melihat bebukitan dan laut. Sayang langit lagi tertutup awan, kalau tidak dari sini bisa melihat pulau Sumba. 





Matahari sudah mulai naik dan sudah saatnya kami turun ke bawah, dan lebih susah untuk turun ketimbang naik karena banyak sekali batu halus yang tidak dalam. Salah melangkah dan pijakan yah jatuh. Aku jatuh berkali-kali dan terperosot sampai celana ku bolong. Untungnya sudah pakai double celana. Karena dari cerita si bapak dan Ditho mesti double kalau-kalau terpeleset.

Baru pukul 7.00 am wita panasnya sudah dasyat sekali, dan kaki ini rasanya seperti terbakar. Semakin hampir tiba di bawah kaki semakin berat untuk melangkah dan rasanya kok semakin jauh ya. Tidak ada vegetasi dan pohon. 

2 jam turun akhirnya kakiku terlepas dari sepatu gunung yang sudah penuh dengan kerikil halus. Ini gunung api pertama yang aku naiki di Nusa Tenggara Timur, ya walau Kelimutu adalah gunung berapi tapi bisa dibilang tidak mendaki kalau kesana. Karena sudah ada tangga-tangga.




Nah ini yang ditunggu setelah naik gunung, berendam di sumber air panas Malinage. Di sungai ini ada 3 pilihan rasa dari air dingin, air hangat hingga air panas. Aku lebih memilih air hangat dan tubuh rasanya nyaman sekali.
 

Semoga dilain kesempatan aku bisa menaiki gunung-gunung api yang ada di Flores dan di pulau lain di Nusa Tenggara Timur.

***

1 komentar:

  1. Bagus mba artikelnya... Jadi pengen kesana hehehe..
    Mohon ijin share ya 😊

    BalasHapus