Minggu, 05 Februari 2017

Explore Pulau Alor Low Budget

2 minggu explore pulau Alor dan keberuntungan yang masih perpihak pada ku atau memang aku yang sudah tidak tahu malu lagi karena setelah aku hitung-hitung perjalanan  ini kembali lagi beruntung.

Bagaimana bisa hampir se Gratis ini aku sendiri bingung untuk memulai menceritakan dari mana atau bagaimana, karena sudah ada kesepakatan dengan beberapa orang yang membantu aku menciptakan pengalaman baru untuk di publish. Intinya selama aku berniat baik dan tetap jujur orang pun akan berniat baik pula. Ya aku percaya dengan “good karma”.

Pelabuhan Kalabahi
Setelah pamit dengan capten dan crew kapal yang memberikan tumpangan gratis, berjumpalah aku dengan seorang abang yang sedia menampungku mengajakku untuk menikmati sunset di pantai Sebanjar. Sunset disini tidak hilang di balik lautan nun jauh disana namun dibalik pulau di depan sana. Aku dan bang Born saling berbagi cerita secara langsung, karena selama ini hubungan kami hanya didunia maya dan akhirnya bisa didunia nyata, duh awas baper :p Dari kota Kalabahi ke Alor besar sekitar 40 menit.

Sunset di Alor Besar
Setelah tiba di pulau Alor, semangat exploring pun meredup. Mulai merasakan virus “kenyang jalan” ya ini adalah moment dimana aku merasa bosan dengan berjalan dan menginginkan kesibukan lain selain liburan dan liburan, ingin rasanya #LiburDariLiburan. Entah karena aku sudah pernah ke sini dan hampir semua aku explore dan kali kedua aku merasa tidak seantusias pertama. Seperti cinta pertama yang lebih antusias ketimbang dengan cinta kedua. Apalah malah curhat hahaha.

Nyari tempat untuk tidur siang
Walau ada motor yang bisa aku pakai kapan saja untuk mengexplore Alor tapi entahlah aku lebih betah untuk tidur di kosan atau menggantung hammock di bawah pohon di gudang sebelah. Membuka laptop untuk menulis blog pun rasanya duh lebih berat ketimbang melupakan mantan. Dalam seminggu tidak banyak yang aku lakukan yah sesekali pergi keluar dengan si abang. Dari ikut acara nikah adat orang Alor hingga mencari tempat hanya untuk berhammock ria haha.
Sebelum acara nikah adat dimulai
Ya sedikit bocoranlah, perjalan panjangku ini adalah salah satu caraku untuk menikmati hidupku dan dengan begitu perlahan mengobati hati yang hancur. Karena virus kenyang jalan ini semua mood itu berubah, semangat jalan pudar, tidak nafsu makan, tapi semangat untuk tidak mandi semakin besar. Hahaha dengan pembelaan diri save water.

Aku datang setelah 1 minggu bencana gampa bumi Alor dan aku diajak untuk ke daerah yang terkena dampak gempa, salah satunya adalah Padang Panjang. Beberapa bangunan hancur seperti sekolah, rumah, puskesmas, bahkan gereja. Bahkan aku ikut bergereja di lokasi korban gempa yang hanya beratapkan termal dan beralaskan terpal pula. Bukan sesuatu yang besar yang bisa aku sumbangkan untuk membantu mereka, dengan tenagaku yang tidak seberapa ini membantu gotong royong pembangunan ulang pondasi gereja di Padang Panjang atau bermain bersama adik-adik.

Rumah yang hancur karena gempa Alor
Bermain bersama adik-adik Padang Panjang

Sepulang dari beribadah aku bersama anggota jemaat pergi ke ujung pulau Alor dan aku memilih untuk naik truk duduk berjam-jam diatas atap. Kondisi jalan yang naik turun serta berbelok mesti pegangan kuat karena anginnya yang kencang. Tibalah kami di Maritaing, Alor timur. Di sini ada patung pahlawan Sudirman yang menghadap ke arah pulau Timor. Dari sini bisa melihat pulau Timor (Timor Leste). Jarak dari kota Kalabahi ke Maritaing sekitar 2,5 jam dengan kondisi cepat ya. Selama perjalanan bisa melihat gunung aktif Koya-koya, semoga next datang kemari lagi bisa naik gunung berapi itu.

Ramai-ramai naik di bak truk
Maritaing, timur pulau Alor
Tiga teman baruku datang ke Alor dan selama 5 hari explore pulau Alor bersama, dari santai di pantai Sebanjar, air panas Tuti, desa adat Takpala, hopping underwater Alor 2 hari 1 malam, hingga ke pantai Ling’al yang mulai ngehits itu. Cerita pengalaman 5 hari itu ada di postingan setelah ini.

Walau baru pertama berjumpa tapi sudah seperti keluarga sendiri. Ah aku hampir betah 2 minggu di alor. Masiih ingin berlama-lama disini dan masih banyak yang belum aku explore. Mungkin ini seperti “utang” dan aku mesti kembali lagi ke alor suatu saat nanti.

2 minggu mengeluarkan uang tidak banyak dan karena sudah tidak ada uang sama sekali aku menjual hp agar bisa bayar tiket kapal feri besok ke Kupang.

Ya, besok aku sudah melanjutkan perjalanan panjangku entah sampai kapan dan berapa lama itu juga sejauh mana. Aku akan berjalan sendiri mencari apa yang aku tidak tahu dan berharap akan berjumpa dengan teman dan keluarga baru. Terimakasih untuk keluarga seiman di Alor dan bang Bornok juga @ekspedisilingkarindonesia sudah pernah menjadi bagian dalam cerita perjalanan hidupku.
#KelilingIndonesiaNoBudget

***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar