Sabtu, 11 Februari 2017

Explore Pulau Sumba 10 Hari 15 Destinasi

Labuan Bajo, ya kembali ke Labuan Bajo setelah berjalan tidak tahu sudah berapa lama. Kalau aku kembali ke Labuan Bajo artinya aku kembali mencari uang tambahan untuk melanjutkan jalan. Mungkin pulau Sumba akan menjadi cerita akhir tahunku di tahun 2015.

Ada beberapa alternatif untuk ke pulau Sumba dari Labuan Bajo atau Flores. Naik pesawat dari Labuan bajo menuju Bali atau Kupang dan lanjut lagi dengan pesawat ke Sumba ; naik kapal feri dari Aimere menuju Sumba Timur; naik kapal feri dari Labuan Bajo ke Sape dan lanjut lagi feri ke Sumba Barat; atau naik pesawat terbang Susy air (kalau yang ini tidak bisa dijamin tergantung dari ketersediaan subsidi pemerintah).

Sunset dari atas kapal Labuan Bajo - Sape

Aku memilih untuk menuju Sumba Barat dulu maka mesti naik feri ke Sape (Sumbawa). Perjalanan dari Labuan Bajo ke Sape sekitar 7 jam, stop di Sape juga 7 jam dan lanjut ke Sumba barat 7 jam. Perjalanan Kali ini bisa kubilang gratis. Seperti sebelumnya duduk di ruang tv crew dan berbincang dengan mereka. Sudah seperti keluarga sendiri, ini kedua kalinya aku naik kapal yang sama dan mereka masih mengingatku.

Perjalanan Labuan Bajo ke Sape

Saat menuju Lombok dulu, aku duduk disini sendirian dan memasang hammock di anjungan depan, nah kegilaan ku ini yang membuat mereka ingat. Karena tidak jarang seorang cewek jalan dengan berbulan-bulan lamanya.

Sunrise dari kapal Sape - Waekelo

Menikmati sunrise dari atas kapal dan sudah melihat pulau Sumba dari Kejauhan. Setibanya di pelabuhan Waikelo, Sumba Barat Daya seorang  abang menjemput dan kebetulan lagi disana karena urusan tugas. Kali pertama berjumpa dangan Bang Mujis dari Sumba Adventure Community. Niat awal ke Waikabubak tapi dalam perjalanan aku mengganti haluan ke Sumba Timur. Ingin sih explore dari barat baru nanti ke timur, tapi karena ada teman yang sudah tiba duluan di Sumba timur nah sekalian ajalah bareng explore. Berjumpa juga dengan bang Andi di polsek Waikabubak. Entah ada apa hingga bis masuk ke polsek dulu sebelum melanjutkan jalan.

Dari Waikelo ke Waingapu dengan bis butuh waktu kurang lebih 7 jam dengan ongkos Rp 70.000,- Normalnya sih 3-4 jam. Total perjalanku dari Labuan Bajo hingga Waingapu adalah 28 jam.

Bis menuju ke Waingapu

Nah di Waingapu bingung mau stay dimana dan rumah pendeta Advent menjadi tempat aku bermakan untuk beberapa hari kedepan.

Tidak banyak yang aku explore di Sumba timur, karena aku sendiri banyak menghabiskan waktu untuk berbagi pengalaman ke keluarga pendeta. Untuk berjalan aku berjumpa lagi dengan teman pejalan Ahmad Hasanela juga Memey. 

Ini beberapa tempat yang ku kunjungi dari Sumba Timur hingga Sumba Barat Daya.

1. Pantai Walakiri
Di hari ke-2 di Sumba Timur akhirnya aku pergi ke pantai juga.  Dari Waingapu ke pantai Walakiri sekitar 1 jam dengan sepeda motor. Pantai ini terkenal untuk spot sunset yang sexy dengan adanya pohon mangrove yang seperti bonsai. Tapi diperjalanan tiba-tiba angin gelap tanda hujan segera datang. Namuh setelah hujan reda warna langit mulai berubah ke orange, sunset time.




2. Pantai Purukambera
Memey mengajakku untuk singgah disalah satu desa untuk naik Kuda. Nah Kuda yang kami temui adalah "my sister" nama kudanya. Ternyata kuda jenis sandalwood ini pernah memenangi juara pacuan pemula berkali-kali di Waingapu. 


Sabana yang luas dan view laut yang berwarna biru ciri khas dari Purukambera. Bila sudah melihat ini artinya sudah sedikit lagi tiba di pantai purukambera yang banyak dengan pohon cemaranya.

Seperti kemarin dari jauh sudah terlihat langit gelap. Tiba di pantai hujan deraspun menyambut. Tidak ada pilihan lain selain berteduh menunggu hujan berhenti.

3. Bukit Waerinding
salah satu ciri khas dari pulau Sumba adalah bebukitan dengan sabanya yang luas. Sejauh mata memandang adalah hamparan permadani hijaunya Sumba. Tidak jauh dari kota Waingapu sekitar 30 menit berada disebelah kanan jalan.


Aku dan memei di bukit Waerinding


4. Danau Weekuri
Berangkat pagi-pagi dari rumah dengan cuaca sudah hujan. Selama perjalanan hujan berhenti hanya beberapa menit dan kembali lagi hujan. Danau Weekuri adalah danau air asin yang ternenal di Sumba Barat Daya. Saat datang kesana sudah siap untuk kesasar karena banyak jalan kecil yang mengecok. Maka harus langsung menggunakan GPS (Gunakan Penduduk Setempat).

Akhirnya setelah 3 jam perjalanan dari Waikabubak ke danau Weekuri hujan sudah mulai berhenti dan sudah ada sedikit cahaya matahari. Airnya terlihat sedikti karena air laut sedang surut. Masa sambil nunggu pasang agar bisa berenang-berenang cantik mulai explore sekitar. 




Nah selain danau yang tenang dengan warna hijau nya, disisi lain ada ombak menabrak karang. Wow. itu adalah lautan lepas. Ada batu karang yang menjadi tebing pemisah antara danau dan lautan.


Akhirnya matahari muncul dan aksi foto-foto pun jalan. Oh ya, jangan lupa bawa makan dan minum sendiri ya karena tidak ada warung makan di sini.

5. Pantai Mandorak
Tidak jauh dari danau Weekuri, kami menuju ke pantai Mandorak yang ternyata ada sebuah private resort dan itu milik kewarganegaraan luar.



Pantainya bersih dan berpasir halus. Memang tidak luas dan panjang seperti pantai-pantai yang pernah aku temui. Namun pantai ini sangat unik karena ada baru karang yang bisa didatangi. Saat aku datang lagi musim hujan dan angin maka ombak menghempas ke karang bahkan baju kita juga akan basah dibuatnya.


Saat bermain hammock di resort bibirku pecah karena bertabrakan dengan stenlis hammock duduk.

6. Pantai Ratenggaro
Karena datang saat sudah sore maka menyempatkan singgah si pantai Ratenggaro. Tidak lama. 5/10 menit disana. Lokasi yang sebenarnya bagus untuk menikmati sunset (liat foto-foto orang) tapi saat aku datang langit gelap dan hujan deras sudah terlihat dan hampir mendekat.

Pantai Ratenggaro

Desa Ratenggaro

Ciri khas dari pantai Ratenggaro ini adalah batu kubur yang dindingnya terdapat beberapa lukisan ciri khas adat Sumba. Ada gambar tanduk kerbau, gong, kuda. 

7. Pantai Dassang

Kerbau sedang mandi :D

Kalau dari beberapa tempat dapet bonus hujan tapi kali ini dapat bonus matahari.



Pantai pasir putih yang luas dan ombak. Jadi saat musim ombak tempat ini banyak didatangi untuk surfing.


8. Bukit Marosi
Menikmati sunset dari atas bukit pantai Marosi, walau sedikit tertutup tapi tetap cantik sunset kali ini. Entahlah sunset memang luar biasa cantiknya kali ini.


9. Desa Tarung
Tidak jauh dari tempat tinggal ada desa adat yang masih terjaga berada di tengah kota Waikabubak, desa Tarung. Di desa ini aku melihat secara langsung rumah adat dan kuburan batu di depan rumah mereka. Nah di tengah desa ada ruang luas di kubur batu yang sering dipakai untuk acara Wulla Podu di setiap bulan November.

Desa Tarung


10. Pantai Watukaka
Ada sih jalan menuju ke pantai, tapi saat tiba lebih tertarik untuk melihat resort yang sedang dibangun, pemiliknya orang Prancis.


Nah kita dibolehin untuk tour dan wow. View dari sini keren. Diatas tebing. Bisa melihat pantai pasir putih dan kadang ada penyu yang berenang di permukaan. Dari atas tebing bisa melihat penyu-penyu yang sedang berenang di permukaan.

11. Lapangan Pasola Lamboya
Ada beberapa kuburan batu di lapangan ini dan berjarak tidak terlalu jauh.
 Disini aku dan teman-teman menghabisakan waktun menikmati sunset hingga after sunset berakhir. 



12. Air Terjun Lapopu
Salah satu air terjun yang terkenal dan memang bagus sekali di Waikabubak adalah air terjun Lapopu. Butuh waktu sekitar 45 menit dengan sepeda motor. Maklum karena datang di musim hujan, air sungai pun berubah menjadi coklat. Karena tidak bisa melihat dasar dari sungai jadi mulai gugup untuk melangkah. Alhasil menikmati view sambil hammockan di atas air sungai yang deras. 





Ada satu spot untuk bisa melihat keseluruhan air terjun harus bergeser kesisi samping dan kami mesti memakai webbing karena harus melawan arus air.

13. Pantai Lailiang
Menikmati sunset dari atas tebing sambil mendengar suara deburan ombak dibawah. Ini adalah spot terbaik di pantai lailiang untuk menikmati sunset. Karena pantai Lailiang berada di kedua bukit yang menutupi nya dari matahari terbenam.


14. Pantai Kerewee
Tiba di pantai dan hampir sedikit kecewa karena viewnya seperti pantai nelayan yang biasa namun saat naik ke bukit terlihat pasir putih yang luas dan biru muda warna airnya. Ah pantai ini sedikit tersembunyi rupaya. 

View dari bukit pantai Kerewee

View dari bawah pantai Kerewee

Bersantai di hammock dan seorang teman datang membawa daging ayam mentah, mulailah bakar-bakar ayam. Ah nikmatinya hidup, hanya bertiga di pantai sepi yang cantik ini, menikmati hidup sekali.


15. Lapale
Akhirnya menikmati sunrise juga disini, di hari terakhir sebelum meninggalkan pulau Sumba. Di ajak bang Andy ke Lapale



10 hari di pulau Sumba dari Timur ke Barat dengan 15 destinasi yang aku datangi ternyata masih banyak sekali yang belum aku datangi. Sepertinya aku mesti kembali lagi ke pulau Sumba untuk explore destinasi terbaik yang belum sempat aku datangi.

Terimakasih untuk keluarga baru selama di Sumba, SAC, dan thanks buat teman-teman selama trip untuk fotonya.

***


















Tidak ada komentar:

Posting Komentar