Kamis, 16 Maret 2017

Festival Pasola Sumba dengan bonus 7 Destinasi, 2016

Pulau Sumba, menjadi destinasi selanjutnya setelah pulau Bali. Sama seperti Bali, ini bukan untuk pertama kali aku explore pulau Sumba tapi akan menjadi cerita pertamaku bersama teman-teman dan destinasi yang baru. Setiap pengalaman adalah selalu baru karena tidak ada pengalaman perjalanan yang akan sama di setiap harinya.




Berjumpa juga dengan bang DJ dan mbak Wuri, mereka ada teman dari Couchsurfing yang berhasil aku panasi untuk menyaksikan festival tahunan pulau Sumba, Pasola. Dengan travel selama 1,5 jam tibalah kami di rumah bang Mujis yang telah berbaik hati mau menerima aku kembali hehe.

Ternyata bukan hanya kami bertiga yang ada di sana, namun beberapa teman pejalan sudah ada yang tiba disana duluan bahkan mereka lagi pergi ke desa Kodi untuk menyaksikan Pasola.

Tujuan utama ke Sumba adalah nonton festival Pasola. Ternyata sebelum Pasola, ada beberapa acara ritual adat yang dilakukan yaitu:

1. Pajura
Pukul 11.00 pm aku beserta teman-teman traveller berangkat ke pantai (lupa namanya) untuk menyaksikan acara Pajura.Peserta pajura akan saling meninju dengan satu tangan secara berhadap-hadapan. Kegiatan ini dilakukan di pinggir pantai dengan suara ombak yang besar. Acara pajura tidak boleh ada cahaya senter ataupun lampu, maka pantai ini gelap sekali dan hanya suara tinju, deru ombak, dan sorak penonton yang terdengar. Karena rasa penasaran aku berjalan mendekat ke area pajura dan mencari cara untuk bisa melihat. Malam membuat mata terbiasa melihat disaat gelap. Mulai dari manjat pohon dan mencari dataran tinggi terlihat samar-samar hingga aku menerobos badan para pria yang melingkari arena.

Yes. Terlihat jelas dan buuuung... suara tinju yang keas tepat didepan ku. Aku terdorong ke belakang dan pria di depanku mendapatkan sasaran salah tinju dari peserta pajura. Masih bisa berkata untung karena aku pendek dan tidak kena tinju nyasar maka aku langsung pergi mencari teman-temanku. Acara ini hingga subuh, dari cerita yang aku dengar acara Pajura ini satu lawan satu dan hanya dibatasi tali diantara peserta.

2. Mbau Nyale
Setelah begadang mendengar suara tinju yang besar itu waktunya istirahat. Ada beberapa yang pergi sendiri untuk explore Sumba barat daya karena keterbatasan waktu, sedangkan aku memilih untuk tidur dan menghabiskan waktu bersama orang rumah serta teman-teman.




Menjelang subuh, kami sudah menuju pantai Watukana untuk menyaksikan acara ritual adat tahuan menangkap cacing laut (nyale) yang menjadi tanda keberhasilan panen ditahun ini sesuai jumlah banyak tidaknya nyale yang dapat ditangkap. Sebelum nyale nanti para Rotu akan berdoa dulu agar acara ini diberkati. Keyakianan mereka adalah Merapuh.



Rotu ( tua-tua adat keyakinan Merapuh) inilah yang akan memulai ritual Nyale dan Pasola. Setelah para Rotu berdoa maka Nyale dimulai. Saat warga setempat memburu cacing laut, aku dan teman-teman mendekati Rotu untuk melihat langsung para Rotu. Nah ini aku berkesempatan untuk foto barengan dengan Rotu. Rotu tua dan muda (yang baru dilantik) dibedakan dari bulu ayam yang ada di kepala. Bila ada itu berarti Rotu tua.

3. Pasola
Setelah acara Mbau Nyale, perwakilan dari peserta pasola datang bersama kuda pasola untuk menjemput Rotu. Dan dimulailah pertempuran lempar lembing yang terbuat dari kayu dari atas kuda. Terlihat lemparin itu seperti santai sekali tapi itu kuat bisa menjatuhkan peserta juga kudanya. Bahkan bisa melukai peserta juga penonon bila kena lemparan nyasar.

Pria pasola ini adalah para pria yang telah berlatih bahkan terpilih untuk mewaliki desa masing-masing dan saling berlempar. Mereka tidak memaki pelana, dan kuda-kuda pasola ini didandani cantik dan gagah.




Kuda-kuda yang dipakai ini adalah kuda asli Sumba, sundelwood , tidak terlalu tinggi tapi tenaganya jangan ditanya lagi. Bahakan kuda-kuda sumba ini dikawinkan dengan kuda Australia untuk mendapatkan kuda yang tinggi dengan tenaga yang kuat.


Acara pasola ini Wanokaka dibuat 2 kali, dipinggir pantai setelah acara mbau nyale dan di lapangan Watukaka setelah istirahat. Kedua lokasi ini sama-sama cantik.



Akan ada selalu cerita rusuh selama acara berlangsung ataupun selesai. Namun mereka tidak saling membalas dendam bila kalah. Mereka akan membalas di acara pasola tahun depan.

4. Pantai Rua
Karena panas dan merasa lelah, ya aku kurang tidur dari malam terakhir di Bali hingga saat ini maka hawa pantai sudah memanggil untuk beristirahat sejenak sebelum melanjutkan perjalanan pulang ke rumah. 



Pantai Rua, menjadi pilihan kita berhenti setelah lapangan Watukana. Niat mau tidur eh teman-teman malah langsung masuk ke air yang jernih. Sedangkan aku cuma diam dibawah pohon hehe. Tidak lama, dari kejauhan sudah terlihat awan hitam dan semakin mendekat. Jelas sedikit lagi badai datang dan langsung mengambil gerakan tercepat pulang ke Waikabubak.

5. KampungTarung
Kampung adat yang berada di tengah kota Waikabubak ini masih bertahan di perkembangan jaman serba modern. Kampung yang masih mempertahankan Marapuh ini sudah sangat sering dikunjungi.

Ditengah kampung Tarung ada lahan kosong yang biasa dipakai untuk acara adat salah satunya adalah Poddu dan kubur batu mereka yang mengeliling lapang ini.

Nah berhubung aku dan teman-teman tidak memiliki kain tenun Sumba, maka kami mensewa dari mama-mama yang disana. Inilah setelah di dandani dengan pakaian traditional.





6. Bukit Waerinding
Beberapa teman sudah pulang ke tempat mereka masing-masing karena tuntunan kerja ada juga yang melanjutkan jalan explore sisi lain Indonesia. 
Tinggallah aku, Satria dan Joe. Dengan nekat kami pergi memulai jalan dengan niat 1 hari ke Waerinding. 



Dengan menumpang ini-itu dan sedikit berjalan sampai dapat tumpangan akhirnya tiba juga di bukit Waerinding. Disini kami memang sengaja membawa beberapa buku bacaan, kertas origami, dan kertas gambar. Belajar dialam serta bermain bersama adik-adik Waerinding. 


Dari matahari masih di atas hingga hujan datang masih seru bermain bersama mereka. 

Sudah terlalu sore untuk kembali pulang dan hitchike belum tentu dapat. Maka kami extend di Sumba dan bermalam bersama dengan teman-teman CS Sumba.

7. Pantai Walakiri
Nah pantai ini memang terkenal dengan foto siluet saat sunset dengan pohon mangrove sebagai modelnya. Tapi saat kami datang air laut sedang pasang, maka bersantai di hammock dan pindah tempat untuk menikmati sunset. 



Entah apa nama bukit ini, dan dari sini sunset kami pun datang dengan cantiknya. 



Setelah menikmati sunset waktunya kembali ke Waikabubak dengan pemandangan bintang yang begitu sexy selama perjalanan pulang.

8. Bukit Matahari
Kalau orang-orang mengenal Sumba dengan bukit Waerinding, ada satu lagi bukit yaitu bukit Matahari. Sumba itu terkenal dengan 1001 bukitnya. Entah siapa yang sudah menghitung total bukit ini :D

Bukit Matahari ini adalah bukit yang berada di belakang salah satu sekolah di Waikabubak yang dijadikan tempat bejalar adik-adik sepulang sekolah. 

Dan disinilah kami bermain dan belajar bersama mereka.

9. Bondosula Letter S
Tidak jauh dari kota dan menjadi spot cantik untuk foto ala-ala di saat sunset.





10. Tanjung Mareha
Masih butuh 1 jam lagi perjalanan dari Kodi menuju tanjung ini. Dari sini pemandangannya luar biasa keren. Ini spot terbaik dan terfavorite sepertinya untuk Sumba. Karena dari sini bisa melihat 2 pantai sekaligus. 


Ombaknya sungguh luar biasa, ngebawangin bisa surfing di Sumba itu suatu amazing tapi yah maklum gak bisa berenang jadi niat surfing ditunda dulu hehe.



Pantai Watu Malando, yang terkenal dengan pulau batu batu kapur yang menjulang tinggi, dan pantai Mbawana; terkenal dengan batu bolong seperti gerbang.

Dari sini akan tahu air laut sedang pasang atau surut, kalau lagi surut bisa ke pantai Mbawana, namun saat pasang percuma juga turun tidak ada bisa menikmati lubang gate pantai ini dengan maksimal.

11. Pantai Mbawana
Untuk pulau Sumba, pantai ini yang ingin sekali aku datangi, namun informasi yang belum banyak kudapatkan maka niatan pun diundur hingga akhirnya aku berhasil kesini berkat tanya sana sini dengan teman yang memang sudah pernah kesini.

Butuh waktu 2,5-3 jam dalam perjalanan menuju ke pantai Mbawana ini dari Waikabubak. Pantai batu bolong. Lebih mudah diingat, tapi ini bukan batu bolong yang ada di Flores, Bali, Ambon atau daerah lain ya.






Saat surut adalah waktu yang tepat untuk kesini karena bisa menyebrangi gerbang batu. Ditambah datang untuk menikmati sunset. Luar biasa cantiknya.

Mesti lebih hati-hati untuk turun ke pantai karena ada tangga-tangga semen yang kecil dan terjal.








Langit pun menggelap dan sudah waktunya kembali ke rumah. Pertanyaan yang sering dituju padaku “Berapa hari disini? Tanya seorang teman di pulau Sumba. Duh, kalau sudah ditanya seperti ini aku sendiri bingung untuk menjawab berapa hari. Intinya sampai aku merasa mulai nyaman itu artinya aku harus melanjutkan perjalanan. Karena disaat sudah nyaman dengan tempat yang baru akan semakin membuat aku berat untuk melangkahkan kaki dan akan semakin menyusahkan orang-orang yang memberikan tampungan pada ku. #KelilingIndonesiaLowBudget

Nb: Thanks buat teman-teman dan foto-fotonya :)
Bang Andi, Satrio, Joe, Hardi, Zindan dll :)

***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar