Jumat, 30 Juni 2017

12 Destinasi Explore Pulau Lembata, 2016

Kali ini harus bangun pagi, bukan untuk hunting sunrise tapi untuk melanjutkan jalan ke pulau sebelah, Pulau Lembata. Karena jadwal kapal kayu ke pulau Lembata ada di jam 6 pagi. Sudah kebayangakan bangun pagi-pagi sekali dan siap-siap dan ternyata tiba di pelabuhan mendapatkan view sunrise yang cantik sekali. Semoga bisa lanjut tidur di kapal menuju ke Lembata.

Tiba di Lembata disambut sama abang dan kakak Lembata yang diketuai oleh bang Andre Keriting. Kalau kalian sering buka Instagram dan mencari tahu tentang Lembata nah muncul nama Andre Keriting ya itu dia yang jemput aku dan teman-teman.

Selama di pulau Lembata yang terkenal dengan pemburuan ikan pausnya, kakak dan abang dari komunitas Gempita yang akan menjadi teman dan tour leader kami. Semoga mereka sabar menghadapi aku yang gak sabaran ini ha ha ha.

Ini Beberapa destinasi yang bisa kamu intip bila ke Pulau Lembata.

1. Kuma Resort
Tujuan pertama, diajak ke Kuma resort. Disini bisa snorkeling dan berenang. Untuk view bila ingin foto-foto cocok kok. Saat itu jalan menuju ke Kuma Resort sebagian jalan rusak sebagian jelek dan sebagian lumayan bagus. Intinya pas datang tahun 2016 masih tahap perbaikan jalan.

Kuma Resort



2. Bukit Cinta
Bukan hanya di Labuan Bajo saja yang memiliki bukit cinta, di Lembata juga. Kayaknya setiap bukit yang ada pasangan yang sedang pacaran disebut bukit cinta. Entah siapa yang memberikan ide itu. 

Bukit Cinta


View dari bukit cinta ini keren sekali, menghadap laut, sabana menghijau, dan gunung Ileboleng di pulau Adonara. Dari sini juga bisa melihat bukit Doa Lembata. Rekomenlah tempatnya untuk menikmati view dari Ketinggian. Yah, walau sekarang tulisan LOVE ataupun bukit cinta itu sudah berubah, menurut teman-teman yang stay di Lembata.

3. Bukit Doa
Disini banyak patung-patung Tuhan yesus yang bisa disebut adalah Taman Doa. Nah dari patung-patung ini akan bercerita peristiwa jalan salib.
Dari atas bukit doa ini kami menikmati sunset dan menghangatkan tubuh dengan kopi dan air hangat.

Sunset di Bukit Doa






4. Watodiri
Nah di hari ke-2 dibawa explore sisi lain dari pulau Lembata. Di desa Watodiri ini ada kerangka ikan paus. Pertama kali lihat ikan tulang ikan sebesar ini. Walau belum pernah melihat yang hidup setidaknya sudah bisa melihat tulangnya saja. Bisa bayangkan dong yah saat Yunus masuk ke perut paus. Semoga di acara budaya tahunan “whale hunting” aku bisa ikut dan menyaksikan paus yang masih hidup ataupun bukan dalam bentuk tengkorak.

Kerangka Tulang Ikan Paus


5. Jontona
Bukan hanya di satu tempat loh ada kerangka  tulang paus. Tidak jauh dari desa Watodiri, kami dibawa bang Andre ke desa Jontona. Paus ini terdampar di teluk Nuhanera beberapa tahun yang lalu. Warga desa Jontona menyusun kembali kerangka tulang-tulang ikan paus. Kerangka paus yang disini memang tidak terlihat lebih tersusun rapih namun tulang-tulang disini lebih lama dari yang ada di desa Wotodari.



Dibawah kaki gunung api Ileape saja sudah ada 2 kerangka tulang paus, bagaimana bagian Lamalera, desa yang terkenal dengan pemburuan paus itu, mungkin lebih banyak ya.

6. Tanjung Kolipadan
Takjub dan was-was juga sih pas lihat tulang ikan yang besar itu, dan kali ini menikmati alam yang hijau-hijau di tepi laut. Daerah tanjung bahagia ini adalah Kolibadan. Disini ada mercusuar yang bisa dinaiki oleh 1 orang , jadi kami berganti untuk naik ke atas.





7. Pantai Ohe
Dan inilah puncak untuk perjalanan seharian menihati tulang-tulang kerangka Paus dan sabana  yang luas di tanjung bahagia. Sebenarnya pantai ini sudah ada beberapa sarana seperti pondok-pondok tapi tetap camping disini menjadi pilihan yang tepat. Aku seperti biasa memilih untuk tidur di hammock.

Lelah dari perjalanan mengelilingi gunung Ileape dengan kondisi jalan yang rusak dan berdebu seharian ditutup dengan camping ceria. 2 tenda dan 3 hammock cukup untuk menampung kita yang banyak ini hehehe.


Makan malam yang sederhana berhasil bikin kenyang dan dilanjutkan dengan menyulu (menangkap ikan saat surut di malam hari). Lumayan banyak juga udang yang ditangkap alhasil mereka melanjutkan memasak dan aku sudah nyaman di hammock dengan pemandangan langit yang bersih dan bintang yang luar biasa banyaknya.



Bangun pagi dengan udara yang segar, melihat air laut yang tenang dan mentari yang muncul dari celah-celah pohon kelapa. Ternyata di pantai Ohe ini ada juga kerangka tulang Paus. Jadi ada 3 tempat di bawah kaki gunung Ileape untuk melihat kerangka tulang paus.



8. Lamawolo
Akhirnya alat snorkeling kubasahi di bawah laut Lembata. Spot pertama bagus tapi yah belum dapet gregetnya. Di spot kedua masih di pantai yang sama dan langsung wall setelah pasir kali ini bener-bener greget. Jadi inget Alor tentang wall nya underwater.

Spot 1
Pingin berlama-lama di bawah laut tapi waktu tidak mendukung. Next time kesini lagi ah, khusus underwater :D

Spot ke2

9. Desa Lewokuma
Traveling itu gak harus berhubungan dangan pantai ataupun gunung. Hari itu aku diajak teman-teman dari Gempita ke Desa Lewokuma untuk survey lokasi acara pelantikan teman-teman baru di Gempita.


Tidak banyak warga yang tinggal di desa ini hanya ada beberapa rumah dan salah satunya adalah rumah nenek dari kak Ani. Disini langsung dijamu dengan makanan yang sungguh membuat aku rindu, yaitu jagung rebus, jagung goreng, sambal dabu-dabu, ikan bakar, tumis sayur labu, serta beras merah. Semua adalah organik.




10. Pantai Waijarang
Jalan pulang kali ini beda jalur, sedikit lebih serem tapi cantik sekali bebukitan yang hijau dan menjadi spot untuk foto-foto. Ternyata ujung jalan bukit ini adalah pantai Waijarang. Menikmati sunset dululah sebelum kembali ke rumah.





11. Pantai Loang
Pantai ini lumayan jauh dari kota, dan di pantai ini akan di bangun tempat untuk penangkaran penyu dan pelestariannya. Karena banyak sekali penyu-penyu yang diburu untuk dimakan dan perhiyasan yang cukup mahal juga untuk mahar orang NTT. 


Tahun 2016 saat aku datang masih direncanakan, tapi kali ini kalau kalian kesana sudah ada tempat pelestarian menjaga penyu-penyu nya.

12. Pelabuhan Fery Lembata
Aku pikir pelabuan di Waikelo, Sumba adalah pelabuhan yang pantai putih yang bagus. Ternyata ada yang lebih bagus dan jernih. Bahkan bisa snorkeling di pelabuhannya sangkin bagusnya. Aku akan merindukan pulau Lembata dan keluarga yang didalamnya.


Aku dan bang Andre Keriting

7 Hari di Lembata sudah cukup untuk kali ini, terimakasih untuk bang Andre sekeluarga yang sudah mau nampung dan direpotkan juga teman-teman dari Gempita. Masih ada 1 pulau besar di Flores Timur yang belum aku datangi. Seperti biasa mencoba hitchhiking dengan kapal fery dan berhasil lagi :D


***

Rabu, 28 Juni 2017

Explore pulau Solor 3 hari 2 malam, 2016

Setelah acara prosesi Samana Santa selesai badan langsung menunjukan efek samping dari perjalanan yaitu, capek dan hamper memang jatuh sakit akhirnya. Berdiam diri dan istirahat dirumah malah bikin badan pegel-pegel, maka otak langsung memikirkan next planning lebih tepatnya adalah next destinasi untuk di explore.

Imam, Dr. Dawar, Aku, dan Ilham 

Niat awal dari Labuan Bajo adalah cukup sampai Larantuka, ternyata kena racun untuk explore pulau Solor dari seorang teman, dokter Dawar. Bukan hanya aku korbannya, Ilham dan Imam juga ikut diboyong ke pulau Solor. 

Pulau Solor masih masuk di Flores Timur, tidak jauh dari kota Larantuka dan memang harus pakai perahu kayu, jaraknya 1 jam saja kok.
Berjalan ketempat yang baru adalah hal yang paling aku suka karena dapat teman baru dan ada stock foto yang baru untuk di posting ha ha ha.

Destinasi untuk hari pertama adalah Lamakera. Pemandangannya keren sekali, yah walau jalannya jelek dan rusak. Tapi langit  dan laut yang biru juga bebukitan yang menghijau lebih menang menarik perhatianku daripada jalannya yang jelek, kan aku dibonceng :D


Berhenti di salah satu tanjung dan disini aku melihat anak-anak hiu berenang dan dekat sekali dengan tebing dan pantai, bisa dibayangkan kalau ada mama-mama hiu yang dekat dengan mereka.




Di pulau ini, sedikit membatin karena signal internet susah sekali bahkan bisa dibilang tidak dapat. Aku harus berjalan kaki ke pelabuhan untuk mendapatkan signal 3G dan menghubungi seorang teman yang datang menyusul kami.

Hari kedua di pulau Solor. Bangun pagi aku pergi ke pasar dan tidak jauh dari puskesmas. Aku ingin tahu kehidupan pasar traditional di sini yang hanya ada seminggu sekali. Malah bantuin jualin nih harganya hahaha

Sting Ray di pasar lokal


Tempat garam

Baby tuna sebesar ini cuma 150.000,-

1 gelas 5.000

1 buah cuma 1.000


Sepulang dari pasar, berjumpa dengan kedua teman baru Dr. Wida dan Dr. Wisnu kita memutuskan untuk mengunjungi Dr. Dony di sudut pulau Solor ke arah Barat. Bukan destinasi kali ini yang kami incar, tapi moment kebersaam kami menikmati perjalanan yang kami cari. Jauh sih jalannya tapi lebih enak begini ketimbang berjam-jam jalan di mall yang ada tidak jadi belanja karena gak ada uang, eh malah curhat hahaha.



2 malam tidur di puskesmas Solor dan makanan favorite adalah “Nasi Goreng Bakso” mungkin hanya 1 itu saja warung makan yang menjual makanan di pulau ini. Eh aku datang bulan 3 akhir tahun 2016 ya, siapa tau tahun 2017 ini sudah ada tambahan warung.

Pagi di pulau Solor

Waktunya melanjutkan jalan

Tidak banyak yang banyak bisa aku explore dalam waktu 3 hari 2 malam di pulau Solor, tapi aku menikmati semua momentnya, ingin kembali lagi kesini dan mengexplore yang belum aku explore.