Rabu, 28 Juni 2017

Prosesi Samana Santa Larantuka, 2016

Setelah perjalanan dari Sumba, kembali ke Labuan Bajo yang sudah menjadi rumah kedua ku setelah tempat orang tua ku tinggal. Dari sunrise, sunset, santai di cafe hingga restorant sudah jadi rutinitas sehari-hari hingga aku merasa mesti lanjut jalan karena pekerjaanku sebagai private guide Komodo lagi libur (karena gak ada tamu) maka lanjut berjalan menuju ke Timur Flores. 

Satu-satunya penumpang (kata om supir)

Bertepatan tidak ada trip lagi dan semakin lama di Labuan Bajo biaya hidup akan semakin mahal maka saatnya berjalan lagi. Berkat kenalan yang punya mobil untuk overland Flores, aku diperbolehkan nebeng mini bus kosong ke arah Larantuka untuk menjemput tamu acara paskah dan yes, ini kesempatan untuk bermain ke Timur Nusa Tenggara lagi. Hanya bertiga di mobil dan wuss... mobil laju dengan cepat. Walau om supir lagi meriang karena sakit tapi tetap bisa konsentrasi.

Pukul 7 pagi aku di jemput. Perjalanan ini akan terasa panjang bila tidak dinikmati disetiap perjalanan. Memang jalurnya panjang kok. Dari barat ke timur Flores. Tiba di Ende pukul 10 malam dan waktunya beristirahat. Bayar penginapan Rp 100.000,-

Hari kedua, kami memulai pukul 8 pagi. Sempat singgah di pasar Nduria cari jarung rebus. Disini buah dan sayur yang dijual semua organik dan dengan harga yang murah. Selain pasar sayur di pinggir jalannya, air terjun disaat musim hujan begini mudah untuk dilihat dan banyak. Tapi kalau sudah masuk musim kering, tidak ada air terjunnya hehehe.

Dengan on Don , guide senior LBJ
Pukul 4 sore, tiba juga di Larantuka. Setelah menghubungi bang Ambo yang akan menjadi tuan rumah selama aku di Larantuka, berhentilah aku di praktek dokter gigi, drg. Risna. Ternyata dokter ini terkenal juga loh di Larantuka. Bukan hanya aku yang diijinkan untuk stay beberapa hari selama acara paskah, sudah ada 3 orang photographer dari jakarta, 2 teman dari Kupang, travel blogger, sepasang dari Prancis dan aku yang entah darimana asalku haha.

Tujuan kami sama, yaitu untuk menyaksikan dan ikut acara tahunan terbesar di Larantuka dan untuk agama Katolik yaitu Samana Santa. 

Di hari pertama kami sudah meninggalkan rumah dari pagi menuju ke pelabuhan dan naik ke perahu prosesi yang telah disiapkan untuk menuju ke pulau Adonara. Ini proses pertama yaitu berziarah di kapela Wureh.  
Untuk menyebrang, peziarah membayar Rp 10.000,- sekali perjalanan. Dalam 1 perahu hanya 10 orang saja yang boleh naik. 


Menuju ke Adonara

Jaraknya sih tidak terlalu jauh tapi arusnya yang kencang maka dipagi hari adalah waktu yang tepat untuk menyebrang karena perahu harus memutar. 

Saat kapal sudah tiba di Pulau Adonara, sudah terlihat para peziarah antri untuk masuk ke kapela dan berdoa yang diakhiri dengan mencium kaki patung Tuhan Yesus sebagai lambang penghormatan.






Kembali ke kota Larantuka, kami langsung menuju taman doa. Dari sini akan dilepas perahu yang membawa bayi Yesus di prosesi laut. Hanya orang-orang tertentu yang mengangkat perahu ke air dan mendayungnya. Disertai beberapa sampan yang mengiringi prosesi laut. Sedangkan yang membawa patung Bayi Yesus adalah orang-orang khusus atau terpilih.




Prosesi laut

Dalam beberapa hari ini akan menjadi yang dinantikan para peziarah untuk berdoa dan disaat malam seperti inilah yang ditunggu, Jalan Salib. Para peziarah menyalakan lilin dan berdoa dikubur untuk mendokan keluarga juga leluhur mereka. 

Jalan Salib. Sering dengar "Jalan Salib" saat kuliah dan itu hanya dilakukan saat moment seperti ibi, Paskah. Aku tidak terlalu paham akan jalan salib, namun sekilas yang aku dapat pahami adalah jalan salib seperti kilas balik peristiwa dimana Tuhan Yesus sebelum mati disalibkan. Mereka (peziarah) akan berjalan sambil memanjatkan doa dan beberapa lagu pujian untuk bunda Maria dan Tuhan Yesus.

Saat jalan salib akan banyak lilin yang menyala. Lilin ini dipakai sebagai penerang karena berjalan dalam gelap dan tanya mempunyai doa (harapan) itu sih kata orang-orang yang aku tanya kenapa membawa lilin menyala.


Berdoa untuk leluhur 

Lilin doa

Jalan salib

Memulai jalan salib



Ikut membuat harapan
Taman Doa


Dan hari paskah pun datang. Banyak orang-orang memakai baju hitam (tanda berduka) berjalan bersama dalam prosesi arak patung bunda Maria menuju cathedral Larantuka. Mereka memanjatkan doa-doa dan bernyanyi. Jalan utama penuh dengan peziarah dan bisa kebayang bagaimana panjangnya arak-arakan ini.


Mater Dolorosa

Paskah

Cathedral di Larantuka

Jalanan setelah peziarah masuk ke Cathedral


Dalam berjalan akan selalu ada cerita yang berbeda atau hampir sama dengan pengalaman yang sebelum-sebelumnya. Diakhir acara Samanh Santa, aku merasa beruntung kembali karena masuk dilingkaran photographer untuk meliput kegiatan Samana Santa, karena ini aku bisa sedikit leluasa dan tetap sopan untuk mendekati prosesi Samana Santa dan mengabadikan beberapa foto. Selain itu, dapat undangan langsung dari Bupati Larantuka untuk jamuan makan siang di kediaman rumah jabatan. Kalau seperti ini aku bisa masuk di list "Lucky Traveller" versi Tinae hehe.

Jika kamu penasaran tentang Samana Santa ataupun ingin berziarah disaat paskah, Larantuka, adalah pilihan yang tepat. Aku memang tidak memahami betul tentang Paskah namun beberapa hari ikut prosesi Samana Santa cukup menambah kebanggaan untuk diri sendiri, setidaknya aku menambahkan pengalaman yang berharga untuk Tinae.
#KelilingIndonesiaLowBudget

***










Tidak ada komentar:

Posting Komentar