Rabu, 26 Juli 2017

11 Destinasi Wajib Dikunjungi di Maumere, 2016

Maumere. Hampir disetiap pesta di Indonesia akan memainkan lagu Maumere yang berasal dari Nusa Tenggara Timur. Namun tau gak ya Maumere itu dimana? Seperti apa? Wisata apa saja yang bagus disana? Yang paling aku inget tentang Maumere adalah Tsunami tahun 1992, karena dibahas saat masa kuliah dulu. Intinya Maumere masih di NTT dan cerita perjalananku kali ini masih berhubungan dengan cerita pengalamanku di postingan sebelumnya. 

Selesa camping dan tiba di Laratuka, aku langsung packing semua barang dan melanjutkan perjalanan ke barat Pulau Flores. Sekitar 4 jam dari Larantuka ke Maumere dengan mobil. Tidak banyak yang aku lihat dalam perjalanan karena terlalu lelah dan badan masih memberontak karena sakit. 

Selama 9 hari di Maumere aku benar-benar istirahat memulihkan kembali tenaga. Tapi tetap exploring. Selama di Maumere, Dewi, menjadi pahlawanku dalam perjalanan di Maumere karena mau menampungku yang nomaden ini. 

Ini ada beberapa contekan untuk kalian bisa kalian datangi saat di Maumere:

1. Hutan Mangrove
Tidak jauh dari kota Maumere ke arah barat ada hutan mangrove alami yang sekarang dijadikan tempat wisata. Selama perjalanan mata akan dimanjakan dengan bukit sabana nya, menginegatkan pulau Sumba. 










Jembatan dan menara yang terbuat dari bambu bikin suasana bagus untuk foto-foto keceh juga instagramable banget lah.

2. Tanjung Kajuwulu
Di tanjung ini ada 1 salib Tuhan Yesus yang berdiri kokoh. Untuk sampai di salib itu mesti jalan kaki menaiki anak tangga yang aku gak hitung berapa banyak jumlahnya. 



Disini juga pas banget untuk menikmati sunset. Dengan view after sunsetnya serta siluet bukit-bukitnya.


3. Lopu Lorung
Sudah seharian berdiam di rumah, walau belum fit benar kaki tetap tidak bisa diam dan mata juga ingin dimanja dengan hal-hal baru.

Bareng bang Chen, naik motor nyentriknya aku dibawa ke rumah produksi kain tenun ikat. Nah untuk motor yang nyentrik ini karena ada tengkorak, tulang-tulang, gigi raham, sampai tanduk rusa nempel dimotor. Kalau lihat motor ini berarti kalian berjumpa dengan penyiar radio ini.


Lepo Lorun. Artinya adalah rumah tenun. Rumah tenun ini cukup terkenal loh, bahkan yang punya tempat ini sudah berkali-kali mengadakan pameran di dalam maupun luar negri. 


Disini, Ina ( panggilan untuk wanita yang sudah berkeluarga atau ibu) akan mengajak pengunjung untuk menikmati proses pembuatan kain tenun ikat dari awal hingga selesai. 



Ini kali pertama aku melihat bahan-bahan pewarna alami yang dipakai untuk pembuatan kain tenun ikat. 

Pewarna merah
Pewarna Kuning

Kapas benang
Benang-benang yang dipintal sendiri dari kapas yang sudah  diberi pewarna alami. Tali-tali yang mengikat benang untuk menjadikan motif belum dilepas. 



Benang yang sudah diberi warna biru
Daun nila untuk membuat warna biru
Pakaian dan kain tenun ikat yang aku pakai ini adalah sarung motif asli Maumere. 

4. Coconut Garden Beach Resort
Walau tidak punya uang nginap di resort yang bagus juga mahal ini setidaknya bisa menikmati suasana resort dan pantainya. 





Pengaruh obat yang aku konsumsi, seharian itu hanya tidur saja hingga Dewi pulang dari kerja dan berhasil membawakku keluar rumah untuk menikmati sunset di Coconun Garden Beach. 





Pantai dengan pasir hitam ini cocoklah untuk santai bareng temanmu.

5. Kojadoi
Weekend pun tiba saatnya liburan, untuk yang punya pekerjaan tetap di hari kerja. Nah tujuan utamanya sih sebenarnya pulau Pangabatan. Jadi berhenti dibeberapa tempat sebelum ke pulau pasir itu.



Teman-teman explore hari ini
Kajodoi di belakang
Ada jembatan batu yang sengaja dibangun untuk menghubungkan 2 pulau yang berdekatan. Pulau Kojadoi (pulau kecil) dan pulau Kojagede (pulau besar) dengan view gunung Egon. 

6. Kojagede
Dari kota Maumere ke pelabuhan Nangahale dengan jarak kurang lebih 33km ke arah Larantuka . Itu baru jalan daratnya, belum lagi dengan jarak laut menuju ke Kojagede. 
Kojaede
Di pelabuhan Nangahale kamu akan melihat proses pembuatan garam.




7. Pulau Pangabatan
Tiba juga di tujuan utama. Pulau dengan pasir putihnya, pasir timbul disaat surut. Airnya jernih dan untuk kehidupan bawah lautnya tidak sebagus yang pernah aku datangi karena banyak yang hancur dan ada beberapa terumbu karang yang sedang bertumbuh. Pengaruh Tsunami underwater Maumere hancur. Tapi bawah laut ini cukup mengobati rinduku bermain di bawah laut.







Ciri khas dari pulau Pangabatan ini adalah pasir timbul dengan pohon mangrove yang tumbuh sendirian di tengahnya. 

8. Desa Watublapi
Ada salah satu desa yang terkenal dengan kain tenun ikat "indigo" berwarna biru. Yaitu desa Watublapi. Karena warna biru ini aku minta tolong ke bang Chen untuk antar aku melihat langsung. 




 Berjumpa dengan mama-mama yang pernah ke luar negri untuk memperkenalkan kain tenun ikat Maumere. Lupa namanya. Telapak tangan mama ini sudah penuh dengan warna, sulit untuk menghilangkannya. Hampir tiap hari menenun kain dan mewarnainya.



Untuk membuat 1 kain tenun ikat dengan ukuran sarung itu bisa memakan waktu kurang lebih selama 6 bulan. Lama banget ya. Wajar sih lama, karena buatnya tidak 24 jam dalam sehari. Mama-mama ini juga punyak kewajiban sendiri sebakai istri dan ibu rumah tangga. Kalau pekerjaan di rumah sudah selesai maka selanjutnya menenun. 

Belajar menenun

Di desa Watublapi ini semua kain tenun ikat yang dibuat untuk pribadi ataupun dijual pewarnanya menggunakan bahan-bahan alami. Anak gadis mereka diwajibkan untuk bisa menenun kain ikat. 

Benang yang sudah diwarnai


Proses pembuatannya juga bertahap dari memintal kapas, mewarnai benang hingga jadi kain tenun ikat. Di postingan selanjutnya aku akan bahas proses pembuatan kain tenun ikat di desa Watublapi.

Proses membuat benang

Nah untuk harganya ini cukup mahal dibandingkan kain tenun yang lain di Maumere. Seperti kain tenun ikat yang dijadikan sarung dan dipakai oleh mama ini harganya bisa jutaan loh. Motif dari sarung itu pun khusus untuk wanita yang telah memiliki cucu. Jadi aku belum bisa pakai itu, karena belum punya cucu. Pacar aja gak punya :( eh malah curhat hehehe.




9. Bukit Bintang
Bareng Dr. Wida kita hunting tempat baru untuk sunsetan. Sempat singgah di tengah sawah dan ambil beberapa foto. hehehe


Aku dan Dr. Wida

Nah lokasi sunset kali ini adalah "bukit bintang" entah karena apa bukit ini disebut bukit bintang. Tapi posisi dan lokasinya memang cocok sih untuk menikmati bintang di langit Maumere. Semoga next trip bisa camiping disini.




Sebelum camping, nikmatiin view dulu aja disaat sunset. Tidak kalah cantik dari bukit Kajuwulu. Dan ternyata kami orang pertama yang nikmatin sunset di bukit Bintang bareng bang Bintang, yang nunjukin tempat ini.


10. Pantai Paga
Saat menuju ke Ende atau Moni akan melawati pantai yang bersih dipingir jalan dan untungnya ada tempat untuk istirahat dan makan siang. Jadi pas banget untuk menikmati pantai yang sepi.

11. Pantai Koka
Tidak jauh dari pantai Paga ada pantai yang sungguh cantik di Maumere, yaitu pantai Koka. Di pantai ini ada dua teluk pantai berasir putih dengan airnya yang jernih. 





Naik  ke atas bukit ditengah-tengah pantai Koka akan melihat pasir yang luas melengkung mengikuti bibir pantai. Satu sisi pantainya berbatu karang dan berombak tidak cocok untuk berenang, di sisi lain cocok untuk untuk berenang karena ombaknya yang tidak begitu besar juga pasir putih yang halus dibawah. Kemungkinan untuk terluka kena batu karang tidak terjadi.




Nah dari beberapa pilihan destinasi yang bisa kamu pilih saat traveling ke Maumere. Sesuaikan saja dengan waktunya. 10 Hari itu sudah cukup untuk mengexplore. Tapi tetap belum semua aku explore, biar ada alasan untuk kembali ke tempat ini.

#LiburDariLiburan
***




1 komentar:

  1. Ah Maumere,,, pernah kesana 1x,, tapi gak sempet explore karena hanya 3 hari :(

    -Traveler Paruh Waktu-

    BalasHapus