Rabu, 12 Juli 2017

4 Hari Explore Pulau Adonara, 2016

Naik kapal feri ke pulau Adonara dan kembali FREE. Jangan tanya kenapa bisa gratis, karena keberuntungan itu kadang susah dijelaskan dengan kata-kata hahaha.

Tiba di pulau Adonara langsung disambut gunung berapi Ileboleng. Pelabuhan feri nya lumayan jauh dari kota Waewarang. Jadi pantas pelabuhannya sepi.  Sebenarnya tidak tahu mau kemana dan ngapain aja nanti di pulau Adonara ini. Karena ini pulau terakhir di timur Flores yang ada penduduk jadi aku harus kesini untuk menyelesaikan misi sendiri hahaha.

Dapat seorang teman yang kebetulan seorang polisi yang akan menjadi host ku di Adonara.

Nah untuk 4 hari kedepan beberapa destinasi yang bisa kamu intip kalau ke pulau Adonara.

1. Pantai Wera Me’a
Pantai ini berada di desa Boleng. Dari parkiran motor menuju pantai ini lumayan juga berjalan kaki di rerumputan yang tinggi dan hijau. Cukup kesulitan namun tiba di pantai yang sepi ini.



Pasirnya halus namun karena warna berwarna merah makanya pantai ini disebut pantai pasir merah.




Di desa Boleng hampir semua penduduknya beragama muslim. Di setiap depan rumah ada anak gadis (sepertinya masih SMP) sudah duduk menenun. Dulu aku waktu SMP kayaknya sore kayak ini masih main laying-layang di RT sebelah haha.

Untuk melihat proses dan cara menenun kain ikat di desa Boleng ini cocok. Sepulang dari pantai Merah singgah melihat mereka menenun.



Benang yang sudah dimasak dengan obat (pewarna kimia) kemudian di jemur dan diikatan dari tali sudah dilepas. Makanya motif tenun sudah mulai terlihat warnanya berbeda.


Sepulang dari pantai Wera Ma'e singgah di gereja Katolik yang bentuk bangunannya keren dan unik.

2. Kapela Lamalota
Niat mau melihat gading dengan ukuran besar. Konon gading ini perempuan tidak boleh memegang. Di masyarakat Adonara gading gajah adalah mahar atau mas kawin untuk mempersunting anak gadis di Adonara. Padahal di pulau ini tidak ada gajah, di NTT pun tidak ada gajah.


Karena datang kurang pagi, padahal masih jam 9 pagi. Si bapak yang menjaga gading tidak ada di tempat, katanya kalau mau datang mesti pagi-pagi sekali jam 6 atau 7 pagi. Jadi kapela Lamaloka untuk menggantikan foto gading yang tidak jadi hahaha.

3. Pantai Bani
Lumayan jauh juga ke pantai ini dari. Ternyata ada di utara pulau Adonara. Pantas saja selama di atas motor aku merasa seperti memutari gunun Ile Boleng. Walau langit tidak cerah untuk bisa melihat puncak gunung, tapi sudah mengelilinginya dengan motor sudah cukup. Mungkin lain kali aku akan menaikinya dengan kaki.



Disepanjang pantai ini adalah pohon mangrove dan saat aku datang air laut sedang pasang. Kalau sedang surut bisa menyebrang ke pulau kecil di depan pantai bani.


Ciri khas dari pantai bani ini adalah, ada bukit yang menjadi view point untuk melihat pantai dan tebing juga menyebrang ke pulau depan.

4. Pantai Watotena
Masuk k Pantai ini tidak gratis ya. Mesti bayar tiket masuk sebesar Rp 5.000,- /orang dan itu cukup murah untuk melihat pantai yang pasir putih yang cantik ini. Pantai ini sudah ada fasilitas gazebo jadi kalau panas bisa berteduh dan menikmati viewnya.





5. Pantai Inaburak
Pantai ini tidak jauh lokasinya dengan pantai Watotena, dan sama-sama cantik. Namun disini aku menemukan tempat untuk menggantung hammock dan bersantai seperti di pantai hahaha.


Belum lengkap rasanya kalau belum menggantung hammock saat santai seperti ini. Waktunya tidur siang dulu.


Sepulang dari pantai berjumpa dengan warga local yang baru pulang dari hutan sehabis memburu Madu. Ini pertama kali aku makan madu dari rumah madunya. Enak.

6. Pulau Meko
Pulau ini adalah pulau pasir timbul di pulau Adonara. Bareng bang Anthony (hostku), dr. wida, dan dr. Wisnu kita berangkat ke desa Meko. Nah dalam perjalanan kita langit tiba-tiba berubah gelap. Tidak seperti kemarin yang masih membiru.



Untuk ke pulau Meko kita menuju ke desa Meko yang penduduk nya disini adalah suku Bajo. Di Meko sendiri ada beberapa pulau yang recommend untuk didatangi. Pulau pasir, pulau Kelelawar, dan beberapa namanya dan aku tidak tahu nama pulaunya.




Kapalnya kecil dan ditumpangi untuk 6 orang. Kecil, ya kapal nelayan.
Setelah menghabiskan wakt kurang lebih 20 menit untuk tawar menawar harga sewa kapal dan menyebrang selama 10 menit akhirnyat tiba di pulau pasir yang sedang ngehits tahun 2016 di Flores Timur.


Datang di saat hari kerja ini lebih pas ketimbang di weekend. Karena itu banyak sekali orang yang pada datang untuk foto-foto dan berenang.
Ini seperti pulau pribadi untuk kami berempat.

7. Hutan Nepa
Di hari terakhir masih sempat untuk pergi ke hutan memburu madu. Tidak ada alat-alat untuk melindungi tubuh dari sengatan lebah. Kali ini om Dance dan bang JP yang menemani kami ke Hutan. Om Dance ini memang the best untuk memburu madu, tidak pakai pelindung.




Lebah-lebah masih bertebrangan muterin aku dan om Dance. Dengan tangan kosong dia mengambil dari celah batu sedangkan lebah menmpel di badannya.
Madu batu ini, sungguh enak sekali. Duh pingin bawa banyak cuman yang kita dapat hanya cukup untuk mengisi penuh perut kita masing-masing.




Pulang ke rumah bang Anthony karena mau ambil barang buat lanjut jalan dan pamit dengan keluarga, eh singgah di pinggir jalan buat makan kelapa muda. Entah pohon kelapa siapa ini yang penting perut kenyang hahaha




Kurang sehat apa hidup ini, makan madu segar langsung di hutan dan minum kepala muda langsung dari batok nya. hahaha 



Terimakasih untuk keluarga kak Anthony yang sudah mau menerima dan memberi tumpangan untuk cewek gembel juga 2 dokter keceh dr. Wida dan dr. Wisnu. Semoga kita berjumpa lagi di lain waktu dan sisi lain Indonesia. 


***

1 komentar:

  1. Mantep dah perjalanannya.. kayaknya kapan-kapan perlu ke sana lagi sekalian ke Solor.. ulasan Solor dong Tinae

    BalasHapus