Minggu, 23 Juli 2017

Camping in Nurabelen, Larantuka 2016

Pernah naik kapal nelayan dan ikut berlayar bersamanya? Atau pernah punya keinginan untuk ikut mancing ikan di lautan lepas? Ya, aku pernah. Tapi tidak semua keinginan itu terwujud. Di Larantuka, sekembalinya aku dari pulau Adonara, aku bergabung dengan teman-teman dokter yang memang hobi exploring untuk camping di pulau tiga. 




Tidak ada diantara kami semua yang sudah pernah kesana dan ini untuk pertama kalinya. Dengan harapan camping di pulau kecil yang berada di tengah lautan, membakar ikan hasil pancingan dan membuat api unggun. Ah membayangkannya saja sudah membuat aku tidak sabaran ingin segera tiba dipulau tiga itu. 

3 island

The way to island

Tower in the island

Our boat from top of tower

Setiba di pulau Tiga teryata ombaknya besar sekali dan semua adalah batu. Susah untuk kapal bersandar dan untuk kita kepulau itu. Hanya 2 orang diantara kita yang berhasil ke pulau dan itu sangat susah sekali terlihat. Ada menara yang berada di tengah pulau Tiga ini. Tidak ada lokasi untuk bisa mendirikan tenda dan kapal sangat bergoyang kencang karena ombak. 

Try to fishing


Beruntung kapal yang kita pakai ini adalah kapal untuk memancing ikan tuna dan sudah biasa dengan kondisi lautan yang seperti ini. Menurut kapten kapal, ini normal malah bisa dibilang belum apa-apa. :(

Nah pulau Tiga ini berada di antara pulau Solor dan pulau Suanggi. Kebayangkan lokasinya yang tidak wajar untuk camping. Karena tidak bisa camping jadi kita hanya memikmati waktu dengan memancing. Ikannya besar-besar dan banyak. Enak. 

Matahari mulai terbenam dan kita memutuskan untuk berpindah mencari daratan agar bisa tidur. Tidur di kapal yang bergoyang seperti sepertinya sudah mau mabuk laut ini. 

Pantai Nurabelen, Flores, menjadi lokasi bermalam yang dingin. Dapat posisi enak untuk menggantungkan hammock dan rasa letih sepertinya sudah menyerang dan waktunya tertidur pulas sambil memandang bintang-bintang bertaburan di atas sana. Beberapa teman bermain kartu dan membakar ikan hasil pancingan tadi sore.



Aku dan Wida memilih untuk tidur di hammock dan teman-teman lain di tenda juga di kapal. Sempat sedikit panik saat air laut mulai pasang karena tenda hampir kena air. Tengah malam mulai berkemas untuk memindahkan tenda ke dataran yang lebih tinggi. Untungnya aku dan Wida di hammock walau dibawah badan air sudah tergenang tapi tetap melanjutkan tidur. 


Bangun pagi disaat weekend itu sudah biasa, namun bangun disambut dengan jingganya warna mentari pagi sungguh memberikan sensasi sendiri. Disaat sinar mentari menerangi baru lah sadar tadi malam itu tidur dimana dan bagaimana rupa dari pantai ini. Pasir hitam yang halus dan pepohonan kelapa khas pantai mengisi. 






Berenang, foto-foto dan entah ide siapa manjat pohon kelapa untuk ambil foto hahaha. Mulai packing dan kembali ke Larantuka. Rasa letih dan lelah menjadi satu. Sakit flu yang sudah hampir sebulan tidak kunjung sembuh juga. Sepertinya memang harus istirahat total dulu dari petualangan ini.

Sebelum tumbang, langsung gendong keril ke Maumere. 

***

1 komentar:

  1. Katanya di Solor ada sebuah pulau dengan pasir putih yang cantik tapi jarang yang tau.. ada temen nawari untuk kesana.. kirain pulau Tiga ini ternyata bukan.. ada informasi pulau itu gak?

    BalasHapus