Rabu, 26 Juli 2017

Hitchhiking Maumere - Moni, 2016

Kalau dari beberapa bulan lalu aku hitchhiking sendiri, berjalan sendiri, dan kali ini aku mengajak Dr Wida hitchhiking untuk pertama kali dari Maumere ke Moni.
Walau masih sedikit puyeng tapi sudah lebih baik dari yang sebelumnya di Maumere, tepar.

Sebenarnya bisa sih naik bis atau travel dari Maumere dan ongkosnya tidak terlalu mahal. Namun perjalanan ini masih #kelilingIndonesialowbudget dan jadiin pengalaman pertama untuk Wida.

Dari Maumere ke Nita, kami berdua diantar naik motor oleh bang Chen dan Dewi. Nunggu beberapa menit dan mobil bak terbuka berhenti memberi tumpangan hingga Tilang. Masih jauh dari Moni, tapi tidak apa-apa yang penting berhasil meninggalkan Nita menuju kearah Moni.

Berhenti di Tilang, orang-orang pada lihatin dan sambil berbisik-bisik ke arah kami. Ada juga yang bertanya mau kemana? Cari apa? Bis? Travel? Dan saat aku bilang cari tumpangan gratis mereka langsung diam dan nunjukin muka tidak percaya, ada 2 anak muda ini yang nekat sekali.

Kami mendapatkan tumpangan yang kedua dengan mobil pribadi. Ternyara mereka mau ke air terjun. Pingin sih ikut ke air terjun tapi tujuan kami berbeda dan memburu waktu untuk bisa bermalam di Moni.  Turun di jempatan sebelelum Paga (aku lupa namanya) disini lumayan lama menunggu sampai ada yang menampung kami lagi. Hampir 30 menit menanti mobil pickup berhenti dan memberikan tumpangan. Kali ini kita bayar 5.000/orang sampai ke pantai Paga dan lanjut ke Koka.

Kalau dengan mobil pribadi dan tidak berhenti-berhenti  Maumere – Koka hanya 1,5 jam. Nah karena dana tercekik dan memilih untuk hitchhiking jadinya 2,5 jam perjalanan.

Dari jalan raya ke pantai Koka lumayan juga kalau berjalan kaki, tapi kami kembali beruntung dipinjamin motor untuk ke pantai Koka.

Pantai ini masih cantik dan bersih seperti pertama kali aku datang kesini. Bukit dengan view 2 teluk pasir putihnya jadi ciri khas dari pantai ini.

Ingin berlama-lama di pantai namun masih harus melanjutkan perjalanan dan ya kembali naik mobil bak terbuka gabung bersama ibu-ibu dan bapak-bapak juga. Duduknya menghadap ke belakang, berlawanan dengan jalan dan sudah punya feeling nih nanti akan mabuk. Tapi berusaha mikir positif ajalah. Tapi susah, karena di bak mobil ini juga gabung dengan seekor babi yang besar dan aromanya wuuuussss bau banget.


Aku sudah tidak kuat dan hanya menutup mata di jalanan yang berbelok nanjak dan turun, sesekali menahan nafas biar jangan kena serangan muntah.

Sudah tidak kuat lagi, kami berdua minta turun di Wolowaru, sudah dekat dengan Moni tapi badan sudah memberontak untuk berhenti. Tutun dari mobil rupanya salah satu diantara kita ada yang muntah dan ya kita duduk di depan samping pak supir agar tidak muntah lagi.


Turun di Moni, kita langsung mencari tempat beristirahat yang nyaman dan mulai mengatur rencana besok ke danau Kelimutu.

Selama berbulan-bulan berjalan, aku tidak pernah kesusahan untuk hitchhiking sendiri dan malah dikasih bonus untuk tinggal free bahkan makan juga oleh mereka yang memberi tumpangan. Takut? Ya kadang takut juga berjalan sendiri seperti ini namun ambil positifnya saja. Niat baik akan dibalas dengan Baik.

#LiburDariLiburan 

***

1 komentar:

  1. Aseknya yang bisa menikmati hitchhiking.... pengen juga tour motor sendirian dari ujung ke ujung flores kayak mas Tikno

    BalasHapus