Jumat, 17 November 2017

Mulut Seribu Rote miniatur Raja Ampat, 2012

Tulisan ini sebelumnya sudah pernah aku posting di www.kompasiana.com/tinae dan ingin aku repost dan edit sedikit di sini. Mungkin karena aku sudah terlalu sering di blog ini. Sudahlah, tidak perlu panjang-panjang kata pengantarnya, yang ada pada kabur sebelum baca sampai habis. Ha ha ha. 

18 Oktober 2012, mobil yang membawa aku dan teman-temanku menuju ke Rote timur. Dari sana kami memulai explore cantiknya pulau-pulau kars yang berbentuk aneh-aneh dan seperti Labirin. Yup, Mulut Seribu. Sempat terbayang pertama kali mendengar mulut seribu berarti ada lubang yang lebih dari 1 alias banyak. Ternyata bukan lubang yang dimaksud tapi celah-celah antara pulau karang yang satu ke pulau yang karang yang lain membutuk seperti labirin laut.

Tepat pukul 12.00 wita, satu persatu dari kami menaiki body kayu atau kapal nelayan tanpa atap. Kebayanglah panasnya matahari menyentuh kulit kami dan rambut. Bukan hanya itu tidak ada pelampung, toilet dan yah ini perahu nelayan. Sempat deg deg ser ini membayangkan apa yang akan terjadi di depan nanti, mana aku gak bisa berenang. Berdoa ajalah berharap tidak terjadi apa-apa selama perjalanan.
1355390713190745345
Pelabuhan Papela


1355390785915661237
Perahu body motor
1355390996551803863
Satu persatu kami turun
Masing-masing mengambil posisi duduk senyaman mungkin, karena kata si bapak yang punya kapal mungkin sekitar 1 jam kita di atas laut dan melewati laut lepas. Oh man! Serius itu? Gak becandakan? Ah, benar-benar pengaman pertama naik body motor dan melewati laut lepas yang aku tidak pernah bayangkan.
Konon menurut cerita warga setempat, bila ada yang pergi ke Mulut Seribu dengan hati yang tidak baik, itu akan susah untuk keluar dari Mulut Seribu. Bahkan, warga setempat sendiri kadang suka kesasar dan sulit kembali. Gimana aku gak parno coba? Sudahlah, dari pada pusing mikir yang aku sendiri tidak rasakan, lebih baik menikmati perjalanan dan berpikit positif ajalah. Toh niat kami datang kesini baik kok.
Di atas body rasa panas itu semakin menggila. Prosesi melumuri kulit dengan  suncream pun dimulai. Walau aku yakin akan tetap terbakar gosong pulang nanti. Walau cuaca sungguh panas dan mulai gerah, kami tidak mau melepas kain, jaket, dan topi yang dipakai.
13553912001842674587
Luar biasa, benar-benar seperti bermain labirin, masuk ke teluk satu dan keluar di teluk yang lain. Suguhan pulau2 karang yang cantik dan air yang tenang membawa kami menikmati indahnya Mulut Seribu ini.
 13553912611396357415 

Kalau melihat pulau-pulau karang ini mengingatkan aku dengan beberapa foto di kalender bahkan di internet tentang Raja Ampat, Papua. Sekilas tempat ini jadi miniatur Raja Ampat. Kalau sekarang, 2017, Raja Ampat sudah sangat ternenal sekali dengan pulau-pulau katang lancip yang menjulang tinggi. Sedangkan Mulut Seribu, Rote belum seterkenal itu. Beruntunglah belum terlalu terkenal biar gak bantak yang #KidJamanNow kena virus #kekinian meramaikan tempat yang sepi ini :D

 13553913611009331195
 1355391408944118102
1355391460774390106
13553915421635053071
Bernarsis ria di atas perahu body itu wajib hukumnya. Sungguh pengalaman pertama untuk saya  naik perahu body dan membiarkan kamera saya mengabadikan yang diingini. Masyarakat disini menjadikan rumput laut sebagai mata pencaharian mereka sehari-hari, selain memangkap ikan.
13553916452037121901
1355391704297191799
1355391754287160177
13553918022134757702
13553918511661764777
Sempet-sempetnya kami melihat lokasi dimana kami berada dari atas perahu body ini. Karena saya benar-benar tidak tahu lokasi Mulut Seribu itu dibagian mananya pulau Rote. Berkat peta dari handphone, saya dan teman-teman akhirnya tahu. :D
1355391938643917635
1355392016586920673
13553920991919639651355392128170680732 

 Benar-benar indah sekali, dan sudah waktunya saya dan teman-teman menyimpan kamera kami masing-masing, karena sedikit lagi kami akan memasuki area laut lepas. Kapal pulau mengikuti goyangan ombak naik turun dan mulai mendekap tas masing-masing. Tidak lama setelah melewati lautan biru dan berombak, dari kejauhan terlihat air laut berwarna biru muda dan tenang. Kami sudah mulai senyam-senyum sendiri senang saat kapten kapal bilang " Ya itu sudah dia pu pantai. Kita su sampe"

1355392200498027425 
 
Selama kami menyusuri Mulut Seribu, pantai Laviti menjadi tujuan kami untuk berenang. Dari atas perahu, kami melihat betapa indah dan menggiurkan sekali pantai Laviti ini, dengan air yang begitu jernih dan pasir yang begitu putih menimbulkan gejolak ingin segera mendarat dan masuk menikmati hangatnya air laut di pulau Rote Timur ini.


13553924791310528795

***

2 komentar:

  1. Wah, baru denger mulut seribu ini.. Cupu sekali saya padahal 2 tahun tinggal di Kupang...

    Coba ada view dari atas kaya raja ampat ya,, pasti lebih kece..

    -Traveler Paruh Waktu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Memang tidak banyak informasi tentang tempat ini dan waktu kesana masih tahun 2012 jadi belum kenal dengan teknologi dengan namanya Drone hahaha.
      Mungkin next trip kesana aku bawa haha

      Hapus