Minggu, 19 November 2017

Pantai Tercantik di Rote, Pantai Laviti, 2012


Pantai Laviti

Ini lanjutan cerita perjalanan ku di Rote, 2012. Sama seperti cerita tentang Mulut Seribu, Rote. Ini postingan yang pernah aku posting. Mari kembali ke tahun 2012, diawal aku belajar traveling lebih dari 2 hari bersama teman-teman. 


Rasa panas di kulit mulai mengalihkan perhatian kami dari cantiknya mulut seribu dan saatnya keluar dari laut lepas menuju ke pantai Laviti yang menjanjikan keindahan untuk kami penikmat pantai. Awesome… hanya itu yang bisa kami katakan. Pantai Laviti berada di antara dua ujung pulau yang seperti melindungi pantai ini dari laut lepas.

Sinar berlian air laut saat mendapatkan pantulan sinar matahari semakin mengangkat cantiknya pasir putih di pantai ini. Private beach, pantai yang benar-benar jauh dari jangkauan manusia dan hewan. Benar-benar masih alami keindahkan yang disuguhkan oleh pantai ini. Tebing-tebing karang yang runcing dan tajam seakan menjadi benteng untuk melindungi pantai Laviti ini.

View pantai Laviti dari atas karang

Tidak ada jejak kaki di atas pasir ini, kecuali jejak kaki kami. Tidak ada satu pun orang yang ketempat ini, selain kami di hari itu. Rasa panas pun seperti hilang saat melihat kecantikan yang diberikan pantai Laviti di Rote Timur ini.

Tidak mau berlama-lama lagi, saya memanjat tebing karang yang tajam itu untuk dapat menikmati semua dari atas. Rakus, mungkin kalimat yang bisa digambarkan. Sedikit pun aku didak mau melewati indahnya tempat ini. Semua ingin ku nikmati dengan cara ku sendiri dan ditemani kamera yang setia untuk mengabadikan apa yang aku nikmati dalam sebuah gambar-gambar cantik.



Dan bukan hanya aku yang memanjat tebing itu, tapi Kak Yohanes dan disusul kak Donal untuk menikmati pantai Laviti ini dari atas. Aku melihat dari sini, teman-teman ku yang lain sudah sibuk dengan cara mereka sendiri untuk memuaskan diri menikmati ciptaan Tuhan yang satu ini.



Dan tinggal saya sendirian di atas tebing ini, ingin rasanya mengabadikan diriku di tempat ini. Tapi, kak Yohanes dan kak Donal sudah turun duluan, cara terakhir dan yang selalu menjadi andalan saya adalah timer. Walau tanpa tripod, karang yang tajam ini pun menjadi sandaran tuk kamera kesanganan ku (tetap pakai alas kain biar tidak lecet). 


Sudah cukup rasanya kaki saya merasa sakit karena menginjak batu karang yang tajam ini, dan saya pun sudah tidak sabar untuk merasakan hangatnya air laut di depan saya.

Saya melihat kebawah dan tidak mendapatkan mereka di dalam air.  Kemana mereka? Dan ternyata mereka bersembunyi di balik tebing karang untuk menyantap makan siang yang kami bawa dari Ba’a, kota Rote.


Saatnya kami bermain air dan merasakan halusnya pasir putih pantai Laviti. Air lautnya asin sekali, tidak seperti air laut yang ada di pantai kota kupang.





Langit sudah mulai menunjukan hampir gelap dan matahari dari sisi lain sudah memberikan tanda-tanda akan terbenam dan memang sudah saatnya kami pulang dan meninggalkan pantai Laviti yang begitu cantik ini. 

Perjalanan pulang kami lebih ekstrim dari pada saat kami datang, laut sudah mulai menunjukan kekuasaannya dengan ombak yang tidak henti-hentinya menabrak perahu body yang membawa kami. Percikan air laut yang terhempas sudah seperti air hujan yang berasa asin.  :D

Walau pun seperti itu, detik-detik sunset di tengah laut tetap menjadi hal yang romantis untuk kami.        


*** 

2 komentar:

  1. Ah satu lagi destinasi di Rote Ndao yang musti didatangi...

    BalasHapus
    Balasan
    1. mesti kesini om. Yuk om barengan. Kangen juga aku dengan pantai ini

      Hapus