Rabu, 02 Oktober 2019

Pulau Terselatan Indonesia, Pulau Ndana, 2017

Apakah kalian pernah gagal untuk untuk pergi ke suatu tempat yang kalian impikan? Aku? SERING. Sangkin seringnya sudah tidak mudah kecewa lagi, entah gagal karena waktu tidak tepat, uang saku kurang banyak, atau pun ditinggal selingkuh jadi gagal nikah. Eh  bukan itu. Mari di sensor karena tiiiiiiiiiiit hahaha. Nah 2012 dulu sempat gagal ke pulau paling selatan di Indonesia padahal sudah dekat sekali. Karena 2012 lalu aku masih berstatus mahasiswi maka jadwal untuk berjalan juga mengikuti waktu dosen tidak masuk kuliah ataupun tidak ada kelas.


September 2017, akhirnya aku balik lagi ke Rote untuk ke Ndana. Ndana. Yup pulau perbatasan antara Indonesia dan Australia ini menjadi tujuan utama ku kembali ke pulau Rote. Kali ini perjalananku tidak selama dan sepanjang sebelumnya di satu tempat. Jadi benar-benar aku manfaatkan untuk ketempat yang paling aku impikan. Sebelum ke Ndana, main-main di pantai Oeseli dulu sambil berenang. Karena pantai ini sepi 
sekali dan belum banyak orang yang datang. Jadi pas banget. Bareng dengan Nadia, host couchsurfingku, kami chill dan ketemu kak Fitri di Rote.


Pantai Oeseli

Sambil duduk dan bercengkrama jadi ingin mewujudkan keinginan ke pulau Ndana. Ternyata harga sewa kapal kali ini jauh lebih mahal dengan tahun 2012, waktu teman-temanku kesana, bahkan Nadia pun bilang ini mahal sekali. Sebenarnya tidak mahal kalau pergi bersama teman-teman dan share cost. Harga boat untuk 15 orang dibayar sendirian jelas untuk ku ini masuk kategori mahal dengan jarak tempuh max 1 jam ke pulau Ndana.

Dalam sekejap kata “gagal” itu masuk kebenak dan ya mesti mengikhlaskan bila memang kali ini gagal lagi ke pulau Ndana. Entah karena aku belum iklhas mendapat info dengan tarif sewa kapal itu maka berinisiatif ke pos penjagaan mariner siapa tau ada kapal yang ke pulau Ndana besok jadi bisa nebang. Dan yes! Besok pagi ada kapal yang memang ke pulau Ndana dan langsung pulang di hari itu juga.

Duduk ngobol bersama komandan pos pendagaan mulai dari nama, asal, tujuan dan hingga kenapa sendiri? Perempuan? Untuk ke pulau perbatasan ini tidak semudah dan segampang pemikirian kita, mesti dapat ijin dulu dari komandan pos penjagaan yang di pulau. Karena siapapun yang datang ke pulau terluar ini menjadi tanggung jawab mereka bila terjadi apa-apa. Jadi ikuti rules dan semua akan nikmat.




Ijin ke pulau terluar sudah dikantongi tinggal boat nya ini. Ternyata itu sepaket dikasih sama bapak komandan nya :D gigi pun terpampang bebas, nyengir sangkin senangnya. Tidak piker panjang langsung pulang ke Ba’a untuk menyiapkan apa yang akan aku bawa besok pagi. Bangun dini hari saat langit masih gelap dan sendirian mengendarai motor ke desa Oeseli. Serem-serem dingin sih. Hampir saja telat dan ditinggal sama juragan kapal karena air laut sedang surut dan susah untuk keluar bila kapal sudah terjebak.

Aku hanya membawa sayuran untuk bapak-bapak tentara di pulau, karena mereka butuh itu. Kalau ikan mah gak usah ditannya lagi sepertinya. Berangkat tepat pukul 6 pagi saat mentari mulai perlahan naik menerangi langit dan sekitar. Cantik.




Bersama bapak-bapak di kapal kayu menuju ke pulau Ndana dan hanya aku sendiri perempuan di perahu ini. Saling bertukar cerita dan mereka hanya tersenyum melihat aku yang begitu senang akhirnya menuju mewujudkan mimpi tahun 2012 yang lalu. 





Pantai panjang pasir putih juga bersih ini menyambut kedatangkan kami. Semakin lebar bibir ini terbuka sangkin senangnya. Karena tidak ada dermaga di pulau ini dan untungnya sedang surut maka lompat adalah pilihan terbaik. Biasanya mereka berenang ke pantai. Berenang? Hmmm lebih baik aku lompat langsung ke pasir saat ujung perahu mendekat ke pasir dari pada harus berenang.

Rasa halus dan lembut menyentuh telapak kaki dan sinar mentari sudah mulai naik dengan gagahnya. Belum percaya aku sudah di pulau Ndana. Pulau yang konon menurut beberapa keyakinan warga Rote untuk perempuan yang belum menikah tidak boleh ke pulau ini. Kalau tidak nanti tidak dapat jodoh atau umur pendek.

Disambut bapak-bapak pakai motor 3 roda. Naik ini untuk ke pos penjagaan buat melaporkan diri. Tiba di pos dan dapat ijin dari si komandan langsung diajak ke tempat makan buat sarapan dulu. Duh tau aja bapak ini kalau lagi lapar.



Bola mata melirik kiri kanan bergantian dengan gigi tetap terlihat akibat senang bisa kesini. Dan tetiba sadar kalau hanya aku sendiri perempuan disini. Ditengah-tengah pria yang bertugas di perbatasaan selama 1 tahun. Dan wow. Jadi ingat pesan beberapa teman sebelum berangkat ke Ndana, hati-hati loh ya, mereka itu laki-laki semua dan kamu perempuan sedirian dan ya mereka tetap pria, manusiawi. Hahaha. Yang ada aku merasa tenang karena mereka semua memperlakukan aku sebagai saudara perempuan mereka dan seru.





Setelah sarapan bareng mereka, diajak untuk snorkeling dan nembak ikan di depan pos. Karena aku datang membawa sendiri alat untuk snorkeling. Underwaternya bagus dan masih padat. Ikan-ikannya juga banyak.




Seharian di pulau terluar ini aku menghabisakan waktu dengan bercerita bersama bapak-bapak tentara, tidur siang di hammock di pinggir pantai, berenang, explore sebagian kecil pulau untuk dapet view yang beda, ke patung sudirman. Beberapa kali ditemani mereka dan beberapa kali aku berjalan sendiri dan tetap dengan pengawasan mereka.






Merasa bersyukur dengan semua yang aku rasakan sekarang, semua beban pikiran disini hilang. Hanya menikmati dan merasakan bahagianya hidup ini. Sendirian saja begitu bersyukur, bagaimana bila aku kesini bersama kamu. Akan lebih bersyukur :)



Untuk satu hari disini aku merasa belum cukup, tapi seseuai kesepakatan mesti pulang ke Rote hari itu juga. Walau mereka di pulau menawarkan untuk stay dan bermalam disini merasakan sensasi malam di pulau terluar. Mungkin next time aku kesini lagi bersama kamu ataupun sendiri camping dibawah langit yang telanjang dan menyaksikan tontonan bintang yang menari.

Setelah berpamitan bersama bapak-bapak tentara ini kembali naik motor 3 roda untuk mengantarkan ke sisi pulau untuk naik perahu. Karena sore air laut kembali surut maka tidak bisa naik dari depan pos.





Kembali pulang ke Rote ditemani mentari yang mulai perlahan turun memberikan warna emas di langit. Kalau turun dari perahu tadi padi masih bisa dibilang mudah ketimbang naiknya. Karena disaat perahu mendekat kamu harus segera lompat dan itu tidak pendek. Dengan percaya diri langsung lompat dan yes aku berhasil. Di atas kapal bapak-bapak nelayan ini bilang sakut dengan aku yang seorang perempuan berani datang sendirian traveling dan bisa melewati lompatan ke kapal. Karena mereka berencana menggendongku bila aku tidak bisa naik. Ya mungkin aku bukan seperti perempuan-perempuan manja yang ada dipikiran bapak-bapak.




Ombak kali ini lebih besar daripada saat datang, selain melawan arus ombak ini menurut aku sudah sangat besar, bila aku bandingkan dengan Labuan Bajo, dan bagi mereka ini masih kecil sekali. Nanti tunggu di musim angin atau angin barat. Sudah jelas tidak ada yang bisa ke pulau Ndana dan keluar dari pulau itu untuk beberap bulan di musim angin. Maka sebelum musim angin datang maka logistic mesti dipenuhi dan kembali menjadi remote island.

Terimakasih untuk perjalanan dan pelajaran hidup yang aku dapat selama di pulau Ndana. Walau pernah gagal untuk ke satu tempat impian terus saja berusaha dan diwaktu yang tepat kamu akan bisa ketempat impian mu seperti aku. Oh iya, aku hanya mengeluarkan uang Rp 150.000,- untuk perjalanan ke pulau terselatan Indonesia ini.  

***

Rabu, 10 Januari 2018

Explore Pulau 1000 Lontar, Sabu, 2017



Tidak ada planning kemana dan berapa lama hanya ingin pergi saja menggendong keril lagi. Sudah terlalu lama bersantai di pantai dan hampir menjadi zona nyaman. Sudah waktunya berkelana lagi menjelajahi sebagian kecil Indonesia yang cantik.

Dengan Eastrip aku memilih Pulau Sabu. Salah satu pulau di Nusa Tenggara Timur yang belum banyak dikunjungi turis untuk berpelisir. Informasi tentang pulau ini tidak sebanyak pulau Komodo. Nekat ajalah pergi dengan ngantongin info yang tidak banyak bareng Eastrip.

Tidak sabar untuk tiba di Sabu
Benar-benar nekat. Sepulang dari pulau Semau, tiba di rumah langsung mandi dan berangkat ke pelabuhan Tenau lagi. Ada 3 cara menuju pulau Sabu, naik kapal Fery dari pelabuhan Bolok, naik kapal cepat dari pelabuhan Tenau atau naik pesawat Susy air dari bandara ya hehehe. 


Tempat tidur di dalam kapal Fungka
Aku memilih dengan kapal cepat Fungka. 9 jam perjalanan malam dengan fasilitas matras dan ruang AC. Naik kapal langsung tidur dengan nyenyak karena ada AC. Untungnya bawa sleeping bag karena ruangan barak ini dingin sekali.

Bangun pagi, aku keluar untuk berjumpa dengan matahari terbit ternyata kapal sudah hampir bersandar. Rasa was-was dan semangat akibat senang bercampur. Di Sabu aku tinggal dengan teman dari untuk beberapa hari. 

Tidak ada angkot, taxi, ojek apalagi taxi online. Jadi untuk transportasi disini lumayan bikin deg-degan. Penyewaan motor juga tidak ada. Beruntung teman ku mau menjemputku di pelabuhan Seba. Kota Seba, ibu kota dari pulau Sabu, masih sepi dan jalan raya yang tidak terlalu luas. Tidak ada gedung-gedung bertingkat seperti di Jakarta. Ini yang aku cari, back to the nature. Diatas motor aku sudah merasakan petualangan ini akan seru dan meninggalkan rasa yang tersendiri.

Kenapa memilih pulau Sabu untuk aku explore? Karena kamu akan menemukan jawabannya saat baca tulisan ini hingga akhir. Bahkan akan lebih merasakan keseruannya bila traveling bareng aku ke sini :D

19 September 2017, Petualangan dimulai.

Pulau Sabu ini adalah pulau kabupaten terkecil di Nusa Tenggara Timur. Berada di Baratdaya dari selatan Indonesia yang terkenal dengan “Pulau 1000 lontar” dari awal tiba di pulau ini pohon lontar yang melambai menyapa bukan pohon kelapa ya. Bukan berarti di pulau Sabu ini ada 1000 pohon lontar, tapi lebih bisa dibilang hampir daratan pulau yang luasnya 379,9 km2 ini dihuni pohon lontar. 




NO TOURIST. Tidak ada turis berseliwiran disini seperti di Labuan Bajo atau Rote. Bahkan tidak ada hotel, rumah makan, turis informasi, bar, macet, polusi, mall. Bahkan di beberapa daerah tidak ada singnal telepon, listrik, dan air tawar.

Dalam perjalanan menuju ke destinasi pertama, aku melihat rumah pohon yang ternyata itu adalah kamar kecil yang bisa muat 1 orang untuk tidur, bisa sih 2 orang kalau badannya kecil. Kamu akan merasakan terisolasi disini bila kamu tipe orang yang harus hidup dengan signal, listrik, AC, mall. Karena di tempat ini tidak ada itu semua. Untuk dapetin air tawar saja disini sangat susah, karena musim panas di propinsi Timur Indonesia ini lebih panjang ketimbang di pulau lainnya di NTT. Panasnya saja 33 0C tanpa polusi, maka sinar matahari langsung menyentuh kulit kamu. Siap-siap ikutan kulit coklat kayak aku hehehe :)


1.    Kelaba Maja.
Kelabamaja Di pulau Sabu, aku melihat landscape yang tercantik selama aku mengexplore NTT (untuk saat ini). Sekilas hampir mirip dengan Kings canyon yang ada di Australia. Di Kelaba Maja memiliki arti “Dewa Tanah” untuk masyarakat Sabu, Hawu, mereka percaya tempat ini dulu tempat ini dipakai untuk persembahan kepada dewa Maja dan tempat ini adalah tempat tinggal dewa Maja.



Pilar-pilar batu yang terukir alam ini berwarna merah, abu-abu, coklat. Lapisan berwarna merah bata ini yang membuat semakin cantik Kelaba Maja. Kalau dari ilmu geologi sih ini terbentuk karena proses eksogen, pelapukan dan erosional. Tapi kebenaran dan tidaknya mari kita tanya geologist :)


 
2.    Tambak Garam Laut
Tidak jauh dari Kelaba Maja, berjumpa dengan Ina (panggilan untuk perempuan Sabu) yang sedang mengambil air laut dan ditumhakan di daun lontar dan plastik botol. 



Mereka dengan membuat garam. Kalau di Maumere, aku pernah lihat proses pembuatan garam rumah tangga dengan cara dimasak, kalau disini Air laut yang ditampung di wadah dibiarkan 1-2 minggu dibawah matahari dan menjadi garam laut secara sendiri.



Ini adalah pembuatan garam laut secara traditional. Garam laut yang berwarna merah itu karena wadahnya dari daun lontar sedangkan yang warna putih dari wadah plastik botol. Garam laut ini lebih sehat ketimbang garam meja. Hawu memanfaatkan botol plastic untuk sebagai tempat menjemur air laut, tapi disisi lain masih ada kandungan kimia dari plastik yang pasti masuk ke garam laut. 

Sea salt
1 keranjang garam laut seperti di foto mereka tukar dengan 1 kantong kecil jagung untuk makanan ayam. Bahkan 1 plastik garam laut ukuran 1kg dijual hanya Rp 2.000,- butuh waktu lama dengan tenaga yang memikul air laut setiap hari hanya dihargai seperti bayar parkir motor di Bali. 

Mari berandai kalau pemerintah Indonesia memanfaatkan garam masyarakat Sabu untuk kebutuhan Negara ini dan tidak perlu mengimport dari luar lagi, jadi uang untuk keluar negri itu dialihkan ke petani garam maka pertumbuhan ekonomi akan serentak. Eh apa yang aku bahas ini hahaha. Sudahlah mari lanjut berjalan dan menikmati yang didepan mata. :D

3.    Wadumea
Wadumea yang artinya adalah batu merah, disaat surut kamu bisa menyebrang dan berdiri di batu besar berwarna merah yang menjadi pembatas dengan laut lepas. Namun di saat air pasang jangan coba-coba yak arena itu bisa membahayakan kamu. 







Aku melihat ada beberapa air yang terjebak seperti kolam kecil dan kamu bisa berendam cantik di dalamnya. Tapi hati-hati ya karena ada terumbu karangnya dan itu bisa merusak, jadi urungkan lah niat untuk berendam cantik di tempat yang ada terumbu karangnya. Pilih yang disebelahnya saja ya yang tidak ada terumbu karang.

Disini pantainya berombak, tapi aku tidak tahu bisa tidak untuk surfing. Kalau dilihat dengan mata awam seperti aku ini gak bisa lah untuk surfing, karena disaat ombak habis itu langsung batu.
Kalau kamu suka dengan foto ombak yang low speed di tempat ini cocok sambil menunggu matahari terbenam. Karena masih ada waktu sebelum matahari terbenam maka, aku memutuskan untuk kembali ke Seba untuk menikmati sunset di pantai 




4. View point benteng Ege
Karena niat langsung ke panta Napae, Seba entah kita mengambil jalur yang lumayan aneh dan berhentilah di Liae. Disini aku sebut view point untuk melihat pantai Liae dan benteng Ege. 



Duduk sesaat menikmati view dan merasakan angina mengelus kulit sambil bersyukur terimasih bisa menikmati semua ini disaat semua ini akan terkenal suatu hari nanti.

5. Pantai Napae
Disini ada penginapan yang berbentuk bungalow, namun untuk toiletnya ada di luar. Lokasinya sih oke karena tepat di depan pantai dan view sunsetnya luar biasa. Hanya kondisinya yang ada beberapa lubang di temboknya. Temboknya dari daun lontar dan bambu. Kita skip penginapannya mari ke Pantai.


Air laut yang seadng surut membuat pantai ini terlihat semakin luas. Sambil menunggu matahari terbenam, mulai mengamati orang-orang disekitar hehe. Beberapa Ina sedang berdiri di pantai menunggu nelayan pulang untuk membeli ikat hasil pancingan. Beberapa nelayan pulang dengan mendayung perahunya dan dengan sejekap dikerumuni namun tidak ada ikan yang dapat dibawa pulang. Anak-anak kecil berlarian dipantai dan menggampar di pasir pantai.
Sedangkan aku tetap dengan kebiasaan foto-foto haha.



Matahari perlahan turun dan hilang di balik lautan. Lingkaran sempurna menutup pejalanan hari pertamaku di Sabu dengan cantik. Berharap besok tetap cantik seperti hari ini dengan kejutan-kejutan yang luar biasa.

6. Desa Namata
Hari kedua di pulau Sabu tidak banyak yang ingin aku lakukan selain explore dan explore, eh ini banyak ya maunya hahaha. Kedesa adat, itu sudah pasti setiap aku pergi ke daerah di NTT. Karena adat di NTT masih kental dan setiap daerah berbeda. 


Kali ini aku berkesempatan ke desa Namata yang berjarak 5km dari kota Seba. Tidak jauh kan? Tapi desa ini masih termasuk desa adat yang sacral loh ya. Desa yang terkenal dengan batu bulat yang menyerupai meja ini boleh kamu ambil fotonya dan bersandar bahkan berdiri di atasnya. Tetapi, ada beberapa batu yang memang tidak boleh.


Kali ini, aku ditawarin untuk memakai pakaian sarung kain tenun motif Sabu, identik dengan bunga. Mulailah ambil posisi untuk foto.

7. Pantai Liae
Waktunya bermain air, snorkeling di pantai Liae kalau kalian tidak punya alat snorkeling bisa menghubungi bapak ketua kelompok peduli laut yang tinggal di pantai Liae ini. Bisa sewa alat dimereka bahkan ditemani snorkeling bareng. Sayangnya datang di saat surut maka lumayan berjalan jauh ketengah hingga berpapasan dengan ombak yang pecah di karang. Melintasi ombak dan berenang ke tengah. Akibat air laut surut dan pecahan ombak air laut pun tidak sejernih disaat pasang. Ada beberapa terumbu karangnya yang ditutupi lumut dan kurang memuaskanku. Untuk ikan-ikan disini lumayan. Memang menurut warga setempat dulu tempat ini sering di bom ikan. Maka terumbu karang sekarang mulai tumbuh perlahan.


Serunya berpetualangan sendiri itu seperti ini, dapat teman baru dan keluarga baru dalam perjalanan. Setelah snorkeling mungking 10 menit langsung disuguhi kelapa muda dan air lontar. Kebayangkan manisnya air kelapa muda yang baru dipetik menutup hari yang manis.

8. Bukit Salju
Hawu menyebut bukit kapur ini bukit salju, karena warnya yang putih hampir sama dengan warna salju. Bukitnya tidak terlalu besar dan luas, hanya sebagian saja memperlihatkan batu kapurnya. 



Meninggalkan gunung Salju, melihat budidaya garam yang lebih besar. Ya masih manual proses pengeringannya tetapi ini lebih luas dan bukan pakai cangkang kerang atau daun lontar. 




9. Pintu Laut
Ini favorite ku di Sabu selain tempat-tempat yang sudah aku kunjungi ya. Karena aku dan kak Jnr yang mendapatkan spot cantik ini untuk beremdam cantik. Karena tempat ini seperti pintu menuju ke Laut makanya kuberi nama “Pintu Laut”



Berendam di air laut dengan mendengar suara hempasan ombak, pemandangan sejauh mata memandang yaitu biru. Hidup begitu menyenangkan sekali. 




10. Pelabuan Seba
Karena ini hari terakhir di pulau Sabu, maka waktunya mencari posisi cantik untuk menikmati sunset sebelum besok pindah posisi untuk lokasi sunsetnya. Normalnya orang pergi ke dermaga untuk melihat matahari terbit dan foto-foto. Kali ini untuk pertama kak Jnr ke bangkai kapal untuk berburu foto sunset.
Berjumpa dengan balita yang memang disengaja setengah badannya dikubur di pasir seperti menikmati sunset. 



Jadi sudah tahu kan jawaban kenapa aku memilih pulau sabu? Karena ini pulau terakhir atau kabupaten terakhir di Nusa Tenggara Timur yang aku kunjungi. Maka sudah 100% kabupaten di NTT yang sudah aku explore. Alam dan budaya yang memang masih sangat terawat dan cantik seperti orang-orangnya. Untuk di NTT nona Sabu terkenal manis seperti gula Sabu. 

Nah pulau 1000 lontar ini melambangkan dari pekerjaan masyarakat setempatnya memproduksi arak lokal seperti, niru, sopi, moke dan gula air yang kental. Banyak yang bilang keaku hati-hati di Sabu nanti kena gula Sabu, lengket haha gak bisa balik lagi ke Jakarta he he he.


Gelang Kea, cincin kea, sisir kea terkenal dari pulau Sabu (kea = penyu) Sudah menjadi budaya mereka perhiasaan untuk perempuan dari cangkang penyu sisik, bahkan itu menjadi mahar kalau meminang nona Sabu.

Dalam perjalanan dari rumah ke pelabuhan Seba untuk naik kapal Fungka kembali ke Kupang, terlintas pikiran untuk kembali lagi kepulau ini untuk mengexplore sisi lain pulau Sabu, karena aku setengahnya ku explore. Pulau Raijua dan pulau perbatasan Dana belum juga kau explore. Belum juga meninggalkan pulau ini sudah berpikir kembali ha ha ha. Makasih Eastrip, kak Jnr dan teman-teman lain sudah menjadi teman perjalan di Sabu dan keluarga baru :)

***